Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Pertama Buatmu Dan Terakhir Untukku


__ADS_3

Keindahan alam di Takabonerate, Sulawesi Selatan menjadi tujuan buat Rayyan dan Maira. Lelahnya terbayarkan oleh indahnya pemandangan di tempat itu.


Maira sangat senang ketika sampai di sana. Maira pun meminta tour guide untuk berkeliling sebentar sebelum mereka pergi ke hotel.


"Mas, lihat sini!" panggil Maira saat dirinya berada di sisi laut.


Rayyan lekas menghampiri, "Lihat apa sih?" tanya Rayyan kemudian merangkul pinggang Maira.


Maira sempat terkejut. Meskipun ini bukan pertama kali Rayyan melingkarkan tangan di pinggangnya tapi Maira belum terbiasa apalagi di hadapan banyak orang.


Maira berusaha menyesuaikan diri dengan Rayyan. Ia menerima semua perlakuan suaminya saat ini kecuali hal yang tidak pantas dipertontonkan di luar, baru Maira akan menolak.


"Mas, lihat deh. Terumbu karangnya bagus banget!" Tunjuk Maira ke bawah jembatan.


Air yang ada sangat jernih sehingga ikan dan terumbu karang terlihat sangat jelas dipandang oleh mata. Rayyan tersenyum melihat Maira yang begitu berbinar ceria melihat seluruh pemandangan yang ada. Benar tidak sia-sia perjalanan menuju tempat ini.


Usai menemani Maira berkeliling sejenak. Keduanya tiba di hotel tempat mereka menginap.


Sebuah bangunan sederhana lebih tepatnya bungalow sederhana yang langsung menghadap pantai. jarak satu Bungalow satu dan yang lain lumayan jauh jaraknya sehingga para penghuni bungalow itu bebas beraktivitas dan tidak terganggu dengan yang lain. Sangat cocok bukan untuk pengantin baru.


Rayyan merebahkan dirinya di bale yang ada di teras Bungalow nya. bale yang dilapisi kasur empuk. Mereka bisa bersantai di sana sambil menikmati pemasangan indah pantai secara langsung.


"Minumnya, Mas!" Maira datang dengan membawakan secangkir teh tarik hangat untuk Rayyan kemudian ia ikut duduk bergabung dengan suaminya.


Semilir angin yang berhembus terasa sejuk suara kicauan burung juga terdengar merdu menghiasi langit sore ini di sana. Sepi, nyaman dan tenang itu yang mereka rasakan.


"Makasih, Neng!"


Maira tersenyum membalasnya.


"Sepi banget, ya, Mas! Telinga terasa adem banget, beda sama di kota," ujar Maira sambil menatap jauh ke arah pantai.


Rayyan yang baru saja menyeruput teh terik hangatnya menyunggingkan senyum. "Bukannya sengaja nyari yang sepi biar kita berduaan," celetuk Rayyan.


Maira lekas menoleh ke arah Rayyan. "Dih, pede banget."


"Hahaha, aku kira kamu memang sengaja mengajak Mas ke sini ingin berduaan sama Mas. Secara di sana selalu ada aja halangan untuk berdua."


"Bukan itu, aku dengar di sini banyak sekali tampar yang indah. Aku mau melihatnya, dan satu lagi Mas aku mau besok kita pergi menyelam," pinta Maira ragu. Ia takut Rayyan seperti abinya yang akan melarang dia menyelam.

__ADS_1


Selama ini Maira sering pergi ke beberapa tempat untuk menyelam itu tanpa sepengetahuan abinya. Sebab Abi Khaliq sangat melarang keras Maira untuk melakukan hal itu. Entah apa alasannya.


"Menyelam?" tanya Rayyan tegas.


Maira mengangguk pelan. "Tapi kalau Mas Rayyan tidak mengijnkan tidak pa-pa ko, aku tidak akan melakukannya." Maira terlihat sedikit murung setelah berucap.


"Besok kita akan melakukan apa yang kamu inginkan. Tidak mungkin hari ini 'kan?" cetus Rayyan seketika membuat Maira langsung menatapnya lega.


"Mas ngijinin?"


Rayyan mengangguk pelan. Tak diduga Maira langsung menghamburkan tubuh dalam pelukan Rayyan. Maira merasa bahagia, sebab kegemarannya itu tak didukung oleh abinya.


"Terim kasih, Mas."


"Ya, memangnya kamu bisa menyelam?" tanya Rayyan.


"Bisa, hanya Abi melarangnya. Dulu aku dan Anna sering berlibur ke tempat yang seru untuk menyelam. Bersama Anna, abi baru ngijinin aku pergi," ujar Maira kemudian duduk dekat di sisi Rayyan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil menatap ke arah pantai.


Suasana sore menjelang malam itu terlihat begitu indah. Cahaya matahari yang hendak meninggalkan peraduan memancarkan sinar jingganya. Membuat sore itu semakin terasa romantis.


"Tapi Mas tidak bisa menyelam!" celetuk Rayyan.


Maira lekas mendongak menatap Rayyan. "Beneran?" Tanya Maira memastikan.


"Tapi berenang bisa?"


"Bisalah, masa berenang aja gak bisa. Apalagi berenang di atas tubuh kamu, Mas pasti bisa banget," goda Rayyan. "Aww, sakit, Neng!" rintih Rayyan saat cubitan di perut dilayangkan oleh Maira.


"Ko mikirnya ke situ!"


Manik mata mereka saling bertatap. Melihat wajah Maira begitu dekat. Rayyan makin tidak kuasa ingin menyentuhnya. Perlahan ia menarik tengkuk leher istrinya menariknya agar lebih dekat.


Maira tertunduk malu karena hal ini adalah pertama untuknya. Tapi yang kesekian kalinya bagi Rayyan.


"Lihat, Mas!" Ucap Rayyan sambil menyentuh dagu Maira.


"Aku malu Mas."


"Kenapa malu?"

__ADS_1


"Ini pertama bagiku, aku tidak punya pengalaman apapun soal---," bibir Maira dibungkam begitu saja oleh Rayyan.


Rasanya tidak sanggup harus melihat pergerakan bibir itu terlalu lama. Rayyan ingin Maira merasakan pengalaman pertama bersamanya.


Mata Maira membulat mendapatkan serangan mendadak dari Rayyan. Tubuhnya kaku, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebab ini benar-benar pertama bagi Maira. Ia merasaka bibir Rayyan memainkan bibir miliknya.


Rasanya kaku, itu yang Rayyan rasakan. Diamnya Maira menandakan bahwa ia sama sekali belum berpengalaman soal ciuman, apalagi lebih dari itu. Rayyan merasa senang. Dia adalah orang yang pertama bagi Maira.


Rayyan melepaskan pelan pagutannya kemudian menatap Maira.


"Kenapa berhenti, Mas," celetuk Maira refleks berbicara seperti itu. Ia makin malu, Maira ketahuan menginginkan hal lebih dari Rayyan.


"Aku senang sekali. Kalau aku adalah orang pertama buatmu dan kamu adalah orang terakhir untukku," ucap Rayyan sambil menatap Maira penuh cinta


"Kaku, ya? Aku tidak sepintar mantan dan wanita yang pernah bersamamu, Mas!" Ujar Maira kembali tertunduk. Ia ingat kalau Rayyan adalah seorang playboy yang pastinya sudah ahli dalam bermain wanita.


"Kamu akan lebih pintar nantinya?" Tanpa basa basi Rayyan kembali menerkam bibir mungil itu.


Kali ini pelan, hati-hati dan lembut. Rayyan seakan sedang mengajari Maira untuk bermain bibir. Lidahnya menerobos masuk. Bermain di dalam mulut Maira. Permainan Rayyan membuat Maira terhanyut.


Perlahan Maira bisa mengimbangi permainan itu. Rayyan merasa senang Maira mulai membalas permainannya. Permainan itu semakin panas dan menuntut saat keduanya mulai terbuka dan terhanyut oleh suasana di tempat itu.


Suara azan dari ponsel milik Maira membuat keduanya terdiam tanpa melepaskan pagutan. Seketika kesadarannya harus kembali. Panggilan ibadah yang harus mereka utamakan lebih dulu, mereka harus mengenyampingkan napsu.


Rayyan segera melepaskan pagutannya. Ia sadar dirinya harus lebih dewasa dan bijaksana. Ia adalah seorang imam dalam rumah tangganya. Ia harus menuntun Maira, berjalan bersama dalam membangun rumah tangga yang diberkati Sanga Maha Kuasa.


"Kita mandi dulu, sudah adzan. Setelah itu jama'ah bersama," ucap Rayyan dan mendapat anggukan dari Maira.


Rayyan pun mengajak Maira masuk ke dalam Bungalow dengan menggandeng tangannya.


Fasilitas di Bungalow yang mereka tempati saat ini sangatlah lengkap. Bisa dibilang seperti di rumah sendiri. semua perlengkapan ada di sana. Rayyan dan Maira bisa memesan makanan ataupun memasak sendiri masakan yang mereka inginkan tergantung permintaan.


Untuk malam ini, Rayyan memilih memesan makanan dari pengelola Bungalow. Mereka harus mengisi daya untuk menambah tenaga. Sebab malam ini akan menjadi malam panjang yang akan menguras tenaga mereka.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Mau ngapain emang Rayyan. ,😄😄 Readers nungguin ya... nungguin apa hayo... Di bawah umur jangan kepo ya..


__ADS_2