
Abbas dan Anna baru saja selesai makan malam. Dibantu suaminya Anna membereskan bekas makan mereka berdua. Tak membutuhkan banyak waktu karena hanya dua piring dan dua gelas kotor yang Anna cuci.
Mereka kembali ke lantai atas di mana kamar Anna berada.
Sepanjang langkahnya perasaan Anna berdebar dan gugup. Sebentar lagi tugasnya sebagai seorang istri akan ia lakukan.
Saat berada dikamar, Abbas duduk lebih dulu di pinggir ranjang.
Anna mengalihkan kegugupannya dengan mengambil koper yang berisikan pakaian suaminya.
"Anna mau pindahkan pakaian Abang ke lemari dulu, ya?" ucap Anna gugup. Ia sedikit menghindar saat Abbas meraih tangannya.
Abbas mengangguk pelan. Tatapan Abbas tak lepas dari Anna, itu semakin membuat hati Anna berdebar.
Ketika pakaian terakhir di dalam koper Anna pindahkan. Abbas menghentikan gerakannya.
"Kamu gugup, Dek?" tanya Abbas membuat Anna diam mematung sambil berdiri. Satu pakaian masih berada di tangannya, kemudian Abbas mengambil alih dan memasukannya ke dalam lemari. Menyatukan dengan tumpukan baju yang tadi Anna susun.
Abbas menuntun Anna agar duduk di tepi ranjang. Abbas merasakan tangan dingin Anna. Dalam hatinya ia tersenyum melihat kegugupan istrinya itu.
Anna berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Rasanya sangat malu terus diperhatikan intens seperti itu oleh Abbas.
"Kita solat dua rakaat dulu, ya?" ajak Abbas lalu mendapat anggukan pelan dari Anna.
Malam ini adalah malam yang sangat di nantikan oleh Abbas. Sebenarnya Abbas bisa melakukan hal ini kapan pun. Mengingat Anna sudah sah menjadi istrinya. Tapi ia tidak mau merasakan senang sendiri. Ia ingin Anna dan keluarganya ikut merasakan bahagia smaa sepertinya karena itu Abbas rela menahan hasrat demi melihat orang yang ia sayang tersenyum.
Meskipun Abbas harus bergadang dan berpikir berat bagaimana cara pengembalian aset berjalan cepat.
Terbukti ketika melihat kebahagiaan dan senyum yang terpancar dari wajah Papa Reno, Mama Ami juga Anna. Perasaan Abbas tenang dan lega.
Dua kali salam menandakan berakhirnya salat yang mereka kerjakan.
__ADS_1
Saat Abbas berbalik badan masih dalam keadaan duduk di atas sajadah, Anna meraih tangan dan menyalaminya dengan takzim.
Perasaan gugup yang ia rasakan tadi hilang begitu saja.
Abbas memberikan kecupan di kening Anna. Kemudian Abbas merapikan kedua sajadah sedangkan Anna melepas mukena yang dipakainya.
Saat Anna berbalik badan Ia begitu terkejut melihat Abbas yang bersimpuh di hadapannya.
"Abang, Ngapain?" tanya Anna dengan wajah terkejutnya.
Lekas Abbas mengeluarkan benda berbentuk kotak persegi kecil berwarna merah, ia buka kotak tersebut. Cincin indah dengan mutiara satu di tengahnya Abbas raih dari dalam sana.
Anna membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Hatinya berbunga mendapat kejutan dari Abbas.
Abbas lekas berdiri. Keduanya saling menatap dalam. Tersirat pancaran kebahagiaan di wajah Anna.
"Abang tau ini terlambat, tapi ijinkan Abang memakaikannya di jarimu, Sayang!" Abbas meraih jemari Anna, di selipakan cincin dengan aksen mutiara kecil di jari manis istrinya.
Anna menggelengkan kepala pelan. "Tidak akan pernah, Bang! Terima kasih atas semua yang Abang berikan, Anna bahagia sekali saat ini. Rasanya masih tidak percaya kalau cinta kita bisa bersatu seperti ini," ucap Anna diiringi dengan air mata kebahagiaan.
Lekas Anna memeluk Abbas erat, mencurahkan rasa bahagia yang saat ini ia rasakan.
Abbas pun ikut bahagia. Pasangan suami istri itu saling memeluk erat. Hingga akhirnya Abbas lebih dulu meregangkan pelukannya.
Abbas menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya. "Tetaplah berada di samping Abang, apapun yang akan terjadi nanti. Kamu harus yakin kalau cinta Abang hanya buat kamu," Anna mengangguk pelan.
Diusapnya sisa air mata bahagia di pipi Anna. Pandangan Abbas beralih ke bawah hidung mancung Anna. Bibir merah muda itu menarik perhatian Abbas. Perlahan Abbas mendekatkan wajahnya dengan kepala sedikit miring ia lekas membungkam bibir Anna.
Perlahan lembut tapi pasti, Abbas memainkan bibir Anna, keduanya saling menyesap. Tarik menarik lidah. Anna semakin pintar membalas serangan bibir dan lidah dari Abbas.
Permainan itu semakin memanas. Suasana kamar yang dingin karena AC yang menyala rasanya berubah panas karena gelora.
__ADS_1
Ciuman yang semakin kini menuntut lebih. Perlahan Abbas menyusuri leher putih dengan kecupan lembutnya terus kebawah.
"Aghhh..." Suara indah Anna membuat aliran gejolak di tubuh Abbas semakin memanas. Hingga akhirnya Abbas menggiring tubuh Anna menuju ranjang yang ada di samping mereka.
Mendorong tubuh Anna pelan. Deru napas kian memburu seiring hasrat yang memuncak.
Tatapan penuh gelora dari manik mata Abbas semakin menyayu. Anna menggigit bibir bawanya di iringi napas yang tersengal.
Diciumny kening Anna penuh kelembutan.
"Abang akan melakukannya sekarang?" ucap Abbas seakan meminta ijin.
Anggukan Anna menjadi jawaban.
"Ini akan terasa sakit!" Anna memejamkan matanya seakan bersiap atas apa yang akan dilakukan Abbas selanjutnya.
"Aw...." jeritan kecil dari Anna saat Abbas membobol gawangnya. "Eughh... Emph...," lengkuhan suara yang keluar dari mulut Anna langsung di bungkam Abbas.
Keh
Malam ini pengantin baru itu merasakan indahnya pergulatan halal. saling mengisi, saling mencurahkan sayang dan cinta.
.
.
Ayey.... jebol deh... gawang.....
Maaf tak bisa buat panas panas... Mereka baru pertama belom pengalaman.
Nanti panas nya masing-masing aja ya....
__ADS_1