Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Menyusul Ke Surabaya


__ADS_3

Jarum jam pada dinding kamar bercat cream itu menunjukkan pukul sembilan malam. Lama juga Anna bersimpuh di atas sajadah mengadukan perasaan hatinya pada Sang Pemilik Hati.


Tak pernah ia menyangka, keluh kesah mengenai perasaan hatinya yang ia curhatan selama ini kepada sahabatnya itu mungkin telah meningggalkan rasa sakit hati. Anna tidak tahu perasaan sahabatnya saat ini, tapi selama ini tak pernah Maira menunjukkan kesal ataupun menghindar darinya. Yang Anna rasakan, Maira malah memberinya semangat untuk mempertahankan cintanya kepada Abbas.


Apakah Maira hanya menutupi perasaannya saja. Sikap baik Maira semakin membuat Anna merasa bersalah. Ia berpikir, Maira lah yang paling pantas untuk Abbas. Hatinya yang begitu tulus dan mencintai Abbas dalam diam akan jadi alasannya untuk tidak mempertahankan Abbas.


ceklek


Suara pintu kamar terbuka. Bunda Ima masuk memastikan Anna sedang melakukan apa.


"An...!" panggil Bunda Ima pelan. Membuat Anna yang sedang terduduk menoleh kepadanya. Lekas Anna berdiri, segera ia lepas mukenah yang dipakainya. Berganti dengan hijab instan.


"Kenapa, Bun?" Anna menghampiri Bunda Ima setelah menyimpan mukena di atas tempat tidur.


"Mas mu udah datang lagi, tapi Maira masih juga belum sampai! Kayaknya macet di jalan, tadi sih bilangnya sudah dekat. Tapi kok belum sampai juga yah?" Bunda Ima terlihat bingung.


"Ya sudah, gak pa-pa, Bunda. Anna pulang dulu aja. Soalnya Anna mau ke kos an juga, mau ambil barang-barang Anna di sana. Takutnya kemalaman sampai kos-an. Titip salam saja buat Maira." Anna bergegas mengambil tas selempangnya di atas tempat tidur. Gadis itu lupa mengembalikan buku harian yang ia baca ke tempat semula, bahkan Anna juga lupa untuk menutupnya.


Sayang Anna tidak membaca kelanjutan catatan milik Maira.Di Beberapa lembar tulisan terakhir, Maira menuliskan kelegaannya saat mengikhlaskan Abbas untuk Anna-sahabantnya. Karena Maira tahu perasaan tidak bisa dipaksakan. Apalagi dia tidak bisa menunjukkan perasaannya kepada Abbas. Maira sadar perasaan itu tidak sejati, hanya rasa kagum yang ia rasakan selama ini bukanlah cinta.


"Maaf ya, Anna! kamu sudah nunggu dari tadi tapi Maira belum juga pulang."


Anna tersenyum dan memakluminya.


"Tak apa Bunda. Nanti juga Anna ke sini lagi, kok. Anna titip baju wisuda ini saja sama Maira. Soalnya Anna tidak lama di sini, mungkin besok sore Anna kembali ke Surabaya," ujar Anna.


"Ya, sudah. Sampaikan salam Bunda buat Mama dan Papa mu."


"Iay, Bun. Anna, pamit ya?" ucap Anna kemudian meraih tangan Bunda Ima lalu menciumnya dengan takzim.


Rayyan sempat protes, pria itu berbisik agar Anna mau menunggu Maira. Sepupu Anna itu ingin bertemu dengan MairaRay meski hanya sebentar saja. jika mereka pulang saat ini gagal sudah penantian Rayyan.


Padahal kalau di pikir-pikir, Rayyan bisa bertemu di kantornya nanti. Memang cinta sudah membuat mentok daya pikir pria itu.


Rayyan ingin sekali kembali melayangkan protes kepada Anna. Tapi melihat sepupunya murung bahkan sangat terlihat matanya mengembun seakan menahan tangisnya. Rayyan tidak jadi mengecam Anna dengan ucapannya.


Pria itu lebih memilih diam dan tidak banyakbanyak bertanya ada apa dengan sepupunya itu.


"Mas, bantuin Anna, Ya! bawain angkat barang-barang Anna ke mobil!" pinta Anna tak bersemangat.


Rayyan hanya mengangguk lalu mengikuti Anna dari belakang.

__ADS_1


"Cuma segini doang, dek barang-barangmu?" tanya Rayyan heran dengan barang pribadi Anna yang tak begitu banyak dalam tiga kardus yang ukurannya tidak begitu besar.


"Iya, Mas. hanya buku-buku panduan kok. baju juga tidak banyak hanya satu koper itu juga sudah di bawa sebagian ke rumah Mas Rayyan," ungkap Anna.


Rayyan dan Anna bolak-balik ke mobil memindahkan kardus - kardus itu.


Lagi-lagi berkat bantuan Maira yang sudah merapikan barang-barang Ana ke dalam kardus. Anna tinggal mengangkut saja barang-barang miliknya.


Perasaan bersalahnya semakin besar terhadap Maira.


"Dek, lu kenapa sih? Dari tadi diem terus, mana muka lu kaya langit mendung tak jadi hujan," ledek Rayyan. "Gue jadi segan kalau lu diem begini!" ucapnya kemudian berlalu dengan mengangkat barang yang akan ia masukkan ke dalam mobil.


Itu adalah Kardus terakhir yang harus Rayyan angkut. Anna masih tak mau angkat suara. Ia takut kalau membuka mulut akan menyakiti hati Rayyan juga. Karena yang ia sedihkan saat ini adalah perasaan Maira pada Abbas, sedangkan Rayyan juga mempunyai perasaan pada Maira. Sungguh hatinya teramat galau kali ini. Anna jadi serba salah dibuatnya.


Kia- teman satu kos yang kamarnya tepat di samping Anna, keluar kamar. Karena mendengar sedikit kegaduhan yang Rayyan timbulkan saat mengeluarkan kardus.


"Anna ...," panggil Kia membuat gadis yang hatinya sedang gundah itu menoleh ke sumber suara.


"Hai Kia, tumben ada di kos-an? Apa baru pulang lembur?" balas Anna sambil bertanya lalu berpeluk singkat.


"Aku sip satu, kerjaan lagi sepi, jadi pulang sore terus! Kata Maira kamu mau pindah dari sini, kemana?"


"Pulang ke Surabaya, Kia!"


Anna menggeleng kepalanya pelan. "Mau kumpul sama Papa dan Mamaku dulu, kangen juga dua tahun berpisah dari merekamereka," ungkapnya.


"Apa ada lagi yang harus, gue angkut," tanya Rayyan setelah kembali dari luar.


"Sudah, Mas. Itu tadi yang terakhir!" balas Anna kemudian beralih menatap Kia. "Maaf ya kalau selama ini ada perkataan atau tingkah lakuku yang kurang berkenan di hatimu, Kia!" ucapnya sedih pada Kia.


Rayyan sudah berlalu lebih dulu meninggalkan Anna menuju mobilnya.


Bagaimanapun selama dua tahun tinggal berdampingan dengan Kia, sudah banyak kebersamaan yang mereka lalui. Bertetangga kamar dengan Kia memberikan pelajaran arti hidup hemat kepada Anna.


Kia yang ng-kos karena bekerja. Sedangkan Anna ng-kos karena kuliah.


Dari Kia lah sedikit banyaknya Anna belajar mandiri. Belajar memasak untuk makan sehari-harinya agar menghemat biaya pengeluaran.


Padahal Mama Ami selalu mengirimkan uang lebih padanya, sehingga Anna bisa menabung. Terbukti saat beberapa bulan sebelum wisudanya, Anna bisa menggunakan uang tabungannya untuk membayar sewa kos karena Mama Ami belum mengirimkan uang.


"Akh ... Anna, bikin sedih aja, maafin aku juga ya!" balas Kia, mereka kembali berpelukan. Pelukan perpisahan tentunya.

__ADS_1


"Aku pamit ya, salahkan maafku kepada ibu kos, maaf tidak pamit kepadanya sama yang lain juga," tutur Anna seraya menyerahkan kunci kamarnya kepada Kia.


"Ya, nanti aku sampaikan. Kalau sukses nanti jangan lupa sama aku ya, Ann!" ledek Kia.


"Aamin... InsyaAllah! Aku pamit ya, Ki!"


"Hati-hati, An!"


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumusalam."


Anna pun melangkah meninggalkan tempat yang selalu dua tahun ini ia tempati. Tempat singgahnua selama mencari ilmu di daerah Bogor.


***


"Gua salut sama lu bro, rela nyusul ke Surabaya demi pujaan hati." Rio merasa takjub dengan sikap Abbas. Pemuda itu sampai rela pergi lebih dulu sebelum jadwal kerjanya tiba.


Jadwal yang sudah di susun Naina-Sekertaris Abbas. Memang ada pertemuan bisnis ke Surabaya dalam minggu ini, tapi rasanya begitu lama untuk seorang Abbas. Pria itu lebih dulu pergi, karena ingin bertemu Anna juga orang tuanya.


Ia bahkan rela menyanggah keinginan ayahnya yang menginginkan Abbas harus menikahi Riska, wanita yang tak bisa melihat akibat kecelakaan yang terjadi puluhan tahun lalu.


Bagi Abbas amanah dari ayahnya bisa dilakukan jika Riska tidak bisa disembuhkan.


Dan kali ini Abbas tegas menolak karena ia mempunyai rekomendasi Dokter terbaik yang bisa mengobati mata Riska. Setelah Riska bisa melihat Abbas terbebas mengambil keputusan. Hampir sebulan ini Riska sudah menjalani pengobatan terbaik dari dokter rekomendasi yang Abbas tunjuk untuk gadis itu. Seharusnya sudah ada kabar baik untuk perubahannya.


"Lo juga bakal lakuin seperti yang gue lakuin sekarang. Kalau lo udah nemuin seseorang yang istimewa sesuai hati lo," tegas Abbas kemudian membuka pintu hotel dengan kartu akses di tangannya.


"Cinta memang membuat seseorang berbuat nekad." seloroh Rio. "Gila padahal proyek itu gede hasilnya, apa Naina bisa nghendel proyek itu. Hmm.... semoga saja," ujar Rio.


Abbas membanting tubuhnya sendiri di atas tempat tidur. Lelah selama perjalanan mendadaknya itu membuat ia lupa kalau ponselnya di matikan dari tadi sore. setelah mendapat dukungan dan doa dari Bu Lidia. Abbas dengan semangat menyusul Anna ke Surabaya. Niat baik tidak boleh ditunda itu yang di ucapkan Bu Lidia.


Tanpa Abbas tau Anna sudah berada di Bogor untuk bertemu dengannya. Memberika jawaban yang selama ini Abbas tunggu.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2