
Usai melakukan peninjauan di lokasi pembangunan. Abbas bergegas kembali ke hotel di mana Anna dan Bu Lidia ia tinggalkan sebelumnya.
Rio tidak ikut bersama Abbas kali ini. Asisten nya itu memilih tetap berada di sana. Mempersiapkan beberapa contoh ruangan dan bentuk bangunan yang sudah di rancang oleh arsitek yang sudah di tunjuk sebelumnya untuk di tunjukkan kepada salah satu orang suruhan dari pihak Askara grup.
Pemimpin mereka Tuan G. Alexander mengundur jadwal kedatangannya. Seharusnya hari ini dia tiba di Surabaya tapi ada beberapa hal yang membuat Tuan Alex menundanya karena itu Abbas memilih pulang untuk menemani Bu Lidia dan Anna.
"Loh, cepat sekali perginya, Nak?" tanya Bu Lidia saat melihat Abbas sudah kembali ke hotel.
"Pemimipin perusahaan yang bekerja sama dengan ku menunda kedatangannya besok pagi!" Abbas meletakkan beberapa paper bag yang ia bawa di atas meja.
Anna yang baru saja selesai melaksanakan solat asar langsung mendekati Abbas, tak lupa mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Abang bawa apa?" tanya Anna
"Makanan untuk kalian sekalian abang juga beli pesanan Ibu!" balas Abbas dengan senyum hangat pada istrinya itu kemudian merebahkan tubuhnya sebentar di sofa singel yang ada di kamar hotel itu.
Bu Lidia meraih paper bag yang Abbas bawa tadi.
"Maaf... ya, Nak! Ibu merepotkan mu. Ibu tidak sempat membeli buah tangan untuk di bawa ke rumah sakit." Bu Lidia tersenyum setelah mengecek pesanan yang ia pesan pada Abbas ternyata lengkap. Anaknya itu memang selalu bisa diandalkan.
"Ibu nyuruh suamimu pergi belanja dulu, sekalian beli makanan kita 'kan mau ke rumah sakit. Ibu mau menemui kedua orang tuamu. Pernikahan kalian mendadak Ibu sama sekali belum mempersiapkan apapun. Setidaknya bertemu dengan orang tuamu meminta putri mereka yang sudah sah dalam ikatan pernikahan ini, itu lebih baik. Ibu juga ingin nanti Abbas merayakan pernikahan ini," tutur Bu Lidia seraya mendekati Anna.
"Anna tidak perlu perayaan, Bu! Yang terpenting bagi Anna sudah sah saja, Anna sudah bersyukur."
Bu Lidia menggelengkan kepala.
"Kamu adalah anak pertama di keluargamu dan Abbas adalah anak Ibu yang paling besar. Jadi Ibubakan merayakannya. Kamu tenang saja, Ibu sudah mengatur semuanya. Saat Abba meminta ijin secara mendadak tadi pagi. Ibu telah memikirkan ini. Maaf... ibu datang tidak membawa barang hantaran."
"Anna tidak mempermasalahkan itu, Bu!
__ADS_1
"Bagaimana menurut kamu, Bang?" tanya Bu Lidia kepada Abbas.
"Aku ikut saja bagaimana baiknya menurut ibu!" jawab Abbas datar. "Bu... Abbas ke kamar sebelah dulu. Mau ganti pakaian." pamitnya kepada Bu Lidia kemudian beralih kepada Anna. "Pakaian Abang yang di simpan di mana, Dek?" tanya Abbas kepada Anna.
Anna menunjuk sebuah koper yang ada di pojok ruangan."Aku belum sempat memindahkan ke kamar sebelah, Bang!" Anna menyengir kepada Abbas.
Abbas mengacak kepala Anna yang tertutup hijab.
"Biar Abang yang bawa ke sana." Abbas keluar dari kamar itu, sebelumnya mengambil kopernya terlebih dulu.
"Abbas bersih-bersih dulu, ya, Bu. Setelah itu kita berangkat sama-sama ke rumah sakit."
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Nak. Pasti kamu cape 'kan?" titahnya pada Abbas, lalu beralih kepada Anna. "Temani suamimu! Ibu tidak masalah di sini sendiri." Bu Lidia memastikan itu kepada Anna. Sebab ia tahu Anna pasti merasa tidak enak hati meninggalkannya sendiri.
Abbas mengangguk pelan kemudian berlalu menuju kamar yang letaknya tepat di sebelah kamar yang di tempati Bu Lidia ini.
"Anna tinggal sebentar ya, Bu."
Akhirnya Anna mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka.
Abbas meletakkan koper miliknya. Saat Abbas hendak memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari yang disediakan di sana. Anna mencegahnya.
"Biar Anna yang merapikan nya, Bang. Lebih baik Abang mandi dulu terus istirahat," ujar Anna lalu mengambil alih baju ditangan Abbas. Pria itu lupa kalau sekarang ini sudah ada seorang istri yang akan melayaninya." Abbas tersenyum lembut kepada Anna.
Anna meletakkan baju yang ia raih dari tangan Abbas ke atas tempat tidur. Lekas ia membantu suaminya membuka jas kerja. Kemudian berlalu dari hadapan Abbas membiarkan suaminya membuka kemeja kerjanya sendiri, ia masih merasakan canggung berada sedekat ini dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Dek.... Kemeja nya tidak sekalian." goda Abbas.
Anna menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengalihkan kecangungannya dengan kegiatan lain. Yaitu memasukan baju ganti suaminya ke dalam lemari.
__ADS_1
Tidak banyak yang Abbas bawa. Hanya ada beberapa baju kerja dan baju santai saja.
Sungguh di luar perkiraan, jika awal niat kedatanganya ke Surabaya hanya ingin bekerja sekalian meminta jawaban atas khitbahnya. Tapi sungguh luar biasa Sang Pencipta memberi kebahagiaan untuknya. Ia malah bisa mempersunting wanita pujaannya. Rasa syukur yang ia rasakan saat itu, meski harus merasakan sesak di hati sebelumnya.
Abbas membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Anna pun melayangkan protes kepadanya.
"Abang... Katanya mau mandi, kenapa malah tiduran?" celoteh Anna seraya memasukan baju terakhir yang ia rapikan.
setelah itu, Anna mendekati Abbas.
Suaminya itu malah memejamkan mata. Dengkuran halus terdengar oleh Anna.
"Cepet banget tidurnya?" Anna tersenyum melihat Abbas yang tertidur. "Pasti cape banget ya, Bang. Anna tidak menyangka pada akhirnya kita bersama sekarang," gumam Anna yang ikut duduk di samping tubuh Abbas.
"Hoaammm..." Anna menguap beberapa kali, ia juga merasakan kantuk yang luar biasa berat. Wajar saja, sejak semalam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Abbas yang iam tolak khitbahnya.
Anna bersyukur Sang Pencipta kembali mempersatukan cinta mereka.
Anna ikut merebahkan tubuhnya di samping Abbas. Anna tidur berbaring menghadap suaminya, senyum ia kembangkan. Merasa nyaman dan aman berada di sisi suaminya. Hingga kedua mata Anna perlahan tertutup karena mengantuk.
Sore itu, Bukannya membersihkan diri. Kedua pengantin itu malah tertidur karena lelah. Padahal waktu yang pas buat mereka ehem ehem. Tak ada yang akan menggangu waktu mereka di sini.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...
.
__ADS_1
.