Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Surat Peringatan


__ADS_3

Mama Ami berjalan pelan ke ruang dapur, pandangan nya sesekali menatap suasana di dalam rumahnya itu. Rumah yang memberikan begitu banyak kenangan. Rumah yang menjadi saksi kehidupan rumah tangganya dengan Papa Reno.


Begitu banyak kenangan dalam rumah ini, rasanya begitu berat untuk merelakannya. Tapi ia juga tidak mau kehilangan suaminya. Mama Ami memilih untuk melepaskan semua aset milik mereka dari pada melihat suaminya di dalam penjara. Hanya ruko yang nilainya tak seberapa yang tersisa. Karena ruko tersebut masih dalam proses pembuatan kepemilikan.


Jemari Mama Ami meraba setiap pajangan di dinding tersebut, mengabsen semua pajangan dan foto yang terpajang di sepanjang dinding di dalam rumah itu. Jika sampai saat ini masih belum ada bukti penyanggahan terhadap masalah yang dihadapi Papa Reno, rumah ini akan segera disita oleh pihak penggugat sebagai ganti rugi perusahaan.


Sampai di ruang dapur Mama Ami merebahkan tubuhnya di bangku tepatnya di tempat makan di mana dirinya biasa melayani suaminya, Papa Reno. Bayangan tingkah dan senyum hangat yang selalu diberikan suaminya itu melintas dalam lamunannya saat ini.


Tak terasa buliran air mata menetes di pipi yang mulai terlihat kerutan halus itu. Hatinya sesak, ingin rasanya ia menjerit mengeluarkan rasa sesal. Kenapa semua terjadi kepada keluarganya, Mama Ami sangat yakin, suaminya telah bekerja dengan jujur. Siapa yang tega berbuat jahat dan memfitnah suaminya itu.


Mama Ami lekas mengusap air matanya, saat mendengar derap langkah mendekat ke arahnya. Ia takut kalaulah Anna yang datang ke ruangan itu.


Mama Ami mengembuskan napas lega saat melihat Bi Imah lah yang mendekat kepadanya. Ia tidak mau kembali menunjukan rasa sedihnya di depan Anna.


"Loh, Nyonya belum istirahat? ini sudah malam! bukannya besok pagi-pagi mau ke--," Bi Kamu menghentikan ucapannya lalu berbicara kembali dengan nada pelan. "Lapas!" ucap Bi Imah sambil menunduk sopan.


"Saya belum ngantuk, Bi!"


"Maafkan Saya, Nyah! sudah menutupi penangkapan Tuan Reno! Tuan mewanti-wanti Saya agar tidak memberitahu Nyonya, jadi Saya diam saja saat Nyonya sering telpon menanyakan Tuan Reno kemarin-kemarin," ungkap Bi Imah dengan rasa bersalah. Asisten rumah tangganya itu berdiri sambil menunduk.


"Saya mengerti, Bik!" lirih Mama Ami.


"Nyah, ada kiriman surat dua hari yang lalu! sebentar Saya ambilkan." Bi Imah berbalik badan menuju lemari yang berada di belakangnya.


Setelah mendapatkan yang dicarinya, Bi Imah kembali menghadap Mama Ami.


"Ini, Nyah, suratnya!" Bi Imah menyodorkan satu amplop yang tertutup rapi.


Bi Imah mundur memberi jarak setelah Mama Ami menerima amplop tersebut. Wanita yang umurnya tak jauh berbeda dari Mama Ami itu berdiri tak jauh dari Mama Ami, ia penasaran dengan isi surat yang di terimanya.


"Bi! duduk saja, pasti cape kan berdiri terus di situ!" titah Mama Ami membuat Bi Imah merasa canggung.


"Makasih, Nyah! maaf bukannya Saya ingin tau iis surat itu karena masih berdiri di sini. Tapi Saya hanya ingin menemani nyonya," Bi Imah menunjuk Mama Ami dengan jari jempolnya seraya membungkuk sopan.


"Tak apa, duduklah!" Mama Ami lekas membuka perlahan surat yang di berikan Bi Imah kepadanya.


Tanpa suara Mama Ami membaca isi surat tersebut, ekspresi wajah yang ditunjukkan Mama Ami membuat Bi Imah oenasaran.

__ADS_1


Mama Ami sampai mengerutkan alisnya saat membaca kata demi kata yang terukir di dalam selembar kertas itu.


Mama Ami menghela napas berat sambil menutup kedua matanya. Sejenak mata yang terpejam itu masih enggan membuka kelopak matanya.


Bi Imah yang menyaksikannya pun merasa khawatir Nyonya rumahnya kenapa-napa.


"Nyah!" panggil Bi Imah. "Apa ada hal buruk yang terjadi?" tanya Bi Imah membuat Mama Ami perlahan membuka matanya.


"Ini surat peringatan dari penyidik, Bi!" Mama Ami melipat surat tersebut kemudian memasukannya kembali kedalam amplop putih.


"Surat peringatan apa, Nyah? Bibi gak ngerti!" sahut Bi Imah.


"Surat peringatan agar kita segera mengosongkan rumah ini! karena rumah ini resmi di sita! Rapikan barang pribadi Bi Imah! beritahu pak Joko juga! kemungkinan besok adalah hari terakhir kita berasa di rumah ini." Mama Ami mengedarkan pandangan keseluruh ruangan yang ada di hadapannya.


"Loh kita mau kemana, Nyah? Bu Ami dan Non Anna kan baru saja pulang?" tanya Bi Imah penasaran.


"Rumah ini dan semua aset milik kami di sita oleh pihak penyidik karena kasus yang menimpa suami Saya, Bik!" ungkap Mama Ami dengan surat lesu. Ia tak menyangka akan secepat ini harus pergi dari tempat yang penuh kenangan ini.


Mama Ami diam termenung, Ia bingung harus mengungkapkannya kepada Anna. Anna baru saja sampai di rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Wanita itu tidak tega mengungkapkannya kepada Anna bahwa esok hari mereka harus meninggalkan rumah itu. Dengan segala aset yang ada.


Mama Ami mendongak ke arah Bi Imah yang duduk tepat di depannya.


"It's Ok, Bik! tidak perlu khawatir! Tidak perlu khawatir. Saya baik-baik saja!" ucap Mama Ami bohong. "Bi Imah bisa istirahat, tinggalkan saja Saya sendiri di sini!"


Bi Imah terlihat ragu, ia merasa tidak tega melihat Mama Ami sendiri di dapur.


"Bik ...!" seru Mama Ami dengan suara agak tinggi. Lantas membuat Bi Imah berdiri dari duduknya lalu pamit dengan sopan untuk meninggalkan majikannya seorang diri.


"Kalau begitu Saya permisi, Nyah! kalau ada apa-apa, panggil Saya aja." ucap Bi Imah sopan.


"Iya, Bik! Terima kasih. Maaf merepotkan bibi selama ini!"


"Sama-sama, Nyah! Bibi pamit, Selamat malam, Nyah!" Bi Imah mundur pelan lalu berbalik meninggalkan Mama Ami di dapur.


"Selamat malam juga, Bik! selamat beristirahat," balas Mama Ami.


Bibir bisa berucap baik-baik saja tapi hati dan pikiran sangatlah berbeda.

__ADS_1


Hatinya gundah gelisah, memikirkan bagaimana keadaan suaminya saat ini. Pikirannya kali ini pun tak menyayangkan soal harta yang di miliki saat ini. Ia lebih baik menukarkan semua hartanya agar suaminya tetap berada di sisinya. karena Mama Ami yakin Papa Reno tak pernah melakukan penggelapan uang sebesar itu.


Jika masih ada waktu saat sampai Surabaya tadi, inginnya Mama Ami langsung ke lapas untuk menemui Papa Reno, tapi mereka mendarat di Bandar Udara Internasional Juanda saja sudah malam hari, pastinya waktu besuk pun sudah tidak diijinkan lagi saat itu. Sehingga membuat Mereka bertiga harus menundanya esok hari.


Manik mata Mama Ami tertuju pada pigura kecil di dinding tembok yang membatasi ruangan dapur dan ruang keluarga.


Tubuhnya berdiri lalu melangkah mendekat ke arah dinding tersebut. Di cabutnya figura tersebut. Foto Papa Reno, Mama Ami serta Anna yang tengah memakai seragam putih abu-abu tersemat di dalam figura itu.


"Pah, yang Papa khawatirkan akhirnya terjadi juga! Semua yang kita punya saat ini akan di sita penyidik. Mama butuh Papa, bersandar di bahu Papa adalah tempat yang paling nyaman untuk Mama saat ini! tunggu Mama, ya?" Mama Ami berbicara seakan Papa Reno ada di hadapannya.


.


.


.


.


😭😭 **Mama Ami.... sini peyuk aku aja..


Sabar ya, badai pasti berlalu. Kebenaran pasti akan terungkap. ini ujian untuk kalian agar derajat kalian perlahan naik derajatnya jika bisa melaluinya dengan ikhlas. Semangat Mama Ami.


Like


komen


vote


Jangan lupa ya.... 🔪🔪🔪🔪


widih ko jadi malak gini ya 😁😁✌✌


Mampir ke karya teman Author ya, sekalian**.



Bersambung>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2