Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Bos Paket


__ADS_3

Rayyan mendelik ke arah Anna dengan sorot mata tajam setelah mendengar Anna berbicara. Anna menghentikan langkahnya. tak jadi gadis itu menaiki tangga. "Tante, Rayyan nih, mau jahatin aku!" teriaknya ke arah dapur agar Tante Melly mendengarnya.


Tante Melly yang berada di dapur pun senyum-senyum sendiri. Suara Anna yang masih tengkar canda dengan Rayyan masih terdengar olehnya. Bersyukur Anna jadi lupa kaan kesedihan hatinya.


"Kalau ada Neng Anna, rumah jadi rame ya, Bu?" cetus Bi Siti, asisten pembantu di rumah itu.


"Iya, Bik. Kalau sama Risma mana berani Rayyan. Cuek begitu," ungkap Tante Melly.


Tante Melly dan Bi Siti tertawa kecil membandingkan keponakan dan anak-anak yang Tante Melly.


"Kalian berisik banget sih," tegur Risma yang baru saja keluar dari kamarnya. Tepat di samping kamar Anna.


Anna berlari menaiki tangga, cepat mendekati Risma yang wajah juteknya sudah terlihat. Seakan meminta perlindungan kepadanya.


"Tuh, Mas Rayyan lihat, deh! keliatan banget kaya mau nerkam gitu." ujar Anna.


Risma tak banyak bicara dia malah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Lah, kok malah masuk. Bantuin aku Ris!" bujuk Anna.


Rayyan sampai di ujung anak tangga atas. Lalu menyimpan koper tepat di depan Anna. Pria itu tersenyum puas, melihat Risma si jutek tak menanggapi Anna.


"He... mau kemana loe bocah, sini gibas dulu dikit!" ngeselin.


"Kalau Mas mau cubit aku, awas ya. gak jadi minta anter ke tempat Maira." ancam Anna. Padahal Anna tau Rayyan hanya menggoda bercanda kepadanya. tapi merasakan cubitan pria itu begitu nyeri. Anna harus mengindarinya. "Mas gak boleh sekarang pegang-pegang Anna sembarangan. Dosa tau." Anna berusaha menghindar.


Tak lama Risma keluar kamar dengan sapu lidi di tangannya. Sapu yang biasa ia gunakan untuk membersihkan tempat tidurnya.


"Pake ini aja, kalau Mas Rayyan macam-macam, pukul aja!" Risma menoleh ke arah Rayyan lalu tersenyum puas.


"Wah, pelanggaran lu, Ris. KDB tuh!"


"Apaan tuh mas," tanya Anna seraya mengernyitkan alis, sapu lidi sudah berada di tangannya.


"Kekerasan dalam bersaudara." Rayyan langsung ngacir menuruni tanga. "Gue tunggu lu, awas kalau minta anter supir ke tempat Maira.


Padahal Anna belum mulai menggerakan lidi tersebut.


"Dih, ngebet banget pengen ketemu Maira. Tapi ... Mas Rayyan udah ngirit aja belum di apa-apain juga?" Anna heran kenapa Rayyan tiba-tiba melarikan diri.


"Dia takut kalau ngeliat sapu lidi begini," ucap Risma.

__ADS_1


"Ya, karena Tante sering memukulnya pakai ini kalau Mas Rayyan nakal, akkh ... kenapa gak kepikiran dari dulu kalau di jaihilin Mas Rayyan." sesal Anna.


Anna pun mengembilikan sapu lidi itu kepada Risma.


"Maaf, ya, Ris. Aku ganggu istirahat kamu."


"Ngapain minta maaf, perasaan udah biasa deh." ucap Risma ketus lalu tersenyum ke arah Anna. Mereka pun saling melempar tawa.


Bagi Anna sikap ketus dan jutek Risma sudah biasa baginya karena memang itu sikapnya. Meski begitu hati gadis itu sangatlah baik dan lembut. Hal yang paling disukai Anna pada Risma adalah mandiri.


Dia anak perempuan yang mandiri, bahkan kuliahnya pun ia bisa membiayai nya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya. Risma memilih bekerja sambil kuliah, padahal Om Anwar sangat mampu untuk membiayai nya kuliah. Tapi ia menolak.


Sikap yang sangat menurun dari Om Anwar.


Setelah bertegur sapa dengan Risma Anna bergegas membersihkan diri. Risma pun kembali ke kamarnya, gadis itu memang sedikit tertutup. Entah apa yang di lakukannyabdi kamar. kalau di rumah Rais Am sangat betah berada di kamar. Kaya ayam sedang mengerami telurnya.


Tak lama setelah itu, ia pamit kepada Tante Melly untuk segera ke tempat Maira, ingin menitipkan seragam toga yang ia bawa ke Surabaya tempo hari. Tawaran untuk makan dulu pun, ia tolak. Takut gak keburu waktunya. Padahal Anna ingin mempunyai banyak waktu bercerita kepada Maira soal dirinya dan Abbas.


"Ya sudah hati-hati, jangan lupa di jalan nanti sempatkan untuk makan. Jangan sampai menundanya, ya!" pesan Tante Melly lalu mendapat anggukan kecil dari Anna.


Gadis itu pun berlalu berjalan cepat ke depan rumah. Ternyata pria tampan masih dengan seragam kerjanya menunggunya di teras depan, terlihat asik memainkan ponselnya. Rayyan memegang janjinya untuk mengantar Anna. Pria tampan itu memilih mengantar Anna karena ingin bertemu dengan Maira malas kembali ke kantor. Mentang-mentang perusahaan papanya sendiri.


"E-eh, kirain lupa mau nganterin aku." cetus Anna.


"Enggak lah, gue tuh kalau udah janji pasti di tepati."


"Masa."


"Serius, Dek!"


Keduanya berjalan menuju mobil kemudian memasukinya. Mobil toyota Alphard keluaran terbaru itu pun keluar dari sana, meninggalkan hunian mewah itu.


"Jangan terlalu ambisi mengejar seseorang, Mas. Jangan telalu berharap dan menjatuhkan hati kepada seseorang, saat perasaan kita sudah berlabuh padanya. Sangat menyakitkan kalau ternyata kita harus melepaskannya," ucap Anna lirih kemudian tertunduk.


Rayyan melirik ke arah Anna. Terlihat gurat kesedihan di wajah sepupu cantiknya itu.


"Lu kenapa, Dek? Bukannya kata Mama, Lu di khitbah tuh bos paket."


Anna mendelik ke arah Rayyan. kesedihannya berubah kesal mendengar Rayyan menyebut Abbas, bos paket.


"Maksud gue, bosnya tempat jasa pengiriman paket. Mantep dia masih muda sudah punya banyak cabang di mana-mana. Perusahan kita juga pakai jasa perusahaan nya dia buat kirim barang-barang besar dan jauh." Rayyan malah bercerita tentang Abbas, gak tahu kabar terkini tentang Anna.

__ADS_1


"Anna mau nolak dia, Mas!" ucap Anna membuat Rayyan terkejut sampai ngerem mendadak, membuat Anna hampir saja kejedot kalau saja tidak memakai seltbelt.


"Mas Rayyan, bisa hati-hati gak sih bawa mobilnya." omel Anna.


"Lu bikin gue kaget, Dek. Kenapa lu tolak. Gue liat kalian punya perasaan yang sama?" Rayyan kembali mengendarai mobilnya dengan tenang.


"Anna akan menerima perjodohan yang diinginkan Papa, tetapi setelah memberikan jawaban kepada Bang Abbas."


"Cie, manggilnya aja udah abang gitu, susah move on lu, ntar. Nyesel udah nolak dia."


Anna mendesah berat. "Terus Anna harus gimana Mas, Anna memilih mengubur perasaan Anna demi melihat kebahagiaan Papa." ucap Anna sedih.


"Kasian banget lu, Dek. Baru pertama suka sama cowok udah patah hati aja. Tapi lu harus yakin kalau jodoh, maut, rejeki sudah di tentukan sama Allah. Kalau emang jodoh lu sama si bos paket itu, pasti dimudahkan ko jalannya. Sabar ya," Rayyan mengulurlan tangan ke atas kepala Anna, mengacak hijab yang ia pakai.


"Mas Rayyan ... jangan di acak-acak. jadi berantakan hijabnya." Anna membelokkan kaca spion di dalam mobil mengarahkan kepadanya. Membenarkan hijab yang sedikit miring karena ulah Rayyan.


Senyum puas Rayyan berikan.


"Deh, mau mutusin cowok aja sampe cantik begini. Nanti gak mau ngelepasin tuh cowok!" ujar Rayyan membuat Anna cemberut dengan wajah gelisahnya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG....


"Permisi.... paket... "


"Paket apa, Mas?"


"Paket cinta, Neng!"


"Bawa balik lagi aja, Bang!"


"Lah, udah tinggal terima aja, Neng."


"Gak, mau! Saya maunya paket deposito ssa paket kuota yang waktunya gak habis-habis."

__ADS_1


Tukang paket menepuk jidatnya.


😂😂😂


__ADS_2