
Ruang tunggu Bandara
"Nih ... Mih." Rayyan menyodorkan air mineral botol ke arah Tante Melly lalu membukakan penutup botolnya agar bisa langsung di minum.
"Terima kasih, Nak!" Tante Melly menerimanya lekas meminum air mineral yang sudah di buka penutup nya oleh Rayyan.
"Bukannya pesawat yang di tumpangi Tante Ami sudah mendarat dari tadi ya, ko masih belum muncul juga," gerutu Rayyan. Baru sepuluh menit dia menunggu sudah terdengar ocehan tak sabaran darinya.
"Sabar, Nak! mungkin, sebentar lagi tiba!" ucapan Tante Melly menenangkan anaknya Rayyan.
"Mih ... Mih ... itu Tante Ami! Akhirnya yang di tungguin dateng juga." celoteh Rayyan seraya melambaikan tangan ke arah Tante Ami.
Dari kejauhan Mama Ami membalas lambaian tangan Rayyan. Tante Melly pun lekas berdiri lalu berjalan mendekati Mama Ami yang berjalan kearahnya di ikuti Rayyan di belakangnya.
Mama Ami memeluk Tante Melly erat. Lama mereka tak bertemu. Terakhir bertemu, satu tahun lalu saat Ia berkunjung menemui Anna di Bogor. mereka menyempatkan waktu saat itu.
"Apa Kabar, Mel?" sapa Mama Ami kepada wanita berkerudung syar'i berwarna peach senada dengan baju yang ia kenakan. kecantikannya Tante Melly tak pernah memudar meski usianya tak lagi muda.
"Kabarku baik, Mi! Kabar mu sendiri, bagaimana?" Tante Melly balik bertanya.
"Puji Tuhan, Kabarku Baik, tapi untuk yang lain, mungkin Mas Anwar sudah menceritakannya kepadamu!"
"Sabar ya, Mi. Aku percaya Reno takkan melakukan itu semua. yakinlah kebenaran pasti akan terungkap. banyaklah bersabar, untuk itu." Tante Melly mengelus pelan tangan Mama Ami memberikannya sedikit ketenangan.
"Terima kasih, Mel!" Mama Ami melepaskan rangkulan tangannya dari Tante Melly.
"Hai, Tan." Rayyan meraih tangan Tante Ami lalu menciumnya takzim.
"Rayyan ..." Mama Ami menyipitkan matanya melihat Rayyan berdiri tegap di hadapannya.
"Iya, Tan. ini Rayyan."
"Wah ...ini ponakan Tante. Tampan sekali kamu, Nak!" Mama Ami mengelus lembut pundak Rayyan.
"Emang tampan dari dulu Tan, ko baru memuji sekarang. Dulu enggak pernah dipuji," protes Rayyan.
Tante Melly dan Mama Ami terkekeh bersama.
"Sudahlah, Kita langsung pulang saja. Kasian Tante Ami. Pasti capek!" ajak Tante Melly. Ia kembali merangkul Mama Ami menuju tepi Jalan lalu menyuruh Rayyan membawakan koper dorong yang di bawa Mama Ami.
"Mih.. Tampan gini, masa di suruh bawa koper. Yang bener dong, Mih!"
"Terus Mamih mau turun siapa? 'kan hanya ada Kamu disini!" Tante Melly dan Mama Ami meninggalkan Rayyan dengan kekesalan nya. tanpa memperdulikan ocehan Rayyan yang protes akan perintahnya.
"Kita tunggu di sini saja, Rayyan akan mengambil mobil di parkiran. nanti dia menyusul ke sini."
"Tan, ini kopernya. Aku mau ambil mobil dulu di parkiran!" Rayyan menyerahkan koper yang di dorongnya dari pintu keluar menuju terminal penjemputan. "Nasib deh, lolos dari kerjaan kantor, malah jadi tukang seret koper sama jadi supir Baginda Ratu" gerutu Rayyan seraya terus berjalan menuju parkiran.
"Anak itu! kapan dia dewasa? umurnya sudah matang tapi masih saja bermain-main." ucap Tante Melly melihat kepergian anaknya yang terdengar menggerutu di belakangnya.
"Sabar, Mel! akan ada saatnya dia berubah"
"Aku heran sama anak-anakku, Mi. Rayyan yang sering sekali bergonta-ganti pacar dengan umur yang sudah matang untuk menikah. sedangkan Risma, masih muda tapi terlalu mandiri dan bersifat keras. Dia tidak mau mas Anwar membantu biaya kuliahnya. Dia lebih memilih bekerja dan kuliah di hari libur kerjanya." Tante Melly menggelengkan kepala dan memijat kening nya. Pusing dengan sifat kedua anaknya yang bertolak belakang.
__ADS_1
"Wah ... Mandiri itu, bagus loh. Mungkin Risma ingin sukses dengan hasil kerja kerasnya sendiri, Mel!"
Tante Melly mengangkat bahu, merasa pasrah dengan pemikiran anak perempuan nya yang keras kepala dan tak banyak bicara itu. kedatangan mobil Rayyan menghentikan obrolan mereka.
Rayyan keluar dari mobil lalu mengambil koper yang berada di sisi Mama Ami untuk di angkut ke bagasi mobil.
"Sini, aku masukin bagasi dulu, Tan!" Rayyan lekas mengangkut koper itu. Mama Ami dan Tante Melly pun menaiki mobil agar segera pulang ke rumah Om Anwar untuk beristirahat.
Kampus Anna
Anna, Maira, Nia dan Dita duduk bersama di kedai Bakso Rudal tak jauh dari kampusnya.
hal sederhana merayakan lulus sidang hari ini menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
Empat mangkuk bakso sudah terhidang di hadapan mereka. seperti biasa Anna lebih memilih bakso bening tanpa saus dan kecap. Saat menuangkan beberapa sendok Sambel ke dalam mangkuk, Anna melirik kanan kiri sepeti ada yang di carinya.
"Bang ..." panggil Anna kepada pelayan di Kedai Baso itu.
Salah satu pelayan menghampiri meja Anna.
"Ada apa ya, Mbak?" tanya pelayan baso.
"Ini jeruk Limau nya mana ya? ko enggak ada!" tanya Anna.
"Oh, iya Mba. Sebentar saya ambilkan dulu." pelayan itu pergi ke arah dapur kedai untuk mengambil jeruk Limau.
"An, apa enaknya sih. makan bakso enggak paket saus?" tanya Nia.
"Lebih seger aja, Ni! cobain deh. kuah Bakso tuh lebih berasa. itu sih menurutku, selera orang kan beda-beda" jelas Anna.
"Ih, banyak banget, Dit, sausnya. Nanti mules loh." tegur Anna.
"Enggaklah, orang aku biasa makan bakso begini" sahut Dita.
Maira diam saja tak banyak berkomentar. sifatnya yang pendiam mendominasi di antara Anna, Dita, dan Nia yang selalu banyak bicara. Dia makan bakso miliknya dengan santai dan pelan, sambil sesekali tersenyum mendengar ocehan teman berbeda jurusan itu
"Habis lulus ini, kamu mau lanjutin kuliah atau kerja, An?" tanya Nia.
Anna mengangkat bahu. "Entahlah! aku juga bingung. Yang pasti aku ingin pulang ke Surabaya dulu, kangen banget udah hampir setahun ini, enggak pulang ke sana," jawab Anna.
"Oh, iya ngomong-ngomong Mama sudah sampai belum ya? ko enggak ada kabar." Anna menghentikan kegiatan makan baksonya. Merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya.
"Mama kamu kesini? kapan?" tanya Maira.
"Tadi pagi, Mir! penerbangan kan pukul sepuluh pagi tadi harusnya kan sudah sampai satu jam yang lalu, tapi tak ada kabar ya. Aku coba telpon malah enggak aktif. Apa Mama ke tempat Om Anwar dulu?" seru Anna.
"Coba kamu hubungi saja Om Anwar atau Tante Melly!" usul Maira.
"Oh, iya kenapa jadi Oon begini sih!" Anna lekas menghubungi Tante Melly. jika menghubungi Om Anwar, Anna yakin saat ini Omnya itu sedang sibuk di kantor. Anna tak mau menggangu waktunya.
"Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif, mohon hubungi beberapa saat lagi."
"Enggak aktif semua, Mai" keluh Anna.
__ADS_1
Anna menjadi tak berselera untuk makan. hatinya gelisah memikirkan keberadaan Mamanya. Tak lama ponselnya berdering. dan nama Rayyan ada di layar ponselnya.
"Assalamualaikum. Mas, lagi sama Tante enggak? Mama udah sampai belum sih! ko, enggak ada kabar ke Anna," cecar Anna saat telpon Rayyan di angkat olehnya.
"Waalaikumsalam. Gue jawab dulu salam lu, dek. baru lu nyerocos. lah ini di jawab belum dah kaya ketinggalan kereta aja." Rayyan memberi jeda lalu kembali berbicara. Mama lu, lagi sama Mamih, tuh! sekarang lagi makan siang dulu di Nyi iteung Cibubur, baru deh otw rumah. lu di suruh ke rumah sama Mama! hape mereka lowbat semua." ucap Rayyan.
"Alhamdulillah ... syukur deh kalau Mama ada di sana. Dari tadi aku khawatir tau, Mas. Ok nanti Anna ke Jakarta pulang dari sini! Mas mau enggak jemput Anna?" Anna merasa lega setelah mendapat kabar dari Rayyan.
"Males ..."
"Jahat banget si Mas biarin Anna ke Jakarta sendiri, tau. ya, jemput ya!" Anna memohon.
"Gue sibuk, Dek! abis Anter Mamih sama Tante pulang langsung ke proyek"
Anna cemberut mendengar penuturan Rayyan. telpon pun masih tersambung dengan Rayyan.
"Gimana, An?" tanya Maira pelan, tapi suaranya bisa terdengar oleh Rayyan.
"Ada sama Tante Melly, Mir"
"Dek, itu suara jodoh gue. Lu lagi sama dia, Dek!" serobot Rayyan.
"Dih ... jodoh! Pede banget Mas. Urusin dulu tuh, si Bella! pacar Mas yang suka pake baju kekurangan bahan.
"Bella belum jadi pacar gue, Dek. cuman temen aja!" elaknya.
"Iya temen tapi mesra"
"Astaghfirullah, Dek. ko kalau bicara suka bener gitu sih!...Rayyan tertawa renyah.
"Ih ... Mas Rayyan, awas ya deketin sahabat Anna, nyebelin ..." Anna langsung menutup obrolannya bersama Rayyan.
Anna kembali meneruskan makan bakso yang sempat tertunda.
"Lanjut lagi, An, makannya?" ejek Maira.
Nia dan Dita tersenyum melihat tingkah Anna.
Anna tak memperdulikan ejekan teman-temannya. Ia kembali meneruskan memakan sisa baso yang tersisa. mubajir kalau tidak di makan.
....
Mubajir apa doyan, An...😂😂
hai . aku kembali setelah beberapa hari tenggelam dalam kegalauan. harus bulak balik revisi karena baru pertama kali ikut event. maafkan Author ya..
Ada kisah Aline yang akan mengikuti lomba. sudah terbit ko di entun sini..
"FAKE LOVE" judulnya.
yang mau mampir silahkan.
Anna juga pasti di teruskan ko..
__ADS_1
jangan lupa like komen nya.