
Seminggu telah berlalu. Luka di kaki Anna sudah membaik. Ia memulai hari pertama kuliah setelah beberapa hari tak bisa mengikuti pelajaran. Anna sangat bersemangat memulai hari. Pagi ini, Anna tiba di kampusnya. Seperti biasa ojek online menjadi langganannya saat ia berpergian. Di koridor menuju kelasnya, Anna berpapasan dengan Ardi.
“Hai, An. Gimana lukamu? Sudah sembuh?” Ardi memberikan perhatian kepada Anna. Ia menghadang langkah Anna, saat Anna hendak memasuki kelasnya.
Sejenak Anna menghentikan langkahnya. Membalas sapaan Ardi. “Kabarku baik, Ar. Luka ku juga sudah sembuh, seperti yang kamu lihat! Maaf ya, aku harus masuk kelas, banyak tugas yang belum aku rapihkan.” Anna menunjukkan beberapa tugas dari tangannya, agar Ardi melihatnya.
“Ya, tidak pa-pa, An. Aku hanya mau tau keadaanmu saja, ko. Syukur kalau semuanya sudah membaik.” Ardi sedikit bergeser posisi agar Anna bisa melewatinya memasuki kelas.
“Thanks ya, Ar. Sorry banget. Aku harus ngejar ketinggalan untuk tugas skripsi.” Anna lebih baik menghindar dari Ardi.
“Selesai kelas, aku mau ajak kamu makan siang, An. Kamu mau, 'kan?” ajak Ardi.
“Aku enggak janji ya, Ar. Kamu tau sendiri tugas ku banyak banget. Tinggal dua minggu lagi aku sidang.” Elak Anna. Anna sengaja menghindar dari Ardi. Ardi sudah bersikap baik akhir-akhir ini. Tapi Anna tahu, semua yang Ardi lakukan hanya ingin mendapatkan Anna saja. Beberapa kali Anna melihat Ardi masih jalan sama cewek yang ia incar selain Anna. Jadi, Anna tidak mau terjebak oleh rayuan manis Ardi dan di permainkan oleh Ardi. seperti cewek kampus yang sudah terjerat olehnya.
Anna melewati Ardi, Anna berjalan memasuki kelas. Ardi terdiam saat Anna melewatinya begitu saja. Ia berusaha menahan kesalnya di hadapan Anna. “Ck, kita lihat sampai kapan kamu akan bersikap acuh sama aku, An.” Tangannya mengepal menahan marah.
Sesampainya di kelas Anna di sambut oleh Dita dan Nia. Mereka begitu senang melihat Anna sudah bisa beraktivitas lagi. Meski jalannya masih terlihat agak pincang. Tapi Anna lebih memilih kembali ke kampus daripada menerima pelajaran seorang diri di rumah.
“Hai ..., An. Wah. Sudah bisa berlenggok lagi ni?” ledek Dita sambil terkekeh saat melihat Anna memasuki kelas dengan langkah pelan.
“Kamu pikir aku model, jalan berlenggok," elak Anna, tangannya menaruh paper bag yang berisi tugas-tugas kuliahnya di meja.
“Banyak bener ni tugas? Udah kelar semua?” tanya Nia. ia menghampiri Anna, lalu membuka papar bag yang di letakkan Anna di mejanya.
“Udah dong. Kejar tayang gue ngerjainnya. Hari ini pengumpulan tugas nya, ‘kan? Mana belum di susun lagi ni tugasnya,” keluh Anna seraya mengeluarkan lembaran tugas dari dalam paper bag miliknya.
“Hari ini dosen yang ngajar pertama di kelas kita, tidak bisa hadir. Tuh, asisten dosen udah ngabarin duluan." Dita menunjuk Rio dengan dagunya. Ucapan Dita memberi angin segar di telinga Anna, karena tugas yang Anna bawa belum tersusun rapi. jadi ia bisa menyelesaikan susuan tugasnya dengan benar.
“Yang bener kamu, Dit?” tanya Anna menegaskan.
“Bener. Tuh tanya aja sama asistennya, si Rio, kalau enggak percaya!” tegas Anna.
“Yo..." panggil Anna setengah berteriak. Rio menghentikan gerakannya saat sedang merapihkan tugas kuliah. Dia menolah ke arah Anna.
__ADS_1
“Kenapa, An?” tanya Rio.
“Beneran Pak Jaya enggak masuk kelas?! Terus tugas kuliah gimana dong?" tanya Anna balik.
“Iya... Jadwalnya di gantikan sama dosen ke dua. Jadi hari ini kita pulang siang. Lu mau ngumpulin tugas enggak? cepetan! Setengah jam lagi dosen lanjutan datang. Gue harus nganterin tugas Pak Jaya ke mejanya!"
“E-eh tunggu! Gue susun dulu tugasnya. Sepuluh menit deh, awas jangan ninggalin, gue?” ancam Anna.
“Iya ... Cepetan, gue tungguin! Mepet ni waktunya," ucap Rio.
“Ck, sabar kenapa sih! Ini juga buru buru lagi di susun.” Anna berdecak sambil sibuk merapihkan susuan tugasnya. Dibantu Nia dan Dita di sampingnya.
“Nih ...! Done. Engga sampe sepuluh menit ternyata, An,” celetuk Nia.
Tugas yang sudah terkumpul di bawa oleh Rio ke ruangan Pak Jaya. Dosen jam pelajaran kedua pun datang tak lama setelah Rio kembali usai dari ruangan Pak Jaya. Anna merasa lega karena tugas yang selama beberapa hari di kerjakan nya sendiri di kos an, akhirnya selesai juga. Beruntung Pak Jaya memberinya kelonggaran untuk tugas terakhirnya ini.
Menjelang sidang skripsi semua mahasiswa/i wajib mengumpulkan tugas akhir semesternya. Sebagai tambahan nilai dalam kelulusannya nanti. Tugas tugas mata kuliah pun mulai di kumpulkan kepada masing-masing dosen pembimbing. Para mahasiswa/i mendapat arahan agar sidang skripsi mereka berjalan lancar.
Kelas kedua pun usai. Anna pamit kepada Nia dan Dita. Ia berterimakasih kepada teman sekelasnya itu karena sudah mau membantu Anna saat Anna sakit dan tidak bisa ikut kelas. Karena tak ada tambahan kelas, sebelumnya Anna sudah membuat janji dengan sahabatnya untuk makanan Bakso tempat langganannya.
Di tengah panasnya matahari siang ini. Anna duduk berlindung di bawah pohon ceri di depan kampus favorit nya. Anna menunggu Maira keluar kelas. Ia mencoba menghubungi Maira yang saat itu masih belajar di dalam kelas. Sama halnya dengan Anna. Maira pun akan menghadapi sidang kelulusan. Mereka hanya berbeda jurusan. Anna memilih jurusan Administrasi perkantoran sedangkan Maira memilih jurusan Sastra Arab.
Maira yang mengabarkan akan terlambat keluar kampus. Ia menyuruh Anna untuk terlebih dahulu pergi ke tempat yang mereka janjikan.
Drrt..drrrt.. Suara ponsel Anna bergetar. Ia lupa menonaktifkan mode nada getar di ponselnya.
Pangilan dari sahabatnya Maira tertera di layar benda pipih itu.
“Assalamualaikum, An?” sapa Maira dari sebrang ponselnya.
“Waalaikumsalam, kenapa, Mai? Kamu jadi kan temenin aku makan Bakso langganan kita.” Tanpa basa basi Anna langsung bertanya kepada Maira.
__ADS_1
“Iya, jadi. Tapi kamu duluan aja ya, An! Aku di suruh pak dosen bawain tugas anak-anak ke ruangannya,” bisik Maira dengan suara pelan setengah berbisik. Ia sempatkan menelpon Anna, saat mengikuti langkah pak dosen ke ruangannya sambil membawa buku tugas ke ruangan dosen tersebut.
“Wah .. sudah jadi asisten dosen, nih? Kenapa telat, sudah mau wisuda baru di tunjuk jadi asisten.” ledek Anna.
“Asistennya enggak masuk! Udah dulu ah, repot ni bawa buku banyak.” Keluh Maira.
“Ok. Siap deh. Di pesenin dulu enggak ni Bakso nya?” tanya Anna.
“Enggak usah, aku sebentar doang ko.! Udah ya, Assalamualaikum, “ Maira mengakhiri sambungan telponnya.
“Waalaikumsalam,” ucap Anna seraya memasukan ponselnya kedalam tas Selempang ya.
.
.
.
.
.
.
ikuti kelanjutan ceritanya ya. terima kasih sudah hadir di karyaku
jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini.
Salam hangat Mayya_zha
~ komen yang banyak agar author semangat untuk up bab terbaru~
__ADS_1