
Usai sambungan telponnya berakhir dengan Maira. Anna berjalan sendiri di sepanjang trotoar jalan dari kampus menuju Kedai Bakso Rudal. Jarak kedai bakso itu tak jauh dari kawasan kampus.
Langkah Anna terhenti saat dirinya sampai di depan kedai bakso yang ia tuju. Pandangannya tak lepas pada seorang bapak setengah baya yang duduk di sisi trotoar jalan, bapak itu seorang tunanetra yang sering berjualan kerupuk kulit di sekitaran jalan menuju kampus. Anna menghampirinya dengan langkah pelan.
“Permisi pak?” tanya Anna. Ia harus sedikit membungkuk agar dekat dengan bapak tersebut.
“Kenapa neng?” Bapak itu menjawab. Ia selalu menajamkan pendengarannya untuk merasakan kehadiran orang yang mendekat kepadanya.
“Kerupuk kulit ini, satu bungkusnya sepuluh ribu ‘kan, pak?” Anna bertanya sambil mengambil bungkusan kerupuk kulit di dalam toples yang di taruh di hadapan bapak itu.
“Iya neng. Sepuluh ribu saja. Neng, mau beli berapa bungkus?” Bapak tunanetra itu balik bertanya kepada Anna. Tangannya sudah bersiap memegang kantong hitam untuk membungkus kerupuk yang akan di beli.
“Saya beli lima bungkus, Pak!” balas Anna. Ia membantu si bapak yang kesusahan memasukan kerupuk kulit kedalam kantong plastik hitam.
“Ini pak, uangnya!” Anna menyelipkan dua lembar uang seratus ribu ke tangan si bapak penjual kerupuk.
“Uang pas atau kembalian, neng?” Bapak tunanetra meraba uang yang Anna selipkan di tangannya, lalu berkata lagi sambil menyodorkan kaleng berisi uang hasil dagangannya,”Kalau kembalian, ambil sendiri kembaliannya di sini, neng!” Bapak itu tidak merasa takut jika ada orang yang berniat tak baik, mengambil uang dagangannya.
“Enggak pak. Kembaliannya sedikit ko, buat bapak aja lebihnya!” Anna mendorong kaleng yang di sodorkan kepadanya.
“Terima kasih banyak, neng. Semoga rejekinya bertambah,” ucap si bapak. Ia bersyukur atas apa yang Anna berikan, Meski ia tak tahu berapa uang yang di berikan Anna.
“Sama-sama, pak. Semoga jualannya bapak juga laris manis, terjual semua ya, pak!” ucap Anna memberi semangat.
“Aamiin”. Jawab bapak penjual kerupuk.
Biasanya ada seorang anak kecil yang menemani bapak tersebut. Tapi hari ini tak terlihat anak kecil itu menemani si bapak. Bapak tunanetra itu mempercayakan semua kepada Sang Pemberi Rejeki akan hasil yang ia dapat dari berdagang. Ia pikir orang jujur pasti akan mendapat hasil baik, sedangkan yang tidak jujur akan mendapat balasan pula dari Allah SWT.
Anna sengaja melebihi uang untuk membayar kerupuk. Ia mengerti dengan keadaan bapak penjual kerupuk itu. Si bapak penjual yang memilih bekerja dari pada harus mengemis untuk mendapatkan uang. Meski dengan keadaan tak dapat melihat, menurutnya itu lebih berguna. Bapak itu kadang menjual dagangannya di depan kampus, jadi Anna sering membelinya untuk di bawa kerumah Maira.
Anna tak menyadari ada dua pasang mata seorang pria sedang memperhatikannya dari dalam mobil hitam yang terparkir di depan ruko tak jauh dari kedai bakso.
Awalnya Pria itu akan langsung pergi ke kantor pusatnya usai bertemu dengan rekan bisnisnya. Tetapi saat melihat wanita yang ia kenali tertangkap oleh penglihatannya. Ia mengurungkan niatnya pergi dari sana. Dia tak langsung menghampiri Anna. Ia diam sesaat memperhatikan apa yang Anna lakukan kepada penjual kerupuk kulit itu.
Saat melihat Anna melangkah menuju Kedai Bakso Rudal tak jauh dari posisinya saat itu. Pria itu memanggil Anna, langkahnya mendekat ke arah Anna. Merasa ada yang memanggilnya, Anna menoleh ke arah sumber suara. Matanya berbinar senyumnya mengembang mengetahui orang yang memanggilnya adalah Abbas.
“Abang ... Apa kabar? Bang Abbas sedang apa di sini?” cecar Anna. Ia berbalik sambil tersenyum menyapa Abbas.
“Aku ada urusan pekerjaan di sana.” Abbas menunjuk ruko yang tadi ia singgahi bersama rekan kerjanya.
“Wah ... Kebetulan sekali bertemu di sini. Kita makan bakso yuk? Abang mau kan?” Ajak Anna tanpa basa basi.
“Kamu,. Sendirian?” Abbas balik bertanya kepada Anna.
“Nanti ada Maira menyusul bang! Dia sedang ada urusan sama pak dosen. Mungkin sebentar lagi sampai.”
“Apa aku tidak mengganggu kalian?” Abbas menegaskan kehadirannya.
“Ya enggak bang. Aku tuh udah lama enggak makan bakso pasca musibah di perkemahan itu. Makanya aku ajak Maira, kalau Abang mau ikut juga boleh, biar tambah rame!” Anna terlihat bersemangat jika Abbas mau ikut bersamanya.
__ADS_1
Abbas tersenyum melihat tingkah Anna. Ada rasa rindu dalam diri Abbas. Rasa senang kala melihat orang yang ia rindukan hadir di depan mata. Pertemuan yang tak di sengaja itupun kembali terulang, seakan memberi jalan kepada Abbas untuk melepas rasa rindu yang ia tahan.
Abbas menyadari perasaannya terhadap Anna sudah tumbuh dan kian bertambah seiring seringnya mereka bertemu. Ia takkan mengungkapkan perasaannya, ia sadar betul akan dinding pemisah antara dirinya dan Anna. Abbas hanya berharap suatu keajaiban untuk perasaannya.
Sikap yang ia tunjukkan kepada Anna sudah mewakili perasannya. Biarlah Anna merasakan arti dari sikapnya. Anna dan Abbas berbicara saling melempar tawa. Dari kejauhan terlihat jelas keakraban mereka berdua seperti sepasang kekasih.
“Bang ... ! kita tunggu Maira di dalam saja, yuk! Di luar panas banget.” Mata Anna menyipit. Ia melindungi kedua mata dari sinar matahari dengan jari yang melebar di atas pelipisnya.
“hm ...” jawab Abbas singkat. Abbas mengikuti Anna masuk ke dalam kedai.
Langkah Maira terhenti saat ia melihat keberadaan Abbas bersama Anna, ada rasa cemburu di hati Maira, padahal ia sudah mencoba mengikhlaskan perasaannya, tapi begitu sulit ia rasa.
Mengubur perasaan kepada seseorang yang sudah lama ia kagumi sangatlah tidak mudah. Mengenal dan mengagumi Abbas hanya butuh waktu sebentar, tapi untuk menghapus perasaan itu sungguh sulit bagi Maira. Terlebih Maira dan Anna menyukai orang yang sama.
Perasaan Maira hanya bertepuk sebelah tangan, sedangkan perasaan Anna kepada Abbas sepertinya bersambut hangat dengan perasaan Abbas, terlihat dari cara Abbas bersikap terhadap Anna. Hanya perbedaaan keyakinan menjadi hambatan cinta mereka. Maira tidak ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri. Ia lebih memilih mengalah dan mengubur perasaannya terhadap Abbas meski kali ini ia harus menghindari Anna.
Drrt ... Drrt .... Ponsel Anna berdering
“Sebentar ya, Bang, Anna angkat telpon dulu, dari Maira, nih!” Anna menunjukan ponsel tertera nama Maira di sana. Abbas mengangguk. Anna pun sedikit menjauh dari Abbas.
Abbas sendiri memilih bangku yang kosong untuk mereka tempati.
“Assalamualaikum, An,” sapa Anna dari sebrang telpon
“Waalaikumsalam, Mai. Kamu di mana sih? Ko lama banget. Aku nungguin loh. Oh ya, ada Bang Abbas juga di sini. Enggak pa-pa kan aku ajak dia?” Anna berbicara sambil berbisik. Merasa segan jika terdengar Abbas.
“Yah ... Ngga seru dong. Padahal aku udah beli kerupuk kulit loh buat tambahan makan bakso," keluh Anna.
"Iya, An. maaf ya, Aku lupa."
"Lain kali kamu harus nemenin aku, ya!” perintah Anna.
“InsyaAllah, salam buat Kak Abbas, An.”
“Ya, nanti aku sampaikan. Salam juga buat Abi ya, Mai.”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumslaam."
Anna mengakhiri sambungan telponnya. Ia memasukan ponsel ke dalam jas nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
~ komen yang banyak dan tinggalkan like favorit. kasih author hadiah agar semangat untuk up bab baru~
... ...
... ...
... ...
... ...
... ...
__ADS_1