
Tangan Abbas begitu terampil saat membuka kancing gamis istrinya. Bagian atas itu terlihat sempurna. Dua gundukan putih dengan bulatan merah muda kecil di atasnya semakin membuat Abbas kewarasan Abbas tertutup oleh napsu.
"Bang..., Shh... Argh... " desis Anna saat merasakan sensasi yang terasa dari gundukan yang terasa linu akibat sentuhan dari Abbas.
"Hm..."
"Ponsel Abang terus berdering coba di angkat, siapa tahu itu penting!" Anna mencoba menahan kepala Abbas yang terus menyerang bagaian depannya.
Sesaat Ababs terdiam dan menghentikan aksinya.
"Astaghfirullahalazim, Maafkan Abang, Dek!" ucap Abas lekas merapikan pakaian bagian depan Anna.
"Kenapa?" tanya Anna bingung.
"Abang bersyukur, Allah memberi peringatan melalui panggilan telepon utnuk Abang." Abbas menciun kening Anna, lekas ia berdiri dan melangkah mengambil ponsel yang ia letakkan di meja dekat sofa.
Anna ikut bangun dari tidurannya. Ia tidak mengerti maksud dari suaminya.
Anna duduk di tepi tempat tidur. Menatap Abbas seakan meminta penjelasan padanya.
Abbas meraih ponselnya. Melihat siapa yang sudah menghubungi nya.
Dua panggilan tak terjawab dari Darren.
"Pak Darren?" Batin Abbas seraya mengerutkan alisnya. "Apa pengembalian aset sudah selesai?" tebak Abbas.
Sebab tadi setelah meninjau pekerjaannya. Abbas sempat menghubungi Darren. meminta pengacara muda itu agar mempercepat proses pengembalian aset milik Papa Reno yang sempat di tahan pihak penyidik.
Ternyata tanpa uang proses itu memang berjalan sangat alot. Abbas harus mengeluarkan sejumlah dana besar untuk mempercepat prosesnya. Ia rela melakukan itu, demi keluarga Anna karena saat ini tanggung jawab itu sudah beralih kepadanya.
Abbas penasaran apakah Darren memberi kabar yang melegakan saat ini. Saat ingin menghubungi Darren. Abbas melihat Anna yang menatapnya meminta penjelasan.
Ia mendekati istrinya yang duduk di sisi tempat tidur. Pasti merasa kecewa karena Abbas mengakhiri sentuhannya begitu saja.
Abbas ikut duduk di samping Anna.
"Allah sedang mengingatkan ku!" ucap Abbas.
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Kita belum melakukan solat dua rakaat sebelum memulainya. Mungkin Allah menegur Abang, Maaf... Abang terbawa napsu saat menyentuhmu! Kita harus membersihkan badan dulu, setelah itu solat dua rakaat sebelum melakukannya agar keturunan yang dihasilkan tidak ada campur tangan setan di dalamnya." Abbas mengacak rambut Anna pelan sambil tersenyum.
Anna tertunduk malu. "Maaf, Anna tidak tahu tentang itu, harusnya Anna mengingatkan Abang, tapi Anna malah ikut terhanyut menikmatinya," sesal Anna karena ia belum tahu ilmu dan adab setelah menikah.
Seulas senyum terukir di wajah Abbas. "Abang yang seharusnya menuntunmu. Kita perbaiki setelah ini. Tapi itu dosa terindah yang Abang lakukan bersamamu. Anggap saja abang nyicil buat malam pertama kita," goda Abbas, Anna menunduk berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Abang!" pekik Anna dengan wajah meronanya.
Abbas tertawa renyah. "Abang mandi dulu! Kita mau ke rumah sakit 'kan?"
Anna mengangguk pelan dengan bibir yang mengerucut. Kemudian Abbas mengacak pelan pucuk kepala Anna merasa gemas sudah mengerjai Anna. Dikecupnya kening istrinya itu kemudian Abbas berlalu ke kamar mandi meninggalkan Anna yang tersenyum simpul menatapnya.
***
"Saya merasa lega, putra saya sudah sah dengan Anna. Saya sempat khawatir, kemarin sore Abbas bilang harus mengubur rasa cinta terhadap Anna sedalam mungkin. Rasanya tidak tega baru pertama jatuh cinta sudah patah hati." ucap Bu Lidia di sela obrolannya bersama Papa Reno dan Mama Ami.
Semua tertawa menanggapinya.
"Tapi udah di gali lagi 'kan sekarang?" sindir Papa Reno.
"Sudah, Pah! Bahkan sudah di pupuk dan di siram biar tumbuh subur," balas Abbas.
Suasana ruang perawatan itu menjadi ramai oleh kedatangan Abbas dan Bu Lidia.
Usai ramah tamah dan meminta maaf jika acara pernikahan Anna dan Abbas dilakukan sederhana dan mendadak. Bu Lidia meminta ijin kepada kedua orang tua Anna bahwa dia akan mengadakan resepsi yang akan digelar di Jakarta.
Awalnya Anna sempat menolak kemudian Anna baru menyetujui setelah Bu Lidia berbicara langsung kepada Anna. Menurut Bu Lidia ini adalah bentuk suka cita nya. Anna akhirnya menyetujuinya Tapi Anna minta menunggu sampai Papanya sembuh dan bisa ikut berbahagia di hari resepsi mereka.
Bu Lidia tidak keberatan mengenai hal itu.
"Semoga Pak Reno segera pulih agar bisa ikut ke Jakarta, datang ke gubuk ternyaman kami di sana." Bu Lidia sedikit merendah.
"Sudah diterima dengan baik saja, kami merasa bersyukur, Bu!" ujar Mama Ami seraya menatap Papa Reno. "Iya 'kan Pah?" Papa Reno mengangguk mengiyakan.
"Itu pasti, besan. Saya tunggu kedatangan kalian di sana!" harap Bu Lidia.
Papa Reno dan Mama Ami mengangguk bersamaan.
"Semoga umur kami panjang agar bisa memenuhi undangan Bu Lidia di sana!" sambung Papa Reno.
__ADS_1
"Aamiin... Kalau begitu saya permisi, maaf jika besok pagi tidak sempat pamit sama kalian. Besok pagi saya sudah kembali lagi ke Jakarta. Kasihan anak-anak saya tinggal." ucap Bu Lidia seketika menunduk sopan..
"Hati-hati, Bu! Semoga kita bisa bertemu lagi. Kami juga minta maaf harus menyambut kedatangan Anda di tempat seperti ini," sahut Mama Ami.
"Anna ikut pulang ya, Mah ... Pah!" sambung Anna kepada Mama dan Papanya.
"Ya, Nak!" balas Mama Ami.
"Aku mau ikut ke hotel menemani Ibu, Mah. Tadi pagi ruko sudah Anan bereskan jadi besok, Anak-anak tinggal buka toko saja!" SambungAnna memberi tahu.
"Ya, Nak! Oh, ya tadi menurut dokter kalau besok hasil pemeriksaan semua normal, Papamu bisa rawat jalan di rumah. Kata Papamu sudah tidak betah berada di sini."
"Alhamdulillah... Kabar baik ya, semoga semuanya semakin membaik," sahut Bu Lidia.
"Aamiin," jawab Anna dan Abbas bersamaan.
Bu Lidia akhirnya pamit kepada kedua orang tua Anna, sekalian meminta maaf jika besok ia tidak sempat mampir lagi ke rumah sakit. Bu Lidia berharap Papa Reno bisa beristirahat di rumah saja, akan semakin cepat dalam proses penyembuhan karena suasana dirumah berbeda dengan di rumah sakit.
Usai kepergian Abbas, Anna dan Bu Lidia. Papa Reno dan Mama Ami berbincang sebentar sebelum suaminya itu beristirahat.
"Papa bersyukur Darren berhati lapang mengikhlaskan Anna bersama Abbas. Papa juga merasa senang melihat keceriaan Anna kembali menghiasi wajahnya," ucap Papa Reno terus berbicara, Mama Ami yang berada di sampingnya begitu setia mendengarkan setiap kata yang diucapkan suaminya. Ia hanya tersenyum dan sesekali menanggapinya.
"Lain kali jangan tutupi sesuatu dari Papa, apapun itu. Bicarakan baik-baik apalagi ini tentang putri kita, Mah!" Papa Reno menghentikan gerakan Mama Amin yang sedang merapikan selimut di atas tubuhnya.
"Mah... Kamu dengar aku?" Papa Reno meraih jemari Mama Ami.
"Dengar, Pah! Iya lain kali, Mama tidak akan menyembunyikan apapun," balas Mama Ami sambil tersenyum lembut kepada Papa Reno.
Pasangan yang sudah melewati masa pernikahan 3 windu saling melemparkan senyuman kebahagiaan.
Papa Reno bahagia melihat keceriaan putrinya kembali setelah cintanya dipersatukan dengan Abbas dan bersyukur istrinya selalu setia menemaninya.
Mama Ami juga merasakan hal yang sama dengan suaminya melihat keadaan Papa Reno terus berangsur membaik kelegaan sangat dirasakan olehnya.
.
.
.
__ADS_1
...**Bersambung**...