Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Orang Tua Pendonor


__ADS_3

Sesuai rencana Riska sudah berada di rumah sakit tempatnya akan menjalani operasi nantinya. Tinggal menunggu kesiapan keluarga pendonor untuk melepas alat medis pada tubuh putri mereka.


Selagi menunggu, Riska terlihat tengah tertawa bahagia bersama seorang pria yang beberapa bulan ini selalu menggantikan Abbas saat menyampaikan kabar soal pendonor kepada Riska.


“Hahaha ... Mana mungkin seorang pria seperti Kak Rio gak punya pacar, mustahil!” Riska menggelengkan kepalanya pelan.


“Huh... Kenapa tidak ada yang percaya?” Rio membuang napas panjang.


“Pasti gak percaya! Kadang aku dengar Kak Rio menerima telepon dari cewek dan omongannya itu gombal banget!” ucap Riska.


“Bibir ini kalau lagi ngomong emang selalu begitu! Gampang ngerayu, tapi gak ada yang nyantol satu pun,” keluh Rio.


“Kasian banget sih! Aku do’ain deh biar ada yang nyantol di hati Kak Rio!” ucap Riska sembari terkikik dengan menutup mulut dengan tangannya.


Rio tak hentinya menatap wajah Riska yang cantik natural.


Aku maunya kamu yang nyantol di hati ini.


Tapi kenapa hanya Abbas yang selalu kamu sebut.


Kenapa kamu selalu berpegang pada perjanjian orang tua kamu, Ris?


Tanpa kamu ketahui aku hati ini sudah terpaut kepadamu.


Batin Rio dengan senyum menatap senyum ceria Riska.


Beberapa kali bertemu dengan Riska membuat Rio menaruh hati pada gadis itu.


Awalnya Rio merasa kasihan melihat Riska. Gadis itu selalu sendiri dengan wajah yang tampak sedih.


Perlahan Rio memperkenalkan diri sebagai orang yang selalu menggantikan Abbas untuk menjenguknya dan memberitahu kondisi Riska.


Entah mengapa, Rio jadi sering bercanda dan mengobrol bersama Riska.


Riska pun mau membuka diri setelah tahu kalau Abbas yang menyuruh Rio untuk selalu memantaunya. Seiringnya Rio berkunjung dan mengantar Riska ke rumah sakit membuar kedekatan mereka mengalir begitu saja.


Riska pikir Abbas begitu perhatikan kepadanya karena ada rasa. Padahal itu hanya rasa tanggung jawab Abbas saja dan akhir-akhir ini ia memang sengaja menjaga jarak dengan Riska. Sebab ia harus menjaga perasaan Anna.


Dan saat ini Rio mengajak Riska dan orang tuanya bertemu dengan keluarga pendonor yang rela melepaskan kepergian putri mereka dengan melepas alat bantu medis pada putri mereka.


“Silakan masuk, Bu, Pak!” Rio mempersilakan kedua orang tua Riska masuk lebih dulu ke ruangan.

__ADS_1


Sedangkan dirinya kembali menodong kursi roda yang diduduki Riska.


“Terima kasih, Nak! Kami minta maaf jika selalu merepotkan kamu!” ucap Bu Ratmi dan mendapat anggukan sopan dari Rio.


“Sama- sama, Bu! Ayo, masuk mereka sudah menunggu!” ajak Rio.


Kedua keluarga itu beremu. Bu Ratmi dan ibu dari pendonor itu saling menyapa hangat.


Mereka saling bercerita singkat soal kehidupan masing-masing.


“Jadi ini gadis yang akan menerima kornea mata anakku?” tanya Bu Kania ketika Riska menyalaminya.


Ibu Kania adalah Ibu dari seorang gadis yang akan menyumbangkan kornea matanya kepada Riska.


“Iya, saya, Bu!” sahur Riska.


Bu Kania lekas berdiri dari duduknya. Langsung ia memeluk tubuh Riska dengan erat.


“Semoga dengan aku menyumbangkan kornea mata milik putriku, aku bisa melihatnya hidup kembali di matamu, Nak!” ucap Bu Kania di sela pelukannya.


“Doakan operasinya berhasil, Bu!” balas Riska.


Seorang pria paruh baya itu mengangguk saat ditegur Bu Kania.


“Saya selaku ayah dari Riska sangat berterima kasih kepada Ibu Kania dan suami yang sudah bersedia mendonorkan kornea mata putri kalian kepada Riska. Entah dengan apa kami harus membalasnya,” ucap Pak Irwan kepada Bu Kania dan suaminya.


“Sama-sama, Pak Irwan. Saya hanya ingin apa yang di tinggal akan putri saya bisa menyelamatkan kehidupan seseorang. Mungkin dengan cara mendonorkan kornea matanya, dia bisa menyelamatkan kehidupan seseorang,” balasnya dengan raut wajah sedih.


Suami dari Bu Kania mendekat dan memberi pelukan kekuatan pada istrinya. Sebab mereka masih belum sanggup harus segera berpisah dengan putri mereka yang dua bulan ini hidup dengan bantuan alat medis saja. Jika tidak ada bantuan alat medis sudah dari jauh hari mereka kehilangan anak mereka.


“Pak Rio, Terima kasih atas bantuannya. Saya dan keluarga tidak bisa membalas kebaikan Anda dan Pak Abbas. Terima kasih sudah melunasi semua biaya pengobatan putri kamu!” ucap Bu Kania kepada Rio.


“Saya hanya membantu tenaga saja, Pak, Bu! Untuk biaya, Pak Abbas yang mengeluarkannya,” sahut Rio.


Riska dan kedua orang tuanya hanya bisa diam. Mereka tidak mengerti persoalan apa yang sedang dibicarakan Rio dengan Keluarga pendonor.


Hingga Dokter Algafar, dokter yang menangani putri dari Bu Kania dan Riksa masuk ke dalam ruangan itu dan menyapa mereka semua.


“Selamat sore semuanya! Wah ternyata kalian berasa di sini semua,” sapa dokter Algafar. “Kalian sudah berkenalan?”


“Sudah, Dokter!” jawab mereka kompak.

__ADS_1


Dokter Algafar menjelaskan beberapa tata cara operasi. Dan kapan operasi di lakukan. Dokter Algafar juga memberi penjelasan kepada Bu Kania jika putri mereka memang murni hidup karena bantuan alat medis. Sebagai seorang dokter ia tidak mau menahan terlalu lama pasien yang hanya hidup dengan bantuan alat.


Dokter juga memberi saran agar keluarga mengikhlaskannya sebab Bu kania tidak bisa meneruskan perawatan putrinya di ruang ICU dengan alat medis yang terbilang mahal itu.


Saat itu Abbas mendengar itu, ia ikhlas membantu Bu Kania. Tapi seiring berjalannya waktu, Bu Kania membenarkan ucapan Dokter Algafar. Lebih baik mengikhlaskan daripada membiarkan putri mereka hidup hanya dengan bantuan alat.


Dan Bu Kania pun rela memberikan kornea mata milik putrinya di berikan kepada Abbas sebab dokter Algafar pernah berbicara soal kornea mata yang sedang di cari Abbas. Bu Kania ingin membalas kebaikan Abbas kepada putri mereka sebagai balasan sudah membayar biaya rumah sakit yang begitu besar perharinya saat putri mereka hidup dengan alat medis.


“Bagaimana Bu Kania, Bapak? Apa kalian sudah siap?” tanya Dokter Algafar.


“InsyaAllah kami siap, dokter!” jawab keduanya.


“Baiklah, untuk pasien Riska. Sebaiknya bersiap ke kamar mungkin enam jam dari sekarang operasi akan di mulai,” ucap Dokter Algafar.


“Kami permisi, Pak irwan, Bu Ratmi. Kami ingin menyaksikan sendiri pelepasan alat medis pada putri,” Ucap Bu Kania.


“Iya, Bu! Sekali lagi kamu ucapkan terima kasih! Dan semoga putri Bu Kania serta bapak di beri tempat terbaik di sisi Sang Pencipta”


“Aamin ... Sama-sama, terima kasih juga!”


Mereka pun berpisah menuju tempat tujuan masing-masing.


Rio masih setia menemani Riska. Mendorong kursi roda menuju kamarnya. Di ikuti Pak Irwan dan Bu Ratmi.


“Kak Rio!” panggil Riska.


“Apa?” Rio menghentikan gerakannya yang sedang mendorong kursi roda Riska.


“Sebesar itukah pengorbanan Kak Abbas untuk kesembuhan ku?” tanya Riska.


“Ya, bahkan lebih besar, sebab Pak Abbas ingin kamu sembuh dan bisa melihat dunia. Dirinya sudah menganggap kamu sebagai adiknya sendiri!” balas Rio.


“Sulit sekali ya mendoakan hati dan cinta Kak Abbas?”


“Bukan sulit tapi tidak akan bisa, sebab ketika Pak Abbas sudah menentukan kepada siapa hatinya berlabuh. Siapapun tidak akan bisa merubahnya. Dia akan tetap dan selai setia pada satu hati.”


“Kak Anna beruntung sekali bisa mendapatkan cinta Kak Abbas!” lirih Riksa.


“Jodoh, maut, rejeki sudah ada yang mengaturnya. Kamu percaya itu. Kakak yakin, jika jodohmu nanti akan membuat kamu menjadi wanita yang paling istimewa," sahut Rio.


Riska tersenyum simpul membalasnya. Hatinya mulai di penuhi keraguan dan rasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2