Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Satu Kantor


__ADS_3

Beberapa kali Anna memencet bel yang ada di samping pintu rumah Maira tapi tak kunjung ada yang membuka pintu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, pastilah Bunda dan Abi Maira sudah ada di rumah. Biasanya juga jam segini Maira ada di rumah.


"Apa mereka pergi ya, Mas?" tanya Anna pada Rayyan yang sibuk merapikan rambutnya.


Rayyan mengangkat bahu. "Emang gak di hubungi dulu, kalau lo mau ke sini, Dek?" Rayyan malah bertanya balik.


"Udah sih, tadi pagi cuman belum ngasih tau aja waktunya kapan? Anna kira Maira ada dirumah." kilahnya.


ceklek


Pintu terbuka membuat Anna langsung memutar tubuhnya karena terkejut.


"Anna....!" panggil Bunda Ima. Masih dengan mukena yang ia pakai saat membuka pintu.


"Assalamu'alaikum, Bunda," sapa Anna langsung meraih tangan Bunda Ima lalu menciumnya dengan takzim.


"Wa'alaikumussalam." Bunda Ima lekas meraih tubuh Anna ke dalam pelukannya mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.


Anna sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Bunda Ima, karena kedekatannya dengan Maira.


Hubungan persahabatan yang sudah berjalan selama dua tahun ini. Keduanya sudah seperti saudara. Anna banyak belajar tentang islam dari Maira, sampai Anna berpindah keyakinan yang sama dengan Maira.


Anna yang ceria dan terbuka kepada Maira. Apapun akan ia ceritakan kepada sahabatnya itu. Termasuk perasaan dan kedekatannya bersama Abbas, bahkan niatan Abbas untuk mengkhitbahnya pun, ia ceritakan. Dan untuk sekarang Anna juga ingin sekali bertukar pikiran dengan Maira, mengenai keputusannya atas Khitbah yang Abbas ucapkan padanya. Saat Anna menyetujui, Abbas akan langsung menemui orang tuanya.


"Anna kira rumah ini kosong, Bun!" ucap Anna sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf, Bunda tadi lagi solat isya. Tadi telat soalnya baru sampai rumah," tutur Bunda Ima.


"Bun, kenalkan Mas Rayyan, sepupuku. Anaknya Om Anwar, Bun!" Anna memberitahu, karena Bunda Ima sudah mengenal Om Anwar. Tapi baru kali ini ia bertemu dengan putranya.


"Assalamu'alaikum ...Tan!" sapa Rayyan ramah dan sopan sambil cari muka di depan calon mertua. Itupun kalah jodoh dengan Maira.


"Waalaikumussalam ..., Wah, ternyata Om mu punya anak laki-laki juga. Ganteng juga ya, An?" puji Bunda Ima. Rayyan yang mendapat pujian dari Bunda Ima merasa tersanjung dan malu. Padahal dalam hatinya ia bersorak ria, menerima pujian dari Bunda nya Maira. Wanita pujaan hatinya.


"Tante bisa aja, kalau ganteng bisa dong ya, jadi calon menantunya?" Rayyan langsung curi start duluan. Anna melotot ke arah Rayyan mendengar ocehanya. Secara tidak langsung Rayyan mengakui ketertarikannyaa terhadap Maira. A


Bunda Ima hanya mengulas senyum.


"Ganteng aja tidak menjamin bisa menjadi menantu Tante, tapi sudah punya bekal belum buat membangun rumah tangga sesuai syariah agama." ujar Bunda Ima.

__ADS_1


Rayyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau bekal nafkah dan batin, InsyaAllah saya sudah punya, Tan!" ucap Rayyan semangat tanpa malu-malu. Yang ada malah malu-malu in menurut Anna.


Keponakannya itu menggelengkan kepala mendengarnya.


Bunda Ima malah terkekeh kecil melihat sikap yang begitu antusias. Rayyan. "Jodoh itu Allah yang mengaturnya, Nak. Sama siapa saja nanti jodoh Maira, Tante mah tidak melarang. Asalkan calonnya nanti, bisa membahagiakan putri Bunda. Dan pastinya bisa mendapat restu Abi nya Maira."


Anna menarik Rayyan lalu berbisik kepadanya. "Mas, ih ... Apaan sih, ko langsung ngomong gitu sama Bundanya, Maira!" Anna lupa kalau ia masih belajar untuk tidak menyentuh yang bukan mahramnya. lekas Ia melepas tangannya dari Rayyan. Padahal tidak saling menyentuh kulit terbatasi oleh kain karena Rayyan memakai kemeja panjang.


"Apaan sih, Dek. Orang Bunda nya juga gak masalah kok!" elak Rayyan.


"Mas Rayyan nyebelin, harusnya Anna tadi gak minta dianterin sama, Mas!" ucap Anna kesal.


"Udah telat, Dek! Kita usaha da di sini juga." kolah Rayyan.


"Ayo, masuk!" ajak Bunda Ima memecah perseteruan mereka.


"Iya, Bun. Maira nya masih lama, gak?" Anna mengikuti langkah Bunda Ima yang mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Paling sebentar lagi sampai, lagi di jemput juga sama Abi," jawab Bunda Ima. "Silakan duduk, Nak Rayyan! Maaf keadaan rumah Tante begini adanya," ucapnya kemudian pada Rayyan.


Bunda Ima mempersilakan mereka duduk di ruang tamu. "Bunda ke kamar sebentar ya, An! Tolong ambilkan minum buat Mas mu," titah Bunda Ima


"Ih, Bunda. Mas Rayyan gak usah di tawarin minum, sebentar lagi juga pulang. Orang Maira nya juga gak ada, dia kan cuman mau ngeliat Maira doang, makanya mau nganterin Anna." Celetuk Anna hampir saja mendapat bungkaman dari Rayyan kalau saja dia tidak menghindar.


"An ..." Bunda Ima kembali menengahi keduanya.


Anna lekas berdiri hendak membuatkan minum buat Rayyan. "Iya, Bun!" balasnya, gadis itu melangkah menuju dapur dalam rumah itu.


Tak lama Anna kembali ke ruang tamu dengan membawa air dingin dalam botol dan gelas kosong dalam satu nampan.


"Emang adek yang paling ngerti gue," ucap Rayyan saat melihat Anna membawakan minuman yang biasa ia minum.


Rayyan paling suka minum air putih dingin. Apalagi air itu baru keluar dari lemari pendingin. Rasanya itu langsung melegakan tenggorokan saat meminumnya.


"Lebih bagus minum air hangat, Mas. nggak bagus juga minum air dingin, kalau malam." Anna berucap lembut seraya meletakkan bawaannya di atas meja.


"Makasih, Dek." Rayyan langsung mengambil air botol lalu menuangkannya ke dalam gelas. Dalam sekali temukan air dingin itu lolos menyelusuri tenggorokannya yang kering. Dinginnya itu langsung less bikin adem. Untung saja Bunda Ima belum kembali dari kamarnya sehingga tidak melihat prilaku Rayyan yang kurang pantas untuk menjadi pendamping Maira.


Maira sahabatnya itu mempunyai sikap lemah lembut, bertutur kata halus, sholehah pula. Sangat bertolak belakang dengan Rayyan.

__ADS_1


"Dek, lo udah biasa ke sini ya? sampai di sini kaya rumah sendiri?" tanya Rayyan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Melihat beberapa foto yang menggantung menghiasi dinding ruangan.


"Hm, mereka udah kaya keluargaku di sini, Mas. Semuanya baik. Dan awas saja kalau Mas Rayyan membuat ulah yang bikin Anna malu!" ancam Anna agar Rayyan tidak macam-macam.


"Enggak lah dek, gue juga 'kan calon anggota baru di keluarga ini. Jadi gak akan macam-macam." ucap Rayyan dengan percaya diri.


"Dih, pede banget sih, Mas," cebik Anna.


Bunda Ima datang lagi ke ruang tamu dengan gamis rumahannya.


Ia ikut bergabung mengobrol dengan Anna dan Rayyan.


"Nak, Rayyan kerja di mana?" tanya Bunda Ima di sela obrolan mereka.


"Saya bekerja di perusahaan Astra otopart, Tante! Perusahaan yang menyediakan segala macam suku cadang segala jenis kendaraan," jawab Rayyan santai dan tegas.


Tanpa menunjukkan bahwa dialah anak pemilik perusahaan itu.


"Astra Otopart yang alamatnya di jalan sudirman, jakarta pusat 'kah?" tanya Bunda Ima terkejut.


"Benar sekali, Tante. Apa ada saudara Tante yang bekerja di sana? Barang kali saya kenal dengan dia?" Rayyan bertanya balik.


"Maira baru mulai magang di sana. Sudah dua hari ini dia bekerja," ungkap Bunda Ima membuat Anna dan Rayyan terkejut.


.


.


.


.


Bersambung>>>


Wah.. tancep gas tuh Rayyan kalau tau satu kantor dengan Maira.... Garcep dia mah. Bagaimana ya kelanjutannga Si Alhamdulillah dan Astaghfirullah ini. 😁😁😁


.


.

__ADS_1


__ADS_2