
“Kita periksa dulu, ya, Dek!” ajak Abbas pada Anna. Ia juga khawatir dengan kondisi istrinya yang beberapa hari ini terlihat lemas dan kurang berselera makan.
Sambil berjalan pelan Abbas membujuk Anna untuk memeriksakan diri ke dokter lebih dulu, tapi istrinya itu menolak.
Anna ingin tahu kabar Riska lebih dulu. Meskipun kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi Anna tetap bersikeras untuk ke sana.
Sesampainya di ruang perawatan. Anna melihat Riska sedang menangis histeris. Pak Irwan yang berada di samping gadis itu terlihat dengan sabar memenangkan putrinya.
“Dengar ayah, Nak! Ini hanya sementara. Kamu bisa melakukannya terapi, kamu pasti bisa berjalan lagi!” ucap Pak Irwan seraya mengelus pelan dan penuh kasih pundak Riska.
Riska lekas memeluk ayahnya.
“Setelah ini kamu akan menikah dengan Abbas!” ucap Pak Irwan di sela pelukannya sontak membuat Riska melepaskan pelukan itu sambil menggelengkan kepala.
Pak Irwan memperjelas ucapannya sambil menatap Abbas yang sedang berdiri sambil menatap ke arah Riska.
“Benar ‘kan Nak Abbas! Kalian akan segera menikah setelah putri saja sadar?” tanya Pak Irwan dan mendapat anggukan pelan dari Abbas.
“Ayah, aku sudah pernah membahas ini kepadamu! Aku tidak ingin---,” ucapannya terhenti saat Pak Irwan meletakkan telunjuknya di bibir Riska.
“Anna sudah ikhlas merestuinya, kamu tidak perlu khawatirkan itu. Ayah juga sudah meminta penghulu untuk menikahkan kalian. Kapan pun beliau bersedia hadir,” Pak Irwan terus saja berbicara.
Tante Melly mendekati Anna seakan memberikan kekuatan pada keponakannya itu.
Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Semua sudah sesuai kesepakatan bersama.
Riska bergeming tak bersuara. Gadis itu mulai terlihat tenang. Bu Ratmi bergantian dengan Pak Irwan untuk mendekatinya. “Ibu lebih tenang jika Abbas sudah bertanggung jawab atas dirimu, Nak!”
“Tapi, Bu---.”
“Ibu mohon, Nak! Ibu ingin melihat kami bahagia. Setidaknya amanah yang kamu harapkan dari dulu bisa terlaksana.” Bu Ratmi berbicara sambil berlinang air mata. Wanita itu mengerti perasaan Riska saat ini.
Keputusan Riska yang sempat ingin membatalkan semuanya. Ia sudah ikhlas dengan semua yang menimpa dirinya. Saat itu Bu Ratmi dan Pak Irwan menyetujuinya tapi tidak kali ini. Apalagi keadaan Riska yang tidak bisa berjalan. Itu semakin membuat orang tua Riska takut.
__ADS_1
Om Anwar, Tante Melly tidak bisa memberi komentar apapun. Satu sisi melihat kondisi Riska, mereka merasa kasihan. Sudah tidak bisa melihat ditambah saat ini tidak bisa berjalan.
Di sisi lain, Tante Melly dan Om Anwar juga merasa kasihan dengan Anna dan Abbas. Mereka harus menerima ujian di saat usia rumah tangga yang baru seumur jagung.
Mendengar semua ucapan dan pembenaran di hadapannya membuat Rio, asisten Abbas tersenyum miris. Percuma keberadaannya di sini. Toh perasaannya sama sekali tidak bersambut.
Rio sempat mengungkapkan isi hatinya saat dirinya berdua dengan Riska tadi. Rio berani berbicara isi hatinya karena tidak ada orang lain di sana. Riska yang ada di hadapannya saat itupun sedang tidak sadarkan diri tapi Rio salah, meskipun tidak sadar tetapi pendengarannya bisa mendengar.
Perlahan Rio mundur dari ruangan itu. Memilih pergi dari sana.
Semua orang tidak tahu keajaiban apa yang terjadi pada Riska. Gadis itu belum sempat berbicara apapun soal dirinya yang sudah bisa melihat. Sebab musibah kembali menimpanya dan itu membuat Riska syok.
Di saat penglihatannya kembali. Riska kembali mendapat musibah lain kembali menimpa diirmya.
Kedua kalinya tidak bisa bergerak rasa sakit dan ngilu terasa olehnya.
Mungkin karena itulah Riska histeris. Gadis itu masih trauma dengan sebuah kecelakaan.
“Kakak mau ke mana?” tanya Riska sambil menatap Rio sedih.
Riska berpikir Rio hanya bercanda dengan ucapannya yang tadi sempat ia dengar.
“Ah, i-itu ... Aku mau keluar dulu, sebentar!” jawabnya asal. Tidak tahu harus memberi alasan apa. Abbas menatap heran pada Riska. Ia membantu Anna untuk duduk di sofa terlebih dulu. Kemudian berjalan pelan mendekati brankar, di mana Riska berbaring.
“Apa kamu bisa melihat?” Abbas langsung berbicara pada intinya. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh bersama menatap Abbas.
“Kamu bicara apa, Nak Abbas?” sahut Pak Irwan.
“Saya melihat gerak manik mata Riska saat menatap Rio berbeda dan bergerak mengikuti pergerakan Rio. Apa kamu bisa memberitahu sesuati kepada kami?” tanya Abbas ingin meyakinkan.
“Benar sekali, Kak Abbas. Aku sudah bisa melihat saat sadar tadi," balas Riska. “Aku mendengar seseorang berbicara isi hatinya. Aku hanya mendengar itu tadi.”
“Alhamdulillah,” ucap Bu Ratmi penuh syukur mendengar penjelasan Riska.
__ADS_1
Tidak hanya Bu Ratmi. Pak irwan, Tante Melly, Om Anwar dan Anna turut ikut mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta Kehidupan.
Di saat seperti ini keajaiban hadir kala keikhlasan dan kepasrahan sudah benar-benar menguasai hati Anna. Ada rasa lega yang Anna rasakan.
“Kak Rio apa yang kak Rio ucapkan tadi sungguh-sungguh?” tanya Riska membuat perhatian semua orang berpusat padanya.
Rio menatap Abbas. Merasa tidak enak hati dengan bosnya itu.
Anggukan pelan dari Abbas membuat Rio merasa lega dan berani menatap Riska.
Tatapan Rio langsung berpusat Riska. Kedua netra itu saling menatap. Rio memberikan senyuman terbaiknya dan mengangguk pelan membalas pertanyaan Riska.
“Aku sungguh-sungguh!” Rio membalas dengan tegas.
“Kak Rio tidak menyesal menyimpan perasaan kepada wanita yang jauh dari kata sempurna ini!” Riska kembali bersuara.
Semua yang ada di ruangan itu tidak berani menyela. Mereka lebih memilih diam mengamati apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa Kak Rio, sanggup memintaku pada orang tuaku saat ini juga untuk kamu nikahi?” tanya Riska lagi sambil menundukkan kepala.
Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya seperti itu di hadapan mereka.
“Aku sanggup!”
Semua tersenyum mendengar ucapan dari dua orang yang saling bertanya dan menjawab itu.
Tanpa dijelaskan, mereka sudah paham. Riska dan Rio mempunyai perasaan yang sama. Kebersamaan yang mereka lalui belum lama ini menghadirkan. Perasaan di antara keduanya.
Bersambung
Bagaimana kelanjutan ceritanya.
Baca terus ya...
__ADS_1