Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Aku harus Bertemu Dengannya


__ADS_3

"Jadi besok kita harus sudah angkat kaki dari rumah ini, Mah?" tanya Anna lirih, sontak membuat Mama Ami menoleh ke sumber suara.


Lagi-lagi Anna harus mendengar berita yang sangat menyiksa hatinya.


Anna baru saja akan memasuki dapur untuk mengambil air minum tapi saat melihat mamanya sedang memeluk erat figura foto dan bergumam sendiri, Anna menghentikan langkahnya lalu mendengar ucapan Mama Ami.


Gadis itu sungguh tak menyangka, kepulangannya ke rumah yang sudah lama ia rindukan dan mempunyai banyak kenangan itu hanya bisa di tempati malam ini saja.


"An ... " lirih Mama Ami, wanita berwajah sedih itu mengembalikan figura foto ke tempat semula. Ia lekas mendekati Anna.


"Maafkan, Mama! Lagi-lagi Mama membuatmu kecewa," ucap Mama Ami seraya menyentuh lalu mengelus pelan wajah cantik putrinya.


Kedua manik mata mama dan Anak itu saling menatap. Begitu jelas terlihat kesedihan di wajah Mama Ami, Anna bisa merasakannya. Ada rasa kekhawatiran dan kepiluan di sana.


Mama Ami dan Papa Reno selalu memberikan yang terbaik untuk Anna, ia tidak bisa membayangkan kalau Anna akan hidup kekurangan jika semua aset mereka di sita. Tanpa mamanya sadari Anna kini telah menjadi wanita mandiri dan sederhana semenjak tinggal terpisah dengan mereka.


Anna lebih senang berbaur dengan teman yang hidup sederhana ketimbang dengan para mahasiswi dengan gaya hidup glamor dan mewah di tempat kuliahnya. Mereka yang mengandalkan harta orang tuanya.


Anna merangkul Mama Ami, mengajaknya untuk duduk lalu menarik bangku agar ia bisa duduk dan berbicara lebih dekat dengan mamanya.


Gadis cantik yang memakai kerudung bergo dan baju tidur rumahan berlengan panjang itu menatap lekat wajah mamanya, ia ingin berbicara dari hati ke hati dengan sang Mama.


"Kenapa Mama tidak pernah berbagi kesedihan dengan Anna, setidaknya dengan bercerita kepada Anna bisa mengurangi beban yang kini Mama rasakan. Anna seakan tak berguna, membiarkan Mama dan Papa berpikir keras untuk kebahagiaan Anna."


Anna meraup kedua tangan Mama Ami lalu menggenggamnya lembut. "Mama tidak perlu khawatir, Anna tidak perlu hidup mewah, walaupun hidup seadanya asalkan Papa bisa bersama kita. Apa Mama mengkhawatirkan Anna?" Ana menatap lekat wajah wanita yang telah melahirkannya itu. "Apa Mama takut Anna tidak bisa hidup sederhana?" tanyanya tapi sama sekali tidak mendapat jawaban dari mamanya. Tapi tatapannya tidak berpaling dari wajah teduh Anna yang berhijab rumahan itu.


"Ada rasa syukur bisa tinggal berpisah dengan Mama, Anna tak lagi di manjakan dengan segala kemewahan dan keinginan yang selalu terkabulkan oleh Papa."


"Selama di Bogor, Anna belajar hidup mandiri, sederhana dan kerja keras. Anna telah merasakan itu semua, Mah! Jadi tak ada yang perlu Mama khawatirkan, kalau kita kehilangan semua harta yang ada ini. kalau semua masih rejeki kita, Yang maha Kuasa pasti akan mengembalikannya. Jika tak kembali, Berarti kita hanya di titipkan sementara atas semuanya," ucap Anna bijak. Membuat Mama Ami tersenyum hangat padanya.


Mama Ami melepaskan raupan tangannya dari Anna. Tangan wanita itu terulur memeluk tubuh putrinya yang kini tumbuh dewasa.


"Putri Mama, sudah dewasa sekarang!" ucap Mama Ami di sela pelukannya. kemudian meregangkan pelukan itu.

__ADS_1


Senyum menenangkan yang terpancar dari wajah Anna makin menguatkan Mama Ami dalam mengadapk masalah suaminya.


"Papa pasti bangga padamu, Sayang!"


"Harus, Kalian harus bangga pada Anna. Putri Mama dan Papa ini sudah tidak manja lagi, Anna sudah dewasa sekarang! susah payah loh, Anna belajar jauh dari kalian," ucapnya Anna bangga pada diri sendiri.


Ucapan Anna membuat senyuman bahagia muncul di wajah sendu Mamanya.


itu membuat Anna merasa senang dan lega.


"Kita akan hadapi ini bersama, Mah!" Anna menguatkan Mama Ami.


Mama Ami mengangguk pelan.


"Sebentar Anna ambilkan minum untuk Mama."


Tak lama Anna kembali dengan membawa dua cangkir minuman teh di tangannya. "Teh jahe hangat dengan sedikit gula merah untuk mama," ucapnya dengan nada riang.


"Terima kasih, Sayang. Kamu masih ingat dengan minuman kesukaan mama."


"Kamu bisa aja!" Mama Ami tersenyum kecil sambil meneguk teh buatan Anna. Kesedihan mulai memudar seiring candaan yang Anna ucapkan.


Obrolan kecil seputar Papa Reno dan orang yang membantunya selama ini, di ceritakan Mama Ami pada Anna. Gadis itu tak menyangka, orang yang baik hati membantu Papa nya itu adalah orang yang semasa kecil Anna, ia mintai ajarkan mengaji. Padahal masa itu Anna masih ikut keyakinan Nasrani.


"Anna janji mah, akan membahagiakan kalian setelah ini. Ya Allah, aku tau diri-Mu takkan memberikan cobaan di batas kemampuan hamba-Mu. Bantu dan tuntun Aku yang dangkal ilmu ini, agar selalu memohon dan meminta pertolongan hanya kepada-Mu," batin Anna.


Teh jahe hangat yang berada di cangkir mereka berdua kini habis tak bersisa.


"Sebaiknya Mama istirahat, besok pagi sebelum bertemu Papa, Anna akan bantu Mama untuk merapikan barang-barang milik Mama,"


Mama Ami mengangguk, kemudian menepuk pelan pundak Anna. "Kamu juga harus beristirahat, Kamu penyemangat Mama dan Papa. Kami sangat bangga sama kamu, An!" ucap Mama Ami pelan seraya bangun dan pamit untuk masuk ke kamarnya.


Kebetulan kamar Mama Ami berada di lantai satu, bersebelahan dengan kamar tamu. Kamar yang di tempati Tante Melly.

__ADS_1


Anna tersenyum manis. Gadis itu tak ingin menunjukan kesedihan lagi di hadapan Mamanya. Ia ingin Mama Ami bersemangat karena keceriaan Anna adalah penyemangat mereka. Anna juga akan selalu ada untuk Mama dan Papanya.


Dalam hatinya Anna terus berpikir. Harus bagaimana dan dengan cara apa dia bisa membantu Papanya karena Anna yakin Papa Reno tak bersalah.


Setelah melihat Mama Ami sudah memasuki kamarnya. Anna pun berdiri hendak menuju kamarnya di lantai dua. Langkahnya terhenti saat ia berada di ruang tengah.


Gadis berkerudung bergo itu mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah itu. Kenangan indah bersama Mama dan Papanya begitu teringat jelas dalam ingatannya.


Dirinya yang begitu manja dan cerewet ketika berada di rumah membuat suasana rumah itu begitu ramai oleh ocehanya.


Meskipun tak memiliki kakak ataupun adik, tapi setiap harinya ada saja teman yang ia ajak kerumah, menurutnya bisa meramaikan dan menemaninya sampai Mama Ami dan Papa Reno pulang bekerja.


Perlahan Anna menaiki anak tangga, matanya masih saja terus mengitari setiap sudut yang berada di rumahnya itu.


Kenangannya di sana tak terhitung. Begitu sulit untuk di percaya. Begitu sulit untuk melepaskan. Tapi apalah daya, merka harus berpasrah, kebenaran masih sulit terungkap.


"Ya Allah, bantu hamba untuk mengungkapkan kebenarannya. Mas Darren, aku harus bertemu denganya!" gumam Anna.


.


.


.


.


*Wah... Darrren mau bertemu Anna nih, gimana ya reaksinya gadis kecilnya dulu berpenampilan berbeda. Sudah satu keyakinan pula dengan dirinya.


Minta ajarin ngaji apa minta bantuan apa nih??


Promo lagi teman.. author punya karya teman yang bagus dan g kalah seru.. baca yuk.


__ADS_1


bersambung>>>


__ADS_2