
Kabar dari Rio kembali membuat pasangan pengantin baru itu merasa gelisah.
Abbas terlihat lesu. “Kenapa jadi seperti ini, Dek?” ucap Abbas kemudian duduk di tepi ranjang sambil memijat kening. Ia sampai lupa kalau memerintahkan asisten nya itu ke rumah Riska. Untuk meminta kepastiannya.
Abbas tidak mengira jika hati istrinya serapuh itu. Ia tidak menyangka Anna berkorban perasaan untuknya.
Menyesal sungguh sangatmenyesal itu yang Abbas rasakan. Dan saat ini Riska menyetujui agar mereka segera menikah. Abbas mengira lebih cepat lebih baik sehingga masalah ini tidak berlalrut-larut. Tapi kenyataan sungguh menampar dirinya.
Ia belum paham betul sisi lembut hati Anna.
“Aku semakin membuatmu tersiksa!” ucap Abbas lagi. Kemudian tertunduk lesu.
“Laksanakan saja, Bang! Dari awal keputusan ku sampai hari ini, aku menerika untuk kamu menikah lagi dengan Riska. Memang belum sepenuhnya keikhlasan dalam hati ini tapi aku akan berusaha. Abang tidak perlu khawatir.”
“Bagaimana dengan mama dan Papa?” tanya Abbas.
“Aku akan berbicara dengan mereka baik-baik. InsyaAllah mereka paham dan mengerti,” balas Anna.
Menjelang hari pernikahan
Semua keperluan yang menyangkut acara pernikahan ditangani oleh Rio.
Sesuai permintaan Riska. Ia ingin acara sederhana saja. Tidak mau banyak yang datang hanya keluarga inti saja.
Bu Lidia menyenangkan keputusan Anna dan Abbas yang begitu mendadak mengabarinya.
“Kenapa selama ini kalian tidak memberitahu ibu!” tanya Bu Lidia saat beliau datang ke rumah Abbas di daerah Cibubur.
“Ini juga tidak ada dalam rencana kami, Bu!” Balas Abbas.
“Tapi kalian bisa menunggu, masih banyak cara lain untuk mengatasi masalah ini. Menurut ibu kamu sudah berusaha membantunya tidak seharusnya tanggung jawab itu beralih padamu, Nak! Ibu tahu kamu ingin berbakti pada kedua orang tuamu yang sudah meninggal tapi tidak seperti ini, keadaan sudah berubah. Kalian baru saja merajut bahagia. Ini tidak benar! Biar ibu yang bicara baik-baik pada keluarga gadis itu.” Bu Lidia berdiri dari duduknya hendak menemui keluarga Riska.
“Tunggu, Bu!” Anna menahannya.
“Aku dan Bang Abbas sudah membahas ini secara matang! Aku tidak keberatan!” ucap Anna dengan tatapan meyakinkan.
Bu Lidia mengulas senyum sambil menggelengkan kepala.
“Membuat keputusan? Apakah kalian tidak berpikir ucapan orang lain nantinya?” Bu Lidia menatap Anna dan Abbas bergantian. “Kalian ini pengantin baru, bagaimana ucapan orang lain jika mereka dengar dan tahu berita ini!” lanjutnya.
Abbas berusaha meyakinkan Bu Lidia begitu juga Anna. Banyak yang dibicarakan saat itu, hingga Bu Lidia akhirnya menyerah.
__ADS_1
“Bagaimana jika Papa mu tahu, An? Apa kami tidak memikirkan bagaimana kondisinya jika mendengar ini semua,” tutur Bu Lidia dan membuat Anna terdiam sesaat.
“Aku sudah membahas ini dengan Tante Melly, Bu! Papa tidak akan tahu masalah ini, hanya Mama yang akan mengetahuinya. Anna yakin mama pasti bisa menjaga rahasia.”
“Kamu ini aneh, wanita lain di luar sana tidak setuju dan menolak jika suaminya menikah lagi! Kamu malah menyetujui dan mempercepat acara pernikahan ini.” Bu Lidia kembali duduk bersama Anna.
“Terserah kalian saja! Ibu sudah memperingatkan. Semoga ada keajaiban untuk kalian berdua!” Bu Lidia akhirnya pasrah dengan keputusan Abbas dan Anna.
Di rumah Riska.
Dia ahri terlahir setelah bertemu Rio. Riska terlihat sangat murung dan berdiam diri di kamar. Gadis itu hanya sesekali keluar kamar selebihnya ia sering menutup diri di kamar.Selama itu Bu Ratmi merasa cemas dengan keadaannya.
Wanita tua itu menunggu Riska di ruang tamu. Berharap putrinya segera keluar dari kamar. Saat azan terdengar berkumandang, Bu Ratmi terpaksa meninggalkan tempat yang ia duduki saat ini. Melaksanakan kewajiban yang harus dilaksanakan segera.
Tak lama setelah Bu Ratmi beranjak. Riska keluar dari kamarnya. Gadis itu memanggil ibunya pelan.
“Bu!” panggil Riska sambil berjalan pelan. Tangannya meraba sekelilingnya. “Mungkin ibu masih solat!” ujarnya.
Riska terus berjalan ke arah pintu keluar. Tidak ada siapa pun di rumah itu. Ayah dan adiknya Riska sedang berada di luar rumah.
‘Biasanya sore hari begini di taman pasti ramai, akun ingin sekali ke sana!’
Batin Riska sambil berpikir. Pergi ke taman sore hari pernah ia lakukan bersama Rio. Tawa dan canda pernah ia rasakan saat itu. Meskipun tidak melihat keadaan sekitar tapi keseruan dan Keramaian bisa ia rasakan.
Tanpa menunggu ibunya, Riska pergi tanpa ijin. Gadis itu berpikir tidak akan lama berada di sana. Ia hanya ingin melewati sore hari di sana meski hanya sebentar.
Sesampainya di taman. Riska duduk sendiri. Meskipun tidak bisa melihat tapi ia masih bisa mendengar suara riuh dari anak-anak yang sedang bermain.
‘Apa ingin menghormati Kak Abbas hanya alasanmu saja untuk pergi dariku, Kak? Pasti karena kekuranganku ini. Ya, pasti karena aku tidak bisa melihat Kak Rio menjauh dariku!”
Pikir Riska. Gadis itu kembali terdiam. Suasana sore itu membuatnya sedikit terhibur dibanding berada di rumah. Riska ingin menghabiskan sore ini sendiri. Esok hari statusnya akan berubah menjadi istri dari seorang Abbas El Amin. Meskipun pernikahan itu hanya siri, Riska menerimanya.
Entah mengapa perasaan yang harusnya senang dan bahagia. Kini, tak lagi sama.
Perasaan gundah dan sedih serta rasa kekosongan menguasai hatinya.
Ada yang berbeda saat ini. Semangatnya yang dulu ingin Abbas menjadi suaminya, kini tak lagi ada.
kebaikan seorang Anna pun sering muncul dalam benak Riska.
Ucapan lembut dan kata-kata bijak yang selalu Abbas ucapkan membuat perasaan bersalah di hati Riska.
__ADS_1
‘Maklumi sikap Bang Abbas, padamu!’
‘Aku akan berusaha ikhlas menerima mauku!’
‘Kita sama-sama belajar menjadi istri yang baik'
Banyak lagi yang diucapkan Anna pada Riska.
‘Ya Allah, benarkan keputusanku! Aku tahu sebenarnya aku bisa menolak semua ini. Tapi ... Apakah ada yang peduli Pada gadis buta sepertiku? Jika aku tidak menikah dengan Kakak Abbas saat ini siapa yang sudi bersamaku, nantinya? Bahkan pria yang dekat denganku saat ini saja menjauh dariku! Aku hanya ‘lah gadis yang tidak bisa berbuat apa-apa selain merepotkan orang lain!’ ucap Riska dalam hati sambil menundukkan kepalanya dengan memejamkan mata. Kemudian kembali berkata. “Kak Anna sudah begitu baik padaku, apa aku pantas menyakiti hatinya?” gumamnya. Gadis itu masih betah duduk di bangku besi panjang di pinggir danau.
Riska kembali termenung. Sebuah bisikan kembali berbisik pada dirinya. Bisikkan yang menyuruhnya untuk tetap menikah dengan Abbas. Bisikan yang kembali mengingatkannya bahwa tidak ada lelaki yang mau menerima gadis buta seperti dirinya.
Riska menggelengkan kepala seakan mengusir semua bisikan itu.
Hatinya tidak ingin mengikuti bisikan itu. Tapi pikiran membenarkannya.
Hatinya ingin mengikhlaskan semuanya tapi pikiran tidak mengizinkan.
Di rumah
Bu Ratmi telah kelimpungan mencari Riska. Wanita tua itu baru saja memutari halaman rumah nya sampai belakang.
Tepat di halaman depan wanita itu bertemu dengan Rio.
Rio yang melihat Bu Ratmi dengan wajah cemasnya lekas mendekati.
“Cari apa, Bu?” tanya Rio seraya membawa jinjingan paper di tangannya.
“Alhamdulillah ada, Nak Rio! Riska tidak ada di dalam. Tadi ibu tinggal salat sebentar dan Ibu lihat pintu kamarnya sudah terbuka.” Bu Ratmi masih terlihat khawatir dan kebingungan.
“Mungkin dia ada di halaman belakang, Bu?” Rio mencoba menenangkan Bu Ratmi. “Biar aku lihat dulu!”
“Ibu sudah ke sana tapi tidak ada!”
Rio terlihat berpikir setelah Bu Ratmi berbicara. ‘Apa dia ke taman?’ Pikir Rio.
“Aku akan bantu mencari Riska ke taman dulu, Bu! Kalau dia ada di sana, nanti ku kabari!” ujarnya.
“Terima kasih, Nak Rio! Maaf merepotkanmu!”
...
__ADS_1
Bersambung