
Keesokan harinya, Anna berada di rumah sakit di temani oleh Bu Lidia. Mereka berdua sedang menunggu kedatangan orang tua Anna yang dikabarkan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Bu Lidia begitu memanjakan Anna. Meskipun begitu Anna kadang merasa canggung dan tidak enak hati pada beliau.
Saat ini Abbas masih berada di kantor. Rio, asistennya mengambil jatah cuti selama satu minggu. Abbas tidak bisa ikut libur bekerja. Ia harus tetap bertanggung jawab akan tugasnya itu.
Anna mengerti akan hal itu. Ia tidak mau menambah beban pikiran suaminya. Anna selalu memberinya semangat.
Kehadiran calon bayi dalam perut Anna juga membuat Abbas makin semangat dalam bekerja. Rasa lelah yang dirasa seakan sirna saat pulang bekerja langsung ke rumah sakit untuk menemui istrinya.
“Sudah sampai mana Mama dan Papa-mu, An?” tanya Bu Lidia sambil merapikan makanan yang sedang ia siapkan untuk menyambut besannya itu.
Saat ini Anna sedang duduk bersandar di tempat tidur.
Kondisinya saat ini sudah berangsur-angsur membaik. Dokter memang menyarankan untuk bedrest total. Sebab kondisi Anna yang lemah beruntung calon bayi yang di kandungnya kuat.
“Sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Bu! Abi Bagas dan Umi Hera juga ikut ke sini dulu,” ujar Anna
Bu Lidia lekas melirik Anna. “Abinya Darren?” tanya Bu Lidia.
Anna mengangguk. Ia paham jika Bu Lidia masih bingung soal kedatangan Abinya Bagas dan Umi Hera.
“Mas Darren akan bertemu dengan wanita yang sudah menerima taarufnya, Bu! Katanya sih orang Bogor. Anna juga tidak tahu siapa orangnya.”
“Orang Bogor?” tanya Bu Lidia penuh selidik. “Jauh sekali, dari Surabaya bisa mendapat jodoh taaruf orang Bogor! Satu desa tidak ya dengan Ibu? Barangkali saja ibu kenal,” cecar Bu Lidia merasa penasaran dengan ucapan Anna.
“Anna juga tidak tahu, Bu!”
“Assalamu'alaikum,” sapa Abbas yang baru saja datang usai pulang bekerja.
__ADS_1
Suami dari Anna itu langsung mendekati istrinya. Meletakkan bungkusan yang ia bawa, kemudian berjalan cepat ke arah Anna. Ciuman sayang di kening, pipi kanan dan kiri Abbas berikan kepada istrinya yang menyambutnya dengan senyuman hangat. Tak lupa Abbas mencium perut Anna yang masih rata.
“Bagaimana hari ini, apa Bunda mau makan apa masih rewel tidak mau makan. Dede utun harus paksa Bunda ya? Ingatkan Bunda kalau kamu itu butuh asupan gizi biar kamu dan Bunda sehat.” Abbas berbicara sambil mengelus pelan perut Anna yang masih rata.
Anna tersenyum mendengarnya. Kemudian meraih tangan Abbas untuk mengalaminya. Begitu juga Bu Lidia yang berada dalam satu ruangan dengan mereka.
Melihat kebahagiaan Abbas kali ini membuat rasa syukur Bu Lidia makin bertambah. Setelah ujian berat yang telah mereka lewati.
“Anna makan ko, tapi sedikit!” Bu Lidia yang menjawabnya sebab dia ‘lah yang rajin dan telaten menyuapi Anna.
“Kenapa sedikit?” Abbas memandang Anna cemas. “Apa masih mual atau sulit makan?” tanyanya kemudian.
“Kalau mual masih ada, tapi kalau makan banyak malah tambah mual, Bang!” balas Anna menjelaskan. “aku lebih suka ngemil buah!”
“Susunya di minum?”
Anna mengangguk pelan.
Buah apel puji dengan rasa asam yang menyegarkan.
“Terima kasih, Bu! Maaf ya kalau Anna merepotkan, ibu terus.”
“Huss ... Jangan bilang seperti itu. Kamu anak ibu juga, jadi tidak perlu sungkan. Ok!” ujar Bu Lidia.
Anna tersenyum senang mendengarnya. Anggukan pelan pun Anna berikan.
“Abang beli makanan, kamu pasti suka!” ucap Abbas sambil meraih bungkusan yang ia bawa tadi.
“Apa?” tanya Anna dengan binar ceria. Ia selalu merasa senang setiap Abbas pulang kerja selalu membawakan sesuatu untuknya.
__ADS_1
“Bolu Sangkuriang rasa original.” Abbas membuka bungkusan yang ia bawa kemudian membukanya dan mengambil potongan bolu itu kemudian menyuapkannya kepada Anna.
“Enak?”
Anna mengangguk pelan. Abbas meraih air putih yang ada di atas nakas kemudian memberikannya kepada Anna.
Usai memakan suapan bolu dari Abbas, Anna menolak suapan berikutnya dari Abbas.
“Aku maunya makaroni ***** yang di Bogor itu, Bang!” pinta Anna dengan wajah sedikit memohon.
“Itu pedes, Sayang!”
“Ada rasa keju, Abang!” sungut Anna sambil cemberut.
“Abang tadi tidak lewat tempat itu, lain kali ya?” Abbas sedikit merayau.
“Padahal aku kepingin banget!”
“Biar ibu telepon Pak Dadang, nanti minta tolong belikan dulu! Mumpung masih sore,” ujar Bu Lidia.
Mendengar itu Anna tersenyum senang ia melirik sebal kepada Abbas.
Abbas salah tingkah dibuatnya. Sebab ia tidak peka dengan keinginan ngidam istrinya. Biasanya bolu Sangkuriang itu adalah makanan kesukaan Anna. Tak ayal Anna bisa menghabiskan setengah kotak sendiri. Tapi saat ini istrinya itu malam kurang berselera dengan kue itu.
Bersambung.
Mampir ke karya temanku yuk...
Seru loh ceritanya..
__ADS_1
Jangan lupa mampir yak...