Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
penampilan di sidang akhir


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan like dan komen sehabis membaca ya...


...🌸 Selamat Membaca🌸...


"Aamiin, semoga saja! Darren anak yang baik dan bertanggung jawab terlihat sangat tulus dalam membantu Papa. Dia juga sangat taat kepada agamanya sama seperti ayahnya Pak Bagaskara" ucap Papa Reno saat mereka berdua berjalan menuju kamar untuk beristirahat.


Sidang Akhir skripsi


Pagi ini akan di gelar sidang akhir skripsi di salah satu universitas ternama di kota Bogor.


Setiap hari dan tanggal sudah terjadwal untuk setiap Fakultas yang akan menggelar sidang akhir.


Ada Enam Fakultas yang tersedia di universitas ini. Setiap harinya beberapa fakultas dengan berbagai macam jurusan akan bergantian untuk sidang akhir.


Sebelumnya konsultasi dengan para pembimbing sudah dilakukan oleh para mahasiswi/i untuk penelitian yang di buatnya. Persetujuan lulus sidang proposal dari seleksi pembimbing sudah dikantongi tapi masih banyak yang harus di lakukan agar bisa lulus dalam sidang akhir dengan nilai yang memuaskan.


Mahasiswa/i harus lebih teliti lagi dalam memahami metode dan teori proposal yang akan di sampaikan di hadapan para dosen penguji.


Beberapa catatan penting harus di buat dalam catatan kecil agar bisa membantu menjabarkan seluruh materi saat kita berhadapan di depan para dosen penguji. Waktu yang di berikan penguji pun hanya sekitar 15-20 menitan untuk menyampaikan inti dari penelitian yang di buat pelajar.


Fakultas Ekonomi akan mengawali pembukaan di gelarnya sidang akhir skripsi untuk para Mahasiswa/i yang lolos dalam sidang proposal beberapa hari yang lalu. Meski acara belum mulai, tapi para mahasiswa sudah terlihat berkumpul di sana. Ada dua jurusan yang saat ini akan mengikuti sidang akhir skripsi. Jurusan Management dan jurusan Akuntansi.


Di Taman kampus yang letaknya tak jauh dari gedung Fakultas Ekonomi, terlihat seorang gadis memakai kemeja warna cream dengan celana kantoran warna Hitam di tambah rambut yang di gerai panjang menambah aura kecantikannya terpancar. gadis itu sedang mondar mandir sambil membolak-balikkan catatan di tangannya seperti sedang menghapal sesuatu.



"Semangat sekali menghafalnya" Maira berbisik mengagetkan Anna yang sedang memejamkan mata saat serius menghafal catatan kecil di tangannya.


"Maira ... ngagetin aja" Anna yang memegang dadanya menoleh sekilas ke arah Maira lalu berjalan beberapa langkah kedepan menuju tempat duduk di ujung taman.


"Jam berapa sidangnya di mulai?" Maira ikut duduk di sebelah Anna.


"Setengah jam lagi, sekarang masih persiapan. makanya aku coba menghapal di sini. duh ... deg degan deh, Mai! Semoga lulus dengan nilai bagus."


"Aamiin" jawab mereka kompak.


"InsyaAllah nilai mu bagus, An. toh penelitiannya saja mantep banget. Sampai setiap warung kecil kamu datengin. di ajarin pula cara pencatatan keuangan yang baik buat mereka." ujar Maira.


"Bisa aja kamu, Mai. ya apapun hasil nya nanti, aku akan bersyukur, Mai!"


"Kamu sendiri kapan jadwal sidang akhir mu, Mai?" Anna balik bertanya seraya melipat catatan miliknya lalu masukan kedalam jas agar tak terlupa saat akan persentasi.


"InsyaAllah, Besok," jawab Maira seraya merapihkan hijab segiempat yang si pakainya.


"Semoga kita bisa wisuda bareng ya." harap Anna.


"Aamiin" jawab Maira.


Mereka berdua berbincang perihal skripsi yang akan mereka lakukan. Maira sengaja menemui Anna hari ini ingin memberinya semangat menghadapi ujian akhir. Padahal ia juga harus mempersiapkan untuk giliran Fakultasnya ujian esok hari. tapi demi sahabatnya ia memberikan support dengan hadir dalam sidang akhirnya hari ini.

__ADS_1


"Anna ..." panggil Nia yang baru saja tiba di kampus. ia terlihat tergesa-gesa saat menghampiri Anna.


Anna dam Maira menoleh ke arah suara yang memanggil Anna.


Anna berdiri saat melihat Nia datang dengan nafas yang tersengal-sengal, "Kamu kenapa, Ni! terburu-buru begitu, sini duduk! istirahat dulu." Anna mempersilakan Nia untuk bergantian duduk dan membantunya untuk mengatur nafas perlahan.


"Hampir saja terlambat, Aku kira sudah mulai sidang nya" Nia mendaratkan tubuhnya di bangku samping Maira. Dadanya naik turun karena mengatur nafas.Di kira sudah terlambat ia berlari saat memasuki kampus menuju gedung fakultasnya.


"Loh, kamu kenapa Ni!" tanya Dita yang baru saja datang dari arah lain. ia menenteng satu kantong berisi minuman di tangannya.


Tadi sewaktu bersama Anna di taman. Dita pamit untuk beli minuman di kantin. sekalian Anna juga memintanya untuk membelikan dua botol minuman.


"Akhirnya, kamu datang juga, Dit. mana minuman nya? kasian Nia kayaknya kehausan abis maraton!" Anna terkekeh seraya menyodorkan air mineral dingin ke arah Nia. Nia langsung menerima lalu meneguknya perlahan.


"Aku kira udah telat! makanya aku berlari dari depan kampus sampai ke gedung ini. Untung masih belum mulai." Nia mengelus dadanya pelan kalau kembali meneguk air mineral di tangannya.


Maira dan Anna tersenyum mendengar penuturan Nia, sedangkan Dita geleng-geleng kepala menanggapinya.


"Pelan-pelan, Ni! nanti tersedak. kamu tenangkan diri dulu. Masih ada sekitar lima belas menit lagi sebelum acara di mulai.


Mereka bersantai sejenak di taman itu.


sambil mempersiapkan materi yang akan mereka sampaikan.


Ting ... tong ...


Pengumuman terdengar dari pengeras suara di sudut gedung. Para mahasiswa/i dari Fakultas Ekonomi berkumpul di depan ruangan sesuai jurusan mereka.


Ruangan jurusan Akuntansi berada di lantai dua sedangkan jurusan Ekonomi berada di lantai tiga.


Maira ikut bersama Anna, Nia dan Dita. Meskipun tak satu gedung dengan Anna, tapi Maira sudah biasa dan kenal dengan lingkungan di sana. itu karena Anna sering kali mengajaknya ke kelas saat tak ada jam kuliah begitupun sebaliknya. Terkadang Anna yang berkunjung ke gedung Fakultas Maira. Jadi orang yang melihat mereka berdua sudah tidak asing lagi karena mereka sahabat dekat.


Anna, Maira, Dita dan Nia bersama menunggu giliran mereka untuk masuk ke dalam ruangan.


Dita masuk lebih dulu untuk persentasi di depan dosen penguji.


Ada tiga ruangan yang di pergunakan untuk persentasi. Agar ujian sidang skripsi tidak memakan waktu lama, masing-masing ruangan di isi oleh tiga dosen penguji yang handal di bidangnya.


Dita masih berada di dalam ruangan, sekarang giliran Nia yang namanya di panggil memasuki ruangan.


"Doain aku ya" Nia berlalu seraya melambaikan tangan ke arah Anna dan Maira.


"Semangat, semoga berhasil" Anna memberi semangat kepada Nia.


"Berdoa dulu sebelum mulai, Ni!" sambung Maira.


Hanya unjukan jempol yang di berikan Nia ke arah mereka berdua.


"Duh, mereka udah pada masuk ruangan, giliran aku, Mai. Semoga saja lancar ya!" ucap Anna. Ia merasa cemas saat teman-temannya satu persatu memasuki ruangan. Rasa gugup takut di rasakan ya saat ini. padahal materi yang akan di persentasi kan di hadapan dosen penguji sudah berada di luar kepal. tapi tetap saja rasa gugup dan Nerveus masih melanda.

__ADS_1


Saat menunggu giliran dari ujung tangga terlihat lelaki berpakaian rapi, wajahnya memang tampan sehingga dia jadi pusat perhatian para gadis di kampus. Tetapi sayang, sikapnya yang sering mempermainkan para wanita sangat tak disukai Anna. berulang kali Anna pun sempat di dekati olehnya.


Ardi-- mahasiswa jurusan manajemen, ikut ujian akhir juga hari ini. Ruangan tempatnya ujian berada di lantai 3. Dia sengaja mendekat ke arah Anna saat melihat keberadaannya dari ujung tangga atas. Ardi masih penasaran dengan Anna. sempat bersitegang karena perbuatan tak menyenangkan kepada Anna. Ardi mencoba mendekati Anna kembali. setelah Anna memaafkannya.


"Hai, An. Apa kabar? Sudah dapat panggilan masuk ruangan?" tanya Ardi seraya mengulurkan tangan ke arah Anna untuk berjabat tangan.


"Kabar gue baik! kebetulan sedang menunggu giliran" jawab Anna, tangannya menyambut uluran tangan dari Ardi.


Saat Ardi kehendak berjabat tangan dengan Maira.


Uluran itu tak bersambut karena Maira sangat membatasi sentuhan dengan lawan jenis, Maira membalas dengan menangkupkan kedua tangan di dada seraya sedikit membungkuk.


"Oh, ya. Sorry." Ardi menanggapi sambutan Maira.


Maira berbisik kepada Anna. Ia hendak membalas pesan dari teman satu fakultasnya perihal persiapan sidang esok hari dan mendapat anggukan dari Anna.


"Sorry, Ar. Aku tinggal ya!" Maira pamit kepada Ardi.


Sepeninggal Maira. pandangan Ardi tak lepas dari Anna. Penampilan Anna sungguh luar biasa menurutnya.


"Lu cantik hari ini, An! Semoga Ujian hari berjalan baik," goda Ardi kepada Anna.


"Terima kasih, lu juga beda banget, Ar. tuh lihat cewek makin kepincut sama lu dengan penampilan lu yang terlihat seperti CEO kantoran!" ejek Anna.


"Cuman Lu yang enggak pernah mau sama gue, An!"


"Gue 'kan udah bilang sama lu, Ar. Kita lebih pantas berteman tak lebih" Anna menekankan kata terakhirnya.


Ardi tersenyum sinis. "Heh" Ok ... ok ... " Ardi mengakhiri ucapannya tak mau Anna kembali menjauh karena berdebat dengannya. " Gue ke atas dulu, bentar lagi nama gue bakal di panggil." Ardi pamit lalu melangkah menaiki tangga.


"Semoga sukses, Ar!" ucap Anna.


"Thank's." Ardi menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga. baru beberapa anak tangga ia pijak. langkahnya terhenti, saat melihat Anna sedang membuka ponselnya.


"Heh, gue enggak bakalan nyerah dapetin lu, An!" batin Ardi.


Drrrtttt.... drrrtttt... Ponsel Anna bergetar di saku celana nya lekas ia meraihnya lalu membuka layar ponsel yang terkunci.


Anna tersenyum saat melihat siapa yang telah mengiriminya pesan. Senyumnya merekah saat ia mengscrol layar lalu membaca pesan yang di terimanya.


.


.


.


Terima kasih sudah bertahan di karyaku.


.

__ADS_1


__ADS_2