Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Pagi Yang Indah


__ADS_3

Anna tersenyum saat ia hendak bangun dari tidurnya.


Wajah yang pertama ia lihat adalah wajah suaminya. Setelah hampir satu minggu mereka jarang bertemu. Saat ada masalah di tambah pekerjaan Abbas yang harus membuat dirinya sibuk dan berada di luar kota menjadikan hubungan mereka semakin renggang.


Abbas bersyukur dengan keadaan itu, bukan berniat menghindari istrinya tapi ia harus berpikir jernih dengan keputusan yang telah ia putuskan.


Bagaimana kehidupan rumah tangganya nanti. Jika Yang Maha Kuasa masih tidak mengizinkan Riska untuk bisa melihat, wanita itu berpindah tangan menjadi tanggung jawabnya.


Abbas berusaha menegarkan hati, ia harus belajar berbuat adil. Meskipun tidak ada rasa cinta untuk Riska.


Dalam setiap doa, Abbas selalu minta yang terbaik. Begitu juga Anna. Mereka sama-sama memanjatkan doa agar Sang Pemberi Kehidupan memberikan yang terbaik untuk semuanya.


Ikhlas dan belajar menerima segala keputusan yang membuat Anna dan Abbas merasa tenang. Mengadu dan memohon pada Sang Pencipta, agar kegundahan hati mereka menjadikan mereka lebih damai.


Pagi ini perasaan Anna begitu bahagia saat merasakan tangan kekar suaminya melingkar di pinggang ramping miliknya. Ia merindukan sentuhan hangat suaminya, ingin terus dalam kenikmatan itu tapi kewajiban seorang muslim kembali mengingatkannya.


Hatinya lebih tenang saat ini. Apa yang ia pelajari dari buku yang ia baca semalam membuatnya semakin tegar. Ikhlas dan bersabar itulah kunci ketenangan dalam hidup. Kegundahan yang Anna rasakan ‘lah yang mendorong dirinya untuk berusaha tetap tenang. Meski tak bisa dipungkiri hatinya masih berat jika harus berbagi. Satu kesalahannya yang harus ia terima.


Setelah beberapa saat merasakan kenyamanan secara sadar. Perlahan Anna melepaskan tangan kekar itu. Ia harus segera mandi wajib sebab merasa haid yang ia alami sudah selesai.


Usai membersihkan diri Anna sudah bersiap dengan mukena yang dipakainya. Ia berjalan menghampiri Abbas yang masih terlelap. Terlihat wajah lelah yang sudah beberapa hari tak bercukur itu, bulu halus tumbuh di rahangnya.


“Abang bangun! Solat dulu!” bisik Anna.


“Hmmm...”


“Abang!” panggil Anna lagi.


Abbas mengerjapkan matanya berusaha membuka kelopak mata yang terasa berat untuk terbuka.


“Apa, Dek!” tanya Abbas dengan suara pelan.


“Solat dulu!” titah Anna dengan senyum manisnya.


Abbas mengangguk pelan kemudian lekas bangun dari tidurnya untuk melaksanakan kewajiban mereka.


****


Usai solat dan berdoa seperti biasa Anna meraih tangan Abbas untuk menyalaminya.


Saat Anna hendak melepaskan tangannya Abbas malah menariknya ke dalam pelukan.

__ADS_1


Pelukan hangat yang begitu mereka rindukan.


“Maafkan Abang jika kamu harus menjadi korban masa lalu orang tuaku!” ucap Abbas di sela pelukannya.


Begitu erat bahkan semakin erat. Ana merasakan getaran bahu yang naik turun dari tubuh suaminya, diiringi isak tangis yang keluar tanpa suara.


“Abang!” panggil Anna.


“Biarkan kita seperti ini dulu!” balas Abbas dan mendapat anggukan dari Anna.


Anna membiarkan Abbas menumpahkan rasa sedihnya. Ia membalas pelukan suaminya itu dengan mengusap punggung kekar Abbas.


“Terima kasih, kamu sampai memikirkan tanggung jawab Abang kepada Almarhum orang tuaku! Seharusnya Abang yang memikirkan semua ini bukan kamu! Abang terlalu egois.” Perlahan Abbas melepaskan pelukannya tangan kelarnya menangkup wajah cantik Anna yang sudah berkaca-kaca.


“Maafkan Abang, jika hatimu terluka karena aku!” Abbas berucap sambil menatap Anna dengan lekat. “Hati ini sakit, sangat sakit, Dek! Sudah membuat kamu menangis.” Lirih Abbas.


Baru kali ini Anna melihat suaminya menangis. Tangisnya pun ikut tumpah ketika mendengar suaminya berbicara.


“Aku mencoba ikhlas, Bang! Bukankah memang dalam agama Islam diperbolehkan untuk menikah lagi jika istirahat pertama merestui? Aku ... A-aku... Berusaha ikhlas menerimanya, Bang!”


Abbas kembali memeluk Anna. Rasanya tidak rela jika Anna berbicara seperti itu.


Anna malah memberi restu dan Abbas merasa tidak rela untuk melakukan poligami. Dia bukanlah pria yang mampu bermain dan berbagi hati kepada wanita.


Abbas takut akan melukai perasaan Riska nantinya.


Sekarang Anna yang melepas pelukan Abbas. Kedua mereka saling bertemu.


“Aku tidak mau membuat Abang berdosa kepada almarhum ayah, meskipun aku belum pernah bertemu dan kenal dengan mereka tapi amanah yang mereka tinggalkan adalah kewajiban untuk suamiku. Aku tidak mau membuat suamiku durhaka karena tidak mampu mewujudkan amanah mereka. Abang tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja! Aku akan belajar dan berusaha ikhlas menerima semuanya," ucap Anna sambil berlinang air mata.


Abbas mengusap pelan air mata yang membasahi pipi istrinya.


“Satu harapan yang saat ini selalu aku ucapkan dalam setiap do’a. Aku berharap sebuah keajaiban datang kepada kita, Bang! Sebab dengan doa Allah pasti akan melihat kesungguhan hati kita ‘kan?” tanya Anna yang sungguh-sungguh.


Wanita yang belum lama menjadi mualaf itu banyak mendapat pelajaran dan didikan dari Abbas suaminya.


Abbas mengangguk pelan.


Sungguh rasa syukur Abbas rasakan saat mendapati seorang wanita yang begitu mulia mengizinkan bahkan menyuruh Abbas untuk menikah demi sebuah amanah.


“Kita berdoa bersama, Sayang! Yang kamu harapkan, itulah yang Abang inginkan. Tetap semua keputusan hanya Allah yang memberikan. Terima kasih telah mengerti dan memahami situasinya, Sayang! Mulai saat ini kita hadapi ini bersama, semoga keikhlasan pun datang pada Riska,” Abbas menggenggam erat tangan Anna seakan saling memberi kekuatan pada istrinya.

__ADS_1


“Kamu sudah selesai haid?” tanya Abbas. Kemudian menatap Anna dengan tatapan yang berbeda.


Seminggu lebih Abbas menahan kerinduan. Saat istrinya dalam masa haid di tambah masalah datang pada mereka berdua. Abbas semakin menahan hasratnya. Tapi kali ini rasa lega dan ketenangan hati ia rasakan di saat ia dan Anna sudah sama-sama berjanji akan menjalani semua dengan kebersamaan.


Mereka yakin keputusan yang Allah berikan. Itu pasti yang terbaik untuk mereka. Berusaha husnuzon untuk kedepannya.


Melihat tatapan mendamba dari suaminya, Anna mengerti apa yang ia inginkan.


Anna mengangguk pelan sambil tertunduk malu.


Senyuman cerah terpancar dari wajah Abbas pagi ini akan ia mulai dengan kerinduan yang tersalurkan.


Abbas meraih tangan Anna untuk berdiri. Anna pun mengikutinya.


“Aww ... Abang!” pekik Anna dengan terkejut sebab Abbas mengangkat tubuhnya tiba-tiba. Melangkah menuju tempat peraduan indah yang biasa mereka lewati.


Abbas merindukan suara indah yang keluar dari bibir manis istrinya. Sambil berjalan Abbas langsung membungkam bibir Anna dengan bibirnya. Pagutan bibir terlepas sesaat ketika Abbas hendak membuka mukena yang dipakai Anna.


Pemandangan indah yang terlihat oleh Abbas.


Anna kembali tertunduk malu ketika hanya balutan segitiga Bermuda dan kain penutup gunung indah yang ia kenakan.


Itu semakin membuat Abbas tidak sabar untuk aksi selanjutnya.


Pagi ini sungguh menjadi pagi yang indah buat Abbas sebab terbayarkan sudah rasa rindu yang ia tahan. Suara indah dari Anna membuat Abbas semakin bersemangat untuk meminta lagi dan lagi.


Bersambung.


yok mampir ke karya otor yang baru.


Pemilik Kehormatanku


jangan lupa tinggalkan


like


komen


gift buat karya karyaku


Tengku 😁😁😁🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2