Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Aku Adalah Kakak-Nya


__ADS_3

Anna berlari pelan ke arah Papa Reno. Lalu memeluknya erat.


"Kenapa Papa melakukan ini? Bukankah Papa ingin aku bersama Mas Darren?" ucap Anna disela pelukannya.


"Papa ingin melihat kamu bahagia, Nak! Kamu pikir Papa akan bahagia bila melihat wajahmu tidak ceria seperti kemarin-kemarin," sahut Papa Reno melepas pelukan dari putrinya itu.


Air mata yang kembali berderai diusap oleh Papa Reno.


"Anna hanya ingin memenuhi keinginan Papa!" seru Anna sambil tertunduk.


Papa Reno tersenyum melihat putrinya. Lalu ia menyentuh dagu Anna agar tidak menghindari tatapannya.


"Sudah... Jangan menangis lagi! Cinta kalian sudah bersatu 'kan? Tersenyumlah!" lanjut Papa Reno.


"Papa... Tahu Anna dan Bang Abbas---," Anna tidak melanjutkan ucapannya Papa Reno sudah menjawabnya lebih dulu.


Darren yang menceritakan semuanya.


Anna dan Abbas sama-sama mengalihkan pandangannya mengarah ke Darren.


"Dia yang menceritakan semuanya. Dia tahu kamu adalah wanita yang Abbas tunggu jawaban khitbahnya dan dia adalah pria yang kamu suka. Benar 'kan?" tanya Papa Reno.


Abbas dan Anna kembali saling pandang kemudian sama-sama mengangguk pelan.


Krekk...


Pintu ruangan itu kembali terbuka saat Rio asisten Abbas baru saja sampai di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Rio kikuk karena semua pandangan mengarah kepadanya. "Maaf... Saya datang di saat yang tidak tepat." lanjutnya malu sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Tidak pa-pa Pak Rio, lagian acaranya sudah selesai," Darren menepuk pundak Rio.


"Selesai bagaimana? Menikahnya jadi dengan bos saya apa dengan Anda Pak Darren," celetuk Rio tanpa filter membuat Abbas menatapnya tajam.


"Ok... ok... Saya paham bos! Saya tidak akan bertanya lagi." Rio terlihat menciut ketika melihat Abbas. Padahal pria tampan yang kini sah menjadi suami Anna itu tidak berspekulasi apapun hanya tatapan saja yang ia berikan.


Semua orang tertawa melihat reaksi Rio.

__ADS_1


Anna lekas meminta restu kepada Mama Ami, setelah itu beralih kepada Abi Bagas dan Umi Hera.


"Meskipun kamu tidak jadi menantu Umi, tapi kamu adalah putri Umi, Anna. Benarkan, Bi?" ucap Umi hera sambil melirik Abi Bagas.


Abi Bagas mengangguk pelan.


"Terima kasih, Umi... Abi..." Anna lekas meraih tangan Umi Hera lalu menyalaminya."


Terakhir Anna saling berhadapan dengan Darren. Anna tersenyum kearahnya lalu menundukkan pandangan.


"Mas Darren, maaf... Jika Anna membuat Mas kecewa." ucap Anna tanpa melihat lawan bicaranya.


"Kamu memang membuat Mas kecewa!" Seru Darren. Anna lekas mendongak menatapnya sekilas.


"Maaf..." lirih Anna.


"Mas sangat kecewa, kamu pikir mas akan bahagia jika melihat kamu tidak seceria biasanya. Jujur Mas memang sangat menyanyangi kamu, dari dulu." Ucapan Darren sontak Abbas menatapnya.


"Awalnya memang Mas sangat mengharapkan pernikahan ini, karena Mas akan terus bersama kamu setelah Mas tau keyakinan kita sudah sejalan. Tapi... melihat keceriaan hilang dari wajah kamu, Mas sadar... Bukan bersama Mas, kamu bahagia. Hati mu sudah ada yang memiliki dan itu, Abbas..." Darren membalas tatapan Abbas kemudian tersenyum getir.


Umi Hera yang berada di samping Darren menepuk pelan bahu putranya, memberikan ketenangan agar ia merelakan dan mengikhlaskan apa yang sudah menjadi keputusannya.


Semua terdiam mendengarkan ungkapan perasaan Darren.


"Maafkan Mas, hampir saja Mas membuat gadis kecil manja ini melepaskan cintanya dan memilih Mas sebagai pilihan untuk keputusannya. Tapi Mas bersyukur, Dia..." Darren kembali menatap Abbas."Ternyata datang untuk mempertahankan kamu. Cintanya memang besar untukmu. Kalau saja dia datang terlambat, Mas akan terus maju untuk mendapatkan kamu!" Anna dan Abbas sedikit mengulas senyum.


"Tapi dia sekarang istriku," cetus Abbas.


"Aku yang menyatukan kalian." seru Darren. "Dan ingat Abbas, jika kamu menyakiti Anna, kamu akan berhadapan denganku. Aku adalah Kakak nya. Jadi jangan macam-macam denganku!" lanjut Daren memanggil Abbas tanpa embel-embel pak.


Abbas mendekati Darren. Mereka berdua adu jotos sebagai tanda kedekatan kemudian saling memeluk singkat. "Terima kasih, Pak Darren." ucap Abbas di sela pelukannya.


"Darren, panggil saya nama jika kita tidak sedang dalan urusan pekerjaan!" Darren melepaskan pelukannya.


Abbas mengangguk kemudian bermain kepada Rio.


"Selamat Pak Bos!" ucap Rio memberi selamat dan memberi pelukan singkat ala pria.

__ADS_1


"Terima kasih, kalau kamu tidak menceritakan kisahku kepada Darren. Dia tidak akan merelakan Anna kepadaku." ucap Abas setelah melepas pelukannya.


"Sama-sama, Pak Bos! Nomer rekening saya masih sma tidak berubah, Pak."


Abbas menyatukan alis tidak mengerti maksud Rio.


"Bisa gue gak paham!" Rio menepuk jidatnya sendiri. "Kali aja ada bonus buat saya." celetuk Rio.


Abbas menggelengkan kepala mendegarnya. Tapi Abbas menunjukkan tangan yang dikepal dengan ibu jari yang ditunjukkan.


Wajah Rio begitu sumrinagh saat mendapat tanggapan seperti itu dari Abbas.


"Memang bos gue paling ngerti deh, kalau masalah beginian."


Lagi-lagi mereka tertawa. Kedatangan Rio menjadi bahan candaan di tengah keharuan.


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Anna dan Abbas. Abbas mengelar rasa syukur dengan membagikan nasi kotak dirumah sakit itu setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan.


Para suster yang menemani Anna merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Kenapa pengantin pria nya jadi ganti." ucap suster yang menemani Anna.


"Iya itu 'kan, pria yang tadi nabrak gue di depan ruangan itu." balas salah satu suster yang lain.


"Wah... si Mbak tadi beruntung banget ya, cowok yang suka sama dia, ganteng-ganteng banget. Andai yang satu tadi jadi nikahnya sama gue. Bahagia bener hidup ini!"


"Udah jangan kebanyakn ngayal deh, cepetan bagiin nasi bok ini sama yang lain,"


"Iya... Iya... Ganggu khayalan menyenangkan gue aja!"


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2