Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
22. Menutup perasaanku untuknya


__ADS_3

Satu tahun berlalu tak ada perkembangan kedekatan antara Maira dan Abbas. Maira yang pendiam dan pemalu. Sedangkan Abbas diam dan dingin, begitulah sikap nya terhadap wanita. Hanya sapaan senyum yang selalu Abbas berikan kepada Maira.


Perasaan Maira hanya berjalan di tempat. gayung tak bersambut terhadap perasaannya. Meski seperti itu, perasaan itu akan selalu ada. Ia yakin jika dirinya terus menyebut nama itu didalam do'anya, Allah pasti mendengar. Karena dengan kekuatan do'a setidaknya ia sudah mempercayakan segala keputusan yang Allah berikan untuk masa depannya.


Ia curahkan semua isi hatinya dalam Buku Diary, apa yang ia rasakan selama ini. Ada satu halaman penuh yang ia tandai karena hari itu sangat berarti untuknya.


Pada saat itu Maira sedang menunggu Abi nya untuk menjemput. Hari semakin siang, Maira duduk di bangku yang di teduhi pohon ceri membuat ia terlindungi dari terik matahari. Ia mendapat kabar bahwa Abi tak bisa menjemput, sedangkan waktu Dzuhur sebentar lagi tiba.


Abbas sedari tadi memperhatikan Maira yang terlihat gelisah pun menghampiri nya.


"Apa kamu menunggu seseorang?" tanya Abbas mengagetkan Maira. Dari tadi, aku lihat Kamu seperti gelisah! apa terjadi sesuatu?."


Maira menoleh ke sumber suara. "Eh, Kak!" Maira lantas berdiri, Ia terkejut dengan kehadiran Abbas yang menyapanya.


"Iya, Kak! Aku nunggu Abi jemput, tapi barusan dapat kabar kalau beliau tidak bisa kesini, aku coba pesan Mobil Online tapi tak ada yang merespon" jawabnya gugup.


"Sebentar lagi masuk waktu Dzuhur , sebaiknya melaksanakan solat dulu, setelah itu, aku antar kamu pulang! tunggu aku di sini, jika kamu Selesai solat lebih dulu" ucap Abbas.


Maira mengangguk. "Apa tidak merepotkan Kak Abbas?" tanyanya ragu.


"Tidak." tanpa mendengar balasan dari Maira, Abbas meninggalkannya masuk ke tempat wudhu, karena adzan dzuhur sudah terdengar berkumandang.


Maira terpaku melihat sikap Abbas. Pria yang ia kagumi. Sikap Acuh, dingin tapi peka terhadap sekitar. Seperti saat ini, Maira yang butuh bantuan seseorang untuk mengantarkannya pulang. Tanpa di minta Abbas menawarkan dirinya. Ada perasaan senang saat itu, apakah ini jawaban atas do'a nya. Allah telah memberiku jalan agar bisa dekat bersama Abbas"ucapnya dalam hati.


Maira pun melangkah ke tempat wudhu wanita. Usai solat, Maira menunggu Abbas di tempat yang mereka sepakati. Dan hari itu menjadi hari yang paling Maira kenang. Baru kali itu ia bisa lebih dekat dengan Abbas. Berbicara lebih banyak dengannya. Meski sikap Abbas tak jauh beda dengan sebelumnya.

__ADS_1


Maira selalu tersenyum dan merasa berbunga-bunga di hati saat mengingat hari itu. hari yang akan menjadi kenangan termanis saat Maira dekat dengan Abbas. bisa dekat seperti itu saja sudah membuatnya bahagia.


Flashback of


"Mai!..hei!.. Anna mengibaskan tangannya ke depan wajah Maira. Ko, bengong sih? lagi ngelamunin apa?" tanya Anna penasaran.


"E-eh.. enggak ko, aku enggak lagi ngelamun. Cuma lagi mikir aja, ko kamu bisa pulang bareng Abbas?" sanggah Maira malah balik bertanya kepada Anna.


"Oh.. itu, Kebetulan aja sih, Mai! Bang Abbas emang suka mendaki gunung. Kemarin dia lagi ngantar Meisya, salah satu anak asuh Bu Lidia. Ternyata anak itu tinggal di daerah yang kemarin aku datangi loh, Mai?" tutur Anna dengan semangat terus bercerita kepada Maira.


Maira hanya mendengarkannya dan sesekali menertawakan cerita Anna, saat ada hal yang menurutnya lucu.


"Hoaammm... duh ngantuk banget sih? Apa efek dari obat yang tadi di minum ya? pindah ke kamar yuk, Mai?" Anna mengajak Maira pindah ke kamar Anna.


"Kamu aja yang pindah, An! istirahat biar lekas pulih. Aku di sini dulu!" sanggah Maira. Maira sudah terbiasa berada di Kos'an Anna. Bahkan dengan orang yang berada di Kos'an itu pun, Maira sudah saling mengenal.


"Biar aku bantu, An? kamu masuk saja ke kamar! Ini, biar aku yang bawa ke kamarmu! Maira mengambil alih tas yang akan di bawa Anna.


"Terima kasih banyak, Mai! aku makin enggak enak sama kamu! Udah nemenin di sini? bantuin aku juga? aku merasa dari kemarin, sudah merepotkan banyak orang!" keluh Anna. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan berjalan pincang karena kaki kanannya masih luka.


"Apaan sih kamu, An? biasa aja deh!" Maira mengikuti Anna ke kamar. Kamu istirahat dulu ya? aku mau duduk sebentar di luar seraya menaruh tas Anna di kamar kos nya. Maira meninggalkan Anna yang sudah merebahkan badannya di atas kasur empuknya.


"Maaf, ya. Aku ngga bisa nememin kamu, Mai?" ucap Anna pelan dengan mata yang hampir menutup karena ngantuk beratnya.


"Ya, aku di luar ya?" Maira menutup pintu kamar pelan. Tak mau mengganggu Anna beristirahat, karena Maira tahu sahabatnya pasti sangat lelah setelah kegiatan kemarin.

__ADS_1


Maira


Aku langsung duduk di sofa empuk di ruang kumpul itu. Entah harus sedih, marah, atau kecewa yang aku rasakan. Aku mendengarkan Anna bercerita. Ia menceritakan indahnya suasana di perkemahan membuatku senang melihat bahagianya sahabatku. tapi hatiku terasa sesak, sedih, aku terkejut ketika Abbas bisa berada di satu tempat dengannya. Hingga kisah Anna yang begitu terkesan dengan Abbas. Sikap yang Abbas tunjukan ketika Anna mengalami musibah yang menimpanya. Sikap diam, cuek yang Aku dan Anna ketahui. tetapi Abbas menunjukkan sikap hangat nya saat bersama Anna di sana.


Sakit rasanya mendengarkan sahabatku bercerita tentang orang yang ia suka saat ini. Aku dan Anna menyukai satu orang yang sama. Hanya aku pandai menutupi itu dari Anna. Aku lebih pendiam dan kurang bisa berbaur dengan banyak orang.


Aku merasa iri dengan Anna, Anna yang belum lama mengenal Abbas sudah terlihat dekat dan bisa membuat Abbas banyak tersenyum saat bersamanya. Bahkan dari sikap Abbas pun aku bisa lihat tatapan nya berbeda terhadap Anna. Mungkin karena sifat Anna yang mudah bersosialisasi dan gampang berbaur dengan orang baru.


Hatiku sesak, seakan terhimpit pada dua pilihan. Mungkin dengan ini, Allah memberiku petunjuk. Abbas bukanlah lelaki yang di takdir kan untukku. Aku harus iklhas melepasnya.


Kisah ku dengan Abbas hanya bisa aku tulis dalam Diary'ku. Aku akan simpan rapi, tak akan membiarkan sahabatku tahu akan itu.


Meski aku mengenal Abbas lebih lama dari Anna. tapi aku tak bisa egois, perasaan tidak bisa dipaksakan, perasaan hadir pada siapa saja, kapan dan di mana saja kita tak bisa memilih. Aku cukup berpasrah diri kepada Maha Pemberi Perasaan, Allah SWT lebih tau apa yang baik untuk hamba yang selalu berpasrah diri kepada-Nya.


...***...


...Alhamdulillah bisa Up hari ini.....


...tak bosan aku ucapkan terima kasih untuk yang masih setia dan berbaik hati dengan tulisanku....


...aku selalu ingatkan dukung terus Author receh ini....


...like 👍 komen ✍️ tambah favorit ❤️ ya.....


...ingin berharap hadiah. tapi entah, kalianlah yang menilai apakah karya ini pantas mendapat hadiah atau tidak! itu terserah kalian. tergantung rejeki Author 😂😂...

__ADS_1


...komen yang buanyakkkk ya buat Author.......


...Salam hangat dari Author Mayya_zha...


__ADS_2