Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Tebakan Anna


__ADS_3

"Maaf! Anna hanya bisa mengantarkan Ibu sampai sini saja," ucap Anna saat mereka harus berpisah dengan Bu Lidia.


"Tidak apa-apa, Nak! Ibu bisa sendiri, tidak perlu khawatir. Dan jangan lupa kamu harus ke Jakarta untuk resepsi pernikahan kalian. Ibu akan menyusun acaranya dari sekarang," ujar Bu Lidia kedua Anna.


Abbas hanya tersenyum menanggapinya.


Obrolan mereka tidak bisa berlangsung lama. Sebab panggilan untuk rute Surabaya - Jakarta sudah diumumkan.


Anna melambaikan tangan ke arah Bu Lidia saat wanita tua itu masuk ke dalam boarding gate.


Melihat pesawat yang di tumpangi ibunya lepas landas. Abbas dan Anna bergegas ke rumah sakit. Mereka mendapat kabar baik. Papa Reno di ijinkan pulang pagi siang ini.


Perasaan Anna begitu senang mendengarnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tak hentinya Anna berucap syukur atas kabar gembira nya itu.


"Senang banget ya, Dek?" tanya Abbas yang ikut tersenyum melihat keceriaan Anna.


Anna mengangguk cepat. Rasanya makin tidak sabar ingin segera sampai ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama di perjalanan. Kini mereka sampai pada tempat tujuan.


Anna langsung berhambur ke dalam pelukan Mama Ami. Meluapkan rasa bahagianya.


"Anna seneng banget, Papa sudah bisa pulang hari ini. Berarti Papa bisa bantu Mama buat rangkai bunga di ruko." ucap Anna yang mendapat anggukan dari Papa Reno.


"Sebaiknya gak usah di bantu merangkai bunga. Papamu itu bisa menghabiskan bunga Mama karena selalu salah memasukan campuran bunganya," tolak Mama Ami, merkea tertawa bersama.


Selagi menunggu proses administrasi selesai mereka bercengkrama sebentar di ruangan itu. Abbas pamit kepada semuanya keluar ruangan untuk menghubungkan seseorang.


"Dari semalam Abang sibuk terus, Mah! Anna di cuekin" keluh Anna sambil mengerucutkan bibirnya saat melihat Abbas kelaur dari ruang perawatan.

__ADS_1


"Sabar... Mungkin suamimu memang banyak pekerjaan saat ini. Jangan begitu ah, kamu harusnya dukung suamimu. Jangan malah mengeluh." Mama Ami menasehati.


Anna membuang napas pelan. Ia membenarkan ucapan mamanya.


Tak lama seorang suster menghampiri mereka. Membawa sekantung obat dan berkas rekam medis hasil laboratorium Papa Reno.


Suster juga menjelaskan beberapa hal yang harus di lakukan Papa Reno. Juga jadwal kapan untuk kontrol kembali.


"Di minum obatnya secara teratur ya, Pa! Jangan lupa sering berolahraga santai dan menghirup udara segar agar kesehatan jantungnya semakin terjaga," ucap suster tersebut dan mendapat anggukan dari Mama Ami dan Anna.


"Baik, suster kami akan lakukan yang terbaik untuk Papa!" balas Anna.


Tak lama Abbas masuk ke dalam ruangan.


"Apa sudah siap untuk pulang?" tanya Abbas kepada Anna.


"Siap dari tadi! Abang aja yang sibuk sendiri." gerutu Anna, masih dalam mode ngambek karena dari semalam merasa diacuhkan oleh Abbas.


Abbas hanya tersenyum menanggapinya.


"Papa biar Anna yang bantu dorong ya?" Papa Reno mengangguk sambil tersenyum melihat wajah Anna yang cemberut.


Anna jalan terlebih dulu sambil mendorong kursi roda.


Mama Ami dan Abbas berjalan di belakangnya.


"Maafkan sikap Anna, ya, Nak Abbas! Dia memang kadang masih suka bersikap seperti anak kecil. Anna akan cemberut seperti itu kalau dia merasa terabaikan," ucap Mama Ami memberi pengertian kepada Abbas.


"Iya, Mah! Aku paham ko. Aku juga salah, dari kemarin pekerjaan sangat banyak apalagi waktu ku di Surabaya hanya tinggal dua hari lagi. Pekerjaan di Jakarta sudah menunggu," sahutnya.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam lift. Anna menekan tombol satu untuk tujuan mereka.


Ting...


lift terbuka, Mereka melanjutkan langkahnya menuju lobi.


"Mama harap kamu bisa sabar dan mendirikan Anna jadi muslimah dan istri yang baik untuk kamu dan anak-anak kalian kelak. Mama sangat senang melihat perubahan dari dirinya. Anna lebih dewasa dalam menghadapi masalahnya." Mama Ami terus berbicara seputar Anna.


Abbas pamit untuk mengambil mobil di parkiran. Tak lama Abbas kembali


Pria tampan yang kini menjadi suami Anna itu membantu Papa Reno naik ke dalam mobil.


Anna dan Mama Ami juga ikut masuk.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Anna hanya terdiam.


Mama Ami dan Papa Reno lah yang banyak mengobrol dengan Abbas.


Sampai Anna sadar, ia merasa ada yang aneh dengan jalur yang mereka lewati. Mobil yang mereka tumpangi bukan ke arah ruko tempat mereka tinggal.


Anna menoleh ke arah Abbas yang masih saja acuh kepadanya. Suaminya itu malah tertawa renyah menanggapi guyonan dari Papa Reno mertuanya.


Anna memperhatikan Mama dan Papanya sepertinya mereka masih belum sadar dengan jalan yang mereka lewati saat ini.


Wajah Anna seketika berubah bahagia. Pancaran kebahagiaan tersirat di wajahnya. Ia tak hentinya tersenyum menatap Abbas. Sepertinya Anna sudah bisa menebak apa yang akan Abbas lakukan setelah ini.


Semoga saja tebakan Anna kali ini benar.

__ADS_1


Baca kelanjutan ceritanya ya.


__ADS_2