
Like+komentar+hadiah jangan lupa 😘
Kasih 🌟🌟🌟🌟🌟
Juga untuk karya ini.
Dokter Cory tersenyum mendengar penuturan Abbas. Pria yang menurutnya pendiam dan tak bicara ketika mereka bertemu di Rumah Bintang itu terdengar begitu khawatir.
“Makanya Pak Abbas jangan mentang-mentang pengantin baru, sampai tidak bisa menahan keinginan,” Ledek Dokter Cory yang terkekeh di seberang teleponnya.
“Itu.... Em...,” jawab Abbas kikuk, ia tak tahu harus berbicara Apa.
“Tidak usah malu, Pak Abbas! Saya mengerti posisi Anda kok, semua pasti merasakan itu saat menjadi pengantin baru. Saran saya lakukan dengan hati-hati dan pelan. Perut istri Anda bisa dikompres dengan air hangat atau berendam di bathtub dengan air hangat. Itu akan membuat tubuhnya rileks sehingga merasa nyaman.”
Penjelasan dari Dokter Cory, Abbas dengarkan dengan baik. Ia juga mendapat resep obat penghilang rasa sakit untuk Anna.
“Terima kasih, Dokter! Maaf sudah mengganggu waktu Anda siang ini!” ucap Abbas dengan ada sopan.
“Tidak pa-pa, Pak Abbas. Kebetulan saya sedang libur hari ini. Saya do’akan semoga istri Anda lekas pulih dan segera hamil!” sahut Dokter Cory.
Usai mendapat informasi dari Dokter Cory, Abbas kembali masuk ke dalam kamar. Melihat istrinya sedang tertidur miring sambil memegang perut membuat rasa bersalah Abbas muncul kembali.
Ia tidak mau menganggu waktu istirahat istrinya. Abbas memilih tidur di sofa. Sebab tidak akan tahan jika ia seranjang dengan Anna. Aliran gelora selalu saja dirasakan saat ia dekat dengan Anna. Seperti inikah rasanya candu sama istri sendiri.
Hampir dua jam mereka tertidur di tempat yang berbeda. Abbas bangun lebih dulu, ia melirik ke arah Anna dan sesekali mendengar desisan Anna.
Abbas sendiri bingung harus berubah apa, sebab Anna selalu menjawab baik-baik saja. Sakit perut ini biasa baginya.
Abbas kembali menelepon pihak hotel agar membawakan hot water bag ke kamarnya. Serta meminta obat pereda sakit kepada pihak hotel. Tak lupa Abbas mempersiapkan air hangat di dalam bathtub, untuk Anna berendam. Sesuai dengan saran dari Dokter Cory. Kemudian Abbas mendekati Anna sambil menunggu air di bathtub penuh dan menghangat.
Ia ikut tidur di sampingnya. Tangan kekarnya melingkar di perut Anna. Dihidupnya aroma wangi dari rambut hitam legam milik Anna.
“Sayang... Apa masih sakit?” tanya Abbas dengan berbisik dari arah belakang.
Anna hanya mengangguk pelan.
“Maaf... Ini pasti karena Abang!”
Anna lekas membalikkan tubuhnya menghadap Abbas.
__ADS_1
Tatapan mereka saling bertemu.
“Ini bukan salah Abang kok!” elak Anna.
“Tapi perutmu sakit! Pasti karena Abang melakukannya berulang kali semalam”
Anna membulatkan bola matanya mendengar penuturan Abbas. Anna paham sepertinya Abbas salah paham dengan sakitnya.
Anna tersenyum simpul.
“Kok malah senyum?” Abbas mengibaskan surai yang menutupi wajah Anna ke belakang telinganya.
“Sakit ini biasa aku rasakan tiap bulan nanti juga mereda dengan sendirinya, Bang” ungkap Anna.
“Merasakan sakit itu setiap bulan? Kenapa tidak bilang? Kita harus periksa keadaanmu, Dek!” Abbas bangkit dari tidurnya. Duduk bersila menghadap Anna. Menatap istrinya itu dengan wajah khawatir. Ia ingin segera memeriksakan Anna.
“Kita ke dokter!” ajak Abbas sembari meraih kedua tangan Anna.
Gelengan kepala ia dapatkan. Anna menolak ajakan Abbas.
“Tidak usah, Abang! Beneran deh!” tolak Anna.
“MasyaAllah,” Abbas beristighfar ketika membuka pintu dan melihat kamar mandi sudah penuh dengan air dari kran air hangat yang ia nyalakan.
Lekas Abbas mematikan kran air hangat itu.
Anna pun ikut menyusul Abbas. Ke kamar mandi. “Kok bisa lupa sih, Bang!” omel Anna.
Abbas menyengir ke arah Anna. “Maaf, Dek! Tadinya Abang mau nyiapin kamu air hangat buat mandi!” ucap Abbas membuat Anna menarik kedua sudut bibirnya.
“Dasar, ko bisa lupa sih!” Anna membantu membuang sedikit air dari dalam bathtub memakai gayung.
Abbas mendekati Anna dan memeluknya dari belakang.
“Kita berendam sama-sama ya?” bisik Abbas dan Anna segera menolaknya.
“Jangan macam-macam deh, Bang!”
“Cuma satu macam!" Abbas kembali berbisik disertai dengan kecupan di telinga Anna.
__ADS_1
Saat itu juga Anna merasa ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya. Lekas Anna melepaskan pelukan Abbas.
“Abang lepasin!” berontak Anna yang langsung tertunduk tidak mah menatap Abbas.
“Kenapa, Dek! Masih sakit ya?”
Anna menggelengkan kepalanya. “Aku menstruasi, Bang!” ucap Anna pelan.
“Hah...,” pekik Abbas tidak percaya padahal keinginannya sudah ada di ubun-ubun saat menyentuh Anna.
Akhirnya Abbas memilih untuk membersihkan diri terlebih dulu. Ia harus menidurkan sesuatu yang memegang di bawah tubuhnya.
Anna ingin tertawa tapi kasihan melihat suaminya menderita menahan hasrat.
“Abang main sendiri dulu, ya?” ejek Anna sambil berlalu dan keluar dari kamar mandi dengan tawa yang ditahannya.
“Bantuin, Dek!” rengkek Abbas. Tapi terlambat Anna sudah menutup pintu kamar mandinya.
Terpaksa Abbas harus bermain cepat sendiri. Sebab Anna sudah berteriak minta gantian untuk membersihkan diri.
“Akhirnya keluar juga menstruasi-nya, kalau sudah begini tidak terlalu sakit perutnya!” Gumam Anna.
.
.
.
...--Bersambung-...
Kasian deh Abbas harus bermain sendiri menuntaskan hasrat. puasa dong beberapa hari ke depan mana lagi honey moon. hahha🤣🤣🤣🤣
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
Tengkyu meluap-luap buat kalian semua 🥰😘😘
__ADS_1