
Saat ini Anna dan Abbas berada di Rumah bergaya minimalis tapi terkesan mewah bercat putih gading. Rumah itu pun bisa berdiri kokoh seperti ini karena Abbas yang telah merenovasinya. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, memberikan tempat tinggal yang layak untuk Riska. Gadis yang menjadi korban kecelakaan yang disebabkan orang tuanya.
"Ayo!" ajak Abbas seraya menautkan jemarinya pada Anna.
Anna tersenyum membalasnya.
Mereka melangkah bersama memasuki rumah yang ada di hadapannya itu. Di samping rumah yang sejuk karena ad pohon rindang tumbuh di sana. Terlihat seorang gadis duduk di sana. Dia adalah Riska, gadis manis yang tak bisa melihat semenjak dirinya masih kecil. Kecelakaan itu telah merenggut kehidupan Riska.
Alunan sholawat terdengar oleh mereka berdua. Ternyata kebiasaan Riska yang selalu bersolawar saat menyendiri seperti ini.
Anna sempat terhenti saat mendengar suara Riska. Ia begitu tersentuh dengan suaranya. Tapi Abbas mengajaknya lebih dulu bertemu dengan kedua orang tua Riska.
Tepat di depan pintu utama saat Abbas akan mengetuknya. pintu tersebut terbuka. Seorang wanita paruh berada di balik pintu. Dia adalah Bu Ratmi, ibu dari Riska.
"Assalamualaikum," sapa Abbas ketika pintu itu terbuka.
"Waalaikumsalam, " jawab Bu Ratmi.
"Bu," Abbas meraih tangan wanita itu kemudian menyalaminya. Anna juga mengikuti.
"Nak Abbas, Silakan masuk!" Bu Ratmi mempersilahkan.
"Terima kasih, Bu!"
Abbas dan Anna dipersilakan duduk di ruang tamu.
"Ayahnya Riska sedang keluar. Beliau sedang ke rumah sakit, untuk persiapan besok," ucap Bu Ratmi ikut duduk bersama Abbas dan Anna. Dia juga mengawali pembicaraan mereka.
"Apa Riska sudah setuju, Bu?" tanya Abbas.
Bu Ratmi menggelengkan kepala pelan.
"Dia masih dipenuhi ketakutan. Riska takut jika setelah operasi tidak ada perubahan pada matanya."
"Kita berharap operasi itu berhasil. tidak akan terbukti kalau Riska tidak mau mencobanya. Sangat jarang sekali ada orang yang mau mendonorkan kornea matanya, Bu!"
"Ibu dan ayahnya Riska sudah mencoba berbicara ini kepadanya. Entahlah ibu juga tidak mau memaksa." Bu Ratmi terlihat putus asa. "Ibu hanya sedih melihatnya, Putri ibu itu bahkan tidak merasakan keceriaan seperti anak-anak lain. Semenjak kecelakaan itu merenggut penglihatannya. Riska hanya diam, duduk sendiri sambil bersolawat seperti yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1
Dia belajar dan mengenali seseorang dari caranya mendengar." Bu Ratmi memandang ke luar jendela terlihat Riska yang sedang bersanding sendiri.
"Boleh aku ke sana?" tanya Anna.
Abbas lekas menoleh kepada Anna.
"Mau apa, Dek?" tanya Abbas.
"Biasanya berbicara dengan yang seumuran akan lebih bisa dipahami, aku mau mencoba membujuknya!"
"Tapi kamu tahu 'kan keinginannya apa?"
"Bang! wajar jika dia menginginkan itu, tidak akan ada yang mau melepas lelaki sepertimu!" ujar Anna sambil mengelus pelan punggung tangan Abbas yang sedang memegangi tangan Anna.
Setelah mendapatkan ijin dari Abbas meskipun lewat kedipan mata. Anna lekas berdiri menghampiri Riska.
Kepergian Anna memberi peluang kepada Bu Ratmi untuk berbicara berdua dengan Abbas.
"Ibu mohon Nak Abbas tolong untuk kali ini saja! Apapun akan kulakukan agar kamu bersedia memenuhi keinginan Riska!" ucal Bu Ratmi dengan nada memohon kepada Abbas.
Abbas tetap dengan pendiriannya.
"Nak Abbas tidak merasakan penderitaan Riska selama ini. Dia hidup dalam kegelapan selama belasan tahun. Dan itu disebabkan oleh almarhum ayah kamu, Nak!" balas Bu Ratmi dengan suara sedikit meninggi. Wanita itu tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
"Saya minta maaf atas kesalahan orang tua saya, Bu! Tapi bukan berarti saya harus menanggung kesalahannya 'kan? Saya sudah berusaha mengupayakan semua pengobatan. Saat ini kesempatan baik Allah berikan untuk Riska, semoga dengan kebaikan hari keluarga Bisma dengan mendonorkan kornea matanya untuk Riska bisa memberi kesembuhan untuk putri ibu."
Abbas berusaha berbicara pelan.
Tidak ada tanggapan dari Bu Ratmi hanya isak tangis yang terdengar pilu oleh Abbas.
Di luar rumah.
"Assalamu'alaikum," sapa Anna saat ia berdiri dekat dengan Riska.
Riska menghentikan lantunan solawatnya.
Gadis itu menajamkan pendengarannya. Sebab Riska baru mendengar suara Anna. Mereka belum pernah bertemu ataupun bertegur sapa. Sehingga Riska merasa asing dengan pemilik suara itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Riska.
Gadis itu sedikit beringsut ke pinggiran bangku. Agar Anna bisa duduk di sampingnya. "Sebelumnya, maaf ... Saya berbicara dengan siapa ya? Suara Anda masih terdengar asing di telingaku?" tanya Riska.
Anna menarik sedikit senyumnya. "Saya boleh duduk di samping kamu? Nanti saya akan memperkenalkan diri saya sama kamu!" ucap Anna.
"Oh, ya, silakan!"
Annna pun duduk di samping Riska.
"Suaramu merdu sekali? apalagi saat bersolawat tadi! suaranya membuat saya ingin kembali mendengarnya.
Riska tersenyum mendengarnya. "Terima kasih!" balas Riska.
'Ternyata gadis ini cantik juga, dia juga pandai membaca Al-Quran. Padahal kondisinya tidak bisa melihat. Aku salut sekali padanya.'
Batin Anna. Dirinya jadi merasa tidak percaya diri. Gadis yang ada di hadapannya ini bahkan bisa membaca surat-surat Al- Qur'an dari caranya mendengar saja.
"Kamu siapa? Kenapa bisa berada di halaman rumahku?" Riska kembali bertanya sebab Anna tidak menjawab pertanyaannha tadi.
"Aku Priscilla Annette Nurcahyani, panggil saja Anna," ucap Anna dan langsung membuat Riska menoleh ke arahnya. Meskipun ia tahu, dirinya tidak bisa melihat rupa wajah Anna seperti apa.
'Apa Kak Abbas juga ikut ke sini? Apa dia sudah meminta ijin kepada istrinya akan permintaanku itu?'
Pikir Riska yang kembali menundukkan kepalanya.
.
.
Bersambung.
Bagi kalian yang sudah selesai baca. tinggalkan jejak kalian dong!!!!!
Atau mampir ke karya ku yang lain yuk seru loh kisahnya.
Aku tunggu kehadiran kalian di karya baruku.
__ADS_1