Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Terbuai


__ADS_3

Semua orang sudah berada di restoran untuk sarapan pagi. Mereka berkumpul di meja yang sama. Meja makan panjang yang bisa menabung hampir tiga puluh orang.


"Mah, kemana Rayyan kenapa belum ke sini juga?" tanya Om Anwar pada Tante Melly.


"Papa kayak gak tau pengantin baru saja! Mungkin mereka masih bersembunyi di balik selimut," celetuk Tante Melly.


"Nanti Maira dan Rayyan menyusul saja, Pak Anwar. Biarkan yang lain sarapan lebih dulu, tidak usah menunggu mereka!" sahut Abi Khaliq memberi usul karena tidak mungkin mereka menunggu dua orang yang bisa saja sedang kelelahan karena aktivitas belah durennya.


Om Anwar mengangguk. "Benar juga Pak Khaliq. Kita tidak usah menunggu mereka. Silahkan buat yang lain


Kang Andre, Darren dan Abbas sontak saling pandang.Ternyata usaha mereka sia-sia untuk membebaskan malam pertama mereka semalam. Rayyan lebih gencar meskipun semalam jelas terlihat keadaannya sangat lelah. Memang kalau sudah berdua apalagi sudah sah sebagai pasangan yang halal. Tak peduli lelah ataupun mengantuk tidak jadi penghalang untuk melakukan ibadah. Pasti merem melek kalau sudah menjurus ke hal seperti itu.


"Itu, Maira!" tunjuk Anna ke arah Maira yang datang berdua dengan Rayyan.


Maira melangkah lebih dulu Rayyan. Anna merasa heran melihat wajah Maira yang terlihat sedih. Seharusnya wajah penganten baru berseri setelah malam pertama. Hal buruk terbesit oleh Anna.


"Apa jangan-jangan, Mas Rayyan berbuat kasar sama Maira," pikir Anna.


Darren berbisik pada Abbas yang tak jauh darinya. "Kenapa Maira?" bisik Darren.


Abbas mengangkat bahunya pelan membalas pertanyaan Darren.


Di saat yang bersamaan Rayyan mucul dari balik tubuh Maira. Semua keluarga yang berkumpul di sana fokus pada Rayyan. Mereka melihat wajah Rayyan pun berbeda ada benjolan di keningnya dan lumayan besar.


"Loh, jidat Mas Rayyan kenapa?" celetuk Risma.


Tanpa menjawab Rayyan langsung mendudukan diri di bangku kosong yang memang tersedia untuknya dan Maira.


"Semua karena salahku!" seru Maira sambil tertunduk.


Anna, Tante Melly, Teh Mila langsung menatap curiga kepada Maira.


"Kenapa? Apa Mas Rayyan kasar sama kamu sampai kamu buat dia seperti itu?" tanya Anna membuat Maira makin merasa bersalah.


Maira menatap sekilas pada Rayyan yang masih diam di sisinya. "Aku memendang Mas Rayyan pas bangun tidur tadi pagi! Mas Rayyan jatuh dari tempat tidur terus kepalanya ketiban lampu tidur yang ada di atas nakas. Mana bawahan lampu itu kayu jati!" Ucap Maira sedih. "Maafin aku, Mas!" Maira malah menagis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Kang Andre sampai tersedak mendengar ucapan adiknya. "Kamu pasti terkejut dengan kehadiran Rayyan yang tiba-tiba ada di kamarmu?"

__ADS_1


Maira hanya mengangguk di sela isak tangisnya. Ada yang tertawa, ada juga yang merasa kasihan pada Rayyan. Sebab keningnya terlihat biru dengan benjolan sebesar telur ayam.


"Ey, jangan nangis lagi! Mas 'kan udah maafin kamu!" Rayyan berusaha menenangkan Maira kemudian meraih tangan istrinya agar tidak menyembunyikan wajahnya.


Maira menatap Rayyan dengan perasaan bersalah. "Maaf ya, Mas!"


"Hm, sudah jangan khawatir! Aku baik-baik saja," ucapan dari Rayyan dan usapan lembut di wajahnya membuat tangis Maira lega.


"Maafkan putri ibu, Nak Rayyan. Maira memang tidak terbiasa dengan kehadiran orang lain di sampingnya saat tidur.ungkin dia lupa kalau kemarin sudah berubah status menjadi seorang istri."


Pagi ini dua keluarga itu makan dengan nikmat. Diselingi dengan obrolan dan canda. Rayyan kembalu jadi bahan candaan mereka.


***


Lambaian tangan diberikan pada pasangan pengantin yang akan pergi berbulan madu itu.


Takabonerate, Sulawesi Selatan. Jadi tempat bulan madu untuk Rayyan dan Maira. Jauh memang, tapi tempat itu jadi incaran Maira saat akan berbulan madu.


Maira menatap sedih ke arah dua orang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Bunda Ima dan Abi Khaliq melepas kepergian Maira.


"Neng," panggil Rayyan. Panggilan sayang buat Maira yang asli orang Bogor. Baru kali ini Rayyan mengunakan panggilan itu buat Maira.


Maira menatap suaminya dengan tatapan sedih.


"Ada Mas, kamu tidak perlu khawatir," ujar Rayyan sambil menggenggam tangan Maira.


"Maaf, kalau aku terlalu manja. aku juga belum bisa lepas dari mereka, Mas? Selama ini aku memang selalu bersama Abi dan Bunda. Rasanya sedih jika harus berpisah dari mereka."


Rayyan tersentuh mendengar ucapan Maira. "Mas, bisa ngerti. Perlahan kamu pasti terbiasa. Apalagi sekarang ada, Mas yang akan selalu menemani Neng Maira, manjain Neng, apapun yang Neng mau pasti Mas Rayyan kasih," gombal Rayyan berhasil membuat Maira tersenyum. Ia lupa dengan kesedihannya.


Rayyan begitu pintar dalam menebar rayuan. Mungkin Maira termasuk wanita yang terbuka oleh ucapan manis Rayyan.


Satu hal, meskipun Rayyan sering menggombal pada beberapa wanita dimasa lalunya. Tapi Maira adalah wanita yang berhasil membuat Rayyan bertekuk lutut pada cinta gadis itu.


"Gombal banget!"


"Tapi seneng 'kan digombalin," ledek Rayyan sambil mendekatkan wajahnya ingin mencium pipi putih istrinya.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas!!" Maira menyingkirkan wajah Rayyan dari wajahnya. Tak sengaja mengenai luka lebam yang dimilikinya.


"Aww... sakit, Neng!" keluh Rayyan manja.


Maira langsung menarik tangannya kembali. "Maaf, Mas. Sakit ya?" tanya Maira.


Rayyan menganggukkan kepala pelan


Saat jarak wajah Maira begitu dekat dengan Rayyan. Pria itu lekas menahan punggung Maira agar tidak menjauh.


Rayyan tidak menyangka wanita yang ada dihadapannya saat ini telah menjadi istrinya. Rayyan menarik pinggang Maira agar semain dekat dengannya.


"Boleh 'kan nyicip yang sedikit sebelum yang banyak!" Rayyan lekas memiringkan wajajnya. Dia lupa saat ini sedang berada di mana dan bersama siapa.


"Ehmm..." deheman Pak supir yang sedang mengemudi mobil membuat Maira melepas rangkulan tangan dan berusaha menjauhi dari Rayyan. Rasanya malu sekali, bodohnya Maira. Bisa-bisanya dirinya ikut terbuai dalam sentuhan Rayyan tanpa sadar tempat.


Jika tidak disadarkan oleh Pak supir, mungkin saja peraduan dia bibir sudah terjadi. Rayyan jadi semakin tidak sabar ingin segera sampai di tempat honeymoon mereka.


"Kenapa harus jauh sekali sih, Neng. Pilih tempat bulan madunya?" decak Rayyan.


"Tapi terbayarkan saat kita sampai disana, Mas!" sahut Maira.


Saat ini mereka hanya bisa saling menautkan jemari sampai perjalanan ke bandara yang mereka tuju.


"Mas pengen cepet sampai!" celetuk Rayyan.


"Naik pesawat saja belum, kapan sampainya coba," sambung Maira kemudian di tanggapi kekehan yang di tahan oleh Pak supir.


Sangat lucu menurut Pak supir. Dari tadi Rayyan terus menggombal dan membuat Maira tertawa bahagia. Maira bersyukur ia berpasangan dengan Ferdi yang sikapnya banyak bicara dan sering bercanda. Mereka bisa saling mengisi. Maira dengan sikap diamnya bisa bersanding dengan Rayyan. Sikap Rayyan yang tidak bisa diam dan banyak bertanya.


Sangat cocok jika kedua sikap itu bersama dalam satu ikatan pernikahan.


.


.


.Bersambung

__ADS_1


__ADS_2