
Hal di luar dugaan bagi Anna, kondisi Papa Reno semakin membaik. Ternyata kebahgiaan dan keceriaan Anna berdampak pada kesehatannya. Anna bersyukur untuk itu.
Abi Bagas dan Umi Hera pun pamit pulang kepada mereka. Begitu juga dengan Darren, setelah banyak yang ia bicarakan dengan Abbas dan pamit kepada Papa Reno dan Mama Ami, Pria itu pun undur diri.
"Terima kasih, Darren!" ucap Abbas setelah berjabat tangan dengan Darren di luar ruangan perawatan.
"Jangan terus berterima kasih kepadaku. Kalau bukan Om Reno juga yang menyetujui rencanaku. Ini semua tidak akan terjadi," balas Darren.
"Apa kamu belum rela Anna bersamaku?"
Darren tersenyum kecil. "Aku tidak akan rela jika aku dengar kamu menyakitinya, nanti!"
"Hal yang tidak pernah terpikir olehku akan menyakitinya. Cinta ini lebih besar kepadanya."
Darren tersenyum mendengarnya. Ia lekas menepuk pundak Abbas. "Aku titip dia, lanjutkan perjuangan ku untuk selalu membuatnya tersenyum. Bahagiakan dan sayangi dia, Bas!"
"Itu pasti."
Darren melempar senyum kemudian berbalik meninggalkan Abbas.
Abbas kembali ke dalam ruangan. Ia melihat Papa Reno tertawa kecil karena mendengar lelucon dari Rio.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Om! Bos saya ini tega pada saya hari ini semua pertemuan dengan beberapa rekan bisnis hari ini mendadak dibatalkan. Dan saya yang mendapat onelan dari mereka." keluh Rio sedikit manja.
"Saya bilang bukan dibatalkan tapi menunda, apa kamu tidak mendengar ucapan saya tadi!" sarkas Abbas kepada Rio karena asisten nya itu pintar sekali memasang wajah melas.
"Ternyata menantu Papa ini, orang yang sangat sibuk!" sambung Papa Reno.
"Tidak juga, Om. Saya ini kebetulan saja karena saya kesini juga da beberapa pekerjaan."
"Kok panggilnya, Om! Panggil Papa, sekarang kamu adalah menantu kami." ucap Mama Ami.
"Oh... Iya, Pah!"
Mereka tertawa bahagia dalam kebersamanya saat ini.
Anna melihat Papanya tertawa lepas merasa lega. Apa yang ia khawatirkan tentang orang tuanya itu ternyata tidak terjadi. Harapan Anna setelah ini ia bisa kondisi Papa Reno semakin membaik. Setelah masalah besar yang terlewati Anna harap semua akan kembali seperti semula.
Mereka bisa kembali menempati rumah yang tersita oleh pihak penyelidik karena semua kerugian sudah tertutup. Tak apa jika hanya rumah yang tersisa karena di sana begitu banyak kenangan indah yang mereka punya.
Abbas mendekati Anna, meraih jemarinya. Kembali ia mendaratkan ciuman sayangnya di kening Anna.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku," ucapnya pelan.
Anna tersenyum membalasnya. Mereka pun melewati hari ini dengan bercengkrama sampai waktu istirahat utnuk Papa Reno tiba. Mereka di minta suster untuk memberikan waktu kepada pasien agar leluasa beristirahat.
Akhirnya Anna dan Abbas lah yang mengalah dan keluar dari ruangan itu.
Mama Ami dan Papa Reno tertawa kecil saat berpikir akan pulang kemana pengantin baru itu.
"Biarlah... Mereka sudah dewasa pasti tahu harus mencari tempat seperti apa untuk mereka berdua," ucap Papa Reno ketika membaringkan tubuhnya di bantu oleh Mama Ami.
__ADS_1
"Baiklah... Hari ini ruko tutup. Anak-anak juga tidak ada yang lembur membereskan bunga. Semoga saja Papa bisa cepat pulang. Tapi tidak apa ya, nanti kita pulangnya ke ruko?" tanya Mama Ami pelan.
"Semoga, ya, Mah! Papa sudah tidak betah di sini. Papa merasa sudah lebik baik darisbebelumnya.
"Sabar, Ya pah! Nanti Mama tanyakan sama dokter. Sekarang Papa harus istirahat biar semakin membaik kondisinya," titah Mama Ami lembut dan penuh perhatian kepada Papa Reno.
"Terima kasih selalu setia menemani Papa dalam keadaan apapun, Mah!"
.
Mama Ami mengangguk lalu memberi kecupan di kening suaminya itu.
Diluar ruangan.
Anna berjalan di belakang Abbas. Gadis itu terlihat canggung. Saat ini Anna sudah berganti pakaiannya dengan gamis sederhana.
Abbas menghentikan langkahnya. Saat Rio memanggilnya. Dan itu membuat Anna juga ikut melakukan hal yang sama.
Tak lama setelah bercengkrama dengan keluarga Anna, Rio pamit kepada Abbas ternyata tanpa di suruh asistennya itu sudah mempersiapkan semuanya.
"Sorry... Bos, ini Id card dua kamar hotel yang sudah saya pesan." Rio menyerahkan kepada Abbas.
"Kenapa dua?' tanya Abbas heran.
" Satu kamar saya khusus untuk Anda dan Nona Anna, satu lagi untuk Bu Lidia."
"Ibu mau ke sini, Bang?" tanya Anna terkejut mendengarnya.
"Ya, tadi ketika Abang meminta restu sama Ibu juga sama Pak Lebih Mahmud. Dia bilang akan segera menyusul ke sini. Sekarang Beliau sedang dalam perjalanan. Mungkin tak la lagi juga sampai," ungkap Abbas.
"Belum sempat!"
Rio memperhatikan interaksi pasangan pengantin itu, dia malah seperti obat nyamuk di sana. Sebab keberadaannya sama sekali tidak berarti buat Abbas.
"Kalau begitu, saya permisi Bos. Saya hanya mengingatkan sore ini ada tinjauan ke lokasi pembangunan!" Rio mengingatkan.
"Ya, saya tahu!" jawab Abbas singkat.
Abbas yang sudah sah menjadi suami Anna itu kini menggenggam tangan istrinya begitu erat kemudian melanjutkan langkah mereka.
"Pulang kemana, Dek?" tanya Abbas saat ia sedang mengemudi.
"Eum... Boleh tidak, kalau kita pulang ke ruko saja!" pinta Anna.
"Ruko... ?" Abbas sedikit bingung dengan ucapan Anna.
Tanpa banyak bertanya Abas mengarahkan mobil yang ia kemudikan ke arah yang Anna tunjuk. Tidak lama mereka sampai di depan Ruko Angel Flowers.
Abbas dan Anna turun dari mobil bersamaan.
"Kami tinggal di sini sekarang!" Anna memulai pembicaraan.
__ADS_1
Kenapa jadi canggung begini. Biasanya juga cuek. Ah... Kenapa hatiku berdebar.
Batin Anna seraya menatap Abbas yang berdiri di depannya tengah melihat bangunan dua lantai di hadapannya.
Anna berjalan mendahului Abbas, lekas membuka pintu dengan kunci di tangannya.
"Masuk, Bang!" ajak Anna.
"Assalamu'alaikum," ucap Anna saat memasuki ruangan depan.
Meski tidak ada orang di dalam rupanya tapi mengucap salam akan baik jika dilakukan.
Abbas mengikuti langkah Anna.
"Abang mau minum apa biar Anna buatkan dulu!" ucap Anna seraya meletakkan tas selempangnya di atas sofa.
"Apa saja!" jawab Abbas singkat.
Ababs terus memperhatikan seluruh ruangan itu. Ia juga melihat beberapa bunga dan aksesoris nya sisa membuat buket bunga masih berserakan. Anna membiarkannya lalu meninggalkan Abbas untuk membuatkan minum.
Anna kembali dengan dua gelas minuman di tangannya. Ia letakkan minuman itu di atas meja.
"Maaf, aku ngajak Abang ke sini. Semalam ada yang pesan hiasan bunga. Aku ingat kalau belum dirapihkan bekasnya. Jadi aku mau bereskan ini dulu, bunga-bunga sisanya akan jadi layu kalau tidak segera di masukkan ke dalam pot air." ucap Anna langsung meraih beberapa benda yang berserakan di lantai. Dengan gesit Anna membereskannya.
Abbas tersenyum melihat Anna. Satu tangkai bunga mawar merah ia cabut dari tumpukan bunga di pot, lalu ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
Ada banyak sekali bunga-bunga segar di sana. Hari ini karyawan toko bunga libur, jadi tidak ada yang membuka toko tersebut. Biasanya meskipun Anna dan Mama Ami tidak ada di tempat, dua karyawannya akan langsung membuka toko dan bekerja seperi biasa tanpa harus menunggu pemilik toko untuk bekerja.
Abbas menghadang langkah Anna yang sibuk mondar-mandir menaruh bunga ke dalam masing-masing pot sesuai jenis bunga yang ada.
Hampir saja Anna menabrak Abbas.
"Abang...!" pekik Anna seraya sedikit memundurkan langkahnya. Ia menurunkan pandangan menatap Abbas.
Abbas segera menurunkan tubuhnya sedikit berjongkok, dengan satu kaki ia sentuhkan ke lantai dan satu kaki yang ditekuk. Tak lupa bunga yang tadi ia cabut tanpa membeli ia acungkan kepada Anna.
"Cinta itu seperti mawar. Ketika ditekan di antara dua masa kehidupan, itu akan bertahan selamanya. Sama seperti cinta Abang sama kamu. Cinta yang akan selalu bertahan sampai kematian memisahkan kita," ucapan Abbas berhasil membuat wajahnya Anna merona.
"Bunga cantik ini untuk seseorang yang Abang sayang, wanita cantik satu-satunya pemilik hati Abang! Dek Anna, pujaan hati Abang." Abbas menyerahkan bunga tersebut kepada Anna.
Ana tersenyum simpul melihat tingkah Abbas. Mungkin jika saat ini di sekitar mereka ada yang melihat tingkah Abbas, mereka akan memberikan standing applause kepadanya. Sebab tidak pernah pria dingin itu bersikap romantis seperti ini.
"Anna terima bunga cantik ini, tapi jangan lupa nanti Abang bayar, ya. Enggak gratis loh. Ini bunga milik Mama Ami!" celetuk Anna membuat buyar semua keromantisan Abbas.
Anna tersenyum geli melihat Abbas yang menggaruk tengkuk nya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Hahaha....
lagian modal dikit napa Bang, masa nyatut bunga buat istri tercinta ngambil dari toko mertua sendiri. Bagaimana bos BAZ Express ini...