
"Maira...," teriak Anna saat mereka bertemu.
Keduanya saling memeluk. Terakhir bertemu saat resepsi pernikahan Maira dan Rayyan.
"Ya Allah, kamu semakin cantik, An!" puji Maira. "Baby bump sudah mulai terlihat." Maira meraba perut Anna yang mulai terlihat besar," ucap Maira saat melepaskan pelukannya
"Alhamdulillah, Mai."
"Anna," jerit Tante Melly saat melihat ke tangan Anna. "Apa kabar, Sayang?" Tante Melly lekas memeluk keponakan kesayangannya itu.
"Alhamdulillah, baik, Tante." Kemudian gantian bertegur sapa dengan Risma.
"Apa kabar, Ris?" Tanya Anna.
"Baik, An! Kamu sendiri, bagaimana? Sudah tidak mabok lagi?" Risma balik bertanya.
Anna menggelengkan kepalanya. "Kayaknya sih, nggak. Sekarang ini udah enakan makannya," jawab Anna.
"Makan dulu, An!" Ajak Tante Melly.
"Ah, iya. lebih baik makan dulu, ajak Kak Abbas juga," seru Maira.
"Bas, makan dulu. Ayo!" titah Tante Melly pada Abbas.
Abbas yang sedang bertegur sapa dengan Abi Khaliq dan Om Anwar lekas pamit pada mereka berdua.
"Om, aku ke sana dulu!" pamit Abbas.
"Ya, ya, silakan!" Sahut Abi khaliq.
"Kenapa, Dek?" Abbas merangkul tubuh Anna saat pria itu menghampirinya.
"Panggilannya ganti, masa mau jadi ibu masih panggil, Dek!" celetuk Tante Melly membuat Abbas menyengir.
"Itu panggilan sayang, Tan."
"Hati-hati, nanti apa yang kamu ucapkan akan diikuti sama anak kalian loh!"
"Iya, Tan." sahut Abbas.
"Makan dulu, gih! Kasian Anna, dia pasti laper. Ada asinan buah juga, seger banget. Biasanya orang hamil pasti doyan."
"Beneran, Tan. Ada asinan buah?"
Tante Melly mengangguk. "Iya, ada asinan buah, sayur asem, sambel, ikan asin lalapan juga. Cepetan makan, kasihan cucu, tante nih. Pasti dia lapar." Tante Melly berbicara sambil mengelus perut Anna yang mulai kelihatan besar.
"Mau makan?" Tanya Abbas dengan suara pelan.
Anna mengangguk pelan.
"Ayo," ajak Abbas.
"Maira, tante, Risma. Aku makan dulu, ya?" pamit Anna.
"Ya silakan," jawab Risma
__ADS_1
"Aku juga akan ambilkan yogurt buat kamu, pasti kamu suka deh," ujar Maira.
"Ya, keluarkan semua maknanya yang ada ya," Anna menimpali.
"Iya bumil."
Anna terkekeh kecil membalasnya.
Anna dan Abbas berjalan menuju prasmanan. Abbas membantu Anna mengambil makanan yang Istrinya mau.
Awalnya Anna ingin mengambil asinan, tapi Abbas melarang. "Lebih baik makan dulu. Baru makanan yang asinan." Titah Abbas.
"Ya udah deh, ikutin kata Abang aja," celetuk Anna.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Biar abang yang ambilkan," ujar Abbas.
Anna mengangguk pelan. "Iya, Abang."
"Ayo, makan!" Ajak Abbas sambil membawa sepiring nasi di tangan kanan yang isinya sambel, ikan asin, tempe goreng dan lalapan di dalam piring tersebut kemudian semangkuk sayur asem di tangan kanannya.
"Duduk sini, Dek!" Ajak Abbas lebih dulu menyimpan makanan yang ia bawa di lesehan karpet. Anna pun mengikutinya.
"Buka mulutnya!" Titah Abbas saat pria itu menyuapkan satu suapan ke mulut Anna.
"Enak?" Tanya Abbas kemudian.
Anna hanya bisa mengangguk pelan sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. menikmati rasa makanan yang ia kunyah.
"Abang gak makan?" Tanya Anna sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Ini abang lagi makan!" sahut Abbas kemudian memasukkan satu siap nasi dari tangannya sendiri.
"Abang, aku mau sambelnya sama ikan asin," ucap Anna.
Abbas kembali memberi suapan demi suapan yang Anna minta. Tak lupa juga untuk dirinya sendiri. Tak terasa Abbas sudah nambah nasi 2 kali.
"Abang , aku kenyang."
"Ini minum dulu!" Abbas memberikan teh hangat tawar hangat pada Anna.
Sungguh perlakuan yang sangat romantis.
Abbas begitu memanjakan Anna.
Tante Melly terus tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Mama, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tegur Maira.
Tante Melly menoleh ke arah Maira. "Mama senang melihat perlakuan Abbas pada Anna. Mama berharap, semoga Rayyan akan memperlakukan kamu Istimewa seperti itu bahkan lebih kalau kamu hamil nanti, Mai!" Celetuk Tante Melly.
"Aamiin, doakan ya, Mah!" balas Maira penuh harap.
"Mama akan selalu mendo'akan karena mama begitu berharap kamu segera hamil. Mama sduah sangat menginginkan cucu dari kalian," ucap Tante Melly membuat Maira sedikit tersudutkan. Sebab hingga detik ini tidak nampak tanda tanda hamil padanya.
Hari itu berlalu dengan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Begitu banyak do'a yang dipanjatkan untuk kebahagiaan Maira dan Rayyan di rumah barunya itu.
__ADS_1
...*****...
Di rumah kediaman Om Anwar. Seorang wanita cantik berdiri di depan gerbang. Wanita itu terdiam di sana. Wanita itu terlihat masih ragu berasa di sana.
"Rayyan ada di rumah apa tidak, ya?" gumam Naima.
Naima Ariyani. Seorang wanita yang sangat dekat dengan Rayyan dulu, bahkan tidak hanya Rayyan. Risma dan Tante Melly juga sangat dekat dengannya. Naima adalah teman sekolah Risma yang bekerja satu kantor dengan Rayyan.
Rayyan begitu dekat dengan Naima. Mereka bersahabat semenjak Rayyan bekerja di perusahaan papanya. Pertama Rayyan bekerja, pria itu di tempatkan di bagian yang sama dengan Naima. Bisa dibilang mereka bersahabat sebab Naima adalah tempat curhat Rayyan. Naima termasuk wanita supel yang pandai berbaur dan bergaul dengan siapapun termasuk dengan Tante Melly.
Bahkan Naima memanggil Tante Melly dengan panggilan Mama. Naima menganggap Rayyan sebagai kakaknya sendiri, bukan sebagai pria yang ia cintai. Sebab Naima sudah memiliki tambatan hati. Dia adalah teman Rayyan.
Rayyan tahu bagaimana kisah cinta Naima dengan Roni, Mereka sudah berhubungan selayaknya suami istri. Hal yang sangat dilarang agama.
Naima meminta Rayyan untuk membujuk Roni agar mau menikahinya. Bukan karena Naima sedang hamil tapi karena hubungan mereka sudah terlalu lama tidak jelas seperti itu. Hingga satu malam yang membuat semuanya berubah.
"Apa Rayyan akan percaya dengan apa yang aku ucapkan?" gumam Naima. Wanita itu langsung terkejut saat Pa Adang membuka pintu gerbang secara tiba-tiba.
Pria tua itu, merasa curiga melihat seorang wanita yang berdiri di depan pintu gerbang. Kebetulan Pak Adang juga mengenalnya.
"Mba Naima," tegur Pak Adang.
Naima terkejut mendengarnya sebab dia sedang melamun sendiri.
"Eh, Pak Adang," ujar Naima canggung.
"Kenapa tidak manggil bapak? Malah bengong di depan sendiri," Ujar Pak Adang.
"Ini mau manggil udah bapak duluan yang negur. Eum ... Ngomong-ngomong, kok sepi banget, ya, Pak?" Tanya Naima sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar dalam rumah.
"Ih, orang rumah lagi pada pergi. Ke rumah baru Mas Rayyan!"
"Rumah baru, memangnya kenapa Rayyan pindah?" Naima penasaran. Wanita itu tidak tahu kalau Rayyan sudah menikah. Terakhir mereka bertemu malam itu. Malam di mana Rayyan sedang dijebak oleh seseorang. Itulah malah terakhir Naima dengan Rayyan.
"Liih, Mas Rayyan pindah ke rumah baru sama istrinya, emang Mba Naima tidak tahu?"
Naima menggelengkan kepala menjawabnya.
"Tunggu di dalam aja, biasanya juga langsung masuk." Pa Adang hendak membuka lebar pintu gerbang untuk Naima.
"Ah, tidak usah, Pak! Lain kali saja saya mampir lagi, ini tidak sengaja lewat jadi maunya sekalian mampir, eh malah gak pada ada. Jadi kapan-kaoan aja deh, mainnya, " ujar Naima kemudian berlalu dari rumah itu.
Naima kembali memasuki mobilnya. Wanita itu terdiam sesaat sebelum melakukan kendaraan itu.
'Aku tidak mau mengganggu kehidupan bahagia, kamu, Rayyan. Mulai saat ini, aku akan menanggungnya sendiri. Aku akan menutupi semuanya, sebab Rayyan memang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya pada Naima, malam itu!"'
Batin Naima sambil menekadkan keputusannya.
Mobil yang ia kendarai pun melaju kencang meninggalkan halaman rumah Tante Melly.
.
.
.
__ADS_1
Tunggu kelanjutan ceritanya ya
maaf slow banget up nya.....