Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Konsep Pernikahan


__ADS_3

“Ih, Meisya. Kita kan masih kecil gak boleh ngomongin nikah-nikah sama Ibu. Kita harus belajar yang benar dan berdoa sama Allah agar dikasih jodoh yang terbaik nantinya,” ujar Vira


Abbas menarik sudut bibirnya kemudian menyuruh Aldo, Tino dan Vira agar membantunya membawa barang-barang ke dalam rumah.


“Kalian tolong bantuin Abang bawain ini semua ke dalam, ya!”


“Siap Bang!” jawab mereka kompak.


Satu persatu barang-barang di bawa oleh mereka. Abbas berdiri di hadapan Meisya kemudian sedikit menurunkan tubuhnya kemudian berjongkok.


“Kamu marah Abang menikah dengan Kak Anna?” tanya Abbas.


Meisya kembali menggelengkan kepala.


“Lalu kenapa Meisya cemberut?”


“Karena Meisya takut, tidak bisa manja-manja lagi sama Abang!” ucap Meisya dengan nada sedih.


“Kenapa Meisya berpikir seperti itu?”


“Abang ‘kan sudah ada Kak Anna!”


“Dengar Meisya, ada ataupun tidaknya Kak Anna. Kamu masih tetap bisa bermanja sama Abang! Perhatian dan kasih sayang Abang sama Meisya dan yang lain akan tetap sama. Kalian tetap adik-adik Abang! Sekarang ada Kak Anna, kalian bisa anggap Abang dan Kak Anna orang tua kalian!” Abbas menegaskan ucapannya kepada Meisya.


Meisya mengangguk pelan, gadis itu lekas memeluk Abbas.


“Terima kasih, Bang!” ucap Meisya disela pelukannya.


Selama ini Abbas bagaikan Ayah, sahabat, kakak, dan guru bagi mereka. Sebab hanya kepada Abbas Meisya banyak bercerita. Gadis itu takut Abbas melupakannya setelah memiliki istri.


Bu Lidia dan Anna memperhatikan interaksi keduanya.


“Meisya memang begitu, ia sangat dekat dengan Abbas, berbeda dengan yang lain. Tegur saja jika sikapnya terlalu manja pada Abbas. Kamu bisa memberinya nasehat bila perlu,” ucap Bu Lidia lalu mengajak Anna melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


“Anna tidak akan membatasi kedekatan Abang dengan anak-anak, Bu! Anna akan membebaskan waktu untuk kebersamaan mereka. Anak-anak yatim piatu seperti mereka bukankan memang sudah tanggung jawab kita untuk memberinya kasih sayang?” balas Anna membuat Bu Lidia lega.


“Benar sekali, Nak! Ibu bersyukur Abbas mendapatkan seorang istri yang pengertian dengan keadaan dan tanggung jawab Abbas.


Itulah yang Bu Lidia harapkan saat Abbas menikah. Bu Lidia berharap siapa pun yang jadi pendamping Abbas mau menerima kehadiran anak yatim piatu itu, sebab mereka sudah menjadi tanggung jawab Abbas semenjak tinggal di rumah ini. Beruntung Abbas mempersunting Anna yang mampu mengerti situasinya.


Kini mereka semua berkumpul dalam satu meja. Menikmati hidangan yang di buat Bu Lidia.


Ramai, sudah pasti anak-anak itu saling bergantian meminta tambahan lauk dan nasi kepada Anna. Anna terlihat sangat senang dengan keadaan ini. Wajar saja, dia adalah anak satu-satunya jadi sangat jarang bisa berkumpul dengan banyak ocehan dari anak-anak.


Makan malam kembali dengan keceriaan semua anak. Satu persatu anak-anak yang sudah menyelesaikan makannya membawa piring kotor mereka masing-masing. Laras anak paling besar membantu membersihkan piring kotor.


Saat Anna hendak membantu, tubuhnya didorong menjauh dari dapur.


“Loh, Kak Anna ‘kan mau bantu kalian? Kenapa di dorong menjauh dari dapur?” tanya Anna heran dan cekikikan pelan didapatnya dari Vira dan Meisya.


“Biar kami yang cuci piring! Kak Anna ‘kan baru datang jadi biar kami yang bersih-bersih!” ucap Vira si gadis polos berusia 8 tahun.


“Kalian pintar sekali?” Anna menjawil pipi gadis itu.


“Kalian ngomong doang, Cuma bisa merusuh. Cuci piringnya sudah selesai sama Kakak,” gerutu Laras sembari mengusap wajah Vira dengan tangannya yang masih basah.


“Ih... Kak Laras, mukaku jadi basah!” omel Vira sambil mengejar Laras yang berjalan menuju meja makan, hendak mengambil masakan yang tersisa untuk dibereskan.


Bu Lidia, Abbas dan Anna terkekeh kecil melihat keributan itu.


“Yang ini biar Kak Anna bantu!” ucap Anna sambil mengambil piring yang berisi masakan matang yang tersisa.


Laras menoleh dan mengangguk seraya tersenyum kecil.


Usai makan dan beres-beres. Anna, Bu Lidia dan Abbas mengobrol di ruang keluarga. Sedangkan Laras membantu anak-anak yang lain mengerjakan tugas sekolah mereka. Bi Lidia melarang mereka ikut bergabung terlebih dulu. Sebab ia akan membicarakan rencana resepsi pernikahan kali ini.


“Bagaimana menurut kamu konsep pernikahan yang ibu buat?” tanya Bu Lidia pada Anna setelah menunjukkan konsep dan hiasan yang akan dipakai nanti.

__ADS_1


Anna begitu terkesima melihatnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka pilihan Bu Lidia sesuai dengan keinginannya.


Anna terus mengembangkan senyum saat melihat foto yang ada di ponsel Bu Lidia.


Tempat resepsi pernikahannya sudah hampir selesai. Tinggal memasang bunga-bunga segar saja.


“Bagaimana, Sayang?” tanya Abbas.


Anna langsung menoleh ke arah Abbas. Baru kali ini Anna mendengar Abbas memanggilnya sayang.


Abbas mengerti keterkejutan Anna.


“Panggilan agar berbeda panggilan pada istri tercinta. Kalau masih panggil, Dek. Sama seperti memanggil adik-adik panti!” jelas Abbas.


Anna tersenyum malu mendengarnya.


Bu Lidia pun ikut tersenyum. Benar-benar perubahan yang besar yang ia lihat dalam diri Abbas.


Anna mengangguk pelan kemudian beralih menatap Bu Lidia.


“Apa tidak terlalu mewah, Bu? Kenapa tidak sederhana saja?” tanya Anna.


Bu Lidia menyunggingkan senyum sekilas.


“Kenapa apa kamu tidak suka konsepnya?” Bu Lidia malah balik bertanya.


“Suka, suka sekali, Bu! Anna memang menginginkan konsep seperti ini. Tapi, apa tidak menghabiskan banyak biaya, Bu?” ucap Anna pelan.


“Jangan kami pikirkan soal biaya. Suamimu ini Sultan paket. Jadi tinggal kita curi uangnya!” ucap Bu Lidia membuat Anna terkekeh pelan sambil melirik Abbas.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2