Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Amarah Om anwar


__ADS_3

"Mah ...," ucap Anna pelan.


Mama Ami merangkul Anna, memberikan usapan pada pundaknya.


"Sudahlah! kamu antar Nak Abbas ke depan, ya! Mama mau balik lagi ke dalam. Nak, Abbas, maaf, Tante antar sampai di sini. Sekali lagi terima kasih banyak sudah membantu Anna. Salam untuk Ibu mu dan anak-anak di Rumah Bintang." ucap Mama Ami lembut.


Abbas lekas mengulurkan tangannya untuk bersalaman kemudian mencium tangan Mama Ami, sedangkan kepada Tante Melly dia menangkupkan tangan di depan dada sebagai salam pamitnya.


"Terima kasih, Tan. Sudah mengijinkan saya bertamu di sini." ucap Abbas sopan dengan sedikit membungkukkan badan.


"Sama-sama, hati - hati di jalan!"


"Anna antar Abang ke mobil dulu, Mah, Tan!" pamit Anna dan mendapat anggukan dari Tante Melly dan Mama Ami.


Abbas dan Anna berjalan pelan menuruni beberapa anak tangga menuju mobil yang terparkir halaman rumah Tante Melly.


"Bang, tolong jangan di ambil hati perkataan Mama ya?" ucap Anna ragu. Dia merasa tak enak hati kepada Abbas.


"Loh, kenapa? apa perkataannya salah?" Abbas balik bertanya.


Anna menggeleng cepat sambil berucap pelan."Tidak. Mama benar ko."


Anna refleks menutup mulutnya dan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia baru sadar secara tak langsung membenarkan perasaan nya kepada Abbas. Sesungguhnya, memang itulah kenyataannya. Anna selalu membalas perhatian yang Abbas berikan padanya.


Mereka berdua sama-sama saling memendam perasaan, tanpa ada ungkapan dan jawaban yang menyertainya. Mungkin karena batasan yang mereka sadari. Sebentar lagi batasan itu akan terhapus. Akankah terungkap perasaan cinta yang selama ini terpendam saat tak ada batasan diantara mereka.


"Hahaha ... Sudahlah tak usah dipikirkan! aku senang bisa bertemu dengan orang tuamu. Beliau sungguh luar biasa bijaksana. Ucapan Mamamu begitu lembut, membuat setiap orang yang mendengarkan tentram di buatnya. " Abbas melanjutkan langkahnya pelan, sampai di depan mobilnya.


Anna tak bisa berkata apapun. Rasanya malu, terhadap Abbas. Mama nya malah membuka perasaannya secara langsung. Memang benar, seorang Mama akan lebih peka terhadap perasaan anaknya, itu, benar adanya. Mama Ami bisa tau perasaan Anna tanpa di beritahu. Pancaran binar suka dari matanya bisa di lihat oleh Mama Ami.


"An ... " panggil Abbas.


"Ya," Anna menoleh ke arah Abbas.


"Kabari Aku, jika niatan mu akan terlaksana. Aku doakan semoga lancar."


"Aamiin, Terima kasih, Bang!"


"Saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


Mobil yang di kendarai Abbas keluar dari halaman rumah Tante Melly. Anna setia menunggu hingga kendaraan itu hilang dari pandangannya. Saat Anna baru saja berjalan beberapa langkah, satu mobil mewah mendekat bergantian masuk ke halaman rumah itu.


Mobil Rayyan terparkir sempurna di sana.


Om Anwar keluar lebih dulu. keluar dari mobil hitam keluaran terbaru itu.


"Bawakan sekalian tas, Papih!" suruhnya kepada Rayyan dengan nada membentak.

__ADS_1


Beliau meninggalkan Rayyan dengan sejuta kekesalan dan umpatan. Saat berhadapan dengan Anna yang berdiri di teras, Om Anwar hanya menyapa nya sebentar.


"Baru pulang, Om?" sapa Anna ragu, ia tahu raut wajah Om Anwar sedang dalam mode marah. jadi tak mau banyak bicara seperti biasanya. Ia meraih tangan Om Anwar lalu menciumnya dengan takzim.


"Iya ..., Om Masuk dulu, An! kamu juga masuk, sudah malam, istirahat lah!"


"Iya, Om." Anna mengangguk pelan.


Anna menunggu Rayyan yang baru saja keluar dari dalam mobil. Rayyan terlihat begitu kerepotan karena harus membawa dua tas kantor miliknya dan Om Anwar.


"Sini, Mas! aku bawakan satu, tasnya. Repot banget, sih!" Anna mengambil satu tas dari tangan Rayyan.


"Haduh, Tengku sangat Dek! Kamu tuh emang ya, sepupu paling pengertian."


"Mas, Om kenapa? kayaknya lagi mode marah?" tanya Anna penuh selidik.


Rayyan menghela nafas berat. "Huh ... gue kepergok lagi berduaan sama Bella di dalam ruangan kantor sama Papih," akunya lesu.


"Astaghfirullah ... Mas rayyan kepergok lagi mesum ya?" Anna berucap dengan nada tinggi.


"Mas--- ."


Mulut Anna terlebih dulu di bungkam oleh telapak tangan Rayyan.


"Udah jangan banyak komen dek, suasana lagi panas!" Rayyan masih membungkam mulut Anna sambil menyeret tubuhnya ke dalam rumah.


"Mas ... ih, pengap tau." Anna menyingkirkan Tangan Rayyan dari mulutnya.


"Tan, ini tasnya, Om!" ucap Anna. Ia menyerahkan Tas Om Anwar saat melihat Tante Melly keluar dari kamarnya


"Oh ya, Terima kasih, sayang! An, kamu lihat Rayyan, tidak?" tanya Tante Melly.


"Mas Rayyan sudah naik atas, Tan. Ke kamarnya!"


"Ck, anak itu. Tolong panggilkan dia kalau sudah selesai mandi dan bersih-bersih. suruh turun buat makan. Tante mau siapkan makanan dulu untuk kalian."


"Siap, Tan."


"Sekalian, ajak Risma juga ya, An!" teriak Tante Melly sambil terus berjalan ke arah dapur.


"Ya Allah .. Gusti nu Maha Agung ... hampura kelakuan anak abdi nu badegong pisan! nu bujang kunaon jadi mainken awewe, nu parawan ku jutek kena lalaki. "Tante Melly terus melangkah ke arah dapur sambil menggerutu sendiri.


Mama Ami menghampiri Tante Melly yang terdengar mengoceh dengan bahasa sundanya. Ya, Tante Melly memang keturunan orang Sunda. Bahasa Sunda yang kasar ngajeplak jadi bahasa sehari-hari di kampungnya.


"Sabar, Mel. ingat nanti darah tinggimu naik loh!" ucap Mama Ami menenangkan Tante Melly.


"Pusing, Aku tuh, Mi. Dengar kelakuan anakku dari Mas Anwar. Untung belum sampai kejadian." Tante Melly masih aja mengoceh di dapur.


Bi Warsih yang berada di dapur menyiapkan makan malam untuk tuannya merasa heran dengan kedatangan majikannya yang mengoceh menggunakan bahasa Sunda.

__ADS_1


"Sabar ...." Mama Ami kembali mengingatkan.


Rayyan


Ia masih membayangkan gimana marahnya Papih nya saat memasuki ruangannya.


Laporan yang sudah di tunggu oleh Om Anwar dari Rayyan tak kunjung diantarkannya. Saat menghubungi Nita, sekertaris Rayyan. Dia tak ada di tempat karena di suruh membuatkan minuman untuk Bella.


Ruangan kerja Om Anwar dan Rayyan masih dalam satu lantai. hanya posisi ruangan Rayyan yang berada di pojok membuat jalan menuju sana agak berbelok.


ceklek


pintu ruangan terbuka karena Om Anwar masuk tanpa permisi.


"RAYYAN ...," Bentak Om Anwar saat melihat Rayyan sedang memeluk wanita bertubuh seksi sedang mencoba membuka kancing pada kemeja yang Rayyan pakai.


"Papih!" ucap Rayyan pelan. Refleks Rayyan melepas tangannya yang membelit tubuh seksi Bella, kalau mendorongnya menjauh dari tubuhnya.


Rayyan terkejut saat melihat Papihnya masuk ruangannya tiba-tiba. Padahal ia sudah menyuruh sekertaris nya agar memberitahunya jika ada yang mencarinya. Dia lupa kalau Om Awar adalah pemilik perusahaan, jadi besar kuasanya untuk melakukan apa pun.


Mereka berdua di sidang langsung saat itu juga. Bella dan Rayyan saling tertunduk malu.


Om Anwar mengintrogasi kelakuan mereka.


"Kamu harus segera menikahi wanita ini," ucap Om Anwar tegas.


deg


Rayyan terkejut dengan ucapan Papihnya.


.


.


.


.


.


Mohon maaf karena kemarin sibuk revisi kerangka. enggak sempat up. Alhamdulillah karya ku lolos.. Kalian mampir ya ke sana..


Seru kisahnya.. kalian cari aja di pencarian. judulnya FAKE LOVE. karya Mayya_zha ya. jangan salah. banyak judul itu ternyata di ntun. 😁😁😁 kalau udah ketemu jangan lupa tambah ke favorit agar dapat info update terbaru.


eitsss jangan lupa juga kasih Like, Komen, kasih Rating bintang ya buat karya yang ni...


kasih dukungannya buat Author..


biar Author makin semangat buat up bab baru

__ADS_1


Mampir juga ke karya ka Julia Fajar ni


karya bagus sok baca


__ADS_2