Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
bertemu Mama Ami


__ADS_3

Suara dari gesekan gerbang yang terbuka menghentikan perdebatan Anna dan Abbas. Anna lekas turun saat melihat Tante Melly membuka pintu gerbang.


"Alhamdulillah, ternyata benar, kamu yang ada di mobil itu!" ucap Tante Melly saat melihat Anna turun dari mobil yang ada di hadapannya. Anna mengulurkan tangan lalu Tante Melly menerima uluran tangan dari Anna kemudian di ciumnya tangan Tante Melly dengan takzim.


Tak lama Abbas pun ikut turun kemudian berjalan memutari depan mobil, mendekati Anna dan Tante Melly.


"Assalamualaikum," sapa Abbas saat dirinya sampai di hadapan Tante Melly dan Anna.


"Waalaikumsalam," jawab Tante Melly dan Anna.


"Oh ya, Tan. Ini kenalkan teman Anna! Kebetulan tadi Bang Abbas lihat Anna di jalan sedang berteduh, jadi dia berhenti dan menemani Anna terus nganterin ke sini deh!" Anna mengenalkan Abbas dan memberi penjelasan kepada Tante Melly perihal kedatangannya bersama Abbas dengan malu.


Anna bingung harus menjelaskan siapa Abbas, mau bilang pacar mereka belum jadian. Mau bilang teman tapi perhatian dan sikap yang mereka tunjukan lebih dari teman. Jadi Anna lebih baik menyebutnya teman dari pada yang lain. takut ia di kira terlalu percaya diri kalau menyebut dirinya lebih dari teman.


Abbas mengangguk dan sedikit membungkuk sopan seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada, saat di perkenalkan dengan Tante Melly.


Tante Melly pun menyambutnya dengan gerakan yang sama dengan Abbas.


"Tan, boleh 'kan, Bang Abbas ikut solat Maghrib di sini? sebentar lagi masuk waktu Maghrib!" usul Anna dan Tante Melly mengiyakannya.


"Ya, boleh! kita jama'ah bersama saja nanti. Kebetulan Om Anwar dan Rayyan masih dalam perjalanan. Mari masuk! Mama kamu sudah menunggu mu dari tadi di teras," ajak Tante Melly lalu berbalik masuk menuju teras rumah. Anna dan Abbas mengikutinya dari belakang.


Di teras rumah mewah itu, Mama Ami menunggu Tante Melly kembali dari arah gerbang rumahnya. Dia terkejut saat Anna berada di belakangnya. lantas membuat Mama Ami yang sedang meneguk teh hangat segera menaruh secangkir teh itu di atas meja kemudian berdiri menunggu Anna mendekat ke arahnya.


Anna mempercepat langkahnya. Dari kejauhan, dia melihat orang yang selama ini dirindukannya sedang meneguk teh hangat duduk santai di depan teras rumah. Tatapan mereka saling bertemu. Api rindu yang menari di kedua netra milik orang tua dan anak itu menguap hingga pucuk keheningan.


Mama Ami yang sedang berdiri menunggu Anna, lantas merentangkan kedua tangan, menyambut kedatangan Anna yang berlari kecil kearahnya.


"Mama ...!" seru Anna dengan suara parau menahan tangis, dipeluknya tubuh wanita yang telah melahirkannya itu. Rambut hitam bercampur putih sudah mendominasi indahnya warna rambut di pucuk kepalanya.


Rasa rindu yang kini tercurahkan setelah beberapa bulan tak berjumpa membuat tangis Anna semakin dalam di pelukan sang Mama. Tepukan pelan Mama Ami membuat Anna harus meredakan tangisannya.


"Loh, ko malah nangis!" Mama Ami mengendurkan pelukannya. Di usapnya air mata yang masih menetes di pipi Anna, membuat wajah putih itu memerah karena menangis.

__ADS_1


"Abisnya, Anna kangen sama Mama!" Anna pun melepaskan pelukan eratnya, lalu membersihkan air mata yang tersisa di sudut mata dengan kedua telapak tangannya.


"Mama jauh lebih kangen sama kamu! berjauhan dari putri Mama yang cerewet ini bikin rumah di Surabaya sepi" Mama Ami membelai wajah putri kesayangannya itu.


"Kamu kemana aja, kenapa baru sampai jam segini?" tanya Mama Ami. Lalu mengajak putrinya duduk agar lebih tenang sehabis menangis. Kemudian mempersilahkan Abbas untuk duduk di depannya.


"Ih ... Mama! 'kan Anna tadi sudah ngabarin lagi neduh terus makan dulu deh di sana sama--


Anna melirik Abbas yang tersenyum ke arahnya.


"Ini loh, Mi. Temannya Anna katanya sih ketemu tadi pas lagi neduh di jalan!" sambung Tante Melly.


Abbas merasa dirinya disinggung lekas berdiri sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan ke arah Mama Ami, mencium tangannya dengan takzim. Mama Ami tersenyum hangat ke arahnya.


"Saya Abbas, Tan! maaf tadi saya dan Anna makan dulu sambil menunggu hujan reda, jadi telat mengantarkannya ke sini," ucap Abbas seraya sedikit menunduk.


"Padahal mau mengantar juga bisa 'kan! di dalam mobil ko, enggak akan kehujanan ini," sindir Tante Melly sambil tersenyum bercanda ke arah Abbas.


Abbas tersenyum kikuk, lalu menggaruk lehernya yang tak gatal. "Iya sih, Tan!" elak Abbas.


"Anna ajak Abang makan dulu, Mah, Tan! abisnya selama Anna berteduh, aroma dari masakan di warung pecel itu bikin perut Anna jadi lapar! kebetulan ada Bang Abbas, jadi Anna ajakin aja buat makan bareng. Anna yang traktir loh, 'kan Anna lulus sidang Akhir!" tutur Anna. wajahnya tak sesedih seperti tadi.


"Wah ... Selamat ya, sayang!" ucap Tante Melly kemudian memberikan pelukan selamat untuk Anna.


"Berarti tinggal tunggu Wisuda saja?" tanya Mama Ami, kemudian mendapat anggukan dari Anna.


"Terus kapan, mau traktir Tante? masa cuman teman kamu aja yang di traktir! teman Apa teman nih? tanya Tante Melly dengan nada mengejek dan lebih menekankan kata teman di akhir pertanyaannya.


"T -teman, Tan!" ucap Anna ragu seraya menunduk malu.


Suara adzan yang terdengar dari Majlis yang jaraknya jauh dari rumah Tante Melly menghentikan obrolan santai itu. Tante Melly mengajak Mama Ami, Anna dan Abbas untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Sebaiknya kita masuk dulu! maaf ... Nak Abbas, seorang muslim?" tanya Tante Melly canggung.

__ADS_1


"Alhamdulillah, saya muslim, Tan!" jawab Abbas tegas.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita ke mushola di samping rumah ini saja. Kita solat berjama'ah. Lalu berseru kepada Anna, An, ajak Mama mu istirahat dulu, dari tadi dia resah nungguin kamu sampai belum istirahat setibanya di Jakarta tadi siang.


"Iya, Tan!" lalu beralih kepada Abbas, "Anna pamit bersih-bersih dulu ya, Bang! nanti Anna kesini lagi kalau kalian sudah selesai beribadah." Anna lekas berdiri bersama Mamanya. Dia mengapit tangan Mama Ami dengan kedua tangannya kemudian melangkah memasuk ke dalam rumah Tante Melly yang begitu megah dan mewah.


"Nak Abbas bisa lewat sini kalau mau ke mushola! ada Pak Tarmin di sana, kalau perlu peci atau sarung coba tanyakan kepada beliau, biasanya tersedia di lemari samping mushola." Tante Melly menunjuk jalan kecil dari teras rumah menuju Mushola.


"Iya, Tan. Terima kasih."


"Tante ke dalam dulu, mau siap-siap! nanti Tante dan Putri Tante akan menyusul ke Mushola. Suami dan anak lelaki Tante sepertinya akan terlambat sampai rumah. Sebaiknya kita segerakan untuk solat karena waktu solat Maghrib hanya sebentar." Tante Melly pamit lalu masuk ke dalam rumah menyusul Anna dan Mama Ami.


Kehidupan dua keluarga ini sangatlah erat akan kebersamaan. Meski berbeda agama, saat sedang berkumpul Mama Ami maupun Papa Reno sering mengingatkan waktu ibadah untuk Rayyan dan Risma anak dari Tante Melly dan Om Anwar untuk tepat waktu dalam menjalankannya.


Sejatinya setiap agama akan mengajarkan kebaikan untuk umatnya. Dan untuk keyakinan berdasar pada hati umat itu sendiri.


Terbukti dengan perbedaan keyakinan antara Om Anwar dan Mama Ami yang mempunyai ikatan darah yang sama, tak membuat kecanggungan di antara mereka. Saling menghormati dan menghargai selalu di tunjukan saat bersama.


Bismillahirrahmanirrahim


Rabbighfirli warhamni watub 'alayya.


bacalah lafadz di atas selama bulan Rajab sebanyak 70 kali ba'da Ashar dan 70 kali di ba'da subuh. insyaAllah akan menggugurkan dosa kita. Itu ilmu yang aku dapat dari pengajian. aku berbagi di sini agar aku juga dapat pahala. Aamiin.


Terima kasih yang masih setia.


ikuti kisah Doubel A'A ini ya .


jangan lupa like, komen, vote serta hadiahnya ...


salam hangat dari Author Mayya_zha


mampir juga ke karya temanku .

__ADS_1


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pernikahan Kedua,



__ADS_2