
Mama Ami dan Tante Melly pulang ke rumah. Sore ini petugas yang akan menyita rumahnya akan datang. Mama Ami ingin berhadapan dengan mereka.
Untuk saat ini Mama Ami lah yang harus memutuskan sendiri harus berbuat apa kedepannya. Mama dari Anna itu harus tegar dan kuat. Sebelum kepulangannya ke rumah, Mama Ami sempat berbicara dengan dokter yang menangani suaminya.
Wanita itu terkejut dengan kondisi sebenarnya yang di alami Papa Reno.
"Bukannya kondisi nya sudah stabil, Dok?" tanya Mama Ami yang terkejut dengan penuturan dokter.
Ternyata bantuan obat yang dikonsumsi Papa Reno sedikit membantu kondisinya berangsur membaik, tapi bukan hal yang tidak mungkin sewaktu-waktu kinerja jantungnya kembali memburuk. Apalagi akhir-akhir ini, Papa Reno terlalu banyak berpikir yang membuat kinerja jantungnya bekerja lebih cepat.
Tiga tahun lalu Papa Reno pernah menjalani pemasangan ring pada jantungnya. Dan beberapa bukan terakhir, Mama Ami memang membenarkan seringnya sakit dada lagi yang dikeluhkan suaminya itu.
"Jantung terus bekerja setiap detiknya, Bu! jadi besar kemungkinan sesak dan nyeri akan dirasakan lagi."
"Apa ada cara untuk menyembuhkannya?" Mama Ami cemas, ia menoleh menatap Tante Melly yang berada di sampingnya.
Sahabat sekaligus Kakak iparnya itu menggenggam tangan Mama Ami agar memberikan kekuatan.
"Untuk sembuh total seperti semula, tidak bisa. Tapi kita bisa mencegah agar jantungnya tetap stabil. Jangan mengejutkan dirinya dengan hal yang akan membuat kinerja jantungnya bekerja cepat. perbanyak istirahat. Dan ibu harus ingat, kehidupan sudah ada yang mengatur. Lama atau sebentar kita hidup di dunia ini. semua sudah ada yang mengaturnya.
jadi, ibu dan keluarga yang sabar dan terus beri semangat kepada suaminya." Dokter menjelaskan dan memberi dukungan kepada Mama Ami.
Selama perjalanan menuju rumahnya, Mama Ami terlihat termenung, Tante Melly memahami apa yang di rasakan adik iparnya itu.
Wanita cantik bergamis itu terlihat serius mengemudi. Meskipun tinggal di Jakarta, tapi Tante Melly hapal betul jalanan di Surabaya. Dulu lima tahun Tante Melly tinggal di Surabaya, sebelum ia menikah dengan Om Anwar dan memilih menetap di Jakarta karena suaminya mendirikan perusahaan di Kota Metropolitan itu.
"Mi...," panggil Tante Melly saat mereka memasuki jalan perumahan menuju rumah Mama Ami.
Mama Ami menoleh, tergambar jelas wajah cemas dan khawatir di sana.
"Kenapa? jangan terlalu banyak pikiran, Mas Anwar sedang dalam perjalanan, ke sini. Semua akan segera teratasi. Suamimu akan terbebas dari tuntutan."
Mama Ami terpaksa tersenyum. Memang ia menginginkan suaminya terbebas dari tuntutan, tapi ia juga memikirkan Anna dan ucapan dokter kepadanya.
"Mas Reno menginginkan Anna di jodohkan dengan Darren. Kami tahu sendiri, Abbas sudah meminta ijin kepadaku untuk menemui Mas Reno dan akan meminta ijin nya secara langsung. Aku bingung, Mel." keluh Mama Ami.
__ADS_1
Kini, mobil yang mereka kendarai memasuki halaman rumah Mama Ami.
Beberapa orang terlihat berada di depan pintu rumah. Ternyata para petugas penyita sudah datang.
"Selamat sore, Bu!" sapa salah satu petugas berseragam itu sambil mengulurkan tangan.
"Sore," jawab Mama Ami lalu membalas uluran tangan tersebut.
petugas itu menyerahkan map yang ia bawa kepada Mama Ami.
"Kami sudah memberitahukan kabar beberapa hari lalu agar pemilik rumah mengosongkan rumahnya dan meninggalkan beberapa unit kendaraan yang di jadikan jaminan Pak Reno. Semua sertifikat dan barang bukti kepemilikan sudah berada di tangan kami. Mohon Ibu mempermudah tugas kami," ucap Petugas itu tegas saat menjelaskan.
Mama Ami membuka map yang ia terima. Ternyata kekurangan yang harus ia penuhi untuk mengganti rugi dana perusahaan masih sangat banyak. Wanita itu menghela napas sejenak.
Tante Melly ikut melihat dan membaca tulisan yang ada di kertas putih dalam map tersebut.
"Apa jika suami saya terbukti tidak bersalah. Semua yang tersita bisa kembali kepada kami?" tanya Mama Ami.
"Jika memang terbukti Pa Reno tidak bersalah. Semua akan kembali, Bu." ujar petugas itu.
Tidak bisa dipungkiri, ucapan mlberkata rela melepaskan semuanya, tapi hati masih ada rasa tidak ingin melepaskan saat tempat dan barang yang menjadi kenangannya bersama keluarga tersita begitu saja.
"Tunggu, sebentar, Pak! saya akan ambil pakaian yang sudah saya siapkan." Mama Ami membuka pintu rumah.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Tante Melly di belakangnya.
"Tunggu ya pak," ucap Tante Melly juga kepada petugas itu.
"Siap, Bu. Kami akan tunggu di luar."
Mama Ami mengedarkan pandangannya ke sekeliling dinding dalam rumahnya.
Semua foto yang terpanjang rapi masih berada di tempatnya.
Sengaja tak diturunkan dengan harapan rumah itu akan kembali kepadanya.
__ADS_1
Hanya dua figura yang Mama Ami bawa. Satu, foto bersama orang tua Papa Reno dan Orang tua Mama Ami yang berkumpul mengelilingi Anna sewaktu gadis itu berulang tahun ke 10 tahun. Itu satu-satunya kenangan yang mengingatkan kepada kedua orang tua Papa Reno dan Mama Ami yang sudah lama meninggal dunia.
Kedua, foto bersama keluarga Om Anwar dan keluarga kecilnya saat Rayyan Wisuda.
Kedua foto itu sedang di usap pelan oleh Mama Ami sambil termenung.
"Ayo, kita keluar," ajak Tante Melly membuyarkan lamuan Mama Ami.
Mama Ami mengangguk lalu melangkah beriringan keluar rumahnya.
Tak lupa ia kunci rumah tersebut. Dua orang petugas membantu Mama Ami mengangkat bareng bawaannya ke dalam mobil. Hanya ada tiga koper yang dikeluarkan. Selebihnya, Anna sudah memasukannya tadi pagi.
"Ini kuncinya Pak. Maaf menunggu lama!" Mama Ami sedikit membungkuk kepada petugas itu.
Tak ada perlawanan di sana. Mama Ami akhirnya rela melepaskan semua harta. Ia masih besar dengan keyakinannya bahwa Tuhan akan menunjukkan kebenarannya. Hanya ia tidak tahu sampai kapan kebenarannya itu akan terungkap. Sabar, dan berdoa hanya itu kuncinya saat ini.
Satu mobil yang tidak dimasukkan sebagai jaminan oleh Papa Reno masih bisa digunakan untuk transportasi.
Mobil itu melaju meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan itu. Mama Ami terdiam memandangi bangunan putih bergaya klasik mewah itu.
"Kita ke ruko?" tanya Tante Melly.
Wanita yang masih terdiam itu hanya menganggukkan kepala.
Perjalanan pun kembali di tempuh Tante Melly dan Mama Ami menuju ruko yang berukuran tak begitu besar. Tempat yang akan dijadikan tempat tinggal mereka sementara waktu.
Ada dua orang karyawan yang sudah menanti kedatangan mereka. Barang-barang di lantai dua ruko itu sudah dipindahkan oleh karyawannya. Sehingga Mama Ami tinggal menempati nya saja.
Karyawan ruko yang bekerja dengan Mama Ami pun ikut bersedih dengan masalah yang menimpa Bosnya itu. Keduanya ikut membantu memindahkan barang yang ada di lantai dua ke dalam gudang yang ada di lantai dasar toko tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung