Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kemarahan Om Anwar


__ADS_3

Bugh....


Bugh....


Brak!


Tubuh Abbas terpental mengenai bufet yang ada di ruang tamu itu.


Belum puas Rayyan kembali mengangkat tubuh Abbas yang bersimpuh di lantai.


“Jangan mentang-mentang lu pimpinan perusahaan besar gue takut, sama lu! Pukulan yang gue kasih ini gak sebanding dengan air mata yang Anna tumpahkan sama lu!”


Bugh....


Rayyan kembali memukul Abbas. Kemudian mencengkeram kerah baju pria yang saat ini tidak berdaya di hadapannya.


Abbas sama sekali tidak memberontak sebab ia merasa apa yang diucapkan oleh Rayyan itu benar.


“Harusnya lu tau, Anna pasti akan mengorbankan hati dan perasaannya demi orang-orang yang dia sayang!” sarkas Rayyan dengan tatapan penuh kesal kepada Abbas.


Tante Melly yang berada di teras belakang langsung menuju ke ruang tamu mendengar kegaduhan itu.


Sedangkan Anna dan kedua asisten rumah tangga di rumah itu sedang berada di musola kecil yang ada tak jauh dari teras.


“Rayyan, hentikan!” titah Tante Melly sambil berteriak. Hampir saja Rayyan kembali melayangkan bogem tangannya ke wajah Abbas.


“Apa apaan sih, Kamu!” Tante Melly menghempaskan cengkeraman tangan Rayyan dari Abbas. “Mau jadi jagoan?” Tante Melly menatap putranya dengan kesal dan marah.


“Kamu tidak apa-apa, Bas?” tanya Tante Melly seraya membantu Abbas berdiri lalu merapat tubuhnya ke sofa.


Rayyan menyeringai melihat Abbas. “Kenapa kamu tidak berontak, merasa semua ucapanku benar, heh?”


“Sudah Rayyan! Kalau tidak tahu akar permasalahannya jangan main hakim sendiri begini!” omel Tante Melly kemudian kembali fokus memperhatikan wajah tampan Abbas yang memar akibat pukulan dari Rayyan.


“Aku tidak peduli, Mah. Dia sudah membuat keponakanku menangis!” Rayyan hendak berlalu meninggalkan ruang tamu tapi Anna jalan sedikit berlari dari arah teras ketika Risma memberitahunya soal kegaduhan yang terjadi.


“Abang!” Anna begitu terkejut melihat wajah suaminya yang babak belur akibat serangan dari Rayyan.

__ADS_1


Anna lekas menatap Rayyan yang berdiri di hadapannya.


“Kenapa Mas pukul suamiku?” Anna mendorong Rayyan tidak terima dengan perlakuan Rayyan.


“Dia pantas mendapatkannya!” balas Rayyan sambil melirik sinis kepada Abbas yang sedang meringis sambil memenangi bibirnya yang sedikit sobek akibat pukulan dari Rayyan.


Kemudian Rayyan melangkah melewati Anna tanpa rasa bersalah. Pria itu hendak kembali ke kamarnya.


“Abang! Kenapa tidak melawan? Kenapa Abang tidak menghindar dari pukulan Mas Rayyan, Pasti sakit sekali ‘kan?” tanya Anna dengan sederet pertanyaan saat ia mendekati Abbas.


“Benar kata Rayyan. Abang pantas mendapatkannya,” Ucap Abbas sambil meringis menahan perih.


“Obati suamimu, An! Biar tante siapkan kamar untuk kalian. Sebaiknya kalian menginap saja di sini! Sudah malam, kasihan Abbas kalau harus pulang dengan keadaan seperti itu!” Tante Melly menyarankan dan Anna pun menyetujuinya.


“Aku ambil handuk dan air hangat dulu, ya Bang!”


Abbas mengangguk pelan.


Saat sendiri di ruang tamu. Om Anwar langsung masuk sambil mengucapkan.


“Assalamu’alaikum,” ucap Om Anwar saat baru saja memasuki rumah.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Abbas membuat Om Anwar langsung menoleh ke sumber suara.


Om Anwar juga langsung menghampiri Abbas, penasaran dengan apa yang ia lihat.


“Kenapa wajahmu, Nak!” tanya Om Anwar kemudian ikut duduk di samping Abbas.


“Putramu memukulnya!” sahut Tante Melly yang baru saja turun dari lantai dua. Wanita berumur yang masih terlihat cantik itu baru saja selesai merapikan kamar yang akan dipakai Anna dan Abbas.


“Rayyan?” tanya Om Anwar memastikan.


“Siapa lagi kalau bukan dia!”


Om Anwar menggelengkan kepala mendengarnya.


“Anak itu, kenapa tidak bisa menahan emosi. Di kantor setelah memecahkan vas bunga di ruangannya anak itu langsung pulang begitu saja. Sampai dia lupa menandatangani beberapa berkas yang seharusnya selesai hari ini!” Om Anwar meletakkan berkas yang ia bawa dari kantor.

__ADS_1


Asisten Rayyan menitipkan nya kepada Om Anwar sebab Rayyan pulang tanpa pamit kepada asistennya itu.


Tante Melly mengerutkan alis mendengarnya.


“Memangnya apa yang terjadi sampai bocah itu pulang lebih cepat. Tidak biasanya, beberapa hari ke belakang anak itu pulang tanpa membawa kendaraannya. Malah supir kantor yang sering mengantarkan mobilnya ke rumah!” tutur Tante Melly yang masih bingung dengan yang terjadi pada putranya.


Om Anwar mengangkat bahunya pelan. papa dari Rayyan pun sama tidak mengerti tanpa dengan Tante Melly.


Anna kembali ke ruang tamu dengan handuk dan air hangat dalam baskom.


Dengan sangat hati-hati Anna mengompres memar yang ada di wajah Abbas.


Anna merasa tidak enak hati dengan perlakuan sepupunya itu kepada Abbas.


“Maafkan Mas Rayyan ya, Bang!” ucap Anna seraya memeras handuk kecil lalu menempelkan nya di pipi Abbas sedikit lebam.


Setelah selesai Anna memberi obat pereda nyeri kepada suaminya.


“Minum obat pereda sakitnya dulu, Bang!” Anna kembali menyodorkan obat dan segelas air putih pada Abbas.


“Terima kasih.”


“sebaiknya ajak suamimu makan malam dulu, setelah itu istirahat. Tante sudah merapikan kamarmu!” ucap Tante Melly.


“Maaf kami sudah merepotkan, Tante!” Abbas berucap sambil menahan rasa pedih di bibir.


“Tidak apa-apa! Tante yang seharusnya minta maaf, karena Rayyan kamu jadi seperti ini!”


“Tidak perlu meminta maaf, Ma! Aku tidak salah!” serobot Rayyan yang tiba-tiba sudah ada di dekat ruang tamu hendak melewati mereka ke dapur untuk mengambil air minum dingin.


“Rayyan!” panggil Om Anwar saat melihat putranya melewati tanpa melihat siapa yang sedang duduk di samping Abbas. Entah dia menyadari atau pura-pura tidak melihat.


“E-eh Papa! Kenapa?”


“Kamu masih bilang kenapa? Setelah mengacuhkan tanggung jawab kamu di perusahaan!” Om Anwar meraih kembali map yang ia letakkan di atas meja kemudian melempar asal ke wajah Rayyan.


“Bersikaplah dewasa dan bertanggung jawab! Tidak meninggalkan pekerjaan sesuka hati!” omel Om Anwar seraya menatap marah kepada Rayyan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2