
Anna menyeruput kopi kesukaannya perlahan.
“Sebentar lagi sidang skripsiku. Aku tidak mungkin harus menundanya. Entah mereka bisa hadir atau tidak di acara wisudaku.” Anna termenung dengan ucapannya. Sikap cerianya memudar saat kesedihan tiba-tiba datang melanda.
Melihat kesedihan Anna, Abbas memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Anna kembali ceria seperti biasanya. Ia teringat akan jadwal kerjanya. Dua minggu lagi ia ada kerja sama dengan pihak jasa pengiriman daerah Surabaya. Cek lokasi untuk gedung baru yang akan di jadikan kantor pusat di kota Surabaya. Mungkin jika ia menawarkan Anna pergi bersamanya, itupun jika Anna bersedia.
“Aku ada jadwal ke Surabaya, jika kamu mau, kamu bisa pulang bersamaku?” ajak Abbas lalu menyeruput kopi yang berada di tangan kanannya.
Anna menoleh ke arah Abbas, kemudian tersenyum.”Beneran, Bang. Apa tidak merepotkan nantinya?” Anna terlihat bersemangat dengan tawaran Abbas.
“Tidak,” balas Abbas.
“Singkat banget sih, Bang. Niat enggak sih nawarin aku?” Anna menggerutu.
Ha ... ha ... Kamu tuh lebih pantas seperti ini. Menggerutu dan banyak bicara begini, dari pada seperti tadi. Jangan banyak murung, nanti nilai skripsinya ikutan sedih!” ledek Abbas.
“E-eh ... Abang doain nilai ku jelek dong. Ih .. jahat banget.” Anna memukul pelan pundak Abbas.
“Aduh, sakit, An.” Abbas berpura menahan sakit.
“Dih ... lebay, pelan juga.”
“Ha ...ha ... makanya kamu harus ceria, biar nilai skripsinya bagus, semangat dong!” Abbas mengangkat tangan yang mengepal untuk menyemangati Anna.
“Ok. Semangat, Bang” jawab Anna dengan gerakan tangan yang sama. Wajahnya kembali ceria. Itu membuat Abbas tersenyum sambil memandang Anna.
“Kita ke bawah sana, yuk, Bang?” ajak Anna.
Abbas mengangguk. Ia berjalan duluan beberapa langkah melewati Anna. Anna menggelengkan kepala dengan sikap Abbas.
“Biasa deh, ninggalin lagi,” ucap Anna pelan. Ia mensejajarkan langkahnya bersama Abbas.
Mereka berjalan bersama. sesekali terdengar candaan dan tawa dari Anna. Jalan menuju taman itu sedikit menurun. Kopi di tangan Anna masih tersisa, sesekali ia teguk kopi hangat nya sambil berjalan. Seringnya bertemu dengan Abbas membuat mereka semakin dekat. Tak ada kecanggungan saat mereka bersama dan melempar canda. Saling mengenal sikap dan kebiasaan itu muncul karena seringnya mereka bertemu.
Di dalam Restoran, di salah satu deretan ruko yang Anna lewati. ada dua pasang mata yang mengawasi mereka. Pemilik mata itu tersenyum sinis kearah dua insan yang asik melempar keceriaan.
“Heh ... ini alasanmu menolak ajakan ku, An. Kamu, berdua lagi dengan dia. Lihat saja aku yang akan dapatkan kamu lebih dulu, di banding dia,” batin Ardi. Ardi memendam rasa kesalnya saat ini, karena Anna menolak ajakannya makan siang bersama.
***
Sesampainya di area taman. Anna mendaratkan tubuhnya, duduk di bangku panjang di bawa pohon ceri yang menutupi teriknya sinar matahari siang itu.
Ketika Abbas hendak duduk di samping Anna. Rok yang Anna pakai sedikit terangkat, memperlihatkan sebagian kaki mulusnya. Abbas sengaja membuka kardigan yang ia pakai untuk menutupi bagian kaki Anna yang terlihat. Anna terkejut dengan yang Abbas lakukan.
“Terima kasih, Bang.” Anna tertunduk malu.
“Saya tidak rela, mereka selalu melihat ke arahmu.” Abbas menunjuk kumpulan pria berada di sebrang taman dengan dagunya, Anna mengikuti arah yang Abbas tunjuk.
Anna tersenyum. Ia tak menyangka beberapa kali mendapat perlakuan manis dari Abbas. Terkadang perhatian Abbas dan perkataan nya membuat hati Anna tersentuh.
__ADS_1
Cukup lama, mereka berada di taman itu. Semakin banyak pula yang mereka bicarakan. Anna selalu terlihat antusias dalam bercerita. Mereka saling menceritakan kehidupannya masing-masing.
Drrt ... drrt ... Ponsel Abbas terasa bergetar di kantung celananya.
“Kenapa Bang?!” tanya Anna saat melihat Abbas mengeluarkan ponsel.
“Telepon dari Ibu. Aku angkat telpon dulu! Anna mengangguk. Abbas menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
“Assalamualaikum” sapa Ibu dari seberang telepon.
“Waalaikumsalam, ada apa, Bu?”
“Ibu bisa minta tolong, Nak? Kamu tahu kan toko langganan Ibu di Pasar Anyar. Ibu sudah hubungi toko itu. pesan bahan tadi pagi, sudah ibu bayar juga melalui transfer. Nanti kamu tinggal konfirmasi saja ke kasir toko itu. Ibu kirim bukti transfernya ke kamu, ya, Nak!” Bu Lidia memberi arahan kepada Abbas.
“Iya, Bu. Nanti sepulang dari sini, Abbas ke sana. Ada lagi bu?”
“Tidak ada, Nak. Terima kasih ya, Maaf, Ibu membuatmu repot.
“Tidak apa, Bu. Nanti setelah mengantar Anna, Abbas langsung ambil pesanan Ibu” jelas Abbas.
“Loh ... Kamu lagi sama Anna, ko enggak ngomong dari tadi si, Nak. Ajak sekalian Anna ke sini. Ibu masak banyak. Jangan lupa ya!”
“Ya, ibu kan, enggak nanya! Ibu mau bicara sama dia?” Abbas melirik Anna.
“Iya, boleh ... boleh ..."
“Ibu, mau bicara.” Abbas memberitahu pelan, lalu menyodorkan benda pipih di tangannya itu kepada Anna.
“Ibu, baik sayang. Hari ini main ke sini ya! Ibu masak banyak.” Bu Lidia langsung menawarkan tanpa basa basi.
“Mm ...”Anna berpikir lalu melirik ke arah Abbas, seakan meminta tanggapannya. Abbas mengangguk. “Iya, Bun. Nanti Anna mampir ke sana.” Anna menyanggupi ajakan Bu Lidia.
“Ya sudah! Kalian hati-hati di jalan nya! Ibu tunggu. Jangan sampai tidak datang ya, apalagi Meisya tuh. Nanyain kamu terus. Ibu tutup ya telepon nya! “ Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Anna menutup telepon nya. Ia kembalikan benda pipih itu kepada pemiliknya.
Abbas memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Sesaat mereka terdiam,
“Bagaimana mau, antar aku dulu ke toko, ambil pesanan Ibu” tanya Abbas.
Anna melepas kardigan Abbas yang berada di pangkuan nya. "Ayo ..!" kemudian memberikannya ke tangan Abbas. ”Terima kasih sudah meminjamkannya” Anna berdiri seraya menepuk pelan bagian belakang rok.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil. Hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk Anna. Mungkin juga untuk Abbas, karena senyum selalu terpancar dari wajah mereka berdua. Meski tak mengungkapkan perasaan. Abbas yakin Anna tahu tentang perasaannya. Semoga ada keajaiban untuk perasaan mereka.
Langkah mereka terhenti di depan Toko Muslimah. Abbas menyuruh Anna menunggu sebentar. Ia masuk ke dalam toko tersebut, entah apa yang akan Abbas beli. Anna tak mau bertanya. Anna memilih duduk di depan toko sambil melihat keramaian di deretan.
Abbas kembali dengan satu buah paper bag di tangannya. Lantas ia berikan kepada Anna.
.
.
.
__ADS_1
.
Apa ya, yang Abbas berikan kepada Anna?
Hai.. apa kabar kalian yang baru selesai baca karyaku.
semoga kalian dalam keadaan sehat ya. di cuaca seperti ini. kita harus pintar jaga kondisi tubuh ya.
Aku berterima kasih kepada kalian semua. karya ini mendapat rekomendasi karya berpotensi. tanpa kalian apalah karya receh ku ini.
jangan lupa like 👍komen✍️tambah favorit ❤️untuk yang belum.
karena esok hari terakhir di tahun 2021. bolehlah beri dukungan vote dan hadiahnya untuk karya receh ku ini.
Terima kasih sebelumnya.
salam hangat dari Author Mayya_zha
__ADS_1