
“Bukankah kalau kami tidak jadi menikah itu lebih bagus untukmu, Kak Anna! Kamu tidak perlu membagi suami denganku!”
Anna termangu mendengar ucapan Riska. Benarkah gadis ini akan membatalkan keinginannya mewujudkan amanah kedua orang tua Abbas dengan ayahnya.
“Kenapa kamu baru bilang itu sekarang? Kenapa tidak setelah operasi itu? Kamu benar-benar mempermainkan hati kami, Riskan! aku merasa bersyukur jika itu memang terjadi tapi aku harap kamu tidak lagi mengubah keputusan yang suatu saat nanti meminta suamiku untuk kembali bertanggung jawab. Setelah ini kita bukan siapa-siapa dan tidak ada tanggungan yang harus kami penuhi. Apa seperti itu?”
“Kenapa diam?”
“Aku hanya seorang gadis biasa yang mendambakan kasih sayang dari seorang pria. Perlakuan Kak Abbas sekarang saja sudah begitu acuh, apa dia akan berubah sikapnya kepadaku jika kami menikah?”
Anna tersenyum miris mendengarnya. “Bukankah kamu yang bilang tidak masalah untuk menjadi yang kedua. Asalkan suamiku mau menjalankan amanah itu. Kenapa sekarang kamu menginginkan lebih? Ingat Riska perasaan tidak bisa dipaksa,”tutur Anna mulai kesal dengan sikap plin plan Riska.
Tangis gadis itu pecah. Riska menangis terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku ingin merasakan curahan kasih sayang seperti sikap hangat Kak Abbas kepadamu Kak! Apa aku tidak bisa mendapatkan itu?” ucap Riska di sela tangisnya.
Anna merasa kasihan kepada Riska.
“Aku dan Kak Abbas pernah membahas ini. Suamiku adalah seorang pria yang sangat bertanggungjawab. Kenapa dia selalu menolak untuk menikahimu karena ia belum sanggup untuk bersikap adil dalam berbagai alasan. Termasuk membagi perhatian dan hati. Tapi aku dan dia sama-sama mengikhlaskan semuanya. Jika memang kamu adalah takdir lain suamiku. Aku harus rela jika suamiku mulai memberi perhatian kepadamu!” Anna memejamkan matanya kemudian menghirup napas dalam. Memberikan ruang agar sesak yang ia rasa terbebaskan. “Sekarang semua ada di tanganmu, Ris! Menganggap amanah itu lunas terbayar atau terus ingin menjalaninya. Hanya saja saya pastikan kesabaran yang besar harus kamu persiapkan untuk sikap suamiku. Dia bukan tipe lelaki yang gampang membagi hati, mungkin akan terasa canggung dan cuek tapi perlahan hatinya akan luluh.” Anna begitu berat berucap. Ia seakan memberi semangat kepada Riska untuk mendekati suaminya. Sebenarnya sakit tapi harus bagaimana lagi. semua sudah terlanjur.
“Kamu benar-benar ikhlas membagi suamimu denganku nantinya, Kak Anna? Kamu rela?” tanya Riska.
“Aku harus bagaimana? Jika aku egois dengan mempertahankan dia hanya untukku, Kak Abbas akan menjadi anak durhaka yang tidak bisa membuktikan baktinya kepada orang tua yang sudah menghadirkannya ke dunia ini! Aku tidak mau dia terlalu menanggung beban.”
__ADS_1
Riska merasa tersinggung dengan ucapan terakhir Anna.
‘Benar ... Aku hanya menjadi beban. Tidak hanya Kak Abbas, Ibu dan juga Ayah. Tapi juga Kak Rio, pria itu pasti terbebani selama ini sudah menemaiku sampai akhirnya dia lelah dan menghindar akhir-akhir ini. Aku memang tak berguna. Aku hanya menjadi beban banyak orang'
Batin Riska pedih.
Riska merasa sedih ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Semenjak Abbas berucap akan menikahinya jika dalam masa penyembuhan pasca operasi. Rio yang biasa menemaninya di saat terapi karena perintah dari Abbas memberikan sikap yang berbeda.
Asisten Abbas itu sedikit memberi jarak dan menjauh, hanya menjemput dan mengantar. Berbicara seperlunya kepada Riska, bahkan tidak ada candaan lagi dari pria tersebut. Keceriaan Riska pun ikut menghilang, kesedihan yang begitu ia rasakan.
Riska merasa Rio terbebani karena dirinya. Apalagi saat ini mendengar Anna berbicara. Istirahat dari pria yang ia suka rela memberikan ijin untuk suaminya agar bisa mewujudkan amanah dari almarhum ayahnya agar tidak terbebani terus.
Riska merasa hanya jadi beban untuk semua orang.
Anna ingin menahan kepergian Riska untuk meminta penjelasan lebih dari gadis itu.
Ada perasaan senang jika memang benar Riska mau melepaskan Abbas.
Bu Ratmi yang melihatnya pun mendekati mereka berdua.
“Mau kemana, Nak?” tanya BU Ratmi pada anaknya.
“Masuk, Bu! aku capek!" balas Riska.
__ADS_1
“Ris, kamu tidak bisa mempermainkan kami seperti ini!” Anna bangkit berdiri dari duduknya menyusul Riska yang berjalan melewatinya.
Tak ada jawaban dari Riska. Perasaan gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Entah kesedihan apa yang sedang ia rasakan. Padahal seharusnya ia bahagia. Sebab Abbas sudah bersedia menikahnya terlebih Anna pun merestui.
Semua tidak membuat perasaan Riska merasa lega.
Gadis itu terus berjalan sedikit kesulitan ia harus meraba dinding. Agar bisa masuk ke rumahnya. Ingin menghindari semua orang.
Melihat kepergian Riska, Anna dan Bu Ratmi terdiam menatapnya sebab gadis itu menolak saat di bantu berjalan oleh ibunya.
“Maafkan Riska ya, Nak! Ibu malah merasa sikapnya malah lebih murung dari biasanya.”
Anna hanya tersenyum tipis membalasnya.
kegundahan dengan hati yang penuh tanda tanya, kini ia rasakan setelah mendapat pernyataan dari Riska. Bagaimana jika Riska mengubah lagi keputusannya.
.
.
Bersambung.
Duh. ni bocah maunya apasih kamu, Ris.... ris....
__ADS_1
Jangan ganggu kebahagiaan orang, dong!