Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Rayyan yang pedenya tingkat tinggi


__ADS_3

Rayyan juga dekat dengan beberapa wanita cantik dan seksi. kebanyakan dari mereka adalah seorang model dan aktris. Ia mempunyai wajah tampan, berkharisma dan royal sehingga banyak wanita yang terpesona terhadapnya. Hanya saja percaya diri yang terlalu berlebih yang membuat orang terdekatnya seperti Anna dan Risma adik perempuannya merasa jengah karena sikapnya.


Anna menghubungi Mama Ami berbincang sebentar di telpon memberitahu kabar bahwa dia lulus seleksi sidang proposal dan berlanjut ke sidang skripsi sekitar dua harian lagi, tiga hari setelahnya barulah wisuda di gelar secara bersamaan dengan fakultas lain yang bernaung di kampus yang sama dengannya.


Begitu senangnya saat mendengar Sang Mama akan Hadir di acara wisuda nanti. Anna berjingkrak girang. sikap cerianya begitu terlihat, sehingga ketukan kaca dari dalam mobil menghentikan tingkahnya.


Kaca mobil di sampingnya pun menurun perlahan. Si empunya mobil berteriak dari dalam.


"Woy ... bocah ngapain lu jingkrak-jingkrak begitu." teriak Rayyan menghentikan tingkah Anna.


"Mas, apaan sih. Dari tadi manggil Anna bocah terus. nyebelin banget."


"Kalau enggak mau di panggil bocah, jangan kaya bocah jingkrak-jingkrak kaya gitu. Apa bukan bocah tuh namanya."


"MAS RAYYAN .... nyebelin ih, Anna udah dewasa, jangan di panggil bocah lagi!" Anna memanyunkan bibirnya.


"Ha ... ha ... " Rayyan terlihat seperti puas mengerjai sepupu yang lama tak bertemu dengannya.


Kebiasaan Rayyan dengan Anna jika bertemu pasti tak pernah akur. Rayyan yang merasa senang jika menjahili Anna. Berbeda dengan Risma, adik dari Rayyan yang sikapnya lebih jutek dan keras. Jarang sekali mereka bercanda ketika berada ruangan yang sama. meski begitu rasa sayangnya kepada adik jutek nya tetaplah besar.


"Gitu aja ngambek, nih ... cokelat pesanan lu! yah gitu aja ngambek, nih mau gak?" goda Rayyan seraya memberikan kantung belanjaan yang ia ambil di bangku belakang.


Anna langsung menyambar kantung belanjaan yang di sodorkan kepadanya melalui celah kaca mobil yang terbuka.


"Sini" Anna membuka kantung belanjaan itu, di intip untuk melihat isinya. "Ko, cokelat Toblersix nya cuma ada satu, pesen nya 'kan dua?" serang Anna.


"Udah di beliin protes aja nih, bocah! enggak ada tadi ada yang ngembat di toko. itu aja gratis di bayarin tuh cewe. gue disuruh beli merk lain, katanya. ribet banget si jadi cewe cuma beda merk aja" gerutu Rayyan seraya melanjutkan chat nya dengan Bella, wanita yang sedang dekat dengannya.


"Dek, temen lu lama banget sih? jadi enggak nih minta anterin. bentar lagi waktunya balik ngantor tau. bisa ceramah panjang kali lebar papih tau gue kelamaan." Rayyan masih terus menggerutu seraya memainkan ponselnya.


"Sabar kenapa Mas, perusahaan punya sendiri juga. masa ia, Om Anwar mau pecat anaknya sendiri." elak Anna.


"Beuh, kagak tau aja lu, Dek. Papih kalau di kantor tuh, nganggap gue ini kaya orang lain. nyuruh sana sini seenaknya. tanpa pandang buntut." keluh Rayyan.


"Baguslah! biar Mas mandiri, enggak manja, biar Mas dewasa juga. umur Mas tuh, udah waktunya merit jangan maen cewek terus!" cemooh Anna.


"Ngeledek apa menghina, tuh? gue tinggal juga, nih. biar balik naik angkot aja sekalian!" serang Rayyan.


"Iya Maaf ...maaf . gitu dia mah, Mas Rayyan tuh gampang nesu mah, bukan Anna. Tungguin bentar, dia lagi jalan ke sini."


"Lama amat jalan nya dari tadi belum nongol juga." Rayyan menurunkan bangku kemudi nya jadi setengah berbaring, tangannya masih terus berselancar di layar ponsel setelah mengakhiri chatnya dengan Bella.


Akhirnya yang di tunggu datang juga. Anna melambaikan tangannya. tapi tak bisa di balas oleh Maira. karena tangan kiri memegangi file yang di dekap di dadanya, dan tangan kanan membawa bungkusan plastik. Entah apa isi nya.


"Mai" panggil Anna.


Maira menuruni tiga anak tangga melangkah kan kakinya ke arah Anna.

__ADS_1


Rayyan langsung menegakkan badannya saat mendengar Anna memanggil teman yang di tunggunya dari tadi.


Deg


Jantung nya di paksa berdetak cepat saat melihat kembali senyum dengan lesung pipi dari gadis manis nan ayu yang tadi di tabraknya di dalam kampus.


Rayyan mulai salah tingkah karena kedatangan Maira. Ia menghadap kaca spion dalam yang menempel di kaca depan bagian atas sambil merapihkan rambut dan kemeja yang membalut tubuhnya.


"Keren ... ganteng ... perfect . " Rayyan menyisir sedikit rambut ke belakang dengan tangannya.



visual Rayyan Al khafi


tok ... tok ... tok ...


"Mas Rayyan ... buka ih ... Gimana mau masuk pintunya dikunci gini!" seru Anna.


klok


"Udah ... cepetan masuk panas di luar" ujar Rayyan.


"Tumben perhatian, dari tadi aku enggak disuruh masuk ada di luar" Anna menatap curiga pada Rayyan.


"Cepetan masuk, mau diantar gak?"


"E-eh, Ko gue berasa jadi supir ya. Coba pindah salah satu kedepan. Enak aja ganteng-ganteng gini bisa di kira supir lagi! merosot ntar pesona gue. Dek, pindah ..." perintah Rayyan pada Anna.


"Ck .. Anna memutar bola mata, malas mendengar ocehan Kaka sepupunya. biasa aja kali ... aku pindah ke depan ya, Mai?" Anna pun pindah duduk sesuai perintah Rayyan.


Maira mengangguk.


"Mai, kamu jadi beli es kelapa?" Anna memperhatikan bungkusan yang di bawa Maira setelah beralih duduk ke depan.


"Iya, tadi kamu bilang siapa yang sampai taman duluan, pesankan es kelapa juga. aku dah pesan kamu chat nyuruh ke sini. ya sekalian di bungkus aja, kasian kan Mang Dower kalau aku batalkan." jawab Maira.


"Bener juga. Ya sudah buat di kos an, aja!" usul Anna.


Maira mengangguk sambil tersenyum. Rayyan kepergok memandangi nya lewat kaca spion dalam. mata mereka bersirobok sesaat. Maira menunduk malu. Rayyan pun menaikan sudut bibirnya melihat tingkah malu Maira.


"Ayo mas, jalan" Anna melirik ke arah Rayyan. "E-eh dia malah senyum bukan nya jalanin mobil." desis Anna.


"Sabar. ini juga mau jalan."


Kendaraan yang di kemudikan Rayyan pun melaju menembus jalanan menuju tempat Kos Anna, yang sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh jika di tempuh memakai kendaraan bermotor.


Maira yang tertunduk malu mencoba kembali melirik Rayyan yang tengah mengemudi.

__ADS_1


"Bukannya dia lelaki yang menabrak aku di depan ruang dosen. oh .. ternyata dia sepupu Anna." batinnya sambil terkekeh pelan ingat perkataan Anna kepadanya perihal kakak sepupu yang mempunyai kepedean tingkat tinggi meski tampan dan berkarisma benar adanya.


"Kenapa, Mai?" Anna mendengar Maira terkekeh meski dengan suara pelan.


Maira menggelengkan kepalanya seraya menutup mulut dengan satu tangannya.


"Aku kira kenapa!" seru Anna.


Selama perjalanan Rayyan hanya terdiam mendengar Anna berbicara dengan Maira. Sesekali ia melirik Maira lewat kaca spion dalam. Tak lama kemudian Mobil Rayyan memasuki halaman rumah Kos yang selalu terlihat bersih dan Asri.


"Tempat kos Elit" gumam Rayyan saat memandangi bangunan Kos tempat tinggal Anna kemudian membuka seat belt lalu keluar dari dalam mobil. Di ikuti Anna dan Maira.


"Sayang banget nih, mobil. jadi pajangan doang." Rayyan melirik mobil Anna yang terparkir di halaman rumah kos tersebut.


Anna mendekati Rayyan, "Mas, tolong bantuin aku bawain kardus ke dalam ya, Please .." Anna memohon dengan mimik wajah puppy eyes nya.


"Hm" Rayyan lalu membuka pintu belakang mobilnya mengeluarkan kardus berisi pesanan Anna.


"Terima kasih Mas Rayyan Ganteng ..."


"Dari lahir kali, baru sadar apa"


Anna kembali memutar bola malas lekas ia membantu menutup pintu mobil.


Maira hanya tersenyum melihat tingkah kedua sepupu beda usia itu.


Anna dan Maira mengikuti langkah Rayyan berjalan lebih dulu sambil mengangkat kardus milik Anna.


Di tengah ruangan mereka bertemu dengan Kia, teman satu kos dengan Anna. Ia baru saja keluar dari arah dapur dan membawa air botol mineral dingin di tangannya.


"Hai, Mai, apa kabar? baru keliatan kesini lagi?" Kia berhenti sejenak untuk menyapa Maira.


"Hai juga, Ki. Alhamdulillah kabarku baik. lagi sibuk susun skripsi, jadi jarang kesini" balas Maira.


Kia menatap Rayyan yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa, terlihat kelelahan setelah mengangkat kardus.


"Kuli panggul dari mana, An. ganteng begitu?" Kia bertanya dengan suara pelan lalu menunjuk kearah Rayyan dengan dagunya.


Anna dan Maira saling menatap.


"Ha.. ha.. ha..." Mereka tertawa kompak mendengar pertanyaan Kia.


...🌸🌸🌸...


Terima kasih sudah membaca bab ini.


jika berkenan tinggalkan jejak jika kalian suka dengan ceritaku.

__ADS_1


like, komen, hadiah dan vote kalian sangat berarti untuk Author receh seperti ku.


__ADS_2