Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Mempermainkan Perasaan Kami


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, hubungan Anna dan Abbas semakin dekat. Masalah yang mereka hadapi tak jadi kendala untuk dijalani.


Pasrah dan belajar ikhlas dalam menerima semua ujian dari Yang Maha Kuasa.


Seperti saat ini, Anna diantar Abbas ke rumah Riska. Tapi suaminya tidak ikut berkunjung sebab Abbas ada pertemuan penting pagi ini.


“Mau di jemput jam berapa, Dek?” tanya Abbas saat Anna berdiri di samping mobilnya.


“Gak usah, Bang! Nanti aku pulang sendiri saja, sekalian mau ke tempat Tante Melly, boleh?”


Abbas mengangguk pelan sambil tersenyum.


“Mau Abang antar ke dalam?”


Anna terdiam sambil berpikir kemudian menggelengkan kepalanya. Anna meraih tangan suaminya kemudian mencium punggung tangan itu dengan takzim. “Abang hati-hati di jalan!” ucap Anna dengan senyuman.


“Iya, Sayang! Kabari jika ingin pulang! salam kepada Bu Ratmi dan---," Ababs tidak meneruskan kata-katanya.


“calon istri kedua abang!" lanjut Anna dengen seulas senyum


tipis.


Abbas menunduk lemah sambil membuang napas.


"Pasti aku sampaikan!" Anna tersenyum simpul.


Abbas meraih tangan Anna kemudian mencium punggung tangan yang putih bersih itu. "Terima kasih sudah membesarkan ikhlas dalam hatimu!"


Anna mengangguk sambil tersenyum.


Mobil hitam yang dikendarai Abbas pun melaju meninggalkan Anna di depan kediaman Riska.

__ADS_1


Anna berbaik badan setelah mobil yang dikendarai suaminya sudah hilang dalam pandangannya.


Ia kembali meneruskan niatnya. Berkunjung ke rumah Riska.


Baru saja ingin mengetuk pintu, Bu Ratmi sudah lebih dulu membuka pintu tersebut.


“Assalamu’alaikum” Sapa Anna seraya menyalami Bu Rahma.


“Waalaikumussalam," jawab Bu Ratmi. "Eh, Nak Anna. Pagi sekali ke sini?” tanya Bu Ratmi seraya menerima uluran tangan Anna yang akan menyalaminya.


“Iya, Bu! Tadi sekalian bareng sama Bang Abbas jadi saya minta berhenti di sini.”


“Ayo, masuk!” ajak Bu Ratmi.


Anna mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Bu Ratmi. Seringnya Anna berkunjung ke rumah itu membuat hubungan mereka dekat tidak canggung seperti pertama kali bertemu.


“Bagaimana kondisi, Riska? Apa ada perkembangan dari terapi yang di lakukan, Bu?” tanya Anna.


Anna mengernyitkan dahinya. “Kenapa, Bu?”


“Mungkin dia merasa percuma!” Bu Ratmi mengajak Anna ke taman belakang, tempat di mana Riska menyendiri kemudian ibunya itu hendak memanggil Riska yang sedang membaca Qur’an braille di gazebo tepat di tengah taman. Al-quran khusus untuk penyandang tunanetra sepertinya.


“Biarkan saja, Bu! Aku tidak mau mengganggunya!” aku akan tunggu sampai Riska selesai membaca Quran,” ucap Anna.


“Kalau begitu ibu tinggal ke dapur, ya?”


“Ya, Bu!”


Sepeninggal Bu Ratmi. Anna berjalan pelan mendekati Riska tanpa mengganggunya.


Duduk menunggu dengan jarak yang sedikit jauh dari Riska. Hingga gadis itu selesai dengan bacaan surat yang ia baca. Anna melihat tangan Riska bergerak cepat meraba Qur’an Braille yang dipegangnya.

__ADS_1


Anna terkagum melihat Riska meski dengan kondisi tak melihat tapi Riska begitu pandai membaca Ayat demi ayat yang tertulis dalam ayat suci itu.


“Sadaqallahul azim.” Riska menutup Qur’an Braille di tangannya kemudian menciumnya dengan penuh penghayatan.


Sejenak ia terdiam. Termasuk Anna, ia juga ikut diam tidak mau menyapa lebih dulu.


“Mulai sekarang Kak Anna tidak perlu berkujung lagi ke sini!” celetuk Riska membuat Anna sedikit terkejut karena ucapannya.


“Kenapa?” tanya Anna penuh selidik.


“Aku akan membebaskan Kak Abbas dari beban amanah yang harus ia penuhi kepadaku!” jawab Riska sambil tertunduk.


Anna menarik satu sudut bibirnya seraya menggelengkan kepala. “Heh, maksud kamu apa, Ris? Kamu sedang mempermainkan perasaan kami. Setelah selama ini aku dan suamiku berusaha ikhlas dengan keputusanmu yang ingin amanah itu terkabul!” ucap Anna mendesak Riska.


“Kamu tahu tidak semudah itu untuk mengikhlaskan suami menikah lagi. Aku sudah berusaha ikhlas asal suamiku tidak selalu terbebani oleh amanah orang tuanya. Dan sekarang kamu memutuskannya begitu saja?” Lanjutnya. Anna tidak habis pikir dengan Riska.


Di bulan ke tiga ini adalah penentuan keputusan untuk Abbas agar menentukan waktu pernikahan yang Riska inginkan.


“Bukankah kalau kami tidak jadi menikah itu lebih bagus untukmu, Kak Anna! Kamu tidak perlu membagi suami denganku!”


Anna termangu mendengar ucapan Riska. Benarkah gadis ini akan membatalkan keinginannya mewujudkan amanah kedua orang tua Abbas dengan ayahnya.


.


.


.


Bersambung.


Semoga apa yang di ucapkan Riska benar. semoga dia tidak plin plan dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


__ADS_2