Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Keputusan Anna


__ADS_3

Anna menghela napas berat mendengar permintaan Riska.


"Apa tidak ada permintaan lain?" tanya Anna.


Riska menggelengkan kepalanya. "Kenapa Kak Anna takut jika operasi itu gagal, Kak Abbas akan menikahi ku?"


"Aku percaya suamiku tidak akan pernah berpaling!"


"Kalau begitu ... Biarkan aku sendiri! Sekarang atau nanti sama saja bagiku." Riska berdiri, ia meraba batang kayu yang sengaja di sambungkan oleh Pak Irwan agar Riska bisa berjalan mengelilingi halaman rumahnya.


Sungguh menyedihkan setiap hari jika tidak ada kegiatan. Riska hanya bisa menikmati kesendirian dengan berjalan-jalan di halaman rumah. Sebab Bi Ratmi dan Pak Irwan tidak bisa ada di sampingnya setiap saat. Mereka harus bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.


"Biar kubantu, " tawar Anna.


"Tidak perlu," tolak Riska.


"Riska!" panggil Anna dengan suara sedikit tinggi.


"Apa kami tidak bersikap egois dengan sikapmu sekarang ini? Orang tuamu mengharapkan kamu agar menyetujui operasi itu, coba pikirkan lagi," pinta Anna.


Anna ikut berdiri kemudian berjalan mendekati Riska.


"Tolong pikirkan lagi?"


"Dan apa sulit jika aku meminta kepadamu Kak? Apabila operasi itu kembali gagal, apa Kak Abbas bisa memenuhi amanah orang tuanya? Hanya itu yang aku minta, aku tidak masalah dijadikan yang ke dua. Di saat itu aku merasa lega. Meskipun tidak mencintaiku tapi ada lelaki yang mau bertanggung jawab atas wanita buta ini. Tak masalah jika Kak Abbas jarang menemuiku Kak Anna," ucap Riska masih dengan keinginan yang tidak bisa ia rubah.


Anna tidak tahu harus berbicara apa lagi kepada Riska. "Apa kamu begitu mencintai suamiku?" tanya Anna.


"Entahlah! Aku merasa nyaman berada di samping Kak Abbas hanya itu saja yang aku rasakan. tapi sekarang ini sikapnya dingin tidak sehangat dulu saat dia selalu menolongku."


"Jika memang itu yang kamu inginkan. aku merestui nya. Asalkan kamu menyetujui tindakan operasi besok. ke depannya sesuai perjanjian. jika kamu bisa melihat, tanggung jawab suamiku dan almarhum orang tuanya lepas saat itu. Tapi jika sebaliknya dan kamu masih bersikeras ingin suamiku menikahimu sesuai perjanjian orang tua kalian dulu. A- aku ...," Anna menjeda ucapanya, ia memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum ia membulatkan hati untuk berkata. "Aku menyetujuinya. Aku menyetujui suamiku menikahimu, dan aku akan membujuknya jika memang dia menolak. Aku berjanji." ucap Anna.

__ADS_1


"Apa Kak Abbas tahu tentang ini?" tanya Riska.


"Tidak! Tapi suamiku akan mendengarkan ucapanku, itu 'kan yang kamu mau? Aku mengambil keputusan ini hanya ingin menyadarkanmu. kamu wanita sholehah yang pandai ilmu dibanding aku. tapi rasa percaya mu pada kekuasaan Allah masih belum kuat. Seharusnya ketika Allah memberi jalan terbaik untuk kita, jalani saja. untuk hasilnya Allah pasti berikan yang terbaik untukmu. Yakin lah itu!" Anna menasehati Riska menyadarkan gadis itu untuk tidak mementingkan egonya ketika ingin memiliki sesuatu.


Setiap manusia yang berharap akan akan sesuatu belum tentu hal itu yang baik saat kita berhasil mendapatkannya. Usaha dan do'a adalah sesuatu yang Allah pertimbangkan untuk mengabullan keinginan itu.


"Orang tuamu sangat menginginkan kamu bisa melihat, setidaknya dengan aku menyetujui keinginanmu. Aku bisa memberikan kelegaan kepada kedua orang tuamu terutama suamiku. Hal ini menjadi beban berat untuknya."


Mendengar hal itu Riska hanya diam sja tidak tahu harus membalas apa atas ucapan Anna.


"Aku permisi," Anna pamit kepada Riska tapi sebelum melangkahkan kakinya, Anna terdiam sesat lalu berbalik kembali. kini Anna dan Riska saling berhadapan.


"Hal ini hanya aku dan kamu yang mengetahuinya. Sungguh besar harapanku agar kamu bisa melihat lagi. Aku dan suamiku pasti mendoakan yang terbaik untukmu. Dan jangan pernah Menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan kepadamu saat ini." Usai berkata demikian Anna pamit dengan mengucapkan salam sambil menundukkan sedikit kepala di hadapan Riska.


"Assalamu'alaikum," pamit Anna.


"Wa'alaikumussalam," jawab Riska.


"Abang baru mau ikut mengobrol dengan kalian!" Abbas merangkul Anna dan mencium kening istrinya.


Jika saat ini Riska bisa melihat mungkin keadaannya akan canggung karena melihat kemesraan Anna dengan pria yang ia kagumi.


"Aku hanya mengobrol sebentar, sepertinya yang perlu saling berbicara adalah Abang dan Riska." Anna menatap Abbas dengan penuh kelembutan.


"Apa boleh hanya aku dan dia berdua saja?" tanya Abbas karena ia tidak mau membuat Anna merasa tidak dihargai.


"Aku mengizinkannya, Bang! Asal tidak ada kontak fisik atau menatap terlalu lama," pinta Anna.


"Hal itu hanya Abang lakukan sama kamu! bahkan tidak hanya kontak fisik dan menatap. Merasakan dan bermain bersama lebih halal jika Abang sama kamu, Dek!" bisik Abbas ysng berhasil mmbiat Anna tersipu malu.


"Abang ih... gombal banget!"

__ADS_1


"Bukan gombal tapi serius."


"Udah deh sana!" Anna mendorong Abbas agar segera mendekati Riska.


Tak jauh dari dari tempat Anna dan Abbas saat ini, Riska bisa mendengar jelas percakapan mereka.


'Aku juga ingin seperti mereka. Ya Allah jahat kah aku, jika ikut masuk dalam kebahagiaan mereka. Aku tahu ini salah, tapi aku hanya ingin hakku dalam bahagia. Aku ingin amanah itu terlaksana, agar sesal terhadap kejadian yang menimpaku itu terbalaskan oleh tanggung jawab Kak Abbas terhadapku. Semua aku pasrahkan padamu ya Allah, aku hanya meminta tapi di luar itu semua kuasa ada pada-Mu.'


Lirih Riska dalam hati.


Berbicara dengan Anna sedikitnya membuat hatinya terbuka. keegoisannya perlahan memudar. Ia sadar semua kehendak ada di tangan Sang Pencipta. Risaka hanya meminta sebuah keajaiban untuknya dan jika memang setelah operasi tak ada kesembuhan ia berharap yang terbaik.


Dan jika Abbas memang mau melaksanakan amanah almarhum ayahnya, Riska akan senang hati menerimanya meskipun cinta tak akan pernah bisa ia dapat dari Abbas.


"Abang bicara dulu sebentar sama Riska, kamu tinggi di dalam. Ok!"


Anna mengantuk paham.


"Aku do'akan semoga Riska menyetujuinya," ucap Anna.


"Aamin, terima kasih, Sayang!" Abbas mengelus pelan pipi istrinya l. pancaran cinta dan harapan terlihat jelas di sana.


Sudah pastikan Riska akan menyetujuinya, sebab Anna sudah membuat kesepakatan dengan gadis itu. Dan Abbas tidak tahu sama sekali. Anna berharap kesembuhan terjadi pada Riska. Ia akan terus berdoa agar Allah menjamah do'anya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2