
"Aku ikut duduk sebentar ya, Bu?" ucap Anna meminta ijin pada Bu Ratmi.
Hanya anggukan yang ia dapat dari wanita paruh baya itu.
"Ibu menangis?" tanya Anna karena ia melihat wajah sedih di wajah Bu Ratmi, wanita itu masih sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Bu Ratmi mendongak ke arah Anna.
"Maafkan jika Ibu ikut egois kepada kalian. Ibu hanya mengharapkan Riska bisa melihat lagi. Ibu ingin dia merasakan kebahagiaan seperti teman sebayanya. Tidak seperti dirinya yang sehari-hari hanya di rumah dan berkeliling si halaman ini. Keberaniannya berada di luar lingkungan pun tidak ada. Ibu sadar, ibu lah yang membuat ketakutan itu ada. Sebab ibu takut terjadi sesuatu yang buruk lagi kepada Riska apalagi dalam keadaan buta seperti ini," keluh Bu Ratmi.
Anna mendekati Bu Ratmi kemudian duduk di sampingnya.
"Ibu tidak perlu khawatir, saya yakin Riska pasti mau di operasi." Anna mengusap pelan bahu Bu Ratmi. Memberikan ketenangan padanya.
"Kamu berhasil membujuknya?" tanya Bu Ratmi menatap serius kepada Anna.
Anna mengangguk pelan. "Riska akan segera sembuh, doakan setelah operasi dia akan segera melihat lagi, karena doa dari seorang ibu adalah doa yang paling mujarab untuk anaknya. Dan semakin banyak yang mendoakan, Allah akan mengabulkannya."
"Aamin," sahut Bu Ratmi dengan tulus dan penuh pengharapan. "Terima kasih sudah mau berbicara dengan putri ibu." Bu Ratmi meraih jemari Anna hendak menciumnya tapi lekas Anna cegah sebab dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.
"Ibu tidak perlu seperti ini, saya hanya membantu membujuknya. Tapi doa dari orang-orang yang sayang pada Riska bisa menembus ridho Allah untuk memberikan kesembuhan pada Riska. Sebab Dia-lah Zat Pemberi Penyakit dan Dia juga Zat Pemberi Kesembuhan pada hamba-nya yang sentiasa selalu ada dalam ajaran-Nya," ucap Anna memberi kelemahan kepada Bu Ratmi.
"Nak Abbas tidak salah memilihmu sebagai istrinya! Hatiku begitu mulia, Nak!" ucap Bu Ratmi kepada Anna.
Anna menggelengkan kepalanya. "Saya yang beruntung bisa mendapatkan Bang Abbas, Bu! Saya wanita yang masih dangal ilmu dan butuh bimbingan darinya. Saya masih harus belajar untuk berlapang dada saat ini!" balas Anna.
Bu Ratmi sedikit mengerutkan alis mencerna ucapan Anna soal berlapang dada.
"Yang terpenting saat ini, Riska sudah setuju, besok dia bisa datang ke rumah sakit untuk observasi terlebih dulu. Ibu dan Riska bisa bertemu dengan keluarga pendonor yang akan memberikan kornea mata putri mereka kepada Riska. Kalian bisa menguatkan mereka yang harus rela melepaskan semua alat medis di tubuh putrinya."
Bu Ratmi mengangguk. "Alhamdulillah ya Allah, ibu senang sekali mendengarnya. akhirnya Riska akan bisa melihat lagi." Bu Ratmi terlihat bahagia, ia memeluk Anna sekilas untuk meluapkan rasa bahagianya.
__ADS_1
Tak ada penolakan Anna pun lekas membalas pelukannya.
Anna bahagia melihat rasa syukur yang diucapkan oleh Bu Ratmi. Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa kalut.
Jika ingin berbicara jujur Anna tidak rela jika harus berbagi suami dengan Riska, tapi ia harus berlapang dada. Saat ini hanya doa yang ia panjatkan agar yang Maha Kuasa memberikan kesembuhan untuk Riska.
'Aku hanya wanita biasa. Wanita yang belum sanggup untuk membagi hati suamiku dengan orang lain. Maafkan Anna, Bang. Anna salah mengambil keputusan ibu sendiri. Abang pasti akan marah besar. Tapi ini yang terbaik. Jika Riska sembuh dan bisa melihat. Abang terbebas dari beban amanah yang abang tanggung selama ini. Semoga Allah menunjukan kuasa-Nya.'
Batin Anna yang masih dalam pelukan Bu Ratmi.
Di luar rumah.
"Apa kabar?" tanya Abbas memecah kecanggungan.
Abbas ikut duduk di samping Riska dengan jarak sedikit jauh. Sudah hampir satu bulan Abbas mengabaikan Riska, ia tidak lagi sesering dulu yang kadang tiap minggu memberikan semangat kepada Riska agar bisa bangkit meskipun dalam keadaan tidak melihat.
Abbas kecewa kepada gadis itu yang selalu menuntutnya agar mengabulkan perjanjian kedua orang tua mereka. Abbas selalu menolak sebab ia tidak sanggup untuk berbagi hati. Meskipun tidak mempunyai perasaan kepada Riska tapi sebagai seorang suami akan dituntut keadilan untuk kedua istrinya nanti. Dan Abbas Belum sanggup untuk itu.
Perasaan dan cintanya hanya untuk Anna. Abbas termasuk seorang suami yang setia pada satu wanita.
Kedua tangannya saling terpaut. gadis itu merasa canggung dan tidak tahu harus bicara apa kepada Abbas.
"Eum ... Kak Abbas!" panggil Riska ragu.
"Ada apa?" jawab Abbas. Ia juga tetap menjaga pandangannya terhadap Riska.
Mereka berbicara tanpa saling pandangan. Abbas menatap lurus ke depan sedangkan Riska selalu menundukkan kepala.
"Selamat atas pernikahan Kakak dengan Kak Anna, maaf aku tidak bisa hadir!" ucap Riska tak berani menoleh ke arah Abbas.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Soal operasi itu ... Aku setuju untuk melakukannya!" ucap Riska sambil menoleh ke arah Abbas sontak membuat pria di sampingnya menatap wajahnya.
Tatapan mereka bertemu, tapi sayang hanya Abbas yang dapat melihat manik mata itu dan jelas bisa memandang wajah Riska yang ayu dan manis.
Andai saja Riska bisa melihat, gadis itu pasti senang bertatap mata seperti itu dengan Abbas.
Abbas lekas memutus pandangannya lebih dulu. Meskipun ia tahu Riska tidak tahu apa yang ia lakukan kepadanya.
Bagi Abbas wanita yang pantas ia tatap dengan waktu yang lama adalah Anna, istrinya. Bahkan bukan hanya ditatap semua yang ingin Abbas lakukan halal jika wanita itu adalah istrinya.
"Kamu menyetujuinya tanpa syarat 'kan?" tanya Abbas curiga sebab setahunya Riska selalu bersikeras agar Abbas menyetujui perjanjian orang tuanya.
"Bukankah yang terpenting saat ini aku menjalani operasi lebih dulu, Kak?"
"Ya, memang itu yang aku harapkan!"
"Aku hanya minta doanya agar operasi itu berhasil. Jika memang Allah berkata lain, aku kembalikan semua kepada Kak Abbas." sahut Riska kemudian ia bangkit dari duduknya. "Maaf kak Abbas, aku mau istirahat dulu. Hanya ini 'kan yang mau Kal Abbas tanyakan kepadaku?"
Abbas mengangguk pelan. Memang bener ia hanya ingin menanyakan soal operasi itu kepada Riska tidak ada yang lain.
"Aku akan tunggu Kak Rio untuk menjemput dan mengantarkan aku ke rumah sakit, besok! Kalau begitu aku permisi, Kak!" Riska sedikit membungkukkan badan kemudian berjalan melewati Abbas yang sedikit menggeser hubungan agar Riska bisa melewatinya.
Riska biasa menggunakan tongkat kecil untuk merasakan kehadiran benda di sekitarnya, agar mempermudah menghindari saat ia berjalan.
"Aku do'akan semoga operasi nanti akan berhasil," ucap Abbas saat Riska sedikit menjauh darinya.
"Aamin, Semoga Allah mengabulkan doa kakak!" Riska pun. berlalu meninggalkan Abbas.
Gadis itu sengaja menghindar ia tidak mau berbicara lebih banyak sebab sudah dipastikan Riska tidak bisa berbohong soal perjanjian yang dengan Anna.
.
__ADS_1
.
Bersambung.