
Dan benar dugaan Anna. Saat ini mereka berada di jalan tak jauh dari rumahnya yang belum lama tersita pihak penyelidik.
Papa Reno dan Mama Ami saling pandang tidak mengerti mengapa mereka saat ini malah pulang ke rumah yang belum dikembalikan secara resmi oleh pihak penyidik yang menyita rumahnya waktu itu. Setahu Papa Reno harus ada beberapa prosedur untuk pengembalian nya.
Mama Ami sangat penasaran saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gerbang tinggi rumah yang sangat mereka kenali.
"Abbas...," panggil Mama Ami. Abbas menoleh seraya tersenyum ke arah Mama mertuanya.
"Ya, Mah!" jawabnya singkat.
"Kenapa kamu membawa kami ke sini?" Tanya Mama Ami penasaran.
"Nanti Kalian akan tau!" Abbas menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobil itu, lekas ia membuka pintu mobil bagian kiri di mana Papa Reno berada.
Dengan sangat hati-hati Abbas membantu Papa Reno keluar dari mobil. Anna dan Mama Ami mengikuti mereka.
Mereka ber- empat melangkah pelan menuju teras rumah.
Papa Reno mengedarkan pandangannya. Rasanya begitu rindu dengan suasana kenyamanan rumah ini.
"Apa kita sudah boleh menemaptinya kembali, Nak?" tanya Papa Reno yang masih tidak percaya.
Krekkk...
Pintu rumah mereka terbuka. Semua tatapan beralih terfokus ke arah pintu.
Selamat datang...," ucap beberapa orang kompak, bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut.
Mama Ami, Papa Reno juga Anna nampak terkejut melihat keberadaan mereka.
Abi Bagas, Umi Hera dan Darren 'lah yang menyambut kedatangan mereka.
Anna lekas berjalan cepat ke arah Umi Hera. Dan di sambut uluran tangan dari wanita bergamis itu.
"Umi...," Anna lekas memeluknya.
__ADS_1
Abi Bagas maju melangkah, menghampiri Papa Reno yang berjalan pelan ke arahnya.
Kedua pria berumur itu saling memeluk. "Selamat datang kembali ke rumah kalian ini, Ren!" ucap Abi Bagas di sela pelukannya.
"Terima kasih, atas penyambutannya! Tapi, kenapa kalian ada di sini? Lalu tempat ini?" balas Papa Reno setelah pelukan mereka terlepas.
Abi Bagas menatap Darren sebagai jawaban atas pertanyaan Papa Reno.
"Apa kamu yang melakukan ini semua, Ren?" tanya Papa Reno.
Mama Ami dan Anna ikut menatap Darren
mereka juga penasaran, karena menurut kabar yang mereka dapat dari pihak pengadilan pengembalian aset akan berlangsung sekitar hampir satu bulan setelah proses pergantian kerugian dan hitungan dengan pihak penuntut selesai.
Akan tetapi semua malah berbeda.
Rumah yang tersita itu telah kembali dengan cepat. Ada rasa syukur yang mereka rasakan tapi keinginan tahuan siapa yang mempercepat proses itupun jadi sebuah pertanyaan.
"Dia yang meneror aku, Om! Dua hari ini dia terus menghubungi ku agar proses pengembalian aset berjalan secepat mungkin. Suamimu itu benar-benar membuatku repot!" Darren menatap Abbas dan sedikit mengolok-olok nya. Tapi ucapannya itu hanya bercanda.
"Jadi kamu bersikap acuh sama istrimu karena mengurusi ini semua?" tanya Papa Reno kepada Abbas.
Abbas mengerutkan alis. "Acuh?" Abbas bertanya balik tidak mengerti maksud dari Papa mertuanya itu.
"Ada yang mengadu dan sedih selama dua malam ini. Dia bilang sih diacuhkan sama kamu, di biarin gitu aja kayak obat nyamuk." sindir Mama Ami seraya menatap Anna.
Anna memberikan tatapan peringatan kepada Mamanya seraya menempelkan telunjuk di bibir merah alami itu.
"Mama... " Anna merasa malu keluhannya terbongkar dan diketahui suami juga yang lain. Anna menundukan wajahnya yang merona karena malu. Abbas tersentum melihatnya.
"Sudahlah! Sekarang kita masuk, apa kamu tidak rindu dengan rumah yang kamu tinggalkan hampir dia minggu ini." Abi Bagas lekas merangkuk sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Aku pemilik rumah ini kenapa kamu yang mempersilakan kami masuk," canda Papa Reno. Keduanya terkekeh pelan kemudian melangkah ber-iringan dengan Abi Bagas masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa minggu ia tinggalkan.
"Kamu beruntung mendapat menantu seperti dia!" ucap Abi Bagas pelan di sela langkahnya bersama Papa Reno.
__ADS_1
Papa Reno merangkul bahu Abi Bagas. "Suatu saat nanti kamu pun akan beruntung dalam mendapatkan menantu." balas Papa Reno.
"Dareen sangat susah untuk dijodohkan hanya dengan Anna dia setuju. Mudah-mudahan saja ada wanita yang mau dengan anak itu!" cetus Abi Bagas.
"Mungkin jodohnya masih bersembunyi, kamu harus bersabar."
"Bisa jadi," timpal Abi Bagas sambil menganggukan kepala.
Keduanya terus melangkah menuju keluarga di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama ketika saat berkumpul.
Mama Ami, Umi hera terkekeh mendengarnya. Kedua wanita itu saling merangkul lalu mengikuti langkah para suami mereka dari belakang.
Perbedaan keyakinan tidak membuat kedua keluarga ini berjarak. Tapi dengan perbedaan mereka semakin saling menghargai seperti ajaran kedua kepercayaan yang mereka anut.
Hanya Darren, Anna dan Abbas yang tertinggal di teras rumah.
Abbas saling berhadapan dengan Darren. Pria yang sempat menjadi rival dalam mendapatkan Anna itu saling menatap tajam.
"Terima kasih, kalau bukan karena bantuan darimu tidak mungkin pengembalian aset bisa secepat ini," ucap Abbas seraya merangkul Darren yang mendapat balasan tepukan pelan pada bahu dari pengacara muda itu.
Anna tersenyum melihat interaksi keduanya.
Anna sungguh tidak menyangka kalau dua malam ini Abbas mengacuhkannya karena sibuk mengurusi pengembalian aset milik orang tuanya. Anna merasa bersalah, seharusnya ia bertanya kepada suaminya agar pikiran negatif tidak muncul di benaknya.
Anna tidak menyangka Abbas melakukan semua ini untuk keluarganya. Padahal keberadaan nya di Surabaya ini sudah sangat padat oleh beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Pasti sangat melelahkan, pikirnya.
"Bosan sekali mendengar kamu terus berterima kasih kepadaku," kolah Darren. "Sudahlah jangan peluk-peluk nanti istrimu mengira kamu berpaling kepadaku," seru Darren dengan cepat mendapat pukulan pelan di bahu kirinya setelah Abbas meregangkan pelukan singkatnya.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya.
Author mau ingetin.
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar di kolom komentar.
Yang punya banyak poij bisa berbagi kembang setaman maupun kopi.
__ADS_1
gift dari kalian itu yang bikin Author tambah semangat buat up lagi.