Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Perpisahan Dengan Bi Imah


__ADS_3

"Hati-hati ya, Bi Imah, Pa Joko! Salam sama Rika." ucap Anna.


"Iya, Neng!" Dengan cepat Anna berhambur memeluk Bi Imah, tangisnya pun pecah kembali.


"Anna masih kangen, masih banyak yang mau Anna ceritakan, masih banyak yang mau Anna tanyakan, Bibi juga belum meneruskan kisah Sayidah Khadijah binti Khuwailid sama Anna," ucap Anna sela pelukan dengan tangis yang masih ada.


Bi Imah tersenyum getir mendengarnya.


"Neng Anna inget ya, Bibi mau cerita itu sama Neng?"


Anna melepaskan pelukannya dari Bi Imah, kemudian mengangguk pelan. " Anna sekarang sudah jadi wanita muslimah Bi, meskipun Anna bukan wanita pertama yang masuk islam, tapi kisah Sayidah Khadijah binti Khuwailid, yang pernah Bibi ceritakan menjadi salah satu dorongan Anna belajar agama islam.


Air mata yang masih tersisa itu diusap lembut oleh Bi Imah. "Belajar, berdoa, dan terus berusaha menjadi muslimah yang baik, Neng. Ada orang di sekitar Neng Anna yang pasti akan membantu, Neng!" Bi Imah melirik Tante Melly. Lalu kembali berkata dan menatap Anna. " Bibi akan selalu mendoakan kebahagiaan Neng Anna." Bi Imah mengusap pelan pundak Anna.


Kedekatan Anna dan Bi Imah begitu dekat. Dulu Mama Ami juga sampai heran, kenapa putrinya sampai sebegitunya dengan Bi Imah. Ternyata sikap lembut, baik dan penyabar saat Anna kecil selalu bertanya sesuatu tentang apa yang Bi Imah kerjakan. Seperti sedang melaksanakan solat dan mengaji.


Sebelumnya Bi Imah meminta persetujuan Mama Ami jika Anna kecil meminta di ajari ilmu tentang agama Islam. Ia takut majikannya melarang dan membatasi. Ternyata Mama Ami tak pernah melarang bahkan apa yang ingin Anna kecil ketahui dan pelajari Bi Imah disuruh untuk mengajarkannya. Sungguh hati yang begitu baik untuk seorang Mama Ami.


Bi Imah beralih kepada Mama Ami lalu menyatukan tangan di depan dada. "Saya pamit, Bu! mohon maaf jika selama bekerja dengan Bu Ami dan Pa Reno kami selalu merepotkan." ucap Bi Imah sedikit membungkuk lalu berdiri tegap kembali.


Mama Ami merangkup kedua tangan Bi Imah. "Tak perlu meminta maaf, Bi! kami yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih kepada kalian. Selama puluhan tahun kalian sudah bekerja baik dengan kami. Maaf jika aku juga sering merepotkanmu."


Mata Bi Imah terlihat berkaca-kaca berhadapan dengan wanita yang selalu memperlakukannya dengan baik dan sopan meskipun ia bekerja sebagai pembantu di rumahnya.


Mama Ami yang mengerti kesedihan di mata Bi Imah lekas memeluknya erat, memberikan salam perpisahan.


"Sekali lagi, terima kasih sudah menemani kami. Doakan Papanya Anna semoga masalah yang kita hadapi saat ini segera teratasi," ucap Mama Ami di sela pelukannya.


Tak ada tangis bagi Mama Ami, wanita berumur yang masih tetap anggun dan cantik itu terlihat tegar meskipun masalah yang dihadapinya saat ini begitu berat.


"Saya akan selalu mendoakannya, Bu!" Bi Imah melepaskan pelukannya perlahan. "Bu Melly, saya pamit. Saya titip Neng Anna, dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, Bu! Sayangnya kebersamaan Bibi dan Neng Anna tak bisa lama. Padahal kalau saja Bu Ami mengijinkan saya sangat bersedia ikut bersama dia kemanapun Bu Ami tinggal." Bi Imah melirik Mama Ami.


Mama Ami membalas dengan senyuman. "Nanti kalau saya tidak bisa membayar Bibi gimana? lagian malas ah, Bibi itu makannya banyak. Tidurnya juga ngorok, saya gak bisa tidur nyenyak nanti di toko. Tempatnya 'kan sempit," ledek Mama Ami membuat semuanya tertawa menggantikan suasana kesedihan.


"Ibu, bisa saja." ucap Bi Imah malu.


Mama Ami terkekeh kecil melihat Bi Imah. Lalu menepuk pundak pembantunya itu. "Bukankah saya harus menerima dengan ikhlas dan sabar semua yang terjadi pada kita, Bi!"

__ADS_1


Bi Imah mengangguk.


"Ciamis ... Ciamis, yok berangkat!" teriak tukang parkir yang memberitahu keberangkatan bus.


Bi Imah dan Pak Joko berasal dari kota Ciamis, Jawa Barat. Dulu keduanya sama-sama perantau dari kota yang sama, hanya desa yang berbeda.


Mereka bertemu di Kota Surabaya lalu menikah, mereka kembali ke perantauan di tanah Jawa karena sudah merasa betah di sana.


Sampai suatu ketika, Papa Reno mempekerjakan Bi Imah sebagai pembantu di rumahnya, kebetulan Papa Reno juga membutuhkan supir untuk menggantikan supirnya dulu yang telah pensiun karena usia.


Jadi bi Imah sekalian mengajak suaminya Pak Joko agar ikut kerja bareng di rumah Papa Reno karena kebetulan suaminya itu bisa menyupir.


"Kami, pamit! Bu Ami, Neng Anna, Bu Melly," sela Pak Joko lalu bersiap mengangkat barang bawaannya.


Bi Imah juga ikut bersiap, "Bu, juga pamit." Mama Ami memberikan peluk singkat kepada Bi Imah.


Begitu juga dengan Anna dan Tante Melly.


"Hati-hati, Bi!" ucap Tante Melly baru mengeluarkan suaranya.


Terakhir Anna memeluk Bi Imah, sedikit lama. Tapi pelukan itu harus segera diakhiri, karena bus yang akan Bi Imah dan Pak Joko tumpangi segera berangkat.


"InsyaAllah, Bi! Bibi dan Pak Joko hati-hati, kabari Anna kalau sudah sampai di Ciamis, salam buat Rika!" ucap Anna sambil beralih ke arah Pak Joko.


"Iya, Neng!" sahut Pak Joko.


Bi Imah pun mengangguk pelan. Diangkatnya tas jinjing yang ia letakkan di samping tubuhnya.


Kini, keduanya telah berada di dalam bus angkutan kota. Perlahan kendaraan itu jalan menjauh, terlihat lambaian tangan dari Bi Imah dan Pak Joko.


Anna membalasnya dengan lambaian tangan juga. Anna baru melangkah berbalik menghampiri Tante Melly dan Namanya setelah bus yang membawa kedua orang yang berjasa dalam hidup Anna tak lagi terlihat. Perpisahan dengan Bi Imah yang entah akan bertemu kembali atau tidak.


"An, minum dulu!" Tante Melly menyodorkan air botol mineral ke arah Anna.


Mama Ami terlihat duduk di bangku besi yang berderet di depan ruangan pembelian tiket.


"Terima kasih, Tan." Anna dan Tante Melly menghampiri Mama Ami.

__ADS_1


Setelah Anna duduk, gadis itu lekas membuka tutup botol air mineral itu, segera ia meneguk airnya perlahan dengan posisi duduk.


Karena posisi tubuh yang baik untuk minum adalah dengan duduk. Banyak manfaat kesehatan maksimal dari minum saat posisi duduk dan menjaga punggung tetap tegak. Saat minum air dari botol atau gelas sambil duduk, nutrisi mencapai otak dan meningkatkan aktivitasnya.


"Alhamdulillah," ujar Anna. Tenggorokamnya terasa segar karena sedari tadi terasa kering karena selalu menangis.


"Mau kamu atau Tante yang bawa mobil?" tanya Tante Melly kepada Anna.


Mereka akan segera mengunjungi Papa Reno. Waktu sudah semakin siang, Mama Ami juga tidak mau melewatkan waktu untuk bertemu suaminya.


"Biar Anna saja, Tan!"


"Yakin?"


"InsyaAllah, Anna baik-baik saja, ko! masih kuat kalau cuma nyetir sampai ke sana!"


Anna berdiri dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya ke arah Mama Ami. "Ayo, Ma! kita temui, pangeran tampan Mama!" goda Anna membuat senyum Mama Ami merekah di buatnya, disambut uluran itu dengan semangat oleh Mamanya itu.


Mama Ami berjalan sambil merangkup tangan Anna. Diusapnya sesekali tangan yang merangkul itu, memberikan kekuatan pada wanita yang selama ini memberi semangat dan kebebasan untuk dirinya.


Meskipun saat ini mereka berbeda keyakinan, tapi bakti Anna kepada Mama dan Papanya tak pernah berubah.


Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir, di mana mobil yang akan mengantarkan mereka bertemu Papa Reno berada.


"Tangan ini akan terus mendampingi Mama dan Papa. Saat ini giliran Anna yang harus berusaha membahagiakan kalian berdua," ucap Anna dalam hati.


.


.


.


.


.


**Bersambung>>>

__ADS_1


Jangan lupa berikan kehadiran kalian dengan like, komen, vote boleh, gift apalagi boleh banget 😘😘🥰🥰**


__ADS_2