
Semenjak penangkapan Papa Reno sore itu. Bi imah serba salah harus menjawab apa kepada Mama Ami. Beliau selalu menelpon menanyakan keberadaan suaminya tersebut karena di hubungi melalui ponselnya tidak aktif.
Bi imah ingat pesan tuannya agar tidak memberitahu Mama Ami, jadi asisten rumah tangganya itu tidak berani membantahnya.
Hari ini adalah hari wisuda untuk Anna. Kecemasan Mama Ami dan Anna semakin terlihat tatkala sampai pagi ini masih tak ada kabar dari Papa Reno.
Acara wisuda akan di mulai pukul sebelas siang nanti. Saking penasaranya, istri dari Papa Reno itu sampai harus menghubungi orang - orang kantor dan orang terdekat Papa Reno.
Perasaan seorang istri sangatlah kuat. Mama Ami teringat bahwa kelonggaran waktu untuk suaminya itu sudah terlewat satu hari. Beberapa praduga terlintas dalam pikirannya.
"Apa mungkin Papa menyerahkan diri atau di jemput paksa oleh petugas tahanan itu?" batin Mama Ami.
Anna sudah terlihat cantik pagi ini. Gadis itu sudah bersiap untuk acaranya. Anna menghampiri Mama Ami yang terlihat sibuk menghubungi seseorang di balkon kamarnya.
"Masih belum bisa menghubungi Papa?" tanya Anna lalu duduk di kursi santai di sana.
Mama Ami mengangguk pelan. "Mungkin saja Papa sedang dalam perjalanan ke sini, tapi bagaimana jika dia datang terlambat? Papamu pasti akan melewati acara wisuda mu!" Mama Ami melirik Anna sekilas merasa tidak tega harus bercerita yang sebenarnya kepada putrinya di hari yang ia nantikan ini.
"Tidak apa-apa, Mah! Ya, Anna sih maunya Papa bisa hadir, tapi Anna juga tidak memaksa, pasti ada hal yang lebih penting sehingga Papa terlambat datang ke sini. Mama sudah hadir juga, Anna seneng banget. " Anna memeluk satu lengan Mama Ami. Bermanja-manja di sana.
...🍁🍁🍁...
Gedung Aula kampus PrimaBakti hari ini ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi serta orang tua yang mendampingi mereka untuk melaksanakan wisuda.
Penampilan Anna menjadi sorotan di sana.
Banyak yang mengetahui Anna adalah seorang nasrani. Dengan memakai baju batik berbalut hijab. Anna dihampiri beberapa teman yang menyapanya.
"Assalamualaikum, Anna 'kan, ya?" tanya Nia ragu sambil terus memegaskan penglihatannya.
Anna mengangguk pelan dengan senyum manis terukir di wajahnya.
"Alhamdulillah, bertambah lagi saudara seiman kita," ucap Dita yang juga ikut memperhatikan lekat-lekat Anna lalu dengan tiba-tiba memeluk Anna cepat.
"Alhamdulillah," jawab Anna seraya melonggarkan pelukan Dita.
"Seneng deh, An! Hidayah telah kamu raih. Semoga makin amanah, ya!" ujar Nia.
"InsyaAllah... doakan ya!" jawab Anna.
Suara penguman dari pembawa acara menghentikan obrolan mereka. Semua para mahasiswa dan mahasiswi memasuki ruangan untuk acara yang mereka tunggu selama ini.
Sebelumnya Anna menghampiri Mama Ami, Tante Melly, Oma Anwar dan Risma yang ikut mengantar Anna menjalani Wisuda pada hari ini.
Para orang tua yang ikut hadir di juga dipersilakan memasuki ruangan agar bisa menyaksikan secara langsung prosesi wisuda putra putri mereka. Karena tamu undangan hanya untuk para orang tua. Hanya Mama Ami dan Om Anwar yang memasuki ruangan. Sedangkan Tante Melly dan Risma menunggu di luar ruangan.
*
*
__ADS_1
*
Satu persatu susunan acara sudah terlewati.
Kini saatnya acara yang ditunggu oleh para mahasiswa.
Pemindahan tali toga yang ada di topi persegi. Pada saat puncak acara wisuda, umumnya sarjana dipanggil satu persatu untuk maju ke depan. Kemudian tali pada topi toga akan dipindah oleh Rektor dari kiri ke kanan.
Ternyata pemindahan tal pada topi toga diibaratkan sebagai otak. Awalnya di sebelah kiri karena pada saat kuliah, mahasiswa menggunakan otak kiri yang berhubungan materi, bahasa, dan juga hafalan. Ketika wisuda, tali dipindah ke kanan dengan harapan sarjana lebih menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas dan juga inovasi.
Anna terus mengembangkan senyum nya setelah rektor memindahkan tali toga miliknya. Anna juga mendapatkan nilai terbaik dari fakultas nya. Mama Ami dan Om Anwar yang memberikan semangat kepadanya dari kejauhan begitu bangga pada Anna.
Anna harus kembali ke barisan tempat duduk dan bergabung dengan mahasiswa yang lain sampai acara selesai.
"Mas Reno pasti bangga kalau tahu putrinya mendapat nikai terbaik di fakultasnya," ucap Mama Ami tanpa mengalihkan pandangannya dari putrinya yang melambaikan tangan kepadanya selepas turun dari panggung lalu memasuki barisan tempat duduk yang ia tempati.
Mama Ami pun membalas dengan lambaian tangan juga.
"Apa belum ada kabar dari suamimu?" tanya Om Anwar ikut tersenyum membalas senyuman Anna kepadanya.
"Tidak ada, Mas! Aku yakin Mas Reno menutupi sesuatu dariku"
Tak lama terdengar nada dering dari ponsel Mama Ami dari dalam minibag miliknya.
Dirogohnya tas lalu di raihnya ponsel yang terus berdering itu. Nama Darren muncul di layar ponselnya.
Mama Ami harus keluar dari gedung agar lebih jelas berbicara dengan Darren.
📞 "Selamat siang, Darren! ada apa, kamu telpon tante?" sapa Mama Ami dari sebrang telpon. Kini ia sudah berada di luar gedung.
📞"Siang Tan, maaf Saya menganggu waktunya. Sebenarnya Om Reno melarang saya menghubungi Tante. Tapi Saya rasa, Tante harus tau kondisi Om Reno di sini!" Darren berucap ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain.
📞"Kamu tau keberadaan suami Tante, Ren? sudah dua hari ini, Tante sulit menghubunginya, bisa Tante bicara dengan Suami tante, Ren!"
📞 "Bisa Tan, tapi ...," Darren menjeda ucapannya. "Om Reno sedang ada diruang perawatan khusus tahanan. Beliau mengalami serangan jantung tadi malam, Tan,"
Bagai di sambar petir Mama Ami tak bisa menahan tubuhnya hingga ia bersandar pada dinding di sampingnya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
📞"Kapan suami tante masuk tahanan, Ren? kenapa tidak ada kabar kepada Tante. Lalu bagaimana kondisinya saat ini?" Mama Ami hampir saja tak kuasa menahan tubuhnya beruntung Om Anwar mengikutinya.
Saat susuanan acara wisuda berlanjut. Om Anwar menyusul adiknya Mama Ami. Dugaannya benar terjadi sesuatu pada adiknya itu.
"Ada apa, Mi?" tanya Om Anwar saat ia merangkul tubuh adiknya yang hampir merosot ke lantai.
"Mas Reno, masuk tahanan, Mas!" bisik Mama Ami.
Panggilan telpon masih tersambung dengan Darren.
📞"Tan! Tante gak pa-pa 'kan?" tanya Darren khawatir dari sebrang telpon.
__ADS_1
Om Anwar memapah Mama Ami agar duduk di bangku yang tak jauh dari posisi nya saat ini. Ia juga meraih ponsel dari tangan Mama Ami.
📞"Halo, Saya Kakak dari Ami! apa yang sudah terjadi sama Reno?"
📞"Saya Darren, pengacara dari Pa Reno. Beliau saat ini sedang di rawat di rumah sakit khusus tahanan di sini. Saya hanya ingin memberi tahu kabar ini kepada keluarganya. Karena kondisinya kurang baik untuk Pak Reno sendiri."
Om Anwar melirik Mama Ami sekilas. Gurat kesedihan dan air mata sudah membasahi pipinya.
📞"Kami akan segera datang ke sana. Terima kasih sudah memberi tahu. Satu lagi, tolong jaga Pak Reno sampai kami tiba di Surabaya. Kabari kami secepatnya tentang kondisinya."
📞" Baik, Pak!"
Sambungan telpon pun berakhir. Kini Om Anwar berusaha menenangkan Mama Ami.
"Apa Anna belum mengetahui masalah kalian?"
Mama Ami menggeleng pelan. Air matanya terus berjatuhan. Rasa khawatir yang ia rasa dari semalam makin bertambah kala mendengar kondisi suaminya saat ini.
"Aku tidak mau merusak acara penting ini, Mas. Aku tidak mau Anna sedih mendengarnya. Acara ini hari bahagia untuk Anna, nanti jika waktunya tepat aku akan menceritakan semuanya."
"Sudah tidak ada waktu, Mi! Anna harus tau setelah ini. Kita akan langsung pergi ke Surabaya setelah acara ini selesai."
Banyak yang Om Anwar bicarakan dengan Mama Ami di laut ruangan itu. Meskipun obrolan mereka pelan tapi masih bisa di dengar oleh seseorang yang dari tadi berdiri tepat di belakang mereka berdua.
Seorang gadis yang memegangi kertas tergulung berhias pita kecil dan sebuket bunga cantik di tangannya masih lengkap dengan seragam toga dan topi perseginya.
Gadis itu mematung tak bersuara. Tapi Butiran bening yang keluar dari sudut matanya menunjukan kesedihan yang di rasa.
"Kenapa Mama menutupi semuanya dari Anna?" lirih Anna pelan.
Om Anwar dan Mama Ami begitu terkejut mendengarnya.
.
.
.
Akhirnya setelah sekian lama purnama...
Kalau tidak mendapat ancaman dari mamang ntuh, kayaknya Anna dan Abbas akan tertidur lama 😁😁😁
Maafkeun Aku yang menghilang tanpa kabar di sini.
InsyaAllah karya ini akan terus lanjut meski kaya keong yang lagi bunting jalannya...
Terima kasih yang masih stay di sini.
love sekebon buat kalian.
__ADS_1