Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Ibadahnya Seorang Istri


__ADS_3

Malam ini Papa Reno dan Mama Ami menginap di kediaman Bu Lidia. Tempat di mana Abbas tumbuh. Sebelum beristirahat Bu Lidia menyempatkan sebentar mengobrol dengan kedua orang tua Anna itu.


Secara singkat Bu Lidia juga menceritakan kisah masa lalu Abbas.


Papa Reno benar-benar tidak menyangka perjuangan menantunya begitu membuatnya merasa bangga.


Di tempat lain.


Anna kembali terpukau dengan segala kejutan yang ia dapatkan saat ini.


Sensasi aroma menenangkan sudah terhirup saat kedua pengantin itu masuk ke dalam kamar hotel mewah.


Kali ini Anna menerima kembali kejutan dari Bu Lidia.


Mata yang berbinar melihat suasana kamar hotel yang begitu romantis dengan beberapa hiasan bunga mawar merah di setiap sudut ruangan begitu juga di atas tempat tidur berselimut putih. Begitu banyak kelopak bunga mawar merah bertabur di sana membentuk simbol ❤di tengahnya.


Anna menutup mulutnya sendiri. Tidak menyangka Bu Lidia akan memberikan kejutan seindah ini.


“Kemarilah!” ajak Abbas dengan meraih tangan Anna. Menuntun istrinya agar berjalan perlahan mengikuti langkahnya.


Sesampainya di balkon kamar kembali Anna dikejutkan oleh Abbas.


Meja makan yang di hias sebegitu indahnya menghadap keindahan puncak Bogor malam ini. Tepat berada di salah satu hotel mewah di daerah sana. Anna bisa melihat keindahan beberapa gunung yang mengelilingi keberadaannya saat ini. Sungguh suasana yang begitu menyejukkan malam ini.


“Duduklah,” Abbas kembali menuntun Anna untuk duduk.


Beberapa hidangan sudah tersaji, masih hangat dan aroma wangi dari masakan pun tercium oleh pangkal hidung membuat Anna merasa ingin menyantapnya. Sebab usai resepsi, Anna belum sempat untuk mengisi perutnya sendiri.


“Kita makan dulu, dari tadi Abang lihat kamu belum makan!”


Anna mengangguk pelan sambil tersenyum.


Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Makanan yang sudah tersaji di hadapan masing-masing, sehingga kedua penganti itu tinggal menyantap makanan saja.


“Abang!” panggil Anna setelah meletakkan sendok dan garoh


“Apa.”


“Terima kasih untuk malam ini!”


“Ini sudah jadi kewajibanku membahagiakan dirimu!”


Anna melempar senyum dengan wajah yang malu-malu.


Abbas berdiri dari duduknya usai menyelesaikan makan malam miliknya. Berjalan mendekati Anna. Anna pun ikut berdiri saat melihat suaminya melangkah ke arahnya.


Abbas meraih tangan Anna mencium punggung jemarinya dengan pelan dan penuh penghayatan.


Entah mengapa di kamar ini serasa banyak kupu-kupu beterbangan. Ataukah hanya perasaan Anna yang ikut menebarkan kebahagiaan pada sekelilingnya.


Anna dan Abbas saling berhadapan.


Keduanya saling bertatap. Saling melempar senyum. Tidak pernah menyangka perbedaan yang sangat mengusik hati dan pikiran di awal pertemuan bisa bersatu dengan doa yang selalu Abbas ucapkan.


Dan terbukti dengan kekuatan doa dan harapan meski pernah terbentur keyakinan mereka bisa bersatu.


“Satu hal yang Abang pinta padamu, Sayang!”


“Apa, Bang?”


“Tetap berada di sisiku apapun yang terjadi! Yakin akan cinta Abang kepadamu, tidak akan pernah sanggup hati ini untuk berbagi dan berpaling darimu. Segenap jiwa ini hanya untukmu, Anna. Teruslah berada di sampingku, wahai tulang rusukku,” ucap Abbas lembut dengan penuh perasaan.


Anna melihat ada sedikit keresahan dalam tatapan Abbas. Ia tidak mau mendesak, Anna ingin Abbas sendiri yang berterus terang. Tapi di balik keganjalan itu, Anna bersyukur dengan semua ini.


“Sampai ajak menjemputku, aku aku akan selalu menemani Abang baik suka maupun duka. Baik sehat maupun sakit, aku percaya pada cinta Abang. Aku ingin bersama menuju jannah-Nya hanya bersama Abang. Saling mencintai dan menyayangi. Dan menjadi satu-satunya bidadari surga untuk suamiku!” balas Anna yang langsung mendapatkan pelukan erat dari Abbas.

__ADS_1


Perlahan Abbas menarik pelukannya merasa lega bisa mendengar balasan dari istrinya.


“Abang bersyukur mendapatkan kekasih hati seperti-mu.” Dikecupnya kening Anna dalam menurun pada kedua mata yang yang tertutup kemudian berlanjut di pipi kiri dan kanan. Terakhir Abbas menghentikan gerakannya. Anna membuka mata saat menyadari Abbas tidak meneruskan ciumannya. Berharap Abbas melanjutkannya.


Senyum Abbas membuat Anna tersipu malu, begitu terlihat kalau dia mengharapkan lebih dari itu.


“Kita mandi dulu! pasti lengket” bisiknya pada Anna dan anggukan pelan Anna berikan.


Abbas menuntun Anna untuk bersiap membersihkan diri.


Abbas membantu membuka pengait pakaian pengantin mewah yang dipakai Anna kemudian membuka jilbabnya.


“Anna bersihkan make up dulu, Bang!” pamit Anna menuju kamar mandi.


Padahal saat itu Anna sedang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Padahal ini bukanlah malam pertama lagi bagi mereka tapi entah mengapa rasanya malu, jika harus di tatap seperti itu oleh Abbas.


Abbas mengiyakan ucapannya. Anna beruntung mendapatkan pria sabar seperti Abbas yang mampu menahan hasrat dalam diri. Selalu menempatkan adab saat hendak berhubungan suami istri. Abbas juga bersabar mengajari Anna akan sesuatu yang belum banyak ia pahami dalam ajaran agama.


Anna tersenyum saat melihat dirinya sendiri di depan cermin.


Tatapan matanya beralih pada sebuah kotak persegi yang ada di depannya.


Anna mengerutkan alis saat ia mencoba membuka isinya. Tapi ia langsung tersenyum saat sebuah ide tiba-tiba saja muncul benaknya.


Setelah ini Anna yang akan memberikan kejutan untuk Abbas. Meskipun hatinya berdebar dan malu untuk melakukannya tapi Anna harus mampu. Kali ini ia akan menjalankan ibadah yang pahalanya begitu besar bagi seorang istri.


.


.


...Bersambung...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2