Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Sangat Sesak


__ADS_3

"Abang tidak akan memaksa kamu , Dek! Jika memang itu sudah keputusan kamu. Abang akan coba mengerti dan mengikhlaskannya." Abbas menjeda ucapannya seraya menarik napas panjang.


"Abang harap kamu bahagia dengan keputusan yang kamu buat. Mungkin jika Abang berada di posisi kamu, keputusan yang sama akan Abang lakukan. Orang tua adalah segalanya, selagi merak masih sehat kita wajib membahagiakannya sebelum kita lepas dari tanggung jawab mereka."


Ucapan Abbas semakin membuat Anna bersalah. Abbas lebih bijaksana menerima keputusannya. Saat ini malah Anna yang merasa tidak rela melepaskannya.


"Maafkan Anna, Bang!" hanya itu yang bisa Anna ucapkan.


"Ini untukmu! Mungkin bunga ini yang terakhir yang bisa Abbas berikan, karena suatu saat nanti akan ada yang menggantikan Abang memberikannya untukmu." Abbas menyodorkan setangkai mawar putih yang selalu ia berikan kepada Anna setiap kali bertemu. Karena mawar putih lambang kesucian. Abbas mengartikannya sebagai rasa cintanya yang suci kepada Anna.


Anna mendongak menatap Abbas, tatapan mereka bertemu. sangat terlihat jelas raut kesedihan di wajah Anna.


"Jangan menangis, matamu semakin tidak terlihat kalau begitu." Abbas terkekeh karena mata Anna semakin sipit jika menangis. Begitu juga Anna meski sedikit senyum yang tersirat tapi Abbas selalu bisa mengalihkan kesedihannya.


"Sambutlah kebahagiaan mu, Dek! Muliakan orang tua yang selama ini membesarkanmu! Pilihan Papa mu sangatlah tepat." Abbas berdiri dari duduknya.


"Abang menerima semua keputusan kamu. Tapi, Abang minta maaf jika menghapus namamu di hati ini tidaklah mudah. Hanya cukup sehari untuk Abang mencintaimu, tapi tidak cukup waktu untuk melupakanmu, Dek! Semoga bahagia selalu ada bersamamu!" Abbas menangkupkan tangan di depan dada, ia pamit kepada Anna.


Wajah tegar Abbas terlihat saat bersama Anna. Tapi tidak dengan hatinya yang masih berusaha menerimanya keputusan Anna. Abbas mengerti tanpa Anna berbicara soal keadaannya. Melihat kondisi Papa Reno seperti itu, mungkin Abbas juga akan melakukan hal yang samaa dengan Anna.


Abbas berbalik hendak meninggalkan Anna.


Saat Abbas berjalan beberapa langkah, Anna memanggilnya.


"Bang... Tunggu!" Langkah Abbas terhenti.


Anna melepaskan pengait pada kalung yang ia pakai. Cincin yang pernah Abbas berikan kepadanya rasanya harus ia kembalikan. Anna pikir benda itu sangat berharga untuk Abbas.


Anna berjalan mendekati pria yang sedang memandang nya masih dengan tatapan cinta itu.


"Rasanya ini harus Anna kembalikan." Anna menyodorkan cincin yang ia masukkan ke dalam kalung.


"Anna bukanlah wanita yang pantas menerimanya, Anna yakin suatu saat nanti akan ada wanita lain yang berhak menerimanya."


Abbas menengadahkan telapak tangannya, lalu Anna menaruh cincin tersebut di telapak tangan Abbas.


Abbas tersenyum getir, ia berharap bisa memakaikan cincin ini resmi di hadapan orang tua Anna saat khitbah nya di terima. Harapan hanya tinggal harapan, saat ini dengan hati perih dan sesak di dada ia harus menerima kenyataan yang di dapat.


Mereka tidak bisa bersama.


"Terima kasih, Dek! Maafkan Abang kalau selama ini pernah membuatmu kecewa. Mungkin kita tidak berjodoh. Abang permisi, Assalamualaikum," ucao Abbas sambil tertunduk kemudian langsung membalikkan badan dan berjalan keluar cafe tanpa ingin menoleh ke belakang lagi. Karena satu ia menoleh, akan sulit untuknya untuk pergi.


Anna meletakkan tangannya di dada. Rasanya seprti terhimpit, sesak seakan ia tak bisa bernapas saat ini. Melihat kepergian Abbas, pria yang sampai saat ini menjadi pemilik hatinya.


Anna duduk lemas di sofa sambil meremas pakaian depannya. Sakit teramat sakit, ia hanya bisa terisak tanpa bisa menyesali keputusannya.

__ADS_1


Maafkan Anna, Bang...


Maaf jika telah membuat Bang Abbas kecewa.


Anna mencintai Bang Abbas, sampai kapanpun namamu akan selalu ada di hati Anna.


Ucap Anna di sela isak tangisnya yang tak bersuara.


Di sisi lain hanya berjarak satu meja dari tempat Anna duduk saat ini terhalang sekat dinding berukiran bambu, seorang pria mendengar jelas semua yang Anna bicarakan dengan Abbas.


Pria itu pun tersenyum getir. Rasanya ingin mendekati Anna. Wanita yang ia suka selama ini. Suka dengan sikap supelnya, cerewet banyak bertanya kepadanya. Gadis remaja yang selalu ikut dengan Abi dan Umi saat menjemput dirinya di pesantren.


Akulah pilihanmu Anna? Kamu pilih keinginan Papa mu berarti kamu siap menerima aku untuk menggantikan pria itu dalam hatimu!


Batin Darren terus menatap Anna yang sedang terisak. Darren bisa melihat betapa hancurnya hati Anna selepas kepergian Abbas.


Darren tidak sengaja berada di cafe itu. Daren keluar dari ruangan Papa Reno karena ingin mencari angin segar sebentar dan membeli kopi sebagai alasannya. Darren yang sudah berjanji mau menemani Papa Reno malam ini.


Melihat Anna berjalan masuk ke cafe tersebut, Darren kira Anna akan menghampirinya tapi ternyata lain. Anna sedikit berbelok ke meja lain. Meja yang posisinya tepat di samping Darren, mereka hanya tersekat oleh dinding bambu. Gadis itu menghampiri seorang pria. Dan Darren kenal dengan pria tersebut.


"Abbas...," gumam Dareen.


Tidak ada niat untuk menguping pembicaraan Anna. Darren pun hendak pergi dari sana saat pesanan kopinya sudah siap. Tapi mendengar isak tangis dari gadis yang ia suka, Darren kembali duduk, ia tahu apa yang ia lakukan salah.


Rasa penasaran muncul, apalagi saat ia tahu pria yang saat itu bersama Anna.


Egoiskah jika aku menginginkan dirimu dan berharap bisa menggantikan dia di hatimu.


Pikir Darren saat tau isi hati Anna. Darren memang belum memutuskan untuk melamar Anna. Ia menghormati keoutusan Anna yang memintanya bersabar, karena Anna hendak menyelesaikan suatu masalah nya dulu.


Ternyata ini masalah mu. Kamu menolak lebih dulu khitbah nya sebelum menerima lamaranku.


Darren semakin mengerti dengan apa yang terjadi. Ia berpikir ulang dengan ucapan Abbas dengannya tadi pagi. Rekan bisnis yang baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengannya itu berucap, datang ke Surabaya itu sambil menyelam minum air, mengunjungi pembangunan bisnisnya dan menjemput jodohnya.


Darren menunggu sampai tangis Anna mereda. Setelah itu ia berdiri dan mendekati meja Anna.


"Assalamu'alaikum, Anna!" sapa Darren membuat Anan terkejut.


Anna dengan cepat mengusap air matanya. Padahal sudah mengering, hanya menyisakan mata sembab pada wajah cantiknya.


"Waalaikumussalam," jawab Anna gugup.


"Boleh, Mas duduk?"


Anna mengangguk pelan. "Silakan!"

__ADS_1


"Ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya Darren sedikit mendesak. Padahal hanya pertanyaan basa basi, Darren sudah tahu apa yang terjadi tapi ia tidak mau bertanya langsung kepada Anna. Darren ingin tahu, Anna yang sekarang masih samakah dengan Anna yang dulu, langsung bercerita apapun kepadanya.


Anna mengangguk lagi pelan dan terlihat ragu.


"Mas Darren masih mau melanjutkan perjodohan ini?" tanya Anna.


Darren mengerutkan alis, ia kira Anna akan bercerita soal kejadianya tadi bersama Abbas. Tapi ternyata lain.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Segera lamar Anna jika Mas Darren memang menyetujinya, Anna siap!" cetus Anna.


"Kamu yakin dengan ucapanmu? Tidak ada yang kamu sembunyikan dari Mas?"


Anna mendongak menatap Darren. Wajah cantiknya terlihat sembab karena menangis. Darren melihat keceriaan itu hilang, raut wajah manis dan ceria yang selalu ia dapat dari Anna seakan tidak berbelas. Yang terikaht hanya sedih dan kepasrahan.


Anna menggeleng pelan. "Masalah Anna sudah selesai, sekarang ingin waktunya Anna menjalankan keinginan Papa 'kan?"


Anna kembali tertunduk tak kuasa menunjukan terlalu lama wajah sembabnya.


"Kalau ini memang keinginanmu, Mas akan segera melamarmu, Abi dan Umi akan datang menemui Papamu."


Deg...


Jantung Anna seakan terpaksa berhenti.


Ia kembali mendongak menatap Darren.


Hanya anggukan pelan yang bisa Anna berikan kepada Darren.


Secepat ini kah aku harus mengubur perasaan ini.


Bang Abbas... Maafkan Anna..


Setelah ini Anna harus belajar menerima Mas Daren.


Entah sanggup atau tidak menghapus namamu di hatiku, Bang...


Anna menahan rasa sesak di hatinya. Ia harus kuat menahan tangisnya. Anna tidak mau Darren banyak bertanya kepadanya.


.


.


.

__ADS_1


Baca kelanjutan ceritanya ya..


Sabar Anna ujian cinta memang tidak bisa kita tebak.


__ADS_2