
Senyum Anna makin merekah saat ia baca pesan yang dikirim Abbas untuknya terlebih saat ia lihat emoji yang tersemat di akhir pesannya membuat hati Anna makin berbunga-bunga.
Anna mendekap benda pipih itu di depan dadanya. kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan wajar berseri untuk membersihkan diri dan beristirahat menyambut kegiatan esok hari dengan penuh ceria.
sesampainya di dalam kamar. Anna langsung mendaratkan tubuh di kasur empuknya, terlentang menghadap langit kamarnya.
"Akhirnya .. rebahan juga." Anna Kembali mengingat pesan terakhir yang diterima nya. Ia berguling seraya menggenggam ponsel di tangannya. Di bukanya kembali pesan yang membuat senyum dan jiwanya serasa terbang bertabur bunga itu.
"Apa aku salah, punya perasaan ini terhadapmu, Bang? kamu datang di saat niat hati ini bertekad dengan Agamamu. Apakah kamu hadir untuk menuntunku?" Anna menyentuh layar ponsel miliknya seakan ia berbicara dengan pemilik pesan yang ia baca.
"Hah, Anna menghembuskan nafas berat, semoga di beri petunjuk untuk hati ini. Lelah sekali rasanya tubuh ini, tapi menyenangkan." gumam Anna, Ia tersenyum mengingat kegiatan hari ini.
"Mandi dulu deh, lengket banget ni badan." Anna berdiri, hendak mengambil peralatan mandi dan handuk. di tinggalkannya ponsel di atas tempat tidur.
Setengah jam Anna habiskan untuk bermanja diri di kamar mandi. di temani guyuran air dari shower dengan wangi shampo dan sabun yang menyegarkan membuat tubuhnya lebih fresh.
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti pinta
Yang kau ucap
Dalam janji cinta
Nada Dering lagu kesukaannya terdengar dari ponsel bermerk apel yang di gigit miliknya.
membuat acara mandi manjanya harus segera usai.
"Ya, sebentar ... sabar ... aku pakai baju dulu, sebentar!" Anna berceloteh seakan ia sedang berbicara dengan seseorang.😁
Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang dilangit
Siapalah diriku
Hanya insan biasa
Semua itu
Sungguh aku
Tiada mampu
__ADS_1
Gerakan Anna begitu cepat saat ia berganti pakaian dan menggantung handuk basahnya di gantungan di dekat pintu.
"Sabar kenapa sih ... siapa lagi yang telpon?" Anna meraih benda pipih itu lalu melihat nama siapakah yang dari tadi memanggilnya.
"Om Anwar"
Anna menyipitkan mata. Ada apa ya? lekas ia menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Assalamualaikum, Anna?" sapa Om Anwar dari sebrang telpon.
"Waalaikumsalam, Om. Kenapa Om?" tanya Anna penasaran. Tak biasanya Om Anwar telpon di jam waktu setelah Maghrib. karena biasanya beliau berada di Masjid dekat rumahnya Sampai waktu Isya tiba.
"An, sekarang Om lagi sedang berada di rumahmu di Surabaya." ucap Om Anwar.
"Yang bener, Om? terus gimana mama. Om, udah ketemu mama sama papa? sehat-sehat kan?" cecar Anna. kepada Om Anwar. Ia merasa penasaran dengan kondisi orang tuanya.
"Kamu tenang dulu, sabar," ucap Om Anwar.
"Maaf, Om. Anna seneng Om udah ketemu mama. Apa Mama ada di dekat, Om?" tanya Anna penasaran.
"Ya, mamamu sedang bersama Om. Kamu mau bicara?"
"Ya ... Anna, mau!" Anna begitu semangat saat akan berbicara dengan Mamanya. Beberapa hari ini, mamanya begitu sulit di hubungi.
"Hallo, sayang! apa kabar?" sapa Mama Ami, mama yang sangat Anna sayangi dari sebrang telpon.
"Ya." Mama Ami mengubah panggilannya ke mode Video.
"Hallo juga, Mah, kabar Anna baik. Mama sama Papa sehat? kenapa akhir-akhir ini sulit di hubungi, Mah? A-- Anna kangen, sama Mama.. !" Suara Ana terdengar berat, terlihat matanya mulai mengembun. Ia menahan buliran hangat itu agar tak jatuh. Namun, sepersekian detik, air mata itu berhasil lolos juga. Ia terisak, dadanya terasa sesak begitu melihat dan mendengar suara mamanya.
"Mama juga kangen, sayang. loh ... loh ... anak Mama ko jadi nangis, sih?" tegur Mama Ami saat ia melihat putrinya menangis dari sebrang telpon.
"Anna khawatir sama kalian!?" Mama sama Papa sama sekali enggak kasih kabar ke Anna, seminggu ini."
"Mama sama Papamu lagi banyak kerjaan, Nak. Maaf ya, buat kamu khawatir. Sudah! jangan nangis lagi, kan mau wisuda harus semangat dong!" hibur Mama Ami. Isak tangis masih menemani Anna. perlahan air mata itu berhenti saat Mama Ami menenangkannya.
"Anna senang kalau Mama sama Papa baik-baik di sana. Maafin Anna belum bisa pulang. Oh, iya, ma.. tiga hari lagi Anna sidang skripsi. seminggu berikutnya Anna wisuda. Mama sama Papa bisa datang kan?" tutur Anna. Suaranya masih terdengar sesenggukan karena menangis. tetapi ia begitu semangat memberitahu Mama Ami.
"Doakan urusan Mama di sini cepat selesai, Mama dan Papa Ingin sekali mendampingi mu saat wisuda nanti," harap Mama Ami.
"Aamiin.. itu yang Anna harapkan ma?"
"Nak ...! Om Anwar sudah menceritakan niat hatimu kepada Mama. Mama tak bisa melarang dan menahan. Semua keputusan ada pada dirimu, Nak! Mama hanya bisa merestui. sejatinya semua agama mengajarkan pada kebaikan. Di mana tempat ternyaman untuk dirimu, teruslah belajar menjadi muslim yang baik" Mama Ami menasehati putri kesayangannya.
"Terima kasih Mah, ijin dari Mama dan Papa semakin mengokohkan niatan Anna."
"Ya sudah! istirahat jangan terlalu banyak berpikir. Mama tahu kamu pasti sangat sibuk akhir-akhir ini. jangan terlalu lelah."
Om Anwar yang berada di samping Mama Ami hanya mendengarkan obrolan mama dan anak yang sudah lama tak bertukar kabar.
__ADS_1
"Iya Mah. Anna merasa tenang mendengar suara mama. Mama dan Papa jaga kesehatan ya."
"Om, makasih ya sudah nemuin Mama. Kalau bisa ajakin aja sekarang Mama ke Bogor, Om" teriak Anna dari video call yang di arahkan Mama Ami kepada Om Anwar.
"Sama-sama. Nanti Om, bujuk Mamamu" sahut Om Anwar.
"Mah ... Anna lanjutin susun tugas dulu ya. Besok harus minta tanda tangan para dosen. doain Anna ya, Mah?" pamit Anna. suasana hatinya sudah berubah menjadi senang. tak ada suara Isak tangis dan sesenggukan seperti tadi.
"Ya, sayang.. Mama doakan semoga Tuhan memberkati setiap langkah mu, Aamiin." Mama Ami menempelkan tangan ke dada kiri dan kanan lalu menciumnya, mendoakan Anna agar selalu mendapatkan keberkahan.
"Terima kasih, Mah. Om Anwar ... makasih ya Da.. dah.. Anna tunggu om Anwar pulang ke sini, bawakan oleh oleh ya! Anna tersenyum seraya melambaikan tangan ke kamera ponselnya.
"Assalamualaikum, Om"
"Waalaikumsalam," jawab Om Anwar.
"Love U mah.." Anna memberikan ciuman di tangan lalu di arahkanya ke kamera.
"Love U. Nak. semoga hari mu menyenangkan.
sambung telpon pun terputus dari keduanya.
Anna merasa lebih baik setelah mendengar dan melihat sendiri keadaan Mama. meski tak melihat papanya tapi ia sudah bersyukur bisa tahu keadaan orang tua yang beberapa Minggu ini sulit di hubungi..
.
.
.
.
.
Sudah mulai masuk konflik. sedikit-sedikit ya.
kalau langsung dadakan kasian nanti Anna.
terima kasih yang masih setia membaca kisah Doubel A'A.
ikuti terus kisah nya jangan lupa
👍like
✍️komen dan vote ya
**dukungan kalian begitu berarti untukku
Salam hangat dari Author Mayya_zha**
__ADS_1