Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Harus Berpisah


__ADS_3

Pagi ini Anna ikut menyibukkan diri dengan Mama Ami dan Tante Melly di dapur. Menyiapkan sarapan pagi untuk para suami mereka.


Jika Papa Reno terbiasa sarapan pagi hanya dengan sereal atau roti. Berbeda dengan Abbas, suami dari Anna itu terbiasa langsung sarapan nasi. Om Anwar termasuk orang yang netral. Apa saja akan ia lahap, asalkan Tante Melly yang membuatkannya.


Anna harus mulai beradaptasi dengan Abbas. Sebab Anna mengikuti kebiasaan Papanya.


“Mah, cobain deh!” Anna menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut Mama Ami. Mama Ami pun menerima suapan itu. “Enak, gak?” tanya Anna serius sambil memperhatikan mimik wajah Mama Ami setelah menerima suapan darinya.


Mama Ami mengunyah, merasakan rasa masakan yang Anna buat kemudian menganggukkan kepala serta menunjukkan jempol ke hadapannya.


“Enak, Sayang!” jawab Mama Ami


Wajah Anna begitu senang saat mendapat penilaian dari Mama-nya


“Sekarang giliran Tante Melly!” Anna kembali mengambil satu sendok nasi goreng kemudian menyuapinya.


Dua jempol Anna dapatkan dari Tante Melly


Anna merasa senang. Padahal itu hal yang biasa baginya. Waktu masih ng-kos di Bogor Anna terbiasa masak untuk di makan sendiri. Tapi kali ini berbeda, Anna merasa grogi saat membuatnya. Secara ini pertama kali ia masak untuk sang suami.


Anna begitu bersemangat membawa nasi goreng itu ke meja makan. Tak lupa Anna membantu menyusun piring dan minuman di atas meja.


Anna meminta Mama Ami duduk saja di meja makan. Pagi ini Anna ingin dia semua yang menyiapkannya.


Tante Melly menyusul para pria beristri itu untuk ikut sarapan pagi. Tiga pria yang sedang asik mengobrol lekas masuk untuk sarapan pagi.


Anna kembali lagi ke dapur ada sesuatu yang ketinggalan di sana.


“Ada yang ketinggalan, Neng?” tanya Bik Imah saat melihat Anna kembali ke sana. Kebetulan Bik Imah sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci.


“Acar nya ketinggalan, Bik!” sahut Anna. Wajahnya terus mengembangkan senyum.


Bik Imah memperhatikan tingkah Anna. Senyuman juga mengembang di wajahnya. Melihat kebahagiaan yang Anna rasakan membuat Bik Imah senyum-senyum sendiri.


‘Rasanya cepat sekali Neng Anna dewasa, malah dia sudah menjadi seorang istri. Bibi jadi kangen sama Neng Anna waktu kecil.’


Batin Bik Imah seraya tersenyum hangat teringat dengan tingkah Anna waktu kecil.

__ADS_1


Anna lekas membawa acar itu. Langkahnya terhenti membuat Bik Imah heran.


“Ada yang ketinggalan lagi, Neng?”


“Anna boleh minta tolong, Bik?”


“Minta tolong apa, Neng? Kalau bisa Bibi lakuin bakal Bibi kerjakan?”


Anna tersenyum mendengarnya.


“Tolong, bersihkan bekas masak Anna,” Pinta Anna dengan wajah memelasnya.


“Siap, Neng!” jawab Bik Imah.


“Terima kasih, Bik.” Anna lekas berlalu meninggalkan dapur.


Saat ia kembali ke meja makan. Semua orang sudah siap di meja masing-masing. Termasuk Abbas suaminya.


Beruntung Rayyan sudah tidak ada lagi di sana. Sepupunya itu balik lagi ke Jakarta siang hari. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan lebih lama. Terlebih saat Om Anwar menunjuknya sebagai wakil direktur. Pekerjaan pria itu semakin sibuk saja.


“Wah... Perdana masak nih, Kayaknya?” goda Tante Melly pada Anna.


“Apa sih, Tante. Anna kan memang biasa masak saat ng-kos juga!”


“Perdana masak untuk suami maksud Tante!” godanya lagi.


Anna tersenyum malu seraya menatap Abbas.


“Ayo, makan dulu!” ajak Papa Reno.


Anna menyendokkan nasi goreng pertama untuk Abbas selanjutnya menawarkan terlebih dulu kepada Papanya.


“Papa mau roti apa nasi goreng?” tanya Anna.


“Coba ambilkan nasi goreng sedikit saja. Papa mau coba masakan buatanmu!” titah Papa Reno.


Anna pun memberikan apa yang di minta Papanya.

__ADS_1


Selanjutnya untuk Mama Ami. Jangan tanya soal Tante Melly, wanita bergamis itu langsung mengambil makanan untuk suaminya. Sedangkan dirinya sendiri makan roti lapis selai stroberi campur cokelat kacang.


Cueknya Tante Melly membuatnya gampang berbaur di mana saja. Mungkin dari dialah Anna menuruni sikapnya. Sebab Anna pun memiliki sifat yang sama dengan Tante Melly.


Pagi ini di meja makan, mereka menikmati sarapan pagi yang istimewa sebab untuk pertama kalinya Anna masak untuk mereka semua.


“Bukannya hari ini kamu kembali ke Jakarta, Bas?” tanya Papa Reno membuat Anna langsung mendongak menatap suaminya.


Anna terkejut, untung saja ia tidak sedang mengunyah makanan. Bisa jadi tersedak dia. Anna diam membeku, gerakan makannya pun terhenti.


Anna tahu Abbas pasti akan kembali ke Jakarta setelah peninjauan dan pekerjaannya selesai di sana. Tapi jika rencana pulangnya hari ini, Anna benar-benar tidak mengetahuinya.


Sorot mata Anna seakan meminta penjelasan dari Abbas. Hanya senyuman hangat balasan dari suaminya itu.


Abbas juga menumpangkan tangannya di atas punggung tangan Anna. Memberi isyarat lewat gerakan mulut.


“Akan aku jelaskan, Nanti!” ucap Abbas setengah berbisik kepada Anna.


Kemudian Abbas kembali fokus dengan pertanyaan Papa Reno.


“Iya, Pah. Hari ini rencana nya Abbas pulang ke Jakarta. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu di sana!” balas Abbas.


Entah mengapa perasaan Anna terasa sedih mendengarnya. Anna dan Abbas akan berpisah jarak untuk sementara. Haruskan Anna ikut degan Abbas atau tetap tinggal di Surabaya sebab permasalahan Papa Reno belum sepenuhnya selesai.


.


.


.


.


...Bersambung...


Kasian amat penganten baru udah mau pisah tempat aja.


Bakalan kangen berat tuh. Apalagi udah ngerasain enak nya .....

__ADS_1


__ADS_2