Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Katak Budug


__ADS_3

"Itu hanya bunga tidur, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan!" balas Rayyan sambil mencubit pipi Maira. "Sekarang tidur lagi, besok pagi aku akan mengajakmu ke suatu tempat!" Ucap Rayyan sambil menarik Maira agar berbaring kembali.


Maira langsung menghadap ke arah Rayyan usai suaminya itu berbicara. Sejenak ia melupakan mimpi yang baru saja dialaminya.


"Emang kita mau ke mana, Mas?" tanya Maira penasaran.


Wajahnya begitu cantik saat itu, bukan saat itu saja sih. Bagi Rayyan Maira selalu cantik dan menggoda.


"Kejutan dong!"


"Mas...," rengek Maira sambil memeluknya. Jemari lentik Maira bermain di atas dada Rayyan.


"Sayang, jangan seperti ini! Nanti ada yang bangun." Rayyan menghentikan gerakan Maira.


"Ah, Mas pelit!" Maira cemberut.


"Kamu semakin cantik jual cemberut begini!" goda Rayyan sambil mengeringkan matanya.


"Au, ah!" Maira semakin merajuk.


"Hahaha..." Rayyan malah terkekeh renyah menertawakan Maira.


"Mas Rayyan nyebelin!"


Maira bangun dari tidurnya, ia hendak turun dari kasur tapi Rayyan dengan cepat menarik pinggangnya. Hingga Maira terseret dan posisinya saat ini ada di atas pangkuan Rayyan.


"Mas ... Lepasin, gak!" Maira memberontak. Ia tidak sadar gerakan pinggulnya membuat milik Rayyan mengeras di bawah sana.


"Neng ... Tuh, Mas hilang apa? Ada yang bangun!" Bisik Rayyan di belakang telinga Maira.


"Salah siapa narik aku!"


"Lepasin aku mau ke kamar mandi!" Maira mencoba melepaskan diri.


"Neng...." Suara Rayyan makin terdengar parau, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Pasti, alasan dosa kalau menolak ajakan suami jadi ucapan ampuh bagi Rayyan agar Maira menurutinya.


Akhirnya malam ini, Rayyan tidak mau kalau dengan mama dan papanya di kamar sebelah.


Mereka sama-sama sedang bekerja sama bercocok tanam di ladang yang penuh rumput hitam.


Pagi harinya.


"Mama kemana? Kok sepi, Risma juga gak ada." Maira berkeliling sampai ke dapur mencari pera penghuni rumah itu.


"Mas... Mama, papa sama Risma nggak ada di rumah. Aku belum pamit loh sama mereka kalau kita kan pergi pagi ini," ucap Amira dengan suara sedikit tinggi agar Rayyan bisa mendengarnya.


Hari ini kebetulan juga asisten rumah tangga meminta ijin untuk pergi ke rumah saudaranya. Jadi hanya ada Pak Adang yang berjaga di rumah itu.


"Mas sudah bilang sama mereka," balas Rayyan sambil berjalan mendekat ke arah Maira. Tatapan penuh selidik pun Maira berikan pada suaminya.


"Tadi pagi, pas kamu lagu mandi. Mama, papa sama Risma pergi."


"Pagi banget mereka berangkat, emang mau kemana?" Tanya Maira.


"Kepo!" celetuk Rayyan dan langsung mendapatkan pukulan dari Maira. Tapi sayang hanya pukulan angin saja karena Rayyan sudah bisa menebak apa yang akan Maira lakukan padanya.


"Mas Rayyan kenapa sih nyebelin banget!" Maira mendekap tangan di depan dadanya sambil menatap kesal pada suaminya.


Dari kemarin tidak ada hentinya bagi Rayyan membuat kesal Maira.


"Aku mau pulang aja!" rengek Maira


"Loh, kenapa pulang? Kita belum berangkat loh?"

__ADS_1


"Aku udah gak semangat di jailin mulu!" Maira malah duduk di bangku yang ada di dapur sambil bersandar di sandaran bangku tersebut.


Rayyan mendekati Maira yang sedang ngambek. kemudian memeluk Maira dari belakang.


"Jangan ngambek dong! Berangkat yuk!" Ajak Rayyan berusaha mengembalikan mood baik pada Maira.


"Mas janji gak jailin aku lagi!"


Rayyan malah tersenyum jahil.


"Tuh, 'kan belum juga janji udah mau jahil lagi." sanggah Maira.


"Iya, Mas janji, Sayang! Yuk berangkat!"


Mereka pun bersiap pergi menuju tempat lokasi. Rayyan sudah tidak sabar ingin segera memberikan kejutan untuk Maira. Selama satu bulan ini, Rayyan begitu sibuk membagi waktu antara kerja dan rumah baru.


Rayyan menghentikan mobilnya jauh dari tempat kejutan.


"Loh, kenapa berhenti, Mas? Apa kita sudah sampai?" Tanya Maira sambil celingak celingkuk ke luar mobil. Tidak ada yang menarik menurutnya.


"Kamu pakai ini dulu!" Rayyan mengeluarkan sehelai kain panjang yang akan menutupi mata Maira.


Maira tersenyum. "Kenapa harus di tutupi, Mas?"


"Kalau tidak begini bukan suprise namanya!" sahut Rayyan.


"Ok, aku nurut aja deh apa kata Mas Rayyan," balas Maira.


Rayyan tersenyum mendegarnyam dan saat Mata Maira sudah tertutup sempurna Rayyan mencoba mengetesnya.


"Coba tebak, ini berapa?" Rayyan menunjukan lima jari di hadapan Maira.


"Aku 'kan gak bisa lihat, Mas!"


"Eum... Berapa ya, lima deh!" Tebak Maira.


"Loh, kok bener! Berarti masih keliatan dong, kalau masih bisa nebak," celetuk Rayyan.


"Mas... Ih, mulai deh. Aku hanya asal tebak aja." sangkal Maira.


"Ok, Mas mau tes sekali lagi."


"Lama ih, katanya mau kasih surprise. Kelamaan garing, tahu!"


"Garing tuh kerupuk, bukan tahu!" balas Rayyan sambik terkekeh pelan lalu mendapat cubitan kecil dari Maira.


"Mas ... Aku buka beneran deh kainnya!" Ancam Maira.


"Duh, istri siapa sih ini? Lama-lama kok jadi cerewet begini ya?"


"Istri orang yang paling nyebelin!"


"Siapa?" tanya Rayyan.


"Mas Rayyan, ya Allah!" Maira mulai kesal dengan suaminya. Maira pun sedikit memanyunkan bibirnya, membuat sebuah ide kembali terbesit untuk mengerjai istrinya.


"Ok... ok...! Sekali lagi, Mas baru percaya."


"Cepetan," pinta Maira.


"Sabar, Neng!"


Maira terdiam menunggu hal apa yang akan dilakuan Rayyan selanjutnya untuk mengetes penglihatan Maira yang ditutupi kain itu.

__ADS_1


"Mas," panggil Maira saat Rayyan tidak melakukan apapun. Saat ini Maira menghadap lurus ke depan. Tidak mendapat respon Maira memutar tubuhnya ke arah Rayyan.


"Mas Rayyan masih di sini 'kan?"


"Hm" Hanya deheman yang Maira dengar.


Wajah Rayyan begitu dekat dengan Maira saat ini. Tanpa banyak bicara Rayyan langsung membungkam bibir Maira.


"Hmpp," Maira memukul bahu Rayyan. Sungguh Maira sangat terkejut. Saat kepalanya akan mundur Rayyan menahannya dan memperdalam ciumannya.


Selanjutnya Maira malah terbuai dengan permainan Rayyan. Takut tidak bisa menahan diri. Rayyan lekas melepas pagutan manis itu.


"Kalau ini baru, Mas percaya kalau kamu tidak ngintip!" Ujar Rayyan dan kembali mendapatkan pukulan pelan di bahu.


"Mata kamu tertutup, tapi tebakan sama pukulan dari kamu selalu tepat, sih!" UcapRayyan saat tangan Maira tepat mengenai bahunya.


"Insting seorang istri, Mas! Jadi kalau kamu selingkuh atau menutupi hal kecil pun perasaan istri selalu tepat buat suaminya."


"Iya, deh percaya! Istri gue emang top deh!" Ucap Rayyan membanggakan diri.


"Dih... Mas Rayyan, narsis!" Cebik Maira.


Mobil kembali melaju tapi hanya sebentar.


Saat ini tempat di dalam garasi mobil, Rayyan menghentikan mobilnya.


"Ko, berhenti lagi, Mas!"


"Lah, masa jalan terus. 'kan sudah sampai!"


"O-oh"


"Mas turun duluan! Awas banyak kotoran ayam, nanti terinjak. Kamu diam dulu, nanti Mas tuntun."


"Ya," Maira menuruti.


Rayyan segera turun dan berlari kecil memutari mobil.


"Awas, Mas bilang hati-hati."


"Yah, nginjek kotoran ayam ya?" celetuk Maira.


"Ngga"


"Mas Rayyan," gerutu Maira.


Di depan Rayyan dan Maira sudah ada kedua orang tua Maira, Kedua mertua yang begitu baik, ada juga Risma, adik ipar Maira yang cuek dan judes tapi asik jika diajak curhat.


"Neng... Awas di depan kaki kamu ada katak budug!" Rayyan menggoda Maira dengan menakutinya. Kagak budug adalah hewan yang paling tidak disukai Maira.


"Mas, gendong! Aku jijik sama kayak itu." pinta Maira.


Senyum jahil terukir di wajah Rayyan. Dan Tante Melly melihatnya.


Rayyan berhasil mengerjai Maira.


"Dih, anak siapa sih itu, nyebelin banget tingkahnya, gerutu Tante Melly sambil membuang muka dari Rayyan.


Putranya itu hanya tersenyum saat menggendong Maira menuju halan rumah, tempat yang sudah disiapkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2