Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Sensitif


__ADS_3

"Dek, kamu yakin mau ikut ke sana?" tanya Abbas ragu. Sebab Anna baru saja pulang dari rumah sakit tadi malam. Abbas takut kondisinya belum begitu pulih.


Anna baru saja selesai memakai jilbab segiempatnya yang berwarna peach sepadan dengan warna gamisnya saat ini. Anggun, modis dan cantik itulah penampilan Anna saat ini.


"Aku baik-baik saja, Bang!" Anna memutar tubuhnya menatap Abbas yang sedang duduk di sisi tempat tidur. "Aku mau menyaksikan pernikahan Mas Darren sama Nisa, Boleh ya?"


"Gimana gak boleh, orang udah cantik begini. Mana tega abang ninggalinnya!" cetus Abbas kemudian menarik pinggang Anna agar lebih merapat padanya.


"Abang jangan mulai deh, bentar lagi berangkat!" Kedua tangan Anna menahan dada Abbas agar tidak semakin merapat pada tubuhnya. Bisa berbahaya kalau pagi ini terjadi pertempuran.


"Abbas menarik satu sudut bibirnya. Abang disuruh puasa, Dek! masa nyicil doang gak boleh!" keluh Abbas dengan wajah memelasnya.


Anna menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Ingin tertawa dengan sikap Abbas yang begitu kolokan saat menginginkan sesuatu. Kasihan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi saat ini Abbas benar-benar harus puasa begitulah perintah dokter.


Anna lekas merangkup wajah Abbas dengan kedua tangannya agar mereka saling menatap. "Sabar ya, Bang! Pasti berat!" Anna tersenyum jahil seakan meledek Abbas.


Bibir mengerucut Abbas berikan. Dan saat itulah Anna malah memberikan kecupan singkat di bibir Abbas kemudian mengecup kening Abbas. "Nanti malam, Abang boleh nyicil tapi gak boleh banyak! Sekarang kita pergi, yang lain pasti udah nungguin!" ucap Anna pelan sambil berlalu meninggalkan Abbas.


Mendengar ucapan istrinya bagaikan angin segar untuk Abbas. Dengan langkah secepat Abbas menyusul Anna yang sudah keluar dari kamarnya.


"Dek," panggil Abbas yang menghentikan langkah Anna.


"Apa abang?" sahut Anna, sesaat iamenghentikan langkahnya. Setelah itu ia kembali berjalan pelan menuju anak tangga.


Abbas berlari kecil menyusul Anna. Ia meraih pinggang Anna agar jalan berdampingan dengannya menuruni anak tangga.


"Pelan-pelan saja, Dek! Dek, besok kamarnya pindah ke bawah ya? Abang gak mau kamu kecapean naik tangga kalau ke kamar," cetus Abbas, ia takut Anna kenapa-napa. Bahkan saat tiba di rumah tadi malam, Abbas sama sekali tidak membiarkan Anna melakukan apapun. Mengambil air minum pun dia yang melakukannya.


Anna melirik pada Abbas kemudian tersenyum sambil mengangguk pelan. "Iya, Bang!"


"Abang makin gak kuat dapet senyuman manis dari kamu pagi-pagi begini! Jadi gak sabar buat nanti malam," celetuk Abbas kemudian dengan cepat mencium gemas pipi putih Anna sampai beberapa kali.


Anna langsung menghentikan langkahnya. Mereka hampir sampai di anak tangga paling bawah.


"Abang!" Anna melotot tajam pada Abbas. Wajahnya merona dengan tingkah suaminya. Kalau berada di kamar tidak masalah, tapi saat ini ada Risma, Tante Melly, Mama Ami dan Bunda Lidia di ruang keluarga. Sehingga mereka menyaksikan bucinnya Abbas pada Anna.


"Ehm ...," Deheman dari Darren membuat Abbas menoleh kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa rasa malu. "Pagi-pagi udah bikin orang iri saja!" celetuknya kemudian berlalu menuju dapur, dimana Papa Reno dan Abi Bagas sedang menyantap sarapan pagi.

__ADS_1


"Ayo, sarapan dulu sebelum pergi!" ajak Abbas pada Anna sambil merangkul bahu istrinya menuju dapur.


Ingin rasanya bersembunyi melihat sikap Abbas yang cuek tanpa rasa malu akan tingkahnya. Menciumi Anna di hadapan para orang tua. Bagi Abbas hal itu menjadi biasa baginya. Tak peduli dengan orang lain. Yang pasti dia melakukannya pada seseorang yang halal baginya. Tanpa sadar sikapnya bisa membuat iri orang lain.


"Loh, kamu mau ikut, An?" tanya Tante Melly yang sudah berada di rumah Anna dari tadi. Mereka hendak mengantar keluarga Darren, kalau orang Sunda bilang ngabesan.


"Iya, Anna mau ikut!" jawab Anna.


"Dek, makan dulu!" sela Abbas sambil berlalu menuju dapur.


"Iya, Abang!"


Semua tersenyum melihat tingkah kedua pasangan itu.


"Ya sudah makan dulu sana, mungkin suamimu sudah lapar! Papamu dan Abi Bagas juga ada di sana." kata Mama Ami menyuruh Anna menyusul suaminya.


"Iya, Mah!" Dengan langkah gontai Anna menyusul Abbas.


Di dapur, tepatnya di meja makan sudah ada Umi Hera, Darren, Papa Reno dan Ani Bagas sedang menyantap sarapan pagi.


"Sini, An! Duduk dekat Umi!" Umi hera menarik bangku agar Anna duduk di sebelahnya.


"Dek, ini sarapannya!" Abbas menyodorkan sepiring nasi goreng dan beberapa sayuran di atasnya. Kemudian Abbas duduk di samping Anna.


"Abang gak makan!" tanya Anna karena melihat Abbas tidak mengambil makanan untuknya.


Abbas menggelengkan kepalanya pelan. "Nanti saja, nunggu adek kelar makan! sahutnya.


"Makannya berdua saja ya, Bang? ini gak akan habis olehku! Abang terlalu banyak ngambilnya, Aku takut kalau kebanyakan nanti kemuntahin lagi," ujar Anna.


"Ya, lebih baik makan sedikit tapi sering. Kalau masih mual sebaiknya sediakan cemilan yang bisa menghilangkan rasa mual," ujar Umi Hera. "Umi jadi gak sabar, pengen cepet Nisa hamil kayak kamu!" i hera berucap dengan wajah gembira.


"Nikah saja belum, Umi! Kok udah ngomongin hamil," celetuk Abi Bagas. Darren yang mendengar hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan uminya.


"Umi tuh udah srek banget sama Nisa. Anaknya asik diajak ngobrol," sahur Umi Hera.


"Semoga apa yang Umi inginkan segera dikabul Allah ya Umi!"

__ADS_1


"Aamiin...." Umi Hera menengadahkan tangan kemudian mengusap ke wajahnya. Berharap apa yang ia harapkan segera terkabul.


Darren adalah anak pertama keluarga Bagaskara. Umur dan pekerjaan yang sudah makan sudah layak untuk dia membina rumah tangga.


Kegagalan pernikahan bersama Anna tempo hari itu membuat Darren memutuskan untuk menyetujui taaruf yang diajukan oleh Abi nya. Sebab Darren memang jarang dekat dengan Seorang wanita. Selain dengan Anna, karena memang mereka dekat dari kecil.


Usai sarapan. Mereka semua bersiap menuju rumah Maira di mana akad nikah akan berlangsung.


"Eh, Mas Rayyan ikut juga, kenapa tidak masuk ke dalam tadi!" ucap Anna saat ia akan memasuki mobilnya. Anna mendekati Rayyan yang sedang tiduran sambil bersandar di bangku kemudi ia turunkan bangku tersebut agar lebih nyaman.


"Udah sarapan?" tanya Anna.


Rayyan langsung bangun dan membetulkan posisi bangku mobil ke posisi semula.


"Udah, lu aja yang gak ada tadi. Udah bukan penganten baru tapi betah banget berduaan di kamar. Mentang-mentang rumah sendiri jadi bebas kapan aja," ketus Rayyan dengan suara jutek.


"Dih, kenapa nih orang. Orang baik-baik naya, jawabnya judes banget! Amit-amit deh jangan sampe anak aku kaya Mas Rayyan! Nyesel udah nanya baik-baik!" Anna langsung berbalik badan kembali menuju mobilnya dengan perasaan sedih dan kesal.


"Udah sono suruh siapa ke sini!" Lagi-lagi Rayyan berbicara ketus membuat Anna berkaca-kaca akibat hormon kehamilan yang membuat Anna sedikit sensitif.


.


.


Bersambung.


Maaf, Author libur beberapa hari. Author minta do'anya pada readers semua. buat korban gempa Cianjur. Hari minggu nanti Author mau pulang ke sana. karena suami asli sana. Semoga semua keluarga kami di beri keselamatan dan kesabaran dalam menghadapi bencana ini.


Dan Al-Fatihah buat semua korban bencana Gempa ini.


.


.


Sambil nunggu up bab baru, Kalian bisa mampir ke karya lain dari sesama otor.


__ADS_1


Mampir ya. di jamin seru ceritanyaa


__ADS_2