
Anna mengakhiri sambungan telponnya. Ia memasukan ponsel ke dalam jas nya.
Hari ini Anna memakai rok span berwarna putih dan jas berwarna green. Di permanis dengan tas selempang kecil yang bertengger di salah satu pundaknya. Anna makin terlihat cantik dengan rambut di gerai. Abbas memperhatikan Anna dari tempat duduk yang sudah ia pilih. Ia melambaikan tangan agar Anna bisa melihat keberadaannya.
Kedai Bakso Rudal siang itu sangat ramai pengunjung. Beruntung Abbas mendapat tempat duduk di samping jendela. Membuat angin segar dari luar menerobos masuk ke dalam ruangan.
Anna mendekati Abbas di meja nomer sembilan.
“Maira enggak jadi ke sini, Bang.” Anna mendaratkan tubuhnya di bangku plastik di hadapan Abbas.
“Kenapa?” Abbas bertanya sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Kedua matanya menghujam tajam menatap Anna.
“Dia lupa, katanya sih ada janji dengan Abi nya. Jadi enggak bisa ke sini,” ucap Anna sendu. Pipinya di sangga satu tangan di atas meja. Ia seperti tak bersemangat tanpa kehadiran Maira. Obrolan mereka terhenti saat pelayan menghampiri mereka berdua. Pelayan kedai mencatat beberapa pesanan dari pengunjung yang baru saja datang, salah satunya Anna dan Abbas.
“Terus mau lanjut apa di tunda, nih makan baksonya.” tanya Abbas
“Lanjut dong! sayang banget kalau di tunda.” Anna menegakan badannya. Mendengar pertanyaan Abbas, Anna bersemangat kembali teringat sangat inginnya Anna makan bakso di kedai tersebut.
“Pesanan nya apa aja, Mas, Mba?” tanya pelayan kedai.
“Aku pesan baksonya aja ya, Mba! Minumnya air jeruk hangat pakai gula sedikit saja, jangan terlalu manis.” Anna memberitahu secara detail pesanannya, Abbas hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar penuturan Anna. Dan pelayan itu pun mencatat apa yang Anna pesan.
“Masnya Apa?” tanya pelayan kepada Abbas. Sikap pelayan sedikit berbeda terhadap Abbas, ia lebih banyak tersenyum dan mendekat, kemudian mencodongkan badannya ke depan sedikit membungkuk, agar suara Abbas terdengar. Padahal tanpa gerakan tubuh seperti itupun suara sudah Abbas terdengar jelas.
“Bakso pakai sayur dan mie putih saja.” Abbas menjawab dengan wajah datar dan dingin. Sikap yang biasa ia tunjukan kepada wanita selain Anna.
“Minumnya, Mas?” pelayan itu kembali bertanya sambil melempar senyum manja ke arah Abbas.
“Teh hangat saja,” jawabnya singkat.
“Baik, di tunggu pesanannya ya, Mas.” Pelayan itu meninggalkan meja nomer sembilan yang di tempati Anna dan Abbas.
Anna memutar bola mata malas saat kepergian pelayan centil itu, merasa jengah saat melihat tingkahnya terhadap Abbas. Anna tidak sadar dari tadi pandangan Abbas tak lepas darinya. Memperhatikan sikap jengah Anna kepada pelayan wanita tadi. Bibirnya ditarik membentuk sebuah senyuman jahil untuk Anna. Mata mereka bertemu. Abbas masih setia dengan senyum itu.
“Abang, ngapain senyum-senyum, gitu? kesenengan ya, di goda pelayan tadi. Anna menghebus napas pelan, ternyata cowok itu sama aja ... mudah tergoda wanita,” tuduh Anna.
Abbas terkekeh mendengar kekesalan Anna. Anna malah terlihat seperti wanita yang ngambek saat pasangannya di goda wanita lain.
“Kamu cemburu?” Abbas mendekatkan wajahnya ke hadapan Anna, mereka saling berhadapan. Jarak mereka hanya tersekat tempat sendok, saus botol dan kecap botol yang tersaji di hadapan mereka.
“Aku ...” Anna menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk jarinya. Dan mendapat balasan anggukan dari Abbas.
“Ya, enggak lah. Abang jangan ngadi-ngadi deh!” Anna terlihat salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Abbas. Tuduhannya terhadap Abbas malah menyudutkan dirinya.
__ADS_1
“Kalau pun benar juga, tidak pa-pa.” Abbas menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Anna. Anna menyembunyikan wajahnya yang merona karena selalu di goda Abbas.
Abbas tersenyum melihat tingkah malu Anna. Ini menjadi pengalaman tersendiri untuk Abbas. Tak pernah ia bersikap seperti ini sebelumnya terhadap wanita. Hanya kepada adik_adik asuhnya di rumah bintang ia bersikap hangat dan jahil. Sikap dingin selalu ia tunjukan kepada wanita yang mencoba dekat kepadanya.
“Pesanan meja nomer sembilan,” sapa seorang pria yang datang menghampiri meja yang di tempati Anna dan Abbas.
Satu nampan berisi dua mangkok bakso pesanannya di sajikan di meja mereka.
“Satu mangkok bakso aja sama bakso campur sayur dan mie putih?” tanya pelayan sambil menurunkan dua mangkok bakso dari nampan. Lalu berkata,” Minumannya menyusul ya Mas, Mba.” Sambil memegang nampan yang di apit kedua tangannya, ia sedikit membungkuk memberi ucapan selamat menikmati untuk Anna dan Abbas.
“Iya, Mas. Terima kasih,” jawab Abbas. Ia menggeser bakso pesanan Anna ke hadapan Anna. “Ini baksomu, An?” Abbas menyodorkan satu mangkuk berisi bakso tanpa pelengkap di dalamnya.
“E-eh, makasih Bang.” Anna sedikit menganggukkan kepalanya. Ia terlihat canggung akan kejadian tadi.
Tak lama, minuman pesanan mereka pun datang. Pelayan wanita yang tadi memberi senyum manja kepada Abbas lagi lah, yang mengantarkannya.
“Minumannya Mas,” ucap pelayan wanita itu, ia hanya menyapa Abbas dan memberikan minuman milik Anna tanpa meliriknya. Anna seperti dianggap tidak ada di sana.
“Ehm, sengaja Anna berdehem agar pelayan wanita itu segera pergi dari hadapannya.
“Eh, iya Mba, permisi, selamat menikmati , Mas, Mba.” pelayan itu menoleh kepada Anna. Ia sedikit tersenyum terpaksa.
“Iya, terima kasih.”Anna pun membalas dengan senyum yang di paksakan.
“Baru lihat cowok ganteng apa? Mau banget gitu, kesini,” gerutu Anna. Ucapan samar Anna terdengar oleh Abbas. Abbas tersenyum mendengar pujian yang di tujukan untuknya.
Abbas heran, matanya menyipit, mengamati Anna yang sedang asik menikmati semangkuk bakso tanpa saus dan kecap yang di sediakan. Ia melihat Anna menuangkan sambel dan memeras jeruk limau yang tersedia di mangkok kecil di hadapannya.
“Kamu tidak suka saus?” Abbas menghentikan kegiatannya menyuap bakso miliknya.
“Suka ...! cuma aku ngga suka aja kalau makan bakso pakai saus. Aku lebih suka makan bakso seperti ini, kuahnya lebih terasa tanpa tambahan saus dan kecap. Lebih seger, apalagi asam yang di rasa asli dari perasan jeruk limau, bukan dari cuka botolan. Makanya aku suka makan di tempat ini, Bang. Jarang kedai bakso menyediakan jeruk limau. Abang mau nyobain enggak, bakso punyaku? Belum mendapat jawaban, Anna sudah menyuapi Abbas agar ia merasakan bakso milik Anna.”
Abbas diam merasakan sensasi bakso yang di suapkan Anna kedalam mulutnya.
“Enak, ‘kan, Bang? Pakai ini pasti tambah enak! Anna menyodorkan kerupuk kulit yang tadi ia beli dari Bapak Tunanetra” Anna membuka bungkusan plastik itu agar Abbas mudah mengambil kerupuknya. Abbas hanya mengangguk pelan membalas pertanyaan Anna, tangannya mengambil kerupuk yang di tawarkan Anna.
Siang itu mereka menikmati makan bako bersama. Anna merasa kedekatannya bersama Abbas mengalir begitu saja. Sikap yang ia tunjukan kepada Abbas pun, murni tanpa ada kepura-puraan. Anna menunjukan sikapnya yang sesungguhnya, tanpa ada kecanggungan. Tak seperti wanita lain yang berusaha mendekati Abbas. mereka menunjukan sikap cari perhatian dan sok manis di depan Abbas. Itu yang Abbas suka dari Anna. Menjadi diri sendiri.
Hai... terima kasih yang masih setia di SCDK' Satu Cinta Dua Keyakinan
semoga kalian dalam keadaan sehat ya. pintar pintar jaga kesehatan. Cuaca lagi enggak bentuk banget ni.
jangan lupa kasih like👍
__ADS_1
komen✍️
favorite❤️
ya.
kasih dukungan buat Author. kasih bunga atau kopi boleh agar author tambah semangat buat Up
kalian baik hati banget udah baca karyaku.
sehat sehat selalu buat kalian dan diriku yang sedang m'flu ini
salam hangat dari Author Mayya_zha.
~tinggalkan komen like dan vote kalian agar author semangat up bab baru~
... ...
... ...
__ADS_1