Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kesedihan Anna


__ADS_3

.........


Usai membuat keputusan yang sangat bertolak belakang dengan hatinya. Abbas pamit kepada kedua orang tua Riska.


Pa Irwan meminta maaf atas sikap putrinya. Abbas hanya tersenyum perih menanggapinya.


Anna pun ikut pamit kepada Pak Irwan dan Bu Ratmi tak lupa kepada Riska.


“Aku sudah menepati janjiku. Ini ‘kan yang kamu mau? Aku harap setelah ini tidak ada desakan lagi pada suamiku,” ucap Anna dengan nada sedikit gemetar.


“Maaf, Kak!” balas Riska sambil tertunduk sedih.


Gadis itu senang mendengar Abbas akan melanjutkan amanah orang tuanya. Tapi mengapa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ia pun tidak tahu apa itu.


“Io, tolong undur waktu pertemuan dengan klien hari ini, undur tiga jam ke depan! Saya ada sedikit keperluan,” titah Abbas dan mendapat tundukkan hormat dari Rio.


“Siap, Pak!” jawab Rio sopan.


Abbas pun keluar dari ruangan itu dan Anna mengikuti di belakangnya.


Abbas sama sekali tidak berbicara kepada Anna. Semenjak pria itu keluar dari kamar perawatan Riska sampai saat ini mereka berada di jalan menuju rumah.


Anna dan Abbas sudah pindah dari rumah bintang tiga hari setelah resepsi pernikahan. Rumah yang Abbas bangun untuk keluarga kecilnya itu berada di kawasan elite di daerah Cibubur.

__ADS_1


“Bang!” panggil Anna seraya menoleh ke arah Abbas yang sedang serius mengemudikan mobilnya.


“Kita berbicara di rumah! Abang tidak mau konsentrasi mengemudi terganggu,” jawab Abbas.


“Maaf, Bang!” Anna pun tidak jadi meneruskan ucapannya.


Sepanjang perjalanan pasangan suami istri itu sama-sama diam. Hingga akhirnya mereka sampai di depan bangunan mewah bergaya klasik.


Abbas turun lebih dulu. Anna pun mengikutinya. Ia tahu kalau suaminya itu sedang merasa kecewa bahkan bisa jadi marah.


Saat masuk ke dalam rumah, Abbas berpapasan dengan asisten rumah tangganya. Dia salah Bi Weti. Pekerja yang datang pagi hari dan pulang sore hari. Mereka tidak memperkerjakan asisten rumah tangga full waktu. Abbas ingin menikmati masa indah pengantin baru di rumahnya. Rumah yang selama ini Abbas bangun untuk ia tinggali dengan istrinya yaitu Anna.


“Bik, Maaf! Untuk hari ini Bi Weti bisa pulang lebih Awal! Kalau bisa sekarang. Maaf buka saya mengusir tapi kami berdua butuh privasi untuk berbicara berdua,” ucap Abbas kepada Bi Weti.


“Saya permisi, Tuan, Nyonya!” ucapnya pada Abbas dan Anna sopan.


Tak ada tanggapan balasan dari Abbas.


“Hati-hati, Bik! Maaf, Ya!” sambung Anna.


“Iya, Nyah!”


Usai Bi Weti berlalu dari hadapan mereka berdua. Abbas langsung melempar jas yang dipakainya. Mengendurkan dasi kemudian menyisir rambut dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Suami dari Anna itu merasa kecewa dengan sikap Istrinya.


“Kenapa kamu tidak bicara apapun soal ini sama Abang?” tanya Abbas ketika melihat Bi Weti sudah tidak ada lagi di ruangan itu.


“Maaf, Bang! Bukan maksud aku menutupi tapi aku hanya ingin semuanya cepat selesai. Abang bersikeras menolak amanah itu. Riska juga tidak mau dioperasi jika amanah itu tidak terlaksana. Aku hanya ingin Abang berbakti pada amanah orang tua abang yang sudah tiada. Bagaimana pun amanah itu terbuat pasti atas dasar tanggung jawab yang besar,” ujar Anna.


Abbas menggelengkan kepalanya. “Dengan cara menikahi Riska?” tanya Abbas.


“Karena itu yang Rusak inginkan, Bang!”


“Abang tahu kalau amanah itu harus dijalankan. Itu adalah bentuk bakti kita kepada mereka apalagi ayah sudah tiada. Abang bisa meminta pembatalan jika ayah masih hidup seperti aku yang sudah membatalkan Kitbah Abang waktu itu tapi karena Papa masih hidup dan tahu kondisi sebenarnya. Papa bersedia merestui kita dan itu atas ijinnya,” tutur Anna.


“Abang tidak mengerti mau kamu apa, Dek! Apa kamu ingin hati Abang berbagi dengan wanita lain? Apa kamu sudah sanggup untuk itu? Apa kamu ingin rumah yang Abang bangun untuk kehidupan kita bersama anak-anak nantinya akan terisi oleh orang ketiga?” cecar Abbas dengan banyak pertanyaan kepada Anna.


“Meskipun Abang tidak cinta dan tidak ada perasaan apapun kepada Riska, tapi tanggung jawab seorang suami harus Abang berikan,” lanjut Abbas.


Anna menangis terisak mendengarnya.


..


Bersambung.


Maaf otor up sedikit. Besok pasti lanjut.

__ADS_1


__ADS_2