Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Besok Menikah


__ADS_3

Di sini, rumah sakit tempat Anna di rawat, Rayyan menghabiskan waktunya. Pemuda ini berubah menjadi pendiam tidak seperti biasanya. Tante Melly dan Anna pun merasa heran melihat sikap Rayyan


"Tante, Mas Rayyan kenapa?" tanya Anna heran.


Tante Melly mengangkat baju pelan. "Tau tuh, akhir-akhir ini sikap Mas mu itu lebih pendiam. Ada rasa senang dan sedih buat tante!" ujar Tante Melly ikut memperhatikan Rayyan.


"Mah, Rayyan mau ke musola rumah sakit dulu!" pamit Rayyan kemudian berlalu darin ruangan.


Tante Melly hanya menganggukan kepalanya menatap kepergian Rayyan.


"Tante senang Rayyan jadi lebih rajin solat dan mendekatkan diri sama Allah. Tapi Tante sedih, sikap nyelenehnya ilang. Di rumah jadi sepi karena dia jadi pendiam." keluh Tante Melly.


"Memangnya Rayyan tidak cerita sama kamu, Mel? Barangkali dia sedang ada masalah?" sambung Mama Ami.


"Dia cuma pernah nanya bagimana caranya ikhlas. Dan aku bilang dia harus belajar banyak dari Anna."


"Bukannya Rayyan sedang dekat sama Maira ya, Tan? Maira pernah bilang sama aku kalau Rayyan pernah pulang naik bus kota sama dia," Anna ikut menimpali.


Tante Melly sedikit berpikir ia sedang mengingat kegiatan Rayyan beberapa bulan belakangan ini. Om Anwar suaminya juga pernah bilang kalau kartu kredit Rayyan tidak boros seperti biasanya. Tidak ada tagihan dari toko ternama khususnya toko yang melayani kebutuhan wanita, salon dan tagihan dari restoran bintang lima.


Biasanya Rayyan bisa menghabiskan puluhan juta hanya untuk bersenang-senang dengan para wanita yang mendekatinya.


"Sepertinya sikap Rayyan berubah karena sahabatmu itu, An! Semoga saja benar, Tante sangat berharap Rayyan bisa berjodoh dengan Maira." Tante Melly menatap Anna dengan penuh harapan.


"Semoga ya,Tan! Jodoh, rejeki, maut semua sudah diatur oleh Sang Pemberi Kehidupan 'kan. Kita hanya meminta dan terus berdoa," balas Anna sambil meraih jemari tantenya.


"Tante tidak bisa bayangkan kalau Rayyan harus menikah dengan salah satu wanita yang gaya dan berpakaian kurang bahan itu. Tante tidak suka mereka meskipun beberapa gadis yang mendekati Rayyan merupakan model terkenal tapi itu tidak membuat Tante bangga!"


Di rumah Maira.


Maira merasa terkejut saat kehadiran Abbas ada diantara tamu yang datang. Maira juga lekas mendekati Papa Reno, papa dari Anna. Meskipun tidak begitu dekat tapi Maira mengenalinya.


Maira tak lantas bertegur sapa dengan mereka. Ia harus duduk menemani Nisa, Bunda dan Kak Mila, kakak iparnya.


Beberapa patah kata telah di sampaikan dari keluarga Darren yang diwakili oleh Abi Bagas sendiri selalu orang tua dari Darren.


Maira merasa tidak asing dengan nama calon suami Nisa. Ia diam sesaat untuk mengingatnya. Tatapannya langsung tertuju pada sosok pria tampan, gagah dan tegas serta berwajah teduh di hadapannya.


'Aku ingat apa dia pria yang sempat mau menikah dengan Anna.'


Pikir Maira kemudian berganti menatap Abbas saat tatapan mereka bertemu Maira langsung menundukan pandangannya. Ia takut Abbas mengira kalau kalau Maira sedang menatapnya. Ia tidak mau ada salah paham. Sebab Abbas pasti tahu soal Maira yang pernah memendam perasaan padanya.

__ADS_1


Sambutan hangat diberikan oleh Abi Khaliq selalu wali dari Nisa.


"Saya menyambut baik niatan Nak Darren untuk mempersunting Khairunnisa Awaliyah, keponakan saya. Saya selaku wali dari almarhum kedua orang tua Nisa insyaAllah akan menerima niat baik keluarga Pak Bagaskara sesuai keputusan Nisa," ucap Abi Khaliq penuh rasa haru mengingat Nisa adalah anak yatim piatu.


Almarhum ayah Nisa yang merupakan adik dari Abi Khaliq meninggal dunia bersama istrinya dalam kecelakaan beberapa tahun lalu di Surabaya. Berita kecelakaan hebat yang menimpa kedua orang tua Nisa juga diketahui oleh Abi Bagas.


Sehingga tanggung jawab Nisa beralih kepada Abi Khaliq. Bunda Ima yang duduk di samping Nisa itu terharu bahagia. Terlebih Nisa, gadis itu menagis terisak saat Abi Khaliq menyebut nama orang tuanya.


Umi hera yang berada di samping Nisa merangkulnya.


"Meskipun kalian belum halal dalam sebuah ikatan, tapi anggaplah Umi sebagai orang tua kamu saat ini!" ucap Umi Hera lembut sambil mengelus pelan tangan Nisa.


Nisa menatap Umi hera penuh haru. Ia tidak menyangka calon mertuanya begitu lembut dan baik padanya. Sikap hangatnya membuat Nisa merasa nyaman meski mereka baru pertama kali bertemu.


Anggukan pelan, Nisa berikan. Semua tersnyum bahagia. Darren jangan tanya perasaan lelaki itu. Hatinya berdegup kencang melihat Nisa secara langsung.


Cantik, ayu dengan senyuman manis terlihat jelas di wajah Nisa saat gadis itu berjalan menghampiri ke ruang tamu tadi.


Darren tidak bisa berlama-lama memandang Nisa sebab akan menjadi dosa. Darren takut bayangan Nisa membuat hari dan pikirannya terganggu.


Satu keputusan tegas terucap dari Darren


Ia meminta ijin kepada Abi Khaliq untuk menghalalkan Nisa secepatnya. Permintaan Darren begitu mengejutkan semuanya. Di luar rencana pertemuan siang ini.


"Bagaimana, Nisa? Kamu sudah mendengar sendiri keinginan calon suamimu? Lalu keputusan apa yang akan kamu berikan, Nak?" tanya Abi khaliq.


Nisa melirik ke arah Maira kemudian beralih kepada Bunda Ima. Hanya anggukan pelan yang diberikan keduanya.


Nisa menarik napas panjang memberi jeda untuknya menjawab pertanyaan Abi Khaliq.


"Nisa menerima keputusan Mas Darren, Abi! Kapan pun waktunya, InsyaAllah ... Nisa siap!" jawab Nisa dengan wajah malu-malu.


"Alhamdulillah," jawab semua kompak.


"Mas kawin apa yang akan kau minta dari saya?" Darren memberanikan diri bertanya.


"Apapun yang Mas Darren berikan. Nisa menerimanya dengan ikhlas asalkan tidak ada rasa beban saat memberikannya."


Usai mendapat jawaban dari Nisa, Abi Bagas memberi keputusan jika besok setelah Asar adalah waktu terbaik untuk pernikahan.


Darren dan Nisa menyetujuinya. Sesuai apa yang mereka tulis dalam CV taaruf. Jika sama-smaa setuju. Keduanya memilih langsung menikah. Bukanlah lebih cepat lebih baik.

__ADS_1


Usai membuat keputusan. Para tamu di persilakan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Sesekali Darren mencuri pandang pada Nisa. Yang sedang asik mengibrol dengan Umi-nya.


"Om sama Kak Abbas ko bisa sama mereka?" tanya Maira saat Abbas menemani Papa Reno mengambil makanan di meja prasmanan.


Keluarga Maira memilih jamuan prasmanan. Makan bersama sambil lesehan di tengah ruang keluarga. Membuat kebersamaan terasa lebih hangat dan akrab.


"Darren dan keluarganya sudah seperti saudara bagi Om!" sahut Papa Reno.


Maira mengangguk paham. Kemudian mempersilahkan Pap Reno menikmati makanan yang sudah disediakan.


"Maaf jamuannya seperti ini, Om, Kak Abbas!"


"Ini sudah sangat istimewa. Kami sudah berterima kasih di sambut baik oleh keluarga ini." Papa Reno lekas membawa makanan yang sudah ia ambil. Ia ikut bergabung bersama yang lain.


Tinggal Abbas yang masih memilih menu makanan yang akan ia makan. Membuat Maira sedikit canggung.


"Bagaimana keadaan Anna, Kak! Maaf belum bisa menjenguknya ke rumah sakit." Maira mengawali obrolan.


"Alhamdulillah kabar Anna baik. Besok kalian bisa bertemu. Kemungkinan jika dokter menginginkan hari ini juga Anna bisa pulang. Dia tidak betah di rumah sakit," ungkap Abbas.


Maira tersenyum. "Anna memang seperti itu, dia sangat tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Apalagi dengan jarum suntik pasti sangat ketakutan," sahut Maira.


Keduanya terkekeh kecil. Mengingat rasa takut Anna terhadap jarum suntik. ada kisah seru yang mereka miliki masing-masing soal Anna.


Dan baru kali ini Maira bisa mengobrol lepas dengan Abbas. Maira merasa santai dan tidak begitu canggung. Ternyata benar kata Anna. Abbas tidak sedingin yang Maira kira. Abbas akan lebih banyak bicara jika kita sudah mengenalnya lebih dekat.


.


.


Bersambung.


Wah kapan nih Rayyan ketemu Maira. Apa bisa mereka seperti Darren dan Nisa ketemu langsung nikah????


.


Promosi karya.


Mampir ke karya temanku tuk. seru ceritanya.

__ADS_1



__ADS_2