
Saat Maira diturunkan oleh Rayyan, Semua sudah bersiap. Rayyan memberi kode agar mereka bersorak saat Maira membuka mata.
"Begitu kainnya terbuka, Neng jangan buka mata dulu!" Bisik Rayyan.
"Emang kenapa, Mas! Aku 'kan penasaran?"
"Jangan, Neng pasti kaget! Di sini banyak hewan melata. Tuh di depan kita saja ada ular phyton besar," ujar Rayyan menakuti Maira. Kedua orang tua Rayyan dan kedua mertuanya menggelengkan kepala mendengar bualan Rayyan. Mereka berada di balik tirai untuk bersembunyi.
"Mas, sebenarnya bawa aku kemana sih? kenapa ada katak budug, ayam, cacing sekarang ada ular. Kita lagi ada di kebun binatang, ya?" Tanya Maira polos.
Risma hampir saja terbahak mendengarnya. Hampir saja ketahuan kalau ada orang lain di sana kalau Tante Melly tidak menutup mulut Risma.
"Kamu jangan menghancurkan rencana Mas mu, bisa marah dia!" bisik Tante Melly pada Risma.
Adik kandung dari Rayyan itu hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bersuara.
"Bukan kebun binatang lagi, nanti kamu juga suka pas melihatnya."
"Ya sudah, cepat buka! Aku gak sabar." Bibir Maira dan Rayyan hampir saja bersentuhan kalau saja tidak ada orang lain di sana. Sudah dipastikan bibir mungil Maira sudah dibungkamnya.
"Sabar...."
Ketika Rayyan membuka kain penghalang pada mata Maira. Istrinya itu diarahkan agar menghadap depan ke sebuah bangunan yang tertutup tirai putih. Tirai itu siap ditarik saat Rayyan memberi kode kepada mereka yang bertugas menariknya.
Rayyan sudah membuka kain penghalang itu. Suami dari Maira itu mengangkat tangannya untuk memberi kode dengan jarinya. Menghitung mundur menggunakan 3 jari.
"3,2,1." Rayyan menggerakan bibir tanpa bersuara. Ia menyuruh petugas untuk membuka tirai.
"Surprise," ucap Mereka yang ada di sana dengan kompak bersamaan dengan tirai yang terbuka. Risma memutar party paper dan mengarahkannya ke atas, butiran paper kecil warna warni menghiasi udara. Tante Melly meniup terompet kecil membuat suasana semakin ramai.
Manik mata Maira membola melihat pemandangan di hadapannya. Wanita cantik itu menutup mulutnya saking tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Mama, Papa, Risma," ucap Maira saat menoleh ke sisi kiri.
"Selamat datang di rumah impian." Tante Melly bersorak sambil merentangkan kedua tangannya ke arah rumah baru bergaya modern klasik di belakangnya.
Kemudian Maira menoleh ke sisi kanan. Ada Abi Khaliq dan Bunda Ima di sana.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah baru kalian, Nak! Berkah banyak rejeki dan kebahagiaan untuk kalian berdua," sambung Bunda Ima.
Tak kuasa menahan rasa haru bahagia Maira meneteskan air mata. Wanita cantik bergamis itu lekas menoleh pada Rayyan. Pria yang sedang menatapnya itu berdiri sambil memegang sebuket bunga mawar merah di tangannya. jarak keduanya hanya beberapa langkah saja, sebab Rayyan baru saja memberi intruksi pada seseorang agar segera merapihkan semua bekas yang berserakan di halaman depan dengan segera.
Tanpa banyak bicara Maira lekas berlari kecil menghampiri suaminya. Maira langsung memeluk tubuh kekar itu.
"Mas...." Tangis Maira pecah dalam pelukan Rayyan.
"Hei, kenapa malah menangis. Hem?" Ucap Rayyan di sela pelukannya kemudian melepaskan perlahan tubuh Maira.
"Jangan menangis nanti kalah cantik dengan bunga ini!" Rayyan menyerahkan buket bunga yang ada di tangannya kepada Maira sambil mengusap air mata yang ada di pipi istrinya.
"Ini adalah rumah impian kita. Bukankah kamu sangat menginginkannya agar kita punya tujuan sendiri. Tidak bingung harus pulang kemana?" Ucap Rayyan dan mendapat anggukan dari Maira.
Bunda Ima mendekati putrinya. "Ini adalah tangis bahagia. Tangis yang mengawali keberkahan untuk kebahagiaan kalian." Maira langsung beralih memeluk bundanya.
"Bunda," rengek Maira.
"Selamat atas hadiah rumah impiannya, Sayang!" Ucap Bunda Ima sambil mencium pucuk kepala yang berbalut pashmina itu.
Maura mengangguk pelan.
Membuat Maira melepaskan pelukannya.
"Ayo, masuk, Sayang!" Ajak Rayyan.
Maira mengangguk kemudian merangkul tubuh kekar suaminya. Mereka melangkah bersama memasuki rumah baru yang Rayyan bangun khusus untuk istri tercinta.
Sesampainya di dalam rumah. Maira di buat takjub oleh isinya. Tidak mewah tapi suasana di dalam rumah begitu sejuk.
Di ujung ruangan masih menyambung dengan ruang keluarga. Rayyan sengaja membuat taman kecil ada air yang mengalir dari dinding bermotif batu. Sungguh pemandangan yang membuat tenang saat berada di dalam rumah.
"Mas, kamu ingat apa yang pernah aku ucapkan di Takabonerate?" Tanya Maira.
Maira sempat berucap menginginkan suasana air terjun berada di dalam rumahnya jika kelak ia mempunyai rumah. Dan Rayyan mengubah dinding rumah itu menjadi sebuah taman kecil jika dari kejauhan tempat itu akan terlihat seperti air terjun dengan taman di bawahnya.
Rayyan mengangguk pelan. "Apapun yang kamu ucapkan aku ingat. Aku mendominasikannya di rumah kita. Apalagi di kamar utama. Kamu pasti sangat senang melihatnya, mau lihat?" Ujar Rayyan.
__ADS_1
"Jangan!" sela Tante Melly.
"Kenapa, Mah? Rayyan mau menunjukkan kamar utama pada Maira."
"Nanti saja itu belakangan, kalau mama dan yang lainnya sudah pulang. Tidak sopan masih banyak orang ngajak ke kamar utama!" ketus Tante Melly pada Rayyan kemudian menarik Maira agar ikut dengannya.
Tante Melly ingin mengajak Maira dan Bunda Ima berkumpul di halaman belakang.
"Cuma lihat kamar doang, Mah! Ada sedikit kejutan buat istriku," teriak Rayyan tapi diacuhkan oleh Tante Melly.
"Kamu kalau sudah masuk kamar suka lama, bilangnya sebentar keluarnya tiga jam kemudian. Memangnya mama tidak tahu akal bulus kamu, mencari kesempatan dalam kesempitan!" Celetuk Tante Melly membuat Rayyan malu.
Benar apa yang diucapkan mamanya. Rayyan tidak bisa menahan hasrat jika sudah berdua bersama Maira apalagi kalau berada di kamar, berdua lagi. Rayyan menggaruk kepala pelan, menanggapinya.
Rayyan mendesain rumah itu sendiri. Dari Depan rumah hingga belakang rumah. Di setiap sudut akan ada ukuran unik yang membuat penghuni rumah merasa betah. Itu semua Rayyan sesuaikan dengan harapan Maira.
Maira tidak menyangka apa yang ditanyakan soal keinginannya saat memiliki rumah nanti diterapkan di rumah ini.
Setelah puas berkeliling rumah. Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Santapan juga sudah tersaji di sana.
Satu persatu mengambil makanan dan kembali berkumpul di ruang keluarga. Rayyan sengaja mempercayakan seseorang untuk menyiapkan semuanya.
Bahkan Karpet permadani sengaja digelar di tengah ruangan. Rayyan ingin kebersamaan itu terasa nikmat. Makan ala lesehan seperti di rumah Maira dulu saat dirinya baru menikah.
Abu Khaliq menatap bangga pada Rayyan. Pria yang baru satu bulan menjadi menantunya itu membawa banyak perubahan buat Maira. Meskipun sikap Rayyan terkadang tak bisa terkontrol tapi mampu membuat anak perempuannya ceria dan selalu tersenyum.
Sikap Maira juga perlahan berubah, mau berbaur dengan lingkungan luar. Tidak seperti biasanya yang sangat pemalu dalam bersikap.
Bersama Rayyan keceriaan dan tawa selalu hadir dalam keseharian Maira.
.
.
Readers maaf baru update buat karya yang ini.Otor akan buat satu bab lagi buat karya ini. Cerita Rayyan dan Maira akan di lanjut pada karya baru nantinya.
.
__ADS_1
.
Jangan di unfav ya, ikuti terus ceritanya....